Lavina menyadari kesalahannya sekarang, tapi ia juga tak tahu bagaimana meminta maaf pada Cedric, karena pertemuan dirinya dan Peter di taman belakang beberapa waktu belakang ini adalah ketidaksengajaan dan tentu saja Lavina sendiri tidak lebih dulu mendekatinya.
Meskipun Lavina sangat menyukai Peter dan bahkan hampir tujuh tahun ini selalu mengagumi sosok penyelamatnya di masalalu, tapi bukan berarti Lavina juga dengan bebas dan berani mendekati pria yang kini berstatus sebagai kakak iparnya itu. Ya, walaupun awal perkata yang terjadi dihidupnya sekarang awalnya karena niat jahatnya dulu agar Peter gagal bertunangan dengan kakaknya, namun sekarang ia telah mendepat karmanya.
Sejak tadi Lavina terus mondar-mandir di kamarnya menunggu kedatangan Cedric yang sejak pertengkaran mereka beberapa jam lalu masih belum kembali. Matahari sudah terbenam tapi pria itu belum juga masuk ke kamar mereka, padahal sebentar lagi mereka akan makan malam.
Lavina ingin pergi keluar kamar dan mencari Cedric, tapi ia juga takut jika Alexander sudah pulang dan melihatnya tak bersama Cedric, bisa-bisa ia akan marah besar karena kembali mengabaikan perintahnya. Jadi Lavina memutuskan untuk menunggu pria itu di kamar.
Namun penantian Lavina sia-sia, karena sampai matanya terlelap dan berulang kali terjaga mengingat suaminya, Lavina hanya mendapat kekosongan. Cedric tidak kembali ke kamar mereka dan tidur di ranjang bersamanya. Pria itu benar-benar tak kembali sejak pertengkaran mereka sore hari itu dan akhirnya Lavina tak bisa terlelap memikirkan ke mana Cedric pergi.
...***...
Matahari sudah menjulang tinggi, Lavina bisa merasakan bias cahaya yang masuk ke gorden kaca kamarnya yang masih tertutup. Tak ada niatan dari sang tuan untuk membukanya dan menyambut pergantian hari.
Lavina sudah berjam-jam masih menekuk lututnya di ranjang dengan televisi yang sengaja di nyalakan hanya untuk mengisi suara kekosongan di kamarnya saat ini.
Cedric sejak sore kemarin tak kembali ke kamar dan meninggalkannya sendirian tidur di ranjang besar mereka. Belum ada pembicaraan yang benar antara mereka berdua setelah kesalahpahaman sore itu dan Lavina menyesalinya karena tak sempat berbicara jujur pada suaminya.
Ia sudah melewatkan sarapan paginya padahal kemarin malam ia juga sudah menghindari makan malam. Lagi pula ia tidak merasakan lapar karena saat ini perasaannya tak tenang karena belum menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Cedric.
Lavina memilih keluar kamar, pagi ini di mansion Alexander sudah sepi karena para penghuninya sudah pergi bekerja dan memiliki kegiatan lain termasuk Amber yang sibuk mengurus bisnis barunya.
“Apa kamu melihat Cedric?” tanya Lavina pada salah satu pelayan yang di temuinya di dapur.
“Tidak, Nona.”
“Apa tadi dia pergi sarapan?”
“Ya, tadi tuan Cedric sarapan bersama. Tapi saya tidak melihatnya lagi,” jawabnya yang membuat hati Lavina mencelos.
Ternyata Cedric pergi sarapan bersama keluarganya dan meninggalkan Lavina yang sejak semalam terjaga menunggunya hingga pagi dan berharap pria itu datang.
Kali ini perasaan bersalah Lavina makin terasa karena Cedric benar-benar marah padanya dan mengabaikannya. Jadi bagaimana cara Lavina untuk bisa meminta maaf dan meluruskan kesalahpahaman ini? Lavina memilih kembali ke kamarnya dan menunggu Cedric.
...***...
Suara air yang jatuh ke tanah saat ini sudah terdengar oleh Lavina yang kini sengaja membuka pintu kaca kamarnya dan duduk di kursi balkon sambil terdiam dengan tatapan kosongnya.
Berulang kali ia melihat beberapa kilat cahaya di langit sore ini, namun ia tak takut meskipun mungkin suara halilintar itu terdengar lebih menggelegar dari luar sekarang tapi ia tetap duduk di sana tak peduli udara terasa lebih dingin saat hujan seperti ini.
Lavina ingin menangis, sejak kemarin ia terus menahannya hanya karena tak mau membuang air matanya cuma-cuma karena ia pikir masalahnya dengan Cedric akan segera membaik, tapi kenyataan sekarang ia merasakan kacau karena hatinya tak tenang dan Cedric pun belum juga kembali ke kamar. Ia tak tahu ke mana perginya pria itu, dan ia tak punya kontak untuk menghubunginya.
Terjebak dalam rencana jahatnya sendiri, menikah dengan orang yang tak pernah di kenal dan dicintainya, terpenjara di mansion megah dan menjauh dari keluarga sudah membuat hidup Lavina terpuruk. Dan sekarang harus terlibat kesalahpahaman dengan Cedric yang membuat hatinya makin kacau.
“Mengapa tidak sekalian saja berlarian di tengah hujan agar tambah kedinginan?”
Lavina yang sudah menjatuhkan air matanya karena merasakan sesak di dadanya terkejut mendengar suara pria yang sudah dinantinya sejak kemarin malam, namun kali ini kalimat yang keluar dari mulutnya sudah tidak ada lagi nada kelembutan.
Cedric tak menantap Lavina, pandangannya menatap lurus melihat rintik hujan yang cukup deras saat ini. Lavina ingin marah dan bertanya ke mana saja pria itu pergi sejak semalam? Tidak tahukah jika ia menunggu dan terjaga sepanjang malam hingga berakhir di sore ini mereka baru kembali bertemu.
“Kamu dari mana saja?” tanya Lavina yang masih duduk di kursi dengan kedua kakinya yang ditekuk.
“Kenapa? Bukannya kamu lebih senang jika aku tidak ada?” Cedric menatapnya.
“Aku menunggumu sejak semalam.”
Cedric melihat jejak air mata dari istrinya yang menatapnya dengan tatapan sendunya, wajahnya terlihat pucat. Namun ia tak begitu peduli karena kenyataanya Lavina juga selalu mengabaikannya.
“Menungguku?” Cedric merasa aneh mendengar kalimat yang keluar dari mulut istinya, “Biasanya kamu akan selalu pergi diam-diam meninggalkan kamar ini untuk menghindariku.”
Lavina menurunkan kedua kakinya dan berjalan mendekati Cedric yang duduk di ujung pintu.
“Aku ingin bicara soal kesalahpahaman kemarin, tentang aku dan kak Peter,” ujar Lavina.
Lagi, Cedric malah mengabaikannya dan memundurkan kursi rodanya masuk ke dalam kamar seolah malas untuk berbicara dengan istrinya saat ini.
Namun Lavina tidak menyerah, ia terus mendekati Cedric dan mengajak pria itu berbicara agar kesalahpahaman diantara mereka bisa berakhir dan ia juga ingin meminta maaf karena telah membuatnya kecewa.
“Cedric, aku minta maaf karena telah membuatmu kecewa. Tapi pertemuanku dengan kak Peter di taman itu memang tidak disengaja dan aku juga--,” ucapan Lavina terhenti karena Cedric lebih dulu memotongnya.
“Sudahlah, berhenti membahas masalah yang sudah lalu, aku juga tidak peduli tentang kamu dan Peter dan apa yang kalian lakukan atau bicarakan.”
“Tapi kamu salah paham.” Lavina masih belum menyerah ingin menjelaskan pada Cedric meskipun pria itu terlihat masih marah dan tak ingin mendengarkannya.
“Aku masih ada urusan,” Cedric mengambil ipad di mejanya dan menaruhnya di kedua pahanya. Ia menjalankan kursi rodanya keluar kamar.
“Cedric, aku mohon tolong dengarkan penjelasanku.”
“Tidak perlu menjelaskan apapun, pernikahan kita terjadi karena kesalahan dan kamu juga merasa tersiksa dengan ikatan ini, jadi mulai saat ini kamu bisa bebas ingin melakukan apapun atau menemui siapapun, tidak perlu terbebani dengan pernikahan yang tidak kamu inginkan,” jelas Cedric dengan wajah serius yang membuat Lavina merasa bersalah.
Setelah mengatakan itu, Cedric berlalu pergi keluar kamar meninggalkan Lavina. Namun karena belum berhasil meminta maaf, Lavina mengejarnya. Meskipun Lavina tidak mencintai Cedric dan meskipun yang dikatakan pria itu memang benar adanya, tapi entah mengapa mendengar pernyataan itu keluar dari mulut Cedric terasa menyakitkan bagi Lavina.
“Cedric, apa kamu benar-benar tidak ingin mendengarkan penjelasanku? Apa kamu juga tidak akan memaafkanku?” lirih Lavina.
“Kembalilah ke kamar, aku ada urusan!”
“Aku minta maaf, tolong jangan abaikan aku. Aku--,” Lavina merasakan kepalanya berdenyut pandangannya mulai buram dan menggelap dan Lavina kehilangan keseimbangan dan ambruk hingga terdengar suara Cedric yang memanggil namanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
🤩😘wiexelsvan😘🤩
naahh nie khan efek akibat gak makan malam ma sarapan pagi jd lavinna jatuh pingsan 🤭😁😁😁
2023-07-26
1