Karma Lavina

Waktu pagi telah tiba, Lavina membuka matanya saat bias cahaya masuk ke dalam kamar asing yang baru semalam ia tempati. Lavina baru menyadari jika status barunya setelah melihat pria berkusi roda tengah berdiri menatap ke arah jendela dan terdiam di sana.

Pergerakkan Lavina tampaknya telah membuat lamunan Cedric terhenti dan menoleh ke arahnya.

“Papah sedang menunggu kita di bawah,” ujar Cedric.

Lavina mengabaikan pria yang berstatus suaminya dan berjalan ke kamar mandi. Kepalanya sedikit berdenyut karena ia menangis sebelum akhirnya tertidur.

Lavina menatap keadaan dirinya saat ini di cermin, mata sembab begitu kentara sekali. Semua makeup dan segala kebutuhannya tak ada di sini, jadi bagaimana nanti ia berhadapan dengan tuan Alexander?

Sebuah ketukan di pintu kamar mandi terdengar dan Lavina berjalan untuk membuka pintu.

“Ini handuk dan perlengkapan mandi untuk kamu. Saya akan minta pelayan membawakan baju ganti dan segala kebutuhanmu.” Cedric menyerahkan handuk dan perlengkapan mandi untuk Lavina yang langsung di ambilnya tanpa mengucapkan sepatah katapun sebelum akhirnya kembali menutup pintu.

Belum lama setelah Lavina menutup pintunya di depan Cedric. Ketukan kembali terdengar, namun kali ini ada suara yang berbeda.

“Nyonya, baju anda telah kami siapkan di ranjang.”

Dan sama seperti sebelumnya, tak ada jawaban yang Lavina berikan dan ia membiarkan waktunya sedikit lama berada di kamar mandi.

...***...

Lavina terkejut saat membuka pintu kamar mandi dan disambut oleh pelayan yang tadi memanggilnya.

Wanita yang mengenakan seragam itu menundukkan kepalanya dan kemudian membantu melayaninya. Lavina sempat tak nyaman harus di layani oleh orang lain, apalagi pelayan tersebut terus mengikutinya.

“Tuan Cedric meminta anda untuk mengenakan pakaian ini.” Lavina menatap gaun putih yang dipilihkan suaminya.

“Apakah tidak ada baju lain?” tanya Lavina.

“Tuan Cedric telah memilihkan pakaian untuk nyonya.”

“Aku tidak suka!” potong Lavina.

“Tapi nyonya--,”

“Bawakan aku pakaian lain, jika Cedric menolaknya. Aku tidak akan keluar dari kamar.”

Pelayan tersebut tampak kebingungan, namun akhirnya menunduk patuh berjalan keluar kamar. Sepertinya ia akan meminta izin pada Cedric lebih dulu dan Lavina tidak peduli. Ia tak suka diatur dalam hal apapun, termasuk soal pakaian, meskipun itu adalah pilihan suaminya tapi yang berstatus sebagai suaminya saat ini adalah orang asing untuknya yang tidak tahu menahu soal dirinya.

...***...

“Tuan Alexander dan lainnya sedang menunggu anda, Nyonya,” pelayan kembali datang.

Lavina kembali mematut penampilan dirinya di cermin. Setelah merasa penampilan sudah cukup baik untuk bertemu dengan keluarga barunya, ia baru keluar kamar diantar pelayan.

Suasana di mansion milik Alenxander pagi ini benar-benar hening, semua anggota keluarga tampak sedang menunggu Lavina untuk memulai sarapannya.

“Selamat pagi,” sapa Lavina mencoba bersikap sopan.

Tak ada jawaban apapun yang terdengar dari arah meja makan dengan jamuan hidangan yang tersaji di sana. Lavina menatap ke arah Cedric yang sudah duduk di kursi dan kemudian pria itu menepuk kursi sebelahnya mengisyiratkan agar ia duduk disampingnya.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, keluarga kita menunda sarapan karena menunggu seseorang yang tak tahu aturan!” suara wanita yang kisaran umurnya masih 19 tahunan tersebut membuat Lavina tersindir.

Lavina hendak mengucapkan permintaan maaf, namun Cedric menahan tangannya meminta segera duduk. Siatusi pagi ini di kediaman Alexander begitu menegangkan untuk Lavina.

“Mulailah sarapan kalian, jangan membuat keributan di meja makan.” Suara Alexander begitu terasa mengintimidasi ruangan saat ini dan membuat Lavina serasa sulit untuk menikmati sarapannya.

...***...

Selesai sarapan, semua anggota keluarga telah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sedangkan Lavina dan Cedric sudah di panggil ke ruangan Alexander sesuai janji yang Peter katakan jika pria itu akan berbicara pada mereka pagi ini.

“Kamu adalah menantu pertama di keluarga ini, dan tentunya kami punya beberapa peraturan yang harus dipatuhi di sini.” Tuan Alexander menatap Lavina yang duduk di sofa dan Cedric yang masih duduk di kursi roda dengan ekpresi yang terlihat lebih khawatir dari Lavina saat ini.

Alexander membuka koran baru yang baru saja datang. Lavina sempat bingung dan bertanya-tanya apakah orang kaya raya masih suka membaca berita di koran? Tapi tampaknya pria itu cukup serius melihat isi di halaman pertamanya sebelum akhirnya mata lelaki tersebut beralih menatap ke arah Lavina.

“Saya adalah orang yang sangat disiplin dan memiliki aturan yang harus dipatuhi selama orang-orang tersebut tinggal bersama saya.” Sorot tajam dari pria yang warna rambutnya sebagian sudah memutih tersebut membuat Lavina merasa gugup.

“Saya juga tidak suka dengan orang yang kurang disiplin dan mengulur-ngulur waktu. Karena bagi kami waktu adalah uang.” Alexander tampaknya sedang menyindir Lavina yang tadi terlambat datang sarapan dan membuat mereka semua menunggunya.

Cedric menatap Lavina yang tertunduk mendengar perkataan dari Alexander. Ia juga merasa kasihan karena membuat wanita itu harus terjebak dalam hubungan pernikahan mendadak dan juga terikat dalam segala peraturan setelah menjadi bagian dari keluarganya.

“Lavina hanya terlambat lima menit dan dia juga butuh waktu untuk beradaptasi.” Cedric membuka suara.

Tatapan tajam dari Alexander kini beralih pada putra keduanya. Pria paruh baya itu tampak tak menyukai kalimat yang keluar dari mulut Cedric. Atau lebih tepatnya, ia tak suka dibantah?

“Karena itu, seharusnya kamu sebagai suaminya mengajarinya dan memberitahu peraturan di sini!” tegas Alexander.

Lavina berada dalam situasi menegangkan. Dulu ia pikir, hanya ayahnya saja yang memiliki segala aturan dan penuh kedisiplinan di rumah yang akhirnya selalu dilanggar olehnya. Tapi sekarang, setelah lepas dari aturan ayahnya ternyata Lavina terjebak dalam aturan baru yang tak pernah dibayangkan.

Alexander sudah bangkit dari sofa, rahangnya sudah mengeras dan tatapannya sudah menatap tajam Lavina. Pria paruh baya yang usianya sudah setengah abad lebih tersebut masih terlihat tampan di tambah postur badannya yang tegap dan bugar membuat penampilannya sebagai salah satu sultan di negara ini banyak di kagumi.

“Peraturan keluarga ini adalah harus tepat waktu untuk makan bersama, dilarang berkeliaran dari masion tanpa ditemani Cedric atau pelayan dan dilarang pergi dari rumah ini tanpa izin,” Alexander berjalan ke arah Cedric dan berdiri dibelakang pria itu sambil menatap Lavina. “Dan mulai hari ini kamulah yang akan merawat Cedric dan membantunya.” Lanjut Alexander yang membuat kening Lavina berkerut tak mengerti.

“Apa maksud Papah?” Cedric menatap Alexander.

“Perawatmu sudah aku berhentikan karena kamu sudah memiliki istri, jadi sekarang istrimu yang akan menggantikannya untuk merawatmu,” jelas Alexander yang membuat pasutri baru tersebut terkejut.

Melihat ekspresi terkejut dari Lavina dan tatapan seperti tak terima membuat Alexander menatapnya dengan remeh. Sejak pertama kali melihat wanita itu di kamar bersama putranya, ia sudah yakin jika anak kedua dari Albert itu bukan wanita yang penurut dan tak taat aturan, karena itulah Albert memberikan tamparan pada anaknya tanpa segan-segan.

Jika saja kejadian kemarin tidak dilihat oleh mata kepalanya sendiri, ia tidak akan mau menerima Lavina sebagai menantunya.

“Karena sekarang kamu sudah menjadi istrinya, sudah sepatutnya kamulah yang merawat Cedric karena dia yang memberikan biaya hidupmu mulai sekarang,” ujar Alexander yang kemudian beralih pergi meninggalkan keduanya.

Lavina menatap ke arah Cedric dengan tatapan tak terima dengan permintaan dari mertuanya itu. Apakah pria paruh baya itu menganggap dan ingin menjadikan Lavina sebagai perawat untuk anak keduanya itu?

“Lavina,” Cedric ingin berbicara namun Lavina lebih dulu meninggalkan pria itu dan menatapnya dengan penuh kebencian.

...***...

Sejak ucapan terakhir tuan Alexander tadi, Lavina mengurung dirinya seharian di kamarnya dan Cedric yang tahu jika istrinya sedang marah dan kesal sejak tadi berusaha tidak memasuki kamar mereka karena itu satu-satunya ruangan yang bisa di pakai Lavina untuk bersembunyi saat ini.

Lavina memeriksa ponselnya menunggu balasan pesan dari Helena setelah menanyakan kondisi Ibunya yang kesehatannya sempat menurun setelah insiden yang terjadi pada dirinya dan Cedric.

Suara pintu terbuka terdengar dan membuat Lavina yang sedang memeluk lututnya di ranjang menoleh saat Cedric masuk ke dalam dengan menekan tombol di kursi roda elektriknya dan menutup pintu kamar setelahnya.

Pria itu tidak berbicara dengannya, ia berjalan ke arah walk in closet dan ekor mata Lavina masih mengikutinya. Cukup lama Lavina yang sedang masih mengecek ponselnya tersebut bertanya-tanya apa yang di lakukan oleh pria itu di sana karena belum kembali.

Sampai akhirnya pria kembali dan kursi rodanya terhenti di depan pintu kamar mandi. Cedric tampak sedang menatap ragu-ragu ke arah kamar mandinya, namun Lavina tidak peduli apa yang akan di lakukan pria itu dan memutuskan untuk meninggalkannya pergi keluar kamar.

Lavina meninggalkan Cedric dan memilih pergi berjalan keluar kamar karena tahu Alexander belum pulang dan ia hanya ingin berjalan-jalan ke belakang mansion sebentar untuk menenangkan dirinya dari pada berada di kamar dan melihat pria berkursi roda yang tak bisa melakukan apapun.

Sejujurnya Lavina tidak ingin memaki cacat fisik yang Cedric alami karena kedua kakinya yang tak lumpuh, ia hanya benci dengan pernikahan ini. Pernikahan yang secara tiba-tiba dan tak pernah di duganya. Lavina menyesali perbuatan jahatnya yang ingin mengagalkan pesta pertunangan Helena kemarin, karena rencananya itu dirinya malah terjebak rencana orang lain yang ia tak tahu siapa dalangnya yang membuat hidupnya kini sudah hancur karena statusnya saat ini.

Lavina ingin kabur dari mansion ini, namun ia melihat banyak pengawal yang berjaga dan Alexander pasti sudah menitipkan pesan pada mereka untuk mengawasinya. Jadi kini, hidup Lavina seperti berada dalam penjara dan entah kapan ia bisa lepas dari sini.

“Di mana, Cedric?” Lavina yang sejak tadi melamun dikejutkan dengan suara pria di belakangnya dan ia baru menyadari jika sejak tadi ia terus berjalan tanpa arah hingga sampai di taman belakang mansion tersebut.

Ia melihat taman bunga dan juga kolam ikan dengan air yang mengalir dari bebatuan. Lavina melihat banyaknya bunga yang mekar terawat di sana dan satu pandangan Lavina beralih pada bunga yang memiliki kelopak bewarna putih, itu adalah bunga Bellis perennis.

“Itu bunga kesayangan Cedric. Ia meminta pelayan untuk terus merawat bunga itu.”

Lavina tersadar jika sejak tadi ada seseorang yang mengikutinya dari belakang dan ia baru menoleh setelah terlalu fokus menatap keindahan taman di belakang mansion ini.

“Peter.” Lavina terkejut saat melihat pria yang dikaguminya itu berdiri di belakangnya saat ini.

Peter menarik sudut bibirnya ke atas, kemudian berjalan melewati Lavina. Aroma parfum yang pria itu kenakan kembali mengingatkan memori Lavina pada tujuh tahun lalu saat pertama kali pertemuan pertama mereka. Sayangnya, Peter tampak tidak mengingatnya.

“Sedang apa kamu di sini dan di mana Cedric?”

“Ngg--itu--, dia sedang di kamar dan aku ingin keluar keliling mansion sebentar. Aku akan kembali kamar,” Lavina sudah berbalik segera meninggalkan taman.

“Mengapa terburu-buru? Apakah dia memanggilmu?”

Lavina terdiam, ia juga tak tahu mengapa dia tampak ketakutan seperti sedang terciduk oleh Peter karena berada di taman. Apakah karena takut pria itu akan melaporkannya pada Alexander atau karena pria itu juga tahu aturan untuknya?

“Papah dan lainnya sedang menghadiri acara. Kamu bisa menikmati waktumu di sini.”

Peter berjalan ke arah kolam ikan dan memberikan ikan-ikan tersebut makan. Lavina masih berdiri di tempatnya dan memperhatikan pria tersebut.

Peter memiliki postur tubuh tegap, dengan otot-otot yang terlihat tercetak sempurna dibalik sweater rajut hitam yang di kenakannya saat ini. Belum lagi alis tebalnya dan tahi lalat dihidungnya yang terlihat jelas jika dipandang dari dekat. Pria itu mendekati kata sempurna dari bentuk fisiknya apalagi materi, karena dia kini ia sudah menduduki posisi sebagai CEO di perusahaan.

“Ingin coba memberi makan ikan?” tawar Peter pada Lavina yang membuat wanita itu tersadar setelah lama memandangi ketampanannya.

Lavina menggeleng dan kemudian meninggalkan Peter begitu saja, entah kenapa ia tak ingin berlama-lama berada di taman itu bersama pria yang kini telah menjadi kakak iparnya itu.

...***...

Jam makan malam sudah hampir tiba karena itulah Lavina kembali ke kamarnya untuk menemui Cedric dan melihat apa yang sedang pria itu lakukan.

“Dari mana saja kamu?” tanya Cedric saat Lavina baru masuk ke kamar mereka.

“Bukan urusanmu,” jawab Lavina acuh dan ia sudah bersiap akan mandi karena ia belum menggantikan pakaiannya sejak tadi.

“Aku hanya bertanya, kamu ingat kan peraturan yang Papah katakan?” Cedric menatap Lavina tajam.

Pria itu sebenarnya khawatir jika Lavina akan melanggar aturan Alexander dan membuatnya dalam masalah. Namun bagaimanapun, Cedric harus bisa bersabar menghadapi sikap wanita itu yang terus saja berkata ketus dan mengacuhkan dirinya.

“Apa kamu pergi keluar, apa ada yang melihatmu pergi?”

“Memangnya mengapa kalau aku ingin berjalan-jalan sebentar di mansion ini saat tuan Alexander tidak ada?”

“Apa ada yang melihatmu?”

Oh tidak, ini baru hari kedua pernikahan mereka dan Lavina sudah banyak mengalami masalah dan juga harus bertengkar dengan Cedric, pria yang telah menariknya dalam penjara ini?

Lavina mengabaikan Cedric dan mencari letak handuknya yang tadi pagi di simpan pelayannya. Ia tidak ingin berbicara dengan Cedric apalagi perasaannya sedang kacau saat ini yang bisa menyulut emosinya yang sejak semalam dipendamnya.

Namun, Cedric tampaknya ingin memancing emosi Lavina. Pria itu sudah memajukan kursi rodanya ke arah Lavina.

“Aku tanya sekali lagi, apa ada yang melihatmu saat keliling mansion sendirian?” Cedric terlihat begitu cemas dan masih menunggu jawaban dari istrinya itu.

“Memangnya kenapa kalau ada yang melihatku berjalan-jalan di mansion?”

“Kamu tahukan ucapan Papah tadi pagi dan di--,” ucapan Cedric terhenti.

“Aku tahu dan Tuan Cedric tak perlu khawatir aku tak peduli dengan peraturan itu karena aku bosan berdiam diri di kamar dan harus menjaga pria lumpuh seperti anda!” kata Lavina yang meninggalkan Cedric setelah mengucapkan kata-kata menyakitkan pada pria itu.

Di kamar mandi, setelah Lavina menutup pintu. Ia langsung menangis setelah mengucapkan perkataan kasar pada Cedric.

Tak seharusnya ia menyakiti Cedric dengan menghina fisiknya, tapi entah kenapa kalimat menyakitkan itu justru keluar dari mulut Lavina. Apa karena Lavina begitu kesal dengan pria itu karena telah membuatnya terjebak dalam pernikahan ini?

Terpopuler

Comments

🤩😘wiexelsvan😘🤩

🤩😘wiexelsvan😘🤩

gemesh bamget ma sikap lavina yg semaunya sendiri dan suka menghina cedric🙄😢😡yg sdh terjadi ikhlaskan saja,jalani dengan sabar siapa tau cedric emang jodoh yg di pilihkan author bwt kamu vin🤭😁😁

2023-07-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!