Emosi Tak Terkendali

Cedric pikir, setelah percakapan mereka berdua saat ini sudah berakhir dengan rasa kecewa dan sedih setelah mengetahui jika Lavina mencintai orang lain. Tapi kenyataannya, sekarang wanita itu justru membuat sebuah pilihan yang sulit untuk Cedric.

Tanpa pernah diduganya, baru saja beberapa menit yang lalu, Lavina memintanya membuat perjanjian bersamanya. Namun perjanjian itu membuatnya gundah dan bingung.

“Bagaimana, Cedric? Aku berjanji saat semuanya sudah selesai diantara kita. Aku akan menghilang dan tidak akan menuntut apapun darimu,” Lavina masih mencoba meyakinkan Cedric.

“Beri aku waktu untuk memikirkannya,” jawab Cedric yang kemudian berlalu melajukan kursi rodanya pergi meninggalkan Lavina yang hanya bisa menahan tangisnya karena Cedric tidak memberikannya jawaban.

...***...

Cedric pergi ke taman belakang untuk menenangkan dirinya setelah perbincangannya dengan Lavina yang cukup serius tadi membuat pikirannya sangat kacau juga hatinya.

Setelah pengakuan langsung dari istrinya jika ia mencintai pria lain, wanita itu juga memintanya membuat perjanjian soal pernikahan mereka berdua. Dan perjanjian itu masih belum bisa Cedric pahami karena ia masih perlu memikirkannya matang-matang.

Ia sadar, pernikahannya dan Lavina memang karena kesalahpahaman yang membuat mereka terpaksa terikat dalam hubungan yang sah tanpa perasaan. Tapi, meskipun semuanya berawal karena jebakan malam itu, niat Cedric menikahi Lavina sungguhlah bukan sekedar main-main meskipun hingga detik ini Cedric menyadari jika Lavina tak pernah bisa menerima pernikahan mereka hingga perjanjian itupun mulai keluar dari bibir wanita itu yang membuat Cedric terdiam.

“Sendiri?”

Cedric yang tengah terdiam menatap bunga-bunga di taman langsung menatap sumber suara yang di dengarnya dan itu adalah Peter.

Dan seperti biasanya, Cedric mengabaikan Peter dan tak menjawab pertanyaan kakaknya itu. Peter juga yang tampak sudah terbiasa dengan adiknya itu tidak menyerah untuk tetap berbicara.

“Di mana Lavina? Sudah lama sekali dia tidak pernah ke sini?” tanya Peter yang entah memang sedang serius menanyakan istrinya atau sedang memancing Cedric agar berbicara padanya.

Lagi-lagi, Cedric tetap terdiam dan mengabaikan Peter meskipun ia sempat merasa kesal karena Peter menyebut nama Lavina, namun Cedric memilih melajukan kursi rodanya ke arah lain berusaha menjauh dari Peter.

Peter tidaklah jahat padanya ataupun melukainya, bahkan sejak Cedric di bawa ke mansion tersebut ia tetap bersikap baik dan menerima kehadiran adik dari wanita lain ayahnya itu.

Sayangnya, sejak awal mereka bertemu. Cedric tak pernah bersikap baik ataupun mencoba menerimanya, ia terus bersikap dingin bahkan disaat Peter peduli padanya. Sejak kecelakaan tujuh tahun lalu dan Cedric kehilangan ibunya hingga di bawa Alexander untuk tinggal bersama mereka, sikap Cedric masih belum berubah dan masih selalu menganggap semuanya orang di rumah ini adalah musuh dan memiliu selalu menyendiri.

“Lavina menyukai ikan-ikan di sini. Sayang, dia tidak pernah lagi pergi ke taman,” Peter mendekati Cedric yang sudah melanjukan kursi rodanya ke dekat kolam ikan.

Cedric mulai terusik mendengar nama Lavina berulangkali disebut Peter. Sebenarnya sedekat apakah hubungan mereka hingga Peter terus saja membahas soal Lavina di depannya? Apakah pria itu tidak menyadari jika Cedric tak menyukai nama istrinya keluar dari bibir kakaknya itu?

“Lavina pernah cerita soal orang tuanya, katanya dia ingin--,” ucapan Peter terhenti setelah mendapat tatapan tajam dari Cedric.

“Berhenti ikut campur soal kehidupan rumah tanggaku dan juga Lavina!” tegas Cedric.

Bukannya merasa takut dengan tatapan dan ucapan Cedric padanya, Peter justru tampak begitu santai dan seolah sengaja ingin memancing emosi Cedric.

Padahal selama ini Peter tak pernah sekalipun mencari ribut ataupun memancing emosi Cedric. Pria itu terbiasa mengalah dan mencoba mengerti emosi dari adiknya itu, tapi kali ini tidak. Peter tampak sedang ingin membuat emosi Cedric meledak.

“Mengapa? Apa kau cemburu melihat kedekatan kami?” tanya Peter.

“Apa kau tertarik dengan milik orang lain?” tanya Cedric.

Peter tertawa kecil mendengar ucapan dari adiknya. ‘Tertarik dengan milik orang lain?’, apakah Cedric tak menyadari pertanyaan yang keluar dari bibirnya itu bisa menjadi senjata berbalik untuknya?

“Aku tidak tertarik dengan milik orang lain. Hanya penasaran,” jawab Peter menarik ujung bibirnya yang membuat Cedric emosi dan mengepalkan tangannya.

Jika saja saat ini ia tidak lumpuh dan duduk di kursi roda, mungkin Cedric sudah melayangkan pukulan di pipi pria itu. Sayangnya, dia terlalu lemah dan hanya bisa mengeluarkan tatapan penuh amarah dengan mengepalkan tangannya.

Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Peter saat ini karena baru pertama kalinya pria itu memancing emosi Cedric dengan sengaja. Apakah ia sedang kesal atau Cedric menyinggungnya?

“Kau akan bertunangan, lebih baik urusi urusanmu. Jangan sampai pesta pertunanganmu kembali gagal untuk kedua kalinya,” ujar Cedric yang kemudian melajukan kursi rodanya meninggalkan Peter.

Kali ini tampaknya Peter sedang mencari masalah dan mengajaknya bertarung. Saat Cedric melajukan kursi rodanya pergi, pria itu menahannya dengan kuat hingga Cedric yang tak terkejut dan langsung terjatuh ke tanah, sementara kursi rodanya tertahan oleh Peter yang menatapnya dingin dan tak peduli melihatnya terjatuh karena ulahnya.

Untuk pertama kalinya Cedric melihat tatapan penuh amarah dan juga kesal dari Peter padanya. Sebenarnya apa yag terjadi dan mengapa Peter berubah menjadi emosi seperti ini padanya?

“Apa yang kau lakukan?” Cedric masih terduduk di tanah.

“Berhenti berpura-pura Cedric. Cepatlah berdiri dan lawan aku sekarang!” pinta Peter.

Cedric tak mengerti apa yang kakaknya itu katakan, apakah pria itu sedang mabuk berat setelah pengumuman pesta pertunangannya tadi hingga mencari gara-gara padanya?

Tak pedulikan ucapan Peter, Cedric mencoba meraih kursi rodanya agar ia bisa kembali duduk dan pergi dari sana. Tapi Peter benar-benar ingin mengajaknya untuk bertarung sungguhan meskipun sudah jelas jika mereka bukan lawan seimbang apalagi fisik Cedric yang sudah cacat karena kelumpuhannya tak bisa untuk melawan Peter.

Seperti saat ini, ia hanya bisa meninggikan suaranya dengan penuh emosi dan penekanan untuk meminta Peter berhenti bermain-main dan mengembalikan kursi rodanya.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Cedric dengan penuh emosi menatap tajam Peter yang berdiri di depannya.

“Yang aku inginkan?” Peter mengulang pertanyaan Cedric dan tertawa sinis menatapnya tak kalah tajam, “Aku minta kau berhenti berpura-pura dan gunakanlah kedua kakimu itu untuk berdiri dan coba lawan aku!” Peter menendang kaki Cedric yang bersimpuh di bawahnya.

Cedric tak punya kekuatan apapun untuk melawan Peter, sekalipun ia menarik kedua kaki Peter hingga pria itu terjatuh dan melayangkan pukulan kencang padanya. Ia tetap akan kalah karena kedua kakinya yang mati rasa itu tak bisa membantunya menghindari pukulan yang akan Peter berikan padanya.

Namun ia juga tak bisa melihat dirinya yang begitu payah dihadapan pria yang selalu menjadi kebanggaan Alexander itu. Cedric sadar posisinya dengan Peter sangat jauh berbeda apalagi statusnya dikeluarga Alexander tak banyak yang tahu karena ia adalah putra tidak sah karena lahir dari wanita selingkuhan ayahnya.

“Berhenti berpura-pura Cedric, apakah kau ingin mati dengan sia-sia seperti ibumu itu?” Peter masih terus memancing emosi Cedric.

Mendengar nama ibunya disebut oleh Peter dan direndahkan seperti itu, emosi Cedric benar-benar tak terbendung lagi hingga akhirnya ia menarik kencang kaki Peter hingga pria itu terjatuh.

Meskipun sangat sulit bagi Cedric untuk melawan Peter namun ia berhasil mendekati wajah kakaknya itu dan melayangkan tinju cukup kencang dan menarik kerahnya Peter yang justru tersenyum senang menerima pukulan dari adiknya itu.

“APA YANG KAU INGINKAN? APAKAH TIDAK CUKUP DENGAN MEMBUNUH IBUKU DAN MEMBUATKU CACAT?” tanya Cedric dengan penuh emosi menarik kerah baju Peter.

Peter terkekeh melihat emosi berapi-api Cedric padanya, “Tidak, aku belum puas. Kau juga harus merasakan bagaimana milikmu diambil orang lain seperti yang ibumu lakukan pada ibuku.”

BUGH!!!

Dua tinju kembali mendarat di pipi kanan Peter yang meninggalkan memar dan robekan kecil diujung bibirnya. Dan tak terima dengan pukulan yang di terimanya, Peter bangkit dan langsung membalasnya tak kalah emosi hingga Cedric tersungkur dan tak mampu melawan Peter karena pria itu sudah menahan lehernya ke tanah dan Cedric tak bisa menghindari pukulan kencang dari Peter.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” suara dingin dan penuh emosi itu adalah milik Alexander yang datang bersama Amber, Eleanor juga Lavina yang datang melihat pertikaian kedua kakak-beradik itu untuk pertama kalinya yang membuat mereka semua terkejut termasuk Amber.

Peter yang duduk di atas Cedric dan melayang pukulan kencang langsung tersadar dengan tindakan yang dilakukanya setelah melihat Cedric tak sadarkan diri dengan luka lebam di wajahnya dan juga darah di sudut bibirnya.

Lavina dengan cepat menghampiri suaminya dan tak bisa menahan tangisnya melihat keadaan Cedric dengan luka di wajahnya juga tak sadarkan diri.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan keduanya hingga Peter sampai kehilangan kendali dan melukai Cedric?

“Apa yang terjadi, wajahmu Peter.” Amber syok melihat wajah lebam Peter.

“Cepat panggilkan pengawal dan siapkan mobil, bawa Cedric ke rumah sakit sekarang!” pinta Alexander pada pelayan.

Peter terlihat masih terkejut dengan tindakannya langsung membantu mengangkat tubuh Cedric, namun Lavina dengan cepat menepis tangan pria itu dan menatapnya dengan tatapan kecewa dan penuh amarah tanpa mengeluarkan sepatah katapun yang membuat Peter hanya bisa diam menyesali perbuatannya.

Terpopuler

Comments

Mully Augustine

Mully Augustine

lanjut

2023-08-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!