Cedric tengah sibuk dengan ipad di tangannya, berulang kali pria itu memijat pelepisnya membuat Lavina yang duduk di sampingnya saat ini bingung dan tak tahu menahu dengan apa yang sedang di lihat atau di kerjakan suaminya itu.
Hari ini, setelah mendapat izin dari Alexander untuk mengunjungi keluarganya. Perasaan Lavina benar-benar bahagia, ia juga tak lupa mengucapkan terima kasih pada Peter saat mereka selesai sarapan. Dan kejadian itu masih di lihat langsung oleh Cedric yang membuat hatinya merasa panas melihat interaksi istrinya bersama kakaknya.
Cedric tak tahu mengapa keduanya bisa terlihat akrab, padahal selama Lavina menikah dengannya tak pernah melihat keduanya berbincang ataupun dekat. Apa sebelum pernikahan mereka keduanya sudah lebih dulu dekat? Mungkin saja, karena Lavina adik Helena yang batal menjadi bertunangan dengan Peter. Cedric sejak tadi terus memikirkan soal itu hingga mengabaikan Lavina.
Jika sejak awal pernikahannya Cedric sangat ingin melihat wanita itu bisa tersenyum bahagia, tapi sekarang setelah wanita itu menampakkan kebahagiaannya justru Cedric yang merasa kecewa karena bukan dirinya yang membuat wanita itu bisa bahagia, melainkan Peter yang lebih dulu membuat Lavina bisa sesenang ini.
“Cedric, apa yang sedang kamu kerjakan?” tanya Lavina akhirnya setelah melihat Cedric fokus dengan gadgetnya.
“Sedang bekerja,” jawabnya dingin.
Lavina juga tahu jika pria itu sedang bekerja lewat tabletnya tersebut. Ia ingin bertanya apa yang pria itu kerjakan hingga membuat fokus pada saat perjalanan mereka. Karena sejak tadi pria itu hanya menampilkan wajah dingin dan bahkan mengabaikan Lavina yang sudah terlanjur bahagia saat ini.
“Luke, apa yang aku perintahkan sudah kau kerjakan?” tanya Cedric pada Luke yang duduk di kursi depan samping supir pribadinya.
“Sudah Tuan, semuanya sudah di bawa,” jawab pria bernama Luke tersebut.
Cedric menaruh gadgetnya dan menyandarkan badannya. Tak ada lagi percakapan yang mereka lakukan karena Cedric memejamkan matanya seolah menghindar untuk berbicara dengan Lavina.
...***...
Setelah melewati perjalanan yang terasa begitu lama bagi Lavina yang merindukan rumahnya, kini mereka telah tiba di kediaman Albert.
Kedatangan mereka memang begitu tiba-tiba karena Lavina tak bisa menghubungi keluarganya, jadi kini mereka semua tidak ada yang mengetahui jika Lavina dan Cedric akan berkunjung. Menurut wanita itu, ini juga hal bagus karena jika Albert mengetahui mereka akan datang, bisa-bisa Albert menyuruh Helena dan Eliza pergi agar tak bertemu Lavina.
“Mengapa tidak turun?” tanya Cedric bingung melihat Lavina yang masih diam di mobil.
“Aku takut Ayah melarangku bertemu mereka.”
Cedric memegang jemari Lavina dan menatapnya, “Kamu datang bersamaku, dan Ayahmu pasti tidak berani menyembunyikan ibu dan kakakmu.”
Lavina tertegun menatap wajah Cedric yang mencoba menenangkan dan meyakinkannya. Lavina bukan ingin berpikiran buruk tentang Ayahnya. Hanya saja ia sudah tahu jika pria tersebut marah kepadanya, apalagi pertemuan terakhir mereka yang belum menemukan kata damai.
Lavina turun dari mobil setelah supir pribadi mereka membukakan pintu, dan disusul Cedric yang di bantu Luke yang sudah mengeluarkan kursi roda untuknya.
Langkah Lavina makin terasa menegangkan saat menginjak kaki di depan teras rumahnya yang tidak semegah milik kediaman Alexander namun terasa lebih menenangkan untuknya.
Tidak ada yang menyambut mereka di luar pintu rumah kecuali suara bel yang sekarang di tekan Lavina dan akan dibukakan oleh pelayan keluarganya.
Karena terlalu gugup untuk berjumpa lagi dengan Ibu dan kakak perempuannya, Lavina tak sadar jika Cedric bersama Luke tengah membawa beberapa buah tangan yang Lavina tidak tahu kapan dibelinya.
“Non, Lavina.” Sapa pelayan terlihat terkejut sambil memberikan senyuman melihat anak majikannya datang.
“Ibu sama kak Helena ada kan, Bik?” tanya Lavina yang terbiasa memanggil pelayan di rumahnya dengan sebutan “Bibik”.
“Ada, ayo masuk, Non.”
Lavina mengangguk dan masuk ke dalam rumah yang telah dirindukannya. Ia sudah mengambil alih mendorong kursi roda Cedric dan pria itu masih diam menatap sekeliling rumah istrinya tersebut. Ini adalah pertama kalinya Cedric berkunjung ke rumah Lavina.
“Lavina.”
Lavina yang mendengar namanya di panggil menoleh dan melihat Helena yang sudah tersenyum menyambutnya dan langsung memeluknya. Saat ini Lavina tak bisa menyembunyikan wajah bahagia juga haru karena bisa bertemu kembali dengan kakaknya.
“Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau datang ke sini?” tanya Helena sambil menyapa Cedric dengan ramah.
“Kak, Ibu di mana?”
Helena yang sejak tadi tersenyum kini berubah menjadi ekspresi tampak kebingungan dan membuat Lavina menatap heran melihat raut wajah kakaknya yang tampak tak tenang saat ia bertanya.
Belum sempat mendapat jawaban di mana Eliza. Kini Albert sudah datang menemui mereka dengan wajah tampak sedikit terkejut namun memberikan salam ketika melihat Cedric.
“Mengapa kalian datang tidak mengabarkan kami lebih dulu?” tanyanya menatap Cedric kemudian beralih pada Lavina.
“Lavina ingin pulang dan kami baru bisa menyempatkan hari ini. Maaf kami baru berkunjung,” jawab Cedric.
Albert tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia juga berbincang banyak hal dengan Cedric dan Lavina masih berada di samping pria itu. Sejak tadi ia ingin berjalan keliling rumahnya untuk mencari Ibunya, namun entah mengapa kakinya merasa berat setelah melihat tatapan Albert berulang kali padanya dan hal lain yang Lavina risaukan, kini Helena juga sudah pergi meninggalkannya di ruang tamu.
“Ibu di mana?” tanya Lavina pada Albert.
“Ibumu sedang pergi, seharusnya kalian mengabari kami dulu. Jika dia tahu kalian berkunjung pasti dia akan menunda acaranya,” jawab Albert yang membuat Lavina tak percaya.
“Apa aku boleh pergi ke kamarku?”
Albert terdiam sesaat melihat Lavina yang menunjukkan wajah tak bersahabat dengannya di depan Cedric. Karena tak enak dengan menantunya tersebut, Albert mengizinkan putrinya pergi ke kamar lamanya.
Sebelum ke kamarnya, Lavina diam-diam pergi ke kamar Eliza dan Albert. Ia yakin jika Ibunya ada di rumah saat ini dan mungkin Ayahnya sengaja melarang mereka bertemu dan meminta Eliza bersembunyi.
“Ibu, Lavina datang,” panggil Lavina saat membuka pintu kamar yang memang kosong.
Berulang kali Lavina memanggil Ibunya, namun tetap tak ada jawaban. Lavina berjalan menuju kamar Helena dan membuat wanita itu terkejut.
“Kak, Ibu di mana?” tanya Lavina cemas.
“Ibu--, Ibu sedang keluar.”
Jawaban dari Helena tampak sama saja dengan Albert, namun melihat wajah kakaknya saat ini ia tak begitu yakin. Lavina merasa Ayah dan kakaknya sedang menipunya saat ini.
“Lavina kenapa kamu menangis?” Helena memeluk adiknya.
“Aku ingin bertemu Ibu. Mengapa sulit sekali bertemu dengannya? Aku belum meminta maaf padanya dan sekarang aku hanya punya waktu hari ini tapi tetap tak bisa menemuinya.”
“Jangan menangis Lavina, Ibu tidak marah padamu. Sejak kejadian yang lalu, dia justru mengkhawatirkanmu.”
Lavina menatap Helena dengan mata berkaca-kacanya dan suaranya yang bergetar karena tangisnya yang pecah.
“Aku minta maaf karena telah mengacaukan pertunangan kakak. Aku minta maaf,” sesak Lavina.
Helena tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ia mengelus rambut Lavina yang terurai sambil memeluknya lagi.
“Tidak apa-apa, aku tidak marah dengan kejadian itu. Lagi pula aku dan Peter tidak saling mencintai. Sekarang justru aku khawatir denganmu, apa kamu baik-baik saja di sana?”
Lavina melepaskan pelukannya pada Helena dan menatap kakak satu-satunya itu.
“Aku sudah menemukan penjaraku yang akan menghukumku seumur hidup,” jawab Lavina menerka air matanya.
“Apa maksudmu? Apa mereka melukaimu di sana? Tolong katakan apa yang terjadi padamu?”
Lavina tak bisa menceritakan apapun pada Helena soal keadaannya dan apa yang terjadi padanya setelah menikah dan tinggal di kediaman Alexander. Ia hanya merasa bersyukur karena Helena tidak jadi menantu dari Alexander yang kejam itu meskipun pada akhirnya justru dirinya yang tersiksa di sana.
“Apa sudah pergi melihat kamarmu?” suara Albert tiba-tiba muncul dan membuat Lavina terkejut.
“Aku akan pergi melihatnya, ada barang-barang yang ingin aku bawa.” Lavina sudah ingin pergi namun Ayahnya tampak menahan langkahnya.
“Barang apa yang ingin kau bawa ke sana? Bukankah kau bisa membeli yang baru bahkan lebih mahal dari yang kau miliki.”
“Mungkin aku bisa membeli barang yang sama bahkan dengan harga yang lebih tinggi, tapi tidak pada kenangan yang ku punya untuk barang-barang itu,” Lavina berjalan masuk ke kamarnya yang posisinya bersebelahan dengan kamar Helena.
Kamarnya masih sama, barang-barang miliknya juga masih tersusun rapih di tempatnya. Beberapa boneka koleksinya juga dipajang di ranjang miliknya. Lavina merindukan kamar lamanya dan ia ingin kembali tidur di sini dan menghabiskan hari-harinya dengan berdiam diri di kamar sambil menonton dan kadang-kadang karena terlalu asyik bermalas-malasan, Eliza akan datang membawakannya potongan buah dan kemudian menyuruhnya untuk makan.
Lavina merindukan hal itu, merindukan hari di mana dia masih menjadi seorang anak gadis yang pemalas dan menghabiskan waktunya di kamar dan kadang sampai mendapat omelan dari Eliza hanya karena lupa makan ataupun karena dirinya yang sering membuat keadaan rumah berantakan jika sudah keluar kamar.
“Apa yang ingin kau bawa?” tanya Albert berdiri di depan pintu.
Lavina sebenarnya tak tahu ingin membawa barang apa dari kamarnya. Karena permintaannya tadi ingin pergi ke kamar hanya berpura-pura agar ia bisa bertemu dengan Eliza. Tapi sayangnya memang Ibunya tak ada di rumah saat ini.
“Aku ingin membawa boneka beruang. Ini hadiah ulang tahunku saay berumur 12 tahun dari Ayah dan kado terakhir yang dibelikan untukku, jadi aku ingin membawanya.” Lavina membawa boneka beruang berukuran cukup besar tersebut dan pergi meninggalkan Albert.
Dan tak ingin berlama-lama berada di rumahnya tanpa Eliza, kini Lavina memilih untuk pulang dengan perasaan kecewa. Ia sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan duduk memeluk boneka beruang yang dibawanya tadi sedangkan Cedric masih berada di dalam karena Albert memanggilnya untuk berbicara. Lavina tidak mau tahu apa yang sedang mereka perbincangan karena menurutnya keduanya sedang membahas kerja sama mereka yang belum di setujui Cedric.
...***...
Perasaan Lavina sangat kacau dan hatinya kecewa karena tak bisa bertemu Eliza bahkan disaat dirinya punya kesempatan pulang ke rumah.
Padahal sejak tadi pagi perasaannya sudah sangat senang karena bisa mendapatkan izin untuk mengunjungi keluarganya, tapi orang yang Lavina ingin temui ternyata tidak ada di sana. Entah ke mana Eliza pergi, karena sejak dulu Ibunya itu jarang bepergian dan jikapun menghadiri acara biasanya ia akan mengajak Helena atau Lavina menemaninya.
“Mengapa kau membawa boneka itu?” tanya Cedric.
“Tidak tahu, aku hanya asal mengambilnya.”
Cedric terdiam sesaat setelah melihat ekspresi Lavina yang terdiam murah dan sudah kecewa. Ia yakin wanita itu sedang sedih karena tidak bertemu dengan Eliza.
“Aku tahu kamu sedang kesal.”
“Lalu, mengapa kamu bertanya?” ketus Lavina menatap Cedric.
Bukan ekspresi takut melihat Lavina yang berbicara ketus, Cedric juga tersenyum melihat ekspresi Lavina yang menurutnya terlihat sangat lucu ketika sedang kesal dan marah. Ditambah saat ini ia memeluk boneka beruang yang di bawanya, sangat terlihat menggemaskan bagi Cedric.
“Apa bonekamu belum dicuci?” goda Cedric sambil pura-pura mengecek boneka yang dipeluk istrinya.
“Meskipun aku tidak sekaya dirimu, tapi semua barangku terawat dan bersih.”
“Apa hubungannya dengan kekayaan?” Cedric bergumanan.
“Apa kamu pernah mencuci bajumu sendiri?” tanya Lavina yang bisa mendengar gumanan dari Cedric tadi.
Pria tersebut menatap ke arah Lavina bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan istrinya.
“Tidak, mengapa?”
Lavina menaruh boneka beruang yang dipeluknya tersebut di sampingnya seolah sebagai pengikis jarak duduk antaranya dengan Cedric saat ini.
“Itulah bedanya, aku tidak sekaya dirimu dan terkadang harus mencuci pakaianku sendiri. Sedangkan kamu terlahir menjadi sultan yang tak pernah mengerjakan pekerjaan rumahan,” ujarnya seolah mengingatkan kasta mereka yang berbeda.
Cedric menghela nafasnya mendengar ucapan Lavina, tampaknya percakapan mereka akan berakhir panjang karena ia yang mulai memancing istrinya.
“Tapi kamu mencucinya dengan mesin bukan?”
“Ya tapi--, oke baiklah kamu memang benar.” Lavina merasa kalah dengan Cedric dan memilih memalingkan wajahnya melihat ke arah jendela mobil.
Cedric mengulum senyuman melihat ekspresi istrinya yang sedang kesal saat ini. Memang benar, Lavina yang sedang kesal sangat menggemaskan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
🤩😘wiexelsvan😘🤩
lavinna jangan judes,ketus,galak dan suka marah" ma bang cedric gitu dech,,,gak baik dan gak sopan sprt itu ma suami sendiri 😁😁😁
2023-07-23
1