Sebuah Permintaan

Hari sudah pagi, dan Lavina yang baru saja terbangun tak menemukan Cedric di sebelahnya. Kursi roda miliknya juga tidak ada di samping ranjang. Lavina berjalan ke kamar mandi hingga walk in closet mencari keberadaan suaminya itu yang tiba-tiba menghilang dari kamar mereka di pagi ini.

Lavina mengambil ponselnya di nakas hendak menelepon pria itu, siapa tahu Cedric membawa ponselnya juga. Tapi, ia baru menyadari saat membuka kontak di ponselnya ternyata ia tak memiliki nomor pria itu sama sekali. Lavina merasa cemas, takut Cedric pergi keluar kamar sendiri dan tuan Alexander melihatnya dan akan memberikannya hukuman lagi.

Di luar kamar mereka masih ada dua pengawal yang terus berjaga bergantian. Akan lebih baik jika Lavina menanyakannya pada mereka ke mana suaminya itu pergi pagi-pagi ini.

“Apa kalian melihat Cedric pergi?” tanya Lavina yang masih mengenakan gaun tidurnya dan baru mencuci mukanya saja.

“Maaf Nona, kami baru datang bertugas dan tidak melihat tuan Cedric saat keluar kamar,” jawabnya yang membuat Lavina menjadi cemas.

“Apa aku boleh pergi mencarinya sebentar? Aku tidak menemukannya di kamar saat bangun tidur,” tanya Lavina dengan wajah khawatir pada dua pengawal itu.

Kedua pria bertubuh tegap dan berwajah datar itu merasa bingung melihat ekspresi dari Lavina saat ini seperti sedang kehilangan seorang anak kecil saja. Padahal Cedric tidak perlu begitu di khawatirkan apalagi pria itu juga tidak akan pergi begitu jauh.

“Lebih baik Nona Lavina tunggu di kamar, biar kami yang akan mencari keberadaan tuan Cedric,” ujar mereka.

“Tidak, aku harus mencarinya sebelum tuan Alexander melihatnya pergi keluar tanpa aku,” Lavina langsung berlarian meloloskan diri dari dua pengawal yang sempat terkecoh dengan pergerakan Lavina saat kabur dari mereka.

Lavina berlarian berkeliling mansion megah Alexander itu tanpa alas kaki karena ia tak sempat memakainya dan sekarang dua pengawal yang menjaganya juga sudah mengejarnya dengan cepat sambil memanggil namanya berulang kali agar berhenti.

Lavina terus membuka beberapa pintu ruangan yang belum ia ketahui tempat apa saja karena di mansion ini Lavina hanya mengetahui letak kamar-kamar yang dihuni para pemiliknya, namun banyak ruangan yang tak pernah Lavina ketahui sebelumnya dan ia membuka satu persatu pintu itu.

“Nona muda tolong berhenti,” teriak pengawal tersebut.

Lavina tahu tenanganya tidak cukup besar untuk bisa lolos dari kedua pengawal yang akan segera menangkapnya dan mungkin langsung mengurungnya di kamar setelah ini. Tapi Lavina hanya ingin mencari Cedric, ia juga tak tahu mengapa dirinya sampai nekat berlarian keliling mansion pagi ini.

Lavina tak begitu memperhatikan langkahnya, hingga ia terjatuh dengan kencang dan lututnya membentur lantai. Lavina tak bisa lagi dan lolos dari kedua pengawal yang sudah berdiri di belakangnya saat ini.

“Lavina.” Suara pria terdengar di depannya dan membuat Lavina yang sejak tadi menunduk menahan tangisnya karena rasa sakit saat terjatuh menatap sumber suara yang di dengarnya.

Peter berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan terkejut, di tambah dua pengawal yang berada di belakang Lavina yang tadinya hendak menarik langsung lengan Lavina terhenti karena melihat sosok Peter.

Gaun tidur selutut, rambut yang masih berantakan dan wajahnya yang putih bersih tanpa makeup saat ini membuat Peter bingung apa yang dilakukan wanita itu sampai terjatuh. Mata Lavina sudah memerah, ada air mata di pelupuk matanya yang mungkin sebentar lagi akan turun membasahi pipinya.

“Kak Peter, apa kamu melihat Cedric?” tanya Lavina dengan wajah sendu.

Peter sudah berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan wanita itu yang tampak begitu menyedihkan. Telapak tangannya sudah memerah karena menahan tubuhnya yang terjatuh, mengapa Peter harus kembali melihat wanita itu terjatuh untuk kedua kalinya.

“Aku di sini.” Suara pria yang Lavina cari itu terdengar dari belakang tubuh Peter.

Cedric yang duduk di kursi roda sudah berada di hadapannya dan menatapnya bersama pria paruh baya yang berdiri di sampingnya dan menatap tajam ke arahnya.

“Cedric.” Lirih Lavina yang kini merasakan takut melihat tatapan tajam tuan Alexander.

Peter sudah mengulurkan tangannya hendak membantu Lavina, namun wanita itu mengabaikannya karena Cedric sudah menjalankan kursi rodanya ke arahnya dan mengulurkan tangannya yang diterima Lavina.

Lavina merapihkan gaun tidurnya, lututnya terasa sakit setelah terjatuh tadi, dan sekarang ia merasa takut karena Alexander sudah berada di depannya dan melihatnya dalam keadaan kacau di tambah dua pengawal yang ada dibelakang Lavina.

“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Alexander pada dua pengawal dibelakang Lavina.

“Maaf tuan, tadi Nona Lavina ingin pergi mencari Cedric dan kami berusaha mencegahnya.”

“Mengapa kalian harus mengejarnya yang ingin mencari suaminya, lihatlah dia sampai terjatuh karena kalian ingin menangkapnya!” Amuk Peter pada kedua pengawal itu.

Ya, Peter tidak tahu jika Alexander diam-diam membawa dua pengawal yang berjaga di kamar Cerdric dan sekarang ia marah karena melihat kondisi wanita itu dan mendengar penjelasan dari mereka yang sengaja ingin menangkap adik iparnya.

Lavina melihat sorot mata penuh amarah dari Peter pada kedua pengawal yang mengejarnya dan amarah Peter tersebut juga membuat Alexander tampak takut ketahuan jika dirinya diam-diam meminta pengawal untuk mengawasi Lavina.

“Kembali ke tempat kalian, tugas kalian bukan di sini!” perintah Alexander pada dua pengawal tersebut.

Sejak tadi Cedric hanya diam, ia juga tak bertanya apapun pada Lavina yang sudah gemetar ketakutan. Ia hanya menatap penampilan kacau wanita itu sekarang dan melihat lututnya yang memerah dan sudah pasti sakit setelah terjatuh tadi.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Alexander pada Lavina yang membuat wanita itu gugup.

“Ya, aku baik-baik saja,” Lavina menunduk.

Peter melihat gestur Lavina yang tampak ketakutan pada Ayahnya itu. Memang, Alexander memiliki aura yang menakutkan dan tatapan yang tajam, dan ia tahu pria paruh baya itu sudah pernah membuat peraturan pada menantu pertamanya itu dan mungkin itu yang membuat Lavina menjadi takut saat melihat mertuanya.

“Tadi Cedric berbicara denganku dan sekarang kau sudah menemukannya, kembalilah ke kamar kalian,” ujar Alexander yang kemudian meninggalkan mereka.

Lavina menunduk patuh dan langsung berjalan kebelakang Cedric untuk mendorong kursi rodanya dan kembali ke kamar mereka.

“Apa kakimu baik-baik saja?” tanya Peter yang masih berdiri di sana dan melihat Lavina yang berjalan sedikit pincang.

“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih.” Lavina berlalu meninggalkan Peter.

...***...

Setelah sampai kamar, Lavina terkejut saat Cedric yang sejak tadi tak bersuara tiba-tiba menarik lengan dan pinggangnya hingga membuatnya terjatuh dan duduk di kedua paha pria itu.

Lavina terkejut sampai tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan kini ia duduk di kedua paha pria itu, untung saja kursi rodanya tidak bergerak begitu kencang hingga bisa menahannya.

Melihat posisinya yang tidak nyaman, Lavina segera berdiri, tapi Cedric menahan pinggangnya begitu erat.

“Cedric lepaskan.”

“Aku ingin mengecek kakimu yang terjatuh tadi.”

“Kakiku baik-baik saja, dan aku ingin berdiri.” Lavina berusaha melepaskan pelukan Cedric di pinggangnya.

“Lihatlah lututmu memerah karena terjatuh. Apa ini sangat sakit?”

Lavina berusaha menarik gaun tidurnya agar menutupi lututnya yang terekspos dan dilirik Cedric. Posisi mereka saat ini juga begitu tak nyaman untuk Lavina.

“Mengapa kamu berlarian ingin mencariku? Lihatlah, kamu jadi terluka?”

Lavina berhasil melepaskan pelukan Cedric dari pinganggnya. Ia tahu Cedric tidak akan merasakan apapun karena kedua kakinya mati rasa, namun posisi mereka saat ini begitu intens dan Lavina bisa merasakan hembusan nafas pria itu yang membuatnya menjadi gugup.

“Aku baik-baik saja, tadi aku panik karna kamu tidak ada di kamar dan takut sesuatu terjadi padamu lagi,” ujar Lavina yang membuat Cedric menatap wanita itu dengan ekspresi wajah terlihat sedang menahan amarah.

“Mandilah dan segera bersiap-siaplah, kita akan pergi hari ini.”

“Pergi, ke mana?”

“Nanti kamu akan tahu, sekarang bersiap-siaplah. Kita akan pergi setelah sarapan.” Cedric meraih tabletnya dan kemudian mengabaikan Lavina yang tampak bingung ke mana suaminya itu akan mengajaknya pergi, namun ia akhirnya menurut saja.

...***...

Lavina memakai gaun yang dipilihkan oleh Cedric. Sebenarnya ia tak pernah suka dengan pilihan dari pria itu, tapi ia tak mau berdebat dengannya dan memilih menyetujui.

Entah ke mana pria itu akan membawanya pergi, Lavina hanya diam saja selama di perjalanan karena ini baru pertama kalinya lagi untuk Lavina menghirup udara bebas setelah terlepas dari penjara kediaman Alexander.

Jika dulu Lavina sampai lupa pulang karena terlalu sering bepergian ke luar, tapi sekarang ia justru merasa asing karena sudah seminggu terkurung di kediaman Alexander tak bisa melihat keadaan di luar.

“Sudah sampai, lekaslah turun,” ujar Cedric.

Lavina turun lebih dulu dan disusul Cedric yang dibantu oleh supir dan seorang pria lainnya yang dikenalkan Cedric sebelumnya sebagai asistennya bernama Luke.

Luke sudah mengambil alih membantu Cedric dan mendorong kursi roda pria itu. Sejak tadi Lavina hanya diam dengan segala kebingungan kini menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapannya ini. Ia hanya mengekori dua pria itu dari belakang dan berusaha menyeimbangkan langkahnya agar tak terjatuh karena sepatu berhak tinggi yang dikenakannya.

“Selamat pagi, tuan Cedric.” Sapa beberapa orang dengan penampilan rapih mengenakan setelan jas dan dasi yang membuat Lavina bisa menduga jika ini adalah kantor milik keluarga Alexander.

Lavina sudah tahu jika Cedric juga bekerja di perusahaan miliknya Ayahnya dan pria itu juga sudah pernah bilang jika sesekali ia akan pergi ke kantor untuk urusan bisnis atau rapat. Tapi, kenapa hari ini ia diajak pergi ke kantor pria itu?

Apakah sekarang Cedric hanya ingin pamer tentang posisi di kantornya? Ataukah pria itu hanya ingin mengajak Lavina pergi ke kantor untuk menunggunya bekerja?

“Apakah dia sudah datang?” tanya Cedric pada Luke.

“Dia sudah tiba lima belas menit yang lalu, Tuan.”

Cedric menoleh pada Lavina yang saat ini berdiri di belakang mereka. Sejak tadi banyak mata yang memandang ke arahnya sambil menundukkan kepalanya seolah memberi hormat. Mungkinkah mereka telah mengetahui siapa dirinya?

“Ikutlah masuk ke dalam, ada seseorang yang ingin kau temui,” ujar Cedric yang membuat Lavina kebingungan.

“Orang yang ingin kutemui, siapa?”

Cedric tak menjawabnya dan kini mereka semua masuk ke dalam ruangan berpintu kaca tersebut. Ia masih penasaran, adakah orang yang ingin ia temui. Apakah itu--,?

“Selamat pagi Tuan Albert.” sapa Cedric.

“Ayah.”

Lavina begitu terkejut melihat sosok Albert yang kini juga menatapnya sama terkejut. Pria itu sedang duduk bersama sekretarisnya yang dikenal Lavina.

Namun, saat melihat sosok Ayahnya entah mengapa Lavina justru mereka kecewa. Ia juga mendadak bingung harus melakukan apa atau memulai pembicaraan bagaimana dengan pria itu, karena Lavina masih merasakan terluka dengan Ayahnya apalagi tamparan dipertemuan terakhir mereka saat itu masih membekas di hati Lavina.

“Tuan Albert, aku membawa Lavina ke sini bukan hanya untuk mempertemukan kalian. Tapi dia juga yang akan memutuskan tentang kerjasama kita,” jelas Cedric.

Apa maksudnya? Lavina ikut adil dalam memutuskan kerjasama mereka? Mengapa Cedric tidak memberitahunya lebih awal dan mengapa ia malah memutuskannya sendiri.

Lavina menatap Cedric dengan tatapan penuh tanda tanya, namun pria itu justru mengabaikannya dan bersikap santai. Luke sudah mengambil beberapa berkas di meja dan menyerahkannya pada Cedric.

“Duduklah, sepertinya kalian butuh waktu untuk berbicara berdua,” ujar Cedric.

“Tidak perlu, kita bisa mendiskusikan kerjasamanya,” jawab Albert.

Lavina masih berdiri kaku sambil menunduk. Ia sendiri tak tahu kerjasama apa yang sedang dilakukan oleh Ayahnya dengan Cedric. Dan ia sama sekali tak menduga jika Cedric akan membawanya bertemu Albert saat ini.

Sekarang ia merasakan kecewa karena Albert juga mengabaikannya sejak tadi, seolah-olah tak melihat kehadiran anaknya. Padahal sudah seminggu Lavina pergi setelah pernikahan mendadak hari itu, tapi tampaknya Albert tak peduli dan sama sekali tak ingin menanyakan kabar putri keduanya itu.

“Kalau begitu biar Lavina melihatnya dulu, aku butuh persetujuan darinya tentang kerjasama ini.”

Lavina menatap Cedric dengan tatapan tak terima, mengapa dirinya dilibatkan atas kerjasama yang dilakukan perusahaan mereka. Lagi pula sekarang Albert adalah mertuanya, mengapa Cedric harus meminta persetujuannya soal bisnis mereka.

Dan bukan hanya Lavina yang menatap tak mengerti dan terima tapi Albert juga menatap putrinya saat ini dengan penuh tanya. Anaknya itu telah menerima berkas yang disodorkan Cedric padanya dan barulah ia duduk berhadap-hadapannya dengannya.

“Cedric, kau tahu jika putri keduaku tidak memiliki kemampuan apapun apalagi mengerti soal bisnis. Apa sekarang kau percayakan kerjasama kita padanya?” tanya Albert.

Lavina mendengarkan dengan jelas perkataan Ayahnya, sejujurnya ia tidak merasa terkejut dengan ucapannya karena sejak dulu pria paruh baya itu memang selalu menjatuhkan harga dirinya dan mencapnya tak berguna. Karena memang kenyataannya Lavina tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya pandai membuat perkara dan masalah pada keluarganya.

Tapi, kali ini ia hanya ingin Albert berbicara padanya paling tidak menanyakan tentang kabarnya. Lavina ingin juga bertanya soal keadaan Ibunya sekarang karena wanita itu tidak pernah lagi mengangkat dan membalas pesan-pesannya. Lavina merasakan jika ia benar-benar di buang oleh keluarganya.

“Aku mengerti tuan Albert, tapi sekarang anak anda sudah menjadi bagian keluar Alexander dan menjadi istriku. Dan kali ini, aku ingin dia yang memutuskan kerjasama ini karena produk yang akan dibuat itu, aku ingin Lavina yang memilikinya pertama kali,” jelas Cedric menatap Lavina.

Albert tampak terkejut dengan ucapan Cedric yang kini menjadi menantunya. Sebelumnya mereka tidak saling kenal dekat dan belum pernah pula berbincang banyak. Karena dulu Albert meminta bekerjasama dengan Peter, dan itulah juga alasan kerjasama mereka yang membuat perjodohan dengan Helena, anak pertamanya yang juga kakak kandung Lavina.

Karena perjodohan itu gagal, kerjasama antara keduanya juga dibatalkan oleh Alexander dan mereka menawarkan kerjasama lain dengan perusahaan yang sekarang dipegang Cedric. Awalnya Albert tak setuju karena bagaimanapun kedua anak mereka sudah menikah meskipun itu bukan Peter dan Helena dan seharusnya kerjasama awal itu tidak dibatalkan.

Tapi orang itu adalah Alexander yang memiliki kekuasaan tertinggi di Asia, pria itu sangat pintar dan licik. Ia menolak kerjasama mereka karena menurutnya pernikahan Lavina dengan Cedric adalah sebuah kecelakaan dan Albert tak bisa menuntutnya dan ia masih memberikan kesempatan pada Albert bekerjasama dengan perusahaan yang kini di pegang Cedric dan belum terlalu berkembang.

“Lavina, bagaimana apa kamu setuju?” Tanya Cedric.

“Bisa tinggalkan kami berdua? Aku ingin berbicara dengan Ayah.”

Cedric mengangguk dan mereka juga berjalan pergi berdua meninggalkan Lavina dengan Albert yang sempat terdiam beberapa saat.

“Bagaimana keadaan Ibu?” tanya Lavina menatap Albert.

“Apa kau masih berani menanyakannya setelah perbuatan yang kau lakukan?”

“Ayah, aku hanya ingin tahu kabarnya,” mohon Lavina dengan mata memerah menahan tangis dan amarahnya.

“Jangan tanyakan bagaimana keadaannya, karena sekarang dia sudah sangat terluka dan kecewa karenamu,” tegas Albert.

Lavina tak bisa menahan tangisnya saat ini, hatinya sudah sangat perih karena tak bisa bertemu Ibunya dan bahkan tak mendapat kabarnya sama sekali. Ia juga tak bisa menghubungi nomor Helena karena mungkin Albert telah mengganti nomor kakaknya itu dan melarangnya menghubunginya.

“Apa Ayah melarang kak Helena untuk menghubungiku?”

“Berhenti menganggunya setelah perbuatan yang kau lakukan padanya dan pada kami. Sekarang kau fokus saja dengan kehidupan barumu.”

Lavina merasakan sesak dengan ucapannya Ayahnya itu, tatapan Albert saat mengatakan hal demikian padanya terasa benar-benar menyakitkan untuknya. Apa sekarang Lavina sudah dibuang oleh keluarganya, apakah pria itu sudah mencoretnya dari daftar keluarga.

Setidaknya jika ia sudah dibuang, biarkan Lavina berjumpa dengan Eliza untuk terakhir kali dan meminta maaf padanya. Lavina hanya ingin meminta maaf pada wanita yang telah melahirkannya itu karena sudah membuatnya kecewa, tapi jika ia berbicara dengan Albert tak akan ada kesepakatan yang tercipta diantara mereka.

“Aku akan temui Cedric lain kali, kerjasama ini tolong kau setujui karena ini jalan satu-satunya yang akan menyelamatkan keluargamu juga Ibumu!” Ancam Albert yang menatapnya sebelum pergi.

...***...

Lavina menahan semua amarahnya sejak tadi pada Cedric. Ya, karena pria itu sekarang hatinya makin hancur setelah bertemu dengan Ayahnya.

Lavina memang sangat merindukan keluarganya tapi tidak dengan Ayahnya yang selalu membuatnya merasakan sakit hati dan kecewa. Terkadang Lavina juga suka bertanya apakah sebenarnya dia adalah anak kandung Albert atau bukan, karena ia merasa Albert begitu membencinya sejak dulu dan sekarang pria itu terlihat sudah membuangnya jauh-jauh dari kehidupannya.

“Ke mana lagi kita akan pergi?” tanya Lavina.

“Mengajakmu menikmati kebebasan sebentar sebelum kembali ke mansion.”

“Aku tak ingin ke mana-mana sekarang, aku ingin pulang!”

“Waktu kita tidak banyak, jadi nikmatilah waktu yang kau miliki di luar sebelum kamu kembali ke mansion dan akan sulit untuk pergi.”

Lavina menatap Cedric dengan sebal, namun ia mencoba menahan sesak dan kesalnya yang sudah menumpuk di dalam hatinya sampai mereka kembali ke rumah lagi. Ia tak suka berdebat di dalam mobil apalagi masih ada Luke juga supir mereka yang akan mendengarnya.

Ia pikir, Cedric akan membawanya ke tempat yang menyenangkan untuk bermain atau pergi berbelanja. Tapi tidak, pria itu justru membawanya sampai ke sungai dan di sinilah keduanya sama-sama terdiam. Sedangkan mobilnya sudah pergi, pria itu bilang saat mereka akan pulang ia akan menghubunginya lagi. Dan itu artinya mereka akan berlama-lama di tempat ini.

“Mengapa kamu mengajakmu ke sini?” tanya Lavina.

“Aku tak tahu tempat yang menyenangkan, jika aku membawamu ke taman bermain akan sangat sulit bagiku karena tak bisa menemanimu.” Cedric menatap kedua kakinya.

Lavina melirik kaki Cedric sebal, pria itu memang payah sekali karena ini juga hidup Lavina menjadi sulit dan terkekang. Entah kenapa Lavina begitu kesal saat ini dan ia tidak ingin berbicara dengan Cedric.

Melihat tidak ada penjaga yang mengawasi mereka saat ini, Lavina memikirkan ide untuk kabur saja dari Cedric. Ia pikir ini adalah kesempatan bagus untuknya agar bisa bebas dari pria itu dan juga keluarga Alexander.

Tapi, ia mengingat ucapan terakhir dari Ayahnya tadi. Pria itu seperti sedang memohon sambil mengancamnya agar meloloskan kerjasamanya dengan Cedric. Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarganya, mengapa Ayahnya sampai berkata seperti itu. Lavina merasakan kepalanya begitu pusing memikirkan segala permasalahan hidupnya yang kini menjadi rumit.

“Bukan hanya kamu yang terkurung atau merasa sedih, tujuh tahun ini aku juga merasakan kesepian,” kata Cedric tiba-tiba saat Lavina sedang memikirkan banyak hal.

Lavina tak peduli soal Cedric, ia juga tak tertarik mendengarkan cerita hidup pria itu karena sekarang dirinya jauh lebih menyedihkan.

Jadi Lavina mengambil beberapa batu yang diijaknya dan kemudian memilih melemparkannya ke sungai berulang kali.

“Aku minta maaf karena tidak memberitahumu soal Ayahmu tadi.”

“Mengapa kamu melibatkan aku dalam bisnis kalian?” Lavina menatap kesal.

“Aku tak tertarik dengan bisnis apapun, perusahaan yang aku pegang jarang melakukan kerjasama dan sekarang tiba-tiba perusahaan Ayahmu datang menawarkan kerjasama. Karena itulah aku ingin meminta saranmu.”

Lavina berdecih sebal, ingin meminta saran untuk apa? Bukankah Cedric sudah mendengar dari mulut Albert sendiri jika Lavina tidak bisa melakukan apapun apalagi mengerti soal kerjasama ini. Terus mengapa Cedric justru menariknya untuk terlibat, apa pria itu ingin mempermainkannya dan keluarganya?

“Apa kamu tidak mau bekerjasama dengan Ayahku?” tanya Lavina serius.

“Apa kamu menyetujuinya?”

“Kerjasama kalian kali ini apakah akan menguntungkan untukmu juga?”

“Tentu, kerjasama kali ini sebenarnya cukup bagus. Tapi aku masih ingin kamu yang memutuskannya.”

Lavina lama terdiam sambil menatap sisa batu di tangannya yang tadi ia ambil. Ia menertawai dirinya sendiri saat ini dan apa yang baru saja ia lakukannya. Untuk apa ia berada di pinggiran sungai seperti ini dengan memakai gaun dan sepatu heels, ia masih sempat-sempatnya pula memunguti batu-batu dan melemparkannya ke sungai.

“Aku akan memberikan jawaban, tapi kamu juga harus membantuku,” kata Lavina akhirnya.

“Membantu apa?”

“Tolong biarkan aku bertemu Ibu dan Helena. Aku ingin menjumpai mereka sekali saja.”

Permintaan dari Lavina tidak langsung di jawab Cedric dan bahkan pria itu langsung memalingkan wajahnya tampak tak menyetujui permintaan yang Lavina ajukan. Apakah itu artinya Cedric menolak permintaannya juga? Mengapa semua orang sekarang melarangnya bertemu keluarganya apa ia benar-benar akan kehilang keluarga aslinya setelah menikah dengan Cedric?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!