Pintu Rahasia

Setelah ciuman pertama yang Cedric lakukan secara tiba-tiba, hubungan keduanya sekarang sudah mulai membaik dan Cedric juga sudah tak mengabaikannya lagi ataupun meninggalkannya sendirian di kamar.

Seperti saat ini, setelah sarapan berakhir. Lavina sudah mengganti pakaiannya karena Cedric memintanya agar ikut bersamanya. Dan tanpa berpikir panjang, Lavina langsung menyetujuinya. Alasan utamanya adalah bisa menghirup udara bebas sebentar meskipun sebenarnya dia tak begitu tertarik untuk hal pekerjaan yang dilakukan pria itu.

Akhir-akhir ini, Alexander juga sudah tidak begitu mengawasinya dan seperti sudah tidak peduli dengannya. Karena itu Cedric juga tampak tak begitu takut untuk mengajak Lavina keluar mansion mereka.

“Kenapa tidak kenakan kemeja dan jas?” tanya Lavina saat menyadari penampilan suaminya yang terlihat lebih santai dengan kenakan celana chino cream dan turtleneck coklat.

“Pekerjaanku tidak perlu mengenakan pakaian formal,” jawabnya.

“Tapi, tidak mungkin kamu ke kantor dengan setelan santai seperti ini?”

Cedric menatap Lavina dan mengerutkan alisnya bingung, “Memangnya siapa yang bilang kita akan pergi ke kantor?”

Lavina terdiam mendengar jawaban dari suaminya itu. Jadi sebenarnya ke mana mereka akan pergi? Ke manakah Cedric akan membawanya? Bukankah pria itu akan pergi bekerja ke kantornya atau akan membawanya pergi jalan-jalan?

Sepanjang jalan yang mereka lalui, mata Lavina terus menatap ke arah jalanan karena takut jika Cedric akan menculiknya. Ya, meskipun kenyataan sekarang pun dirinya sudah di culik keluarga Alexander.

...***...

Setelah beberapa menit yang mereka lalui dan jalanan yang di lewati. Akhirnya mobil Cedric terhenti di depan rumah dengan banyak tanaman yang menghiasi sekelilingnya.

Lavina tak tahu di mana mereka sekarang berada dan rumah siapakah yang sekarang mereka kunjungi karena belum sempat Lavina bertanya, Cedric sudah lebih dulu turun di bantu supir pribadinya.

Masih berdiri mematung di sisi mobil, Lavina tersadar setelah Cedric memanggilnya saat pria itu sudah sampai di depan teras rumah tersebut dan bahkan sudah memegang kunci di tangannya.

“Cedric, ini rumah siapa?” tanya Lavina bingung.

“Kamu akan tahu setelah masuk,” jawab Cedric memutar kunci di knop pintu tersebut.

Rumah yang mereka kunjungi tidak begitu besar atau mewah, benar-benar terlihat sangat sederhana namun terasa nyaman dengan beberapa bunga-bunga dan tanaman lain disekelilingnya yang terlihat begitu terawat dan terasa lebih asri.

Cedric sudah mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah dan disusul Lavina yang tampak takut-takut untuk masuk karena masih penasaran dengan rumah tersebut.

“Masuklah, rumah ini tidak menakutkan.” Kata Cedric setelah melihat keraguan dari wajah Lavina.

Dengan sedikit was-was karena merasa asing dengan tempat tersebut, Lavina akhirnya ikut masuk ke dalam. Dan rupanya rumah tersebut telihat kosong, tak ada barang-barang selain jam di dinding yang dipajang di ruang tamu saat ini.

“Tempat kerjaku ada di dalamnya.” Cedric sudah menjalankan kursi rodanya menuju ruang tengah dan membuka gorden di ruangan agar terlihat terang.

Mata Lavina membulat menatap terkejut melihat ruang tengahnya yang tampak begitu berantakan dari ruang tamu yang kosong dan bersih sebelumnya.

“Ini ruang kerjamu? Cedric, apa kamu sedang bercanda?”

Di ruangan tersebut beberapa lukisan, kuas, cat dan sebagainya untuk peralatan lukisan berserakan di lantai dan juga di meja.

Cedric sudah membuka kain yang menutupi papan lukisannya yang terlihat tampak belum sepenuhnya selesai. Dan pria itu sudah terlihat bersiap-siap untuk memulai pekerjaannya dan bahkan telah menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkannya.

Lavina melihat-lihat hasil lukisan yang di simpan di bawah. Gaya lukisannya terlihat sangat menarik, namun Lavina begitu paham dengan seni. Ia hanya melihatnya begitu menarik dan sangat indah.

“Kamu yang melukis ini semua?” tanya Lavina tak percaya.

“Bagaimana menurutmu lukisan-lukisan itu?” tanya Cedric masih fokus melanjutkan karyanya yang belum selesai.

“Aku tidak mengerti lukisan apa yang kamu buat ini, tapi hasilnya benar-benar menakjubkan. Aku pernah pergi ke pameran lukisan, tapi belum ada yang membuat lukisan seindah ini,” tunjuk Lavina pada salah satu lukisan karya Cedric.

Cedric terdiam mengamati karyanya yang baru saja di puji istrinya itu. Ia tak menduga jika Lavina terlihat sangat antusias dan menatap takjub pada beberapa hasil karyanya.

“Kenapa tidak ada daun di pohonnya? Apakah lukisan ini punya makna mendalam?” tanya Lavina penasaran.

Lukisan yang sejak tadi menyita perhatiannya adalah lukisan batang pohon besar tak berdauh dan di sisi pohon tersebut, Cedric melukis seorang anak lelaki yang duduk memeluk lutut menatap pohon tersebut dengan wajah sedihnya. Sedangkan warna yang digunakannya mengambarkan waktu sore dan matahari sudah hampir tenggelam.

“Beberapa lukisanku ada yang memiliki makna namun ada juga yang ku lukis begitu saja.”

Lavina masih mengamati lukisan tersebut karena penasaran, “Apakah anak kecil ini adalah dirimu, Cedric?” tanyanya yang membuat Cedric menghentikan kegiatannya dan terdiam.

“Apa itu terlihat seperti diriku?” tanya Cedric.

“Anak kecil dan pohon ini terlihat memiliki kesamaan.”

“Maksudmu?” Cedric sudah menaruh kuasnya dan mendekati Lavina yang masih mengamati lukisannya.

“Aku melihat mereka sama-sama hampa dan penuh kekosongan. Pohon besar ini tidak memiliki daun yang membuatnya terlihat lebih indah dan hidup, juga anak kecil ini,” Lavina menunjuk lukisan anak kecil yang digambar Cedric sambil menatap pria tersebut yang kini sudah berada di sampingnya. “Anak kecil ini terlihat sangat kesepian dan hanya bisa bersembunyi di bawah pohon yang nyatanya tak bisa melindunginya dari apapun.”

Cedric tersenyum kecil mendengar penjelasan dari Lavina soal lukisan karyanya itu. Memang setiap orang memiliki persepsi berbeda dan kali ini ia mendengarkan makna lukisannya dari Lavina yang membuatnya merasa tertegun.

“Benarkan pendapatku?” tanya Lavina.

“Apa kamu sangat ingin tahu tentang lukisan ini?”

“Ya, aku ingin tahu.”

Untuk pertama kalinya Cedric mau menceritakan tentang makna lukisan karyanya. Memang benar, setiap karya seni memiliki makna dan pesannya tersendiri.

Lukisan itu adalah sebuah karya seni yang di curahkan atau ekspresi dari pelukisnya, seni dari seorang seniman tersebut yang ada pada gambar tersebut yang membuat lukisan itu terlihat ekspresif maupun imajinatif. Dan hal itu juga dilakukan oleh Cedric, disaat ia tak bisa mengungkapkan perasaan ataupun apa yang dirasakannya. Ia akan mercurahkannya lewat lukisan yang ia buat.

Biasanya, Cedric hanya akan menceritakan makna setiap lukisan yang dibuatnya saat karyanya dipajang di pameran lukisan saja. Namun kali ini tampaknya ia bisa menjelaskannya untuk Lavina.

“Lukisan ini dibuat tahun lalu. Makna yang kamu sebutkan dalam lukisan ini tidak benar, tapi tidak juga sepenuhnya salah. Sebenarnya anak kecil di sini tidak terlihat kesepian atau penuh kekosongan, tapi dia hanya sedih setelah melihat pohon kesayangannya sudah makin menua dan tidak lagi ditumbuhi dedaunan yang bisa membuatnya berteduh.”

“Jadi, di mana pohon besar ini berada?” tanya Lavina penasaran.

“Kenapa kamu tanyakan keberadaan pohon yang aku lukis?”

“Bukankah ini pohon yang sering kamu kunjungi saat kecil, apa sekarang pohon itu masih sama tampak seperti ini?”

Cedric tak menjawab, ia hanya diam saja setelah Lavina begitu yakin lukisan tersebut adalah gambaran dirinya. Ia tak mengira jika wanita tersebut bisa sampai menebak jika karya yang dibuatnya itu adalah dirinya sendiri.

“Baiklah, jika kamu tidak mau memberitahu, aku yakin nanti akan menemukannya sendiri.”

Lavina berjalan ke arah lukisan lainnya yang belum sepenuhnya ia lihat.

“Pohon itu sudah tidak ada lagi, mereka sudah menebangnya dan sekarang di atasanya sudah menjadi hunian mewah,” ujar Cedric yang membuat Lavina terdiam dan mengerti apa yang baru saja pria itu katakan.

...***...

Lavina dan Cedric masih berada di rumah tersebut untuk waktu yang cukup lama. Sejak tadi Lavina begitu serius mengamati tangan Cedric yang begitu lihat membentuk sebuah karya di atas papan putih tersebut dan mewarnainya dengan penuh hati-hati.

Sejak dulu, Lavina selalu kagum pada orang-orang yang memiliki bakat alami sebagai pelukis. Hanya saja ia tak pernah bisa melihat langsung bagaimana cara mereka melakukannya dan sekarang saat ia baru mengetahui Cedric memiliki bakat tersebut dan bisa melihatnya berkarya secara langsung membuat Lavina tertegun duduk disampingnya memperhatikannya.

“Nak Cedric sudah datang, kenapa tidak bilang-bilang. Untung tadi Ibu lihat mobil kamu di sana,” Lavina terkejut melihat seorang wanita paruh bawa tiba-tiba masuk ke rumah tersebut dan berbicara dengan Cedric.

“Kami baru datang,” jawab Cedric.

Pandangan Ibu tersebut beralih menatap Lavina dan mengamatinya dengan serius sebelum akhirnya mengumbar senyuman ramah yang dibalas Lavina.

“Kayak pernah lihat, Non,” ujarnya.

“Saya Lavina istri Cedric. Ibu bisa panggil nama saya saja,” balas Lavina menyalaminya dengan ramah.

Wajah Ibu paruh baya tersebut tampak terkejut mendengar Lavina yang memperkenalkan dirinya sebagai istri Cedric. Dan sekarang Lavina masih penasaran menatap Cedric menuntut penjelasan soal ibu-ibu yang ada dihadapannya sekarang.

“Ini ibu Minah yang menjaga rumah ini,” jelas Cedric akhirnya.

“Ya saya bu Minah yang ngurus rumah ini. Kalau gitu Ibu ke dapur dulu buatkan kalian minum dan makan,” pamitnya.

“Saya ikut,” ujar Lavina yang sambil menatap Cedric meminta izin dan disetujui Cedric.

...***...

Sejak tadi Lavina berada di rumah tersebut, ia belum sempat berkeliling dan melihat-lihat ruangan di rumah yang tidak begitu besar tersebut.

Semua ruangan di rumah tersebut tertutup pintu dan Lavina bisa mengira dua ruangan yang bersebelahan sebelum arah dapur adalah kamar.

“Nona Lavina baru pertama ke sini ya?”

“Iya, Bu. Ini sebenarnya rumah siapa?”

Bu Minah membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan dari sana untuk di masak. Lavina bisa melihat isi kulkas tersebut sangat penuh dan bersih, belum lagi beberapa peralatan di dapur yang lengkap.

“Ini rumahnya Nak Cedric. Karena tidak ditempati, jadi biasanya Ibu sering bersihkan dan cek isi kulkas dan lainnya. Jadi kalau sewaktu-waktu nak Cedric berkunjung, Ibu bakal siapkan makanan untuk dia.”

Rumah Cedric? Kenapa Cedric membeli rumah lebih kecil dan sederhana seperti ini? Padahal keluarganya sangat kaya raya dan Cedric juga memiliki penghasilan yang cukup untuk membeli hunian megah dengan fasilitas mewah.

“Jadi Cedric beli rumah ini?” tanya Lavina kembali.

Ibu Minah menatap Lavina sambil tersenyum. Senyumannya terlihat sangat tulus dan mengingatkan Lavina pada Ibunya yang sudah lama tidak ia jumpai dan dirindukannya.

“Rumah ini dulunya dihuni nak Cedric dengan ibunya dan setelah pergi, sekarang hanya nak Cedric saja yang datang ke sini sesekali berkunjung.”

Lavina mengangguk mendengarkan penjelasan bu Minah, jadi dulu Cedric tinggal di sini bersama Amber? Tapi kenapa dulu mereka tinggal di rumah sederhana ini, apakah dulu Amber dan Alexander sempat tinggal terpisah?

Masih dengan rasa penasaran, Lavina meninggalkan bu Minah dan berjalan ke arah pintu kamar yang tertutup. Lavina sangat penasaran apakah kamar tersebut kosong seperti ruangan tamu tadi ataukah masih ada barang-barang di sana?

Lavina sudah memegang knop pintu dan hendak membukanya. Tapi pergerakannya terhenti setelah tangan seseorang menghentikan gerakannya dan membuatnya menoleh pada tangan yang yang menahannya.

“Jangan buka pintu apapun yang ditutup di rumah ini!” tegur Cedric yang membuat Lavina terkejut saat pria itu sudah berada disampingnya.

Wajah Cedric terlihat begitu dingin dan tampak sedang menahan amarah melihat tindakkan dari Lavina yang sembarangan ingin melihat ruangan di dalam rumah tanpa seiizinnya.

“Tolong kuncikan semua pintu kamar dan lainnya di rumah ini,” ujar Cedric saat Bu Minah ikut menghampiri setelah mendengar suara Cedric tadi.

Lavina hanya diam merasakan kesedihan setelah melihat amarah Cedric karena tindakannya yang begitu penasaran ingin melihat-lihat semua ruangan di rumah tersebut. Apalagi Cedric langsung meminta agar bu Minah mengunci semua pintu ruangan di sana seolah Lavina adalah orang asing yang tak punya izin apapun.

Merasa sedih dan terkejut dengan sikap Cedric tadi. Tanpa meminta maaf lebih dulu, Lavina berlalu begitu saja pergi keluar rumah tersebut yang membuat Cedric memanggilnya, namun Lavina terus mengabaikan.

“Nona Lavina pasti terkejut dan sedih karena nak Cedric,” ujar Bu Minah yang membuat Cedric tersadar dan merasa bersalah dengan sikapnya tadi yang telah membuat wanita itu terluka.

Lagi-lagi, Cedric gagal membuat wanita itu bisa tersenyum lagi dan menikmati hari-harinya dan justru dirinya malah membuat Lavina terus bersedih dan kecewa. Dan semuanya terjadi karena dirinya, Cedric kini merasa menyesal telah membuatnya bersedih lagi.

Terpopuler

Comments

Mully Augustine

Mully Augustine

next

2023-08-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!