Ciuman Pertama

Lavina berharap ketika ia membuka mata berada di dunia lain. Dunia yang di mana dirinya tidak akan terpenjara dalam istana dan terikat ikatan dengan siapapun dan memiliki kehidupan baru yang mungkin lebih baik untuknya.

Sayangnya, ketika ia membuka matanya tak ada yang berubah selain dirinya yang terbaring di ranjang yang sama dan disampingnya ditemani Cedric yang tampak khawatir duduk di kursi rodanya.

“Masih pusing?” tanya Cedric saat ia terbangun.

Lavina memegang kepalanya yang masih merasakan pusing, perutnya juga kini terasa perih. Sepertinya karena ia tidak makan sejak kemarin malam hingga sore ini membuat lambungnya perih.

“Makan dulu bubur ini sebelum minum obat,” ujar Cedric yang sudah kembali melembut.

Lavina meraih bubur dari tangan Cedric dan tanpa berbicara apapun ia hanya menurut menghabiskan bubur tersebut meskipun perutnya tetap terasa perih saat diisi, namun ia juga tak mau sakitnya bertambah parah karena sekarang ia tinggal di mansion Alaxender, tak ada yang akan menjaga dan merawatnya jika sedang sakit. Bahkan Cedric sekalipun pasti akan kesulitan karena keterbatasannya.

“Kenapa kamu tidak turun ke bawah dan ikut makan malam dan sarapan? Lihatlah sekarang, kamu sakit.”

Lagi-lagi Lavina hanya diam mendengarkan ucapan Cedric. Ia enggan menanggapinya karena keadaannya masih belum membaik, perutnya benar-benar terasa perih saat ini. Lavina menyesali karena tidak meminta pada pelayan mengantarkan makanan untuknya ke kamar.

Lavina membuka mulutnya saat Cedric menyuapi obat yang diberikan dokter untuknya. Tadinya, ia berniat ingin kembali tidur dan mengabaikan Cedric dulu. Tapi hatinya masih belum tenang, seperti ada batu yang menganjal karena kesalahpahamannya dengan Cedric masih belum membaik.

“Cedric, aku minta maaf. Aku tahu salah karena diam-diam pergi ke taman untuk menghindarimu. Tapi, aku dan kak Peter tidak ada hubungan apapun, setiap kali aku pergi ke sana dia juga selalu datang dan aku tak bisa menghindari dan mengabaikannya.” Lavina menarik nafasnya menahan rasa perih diperutnya. Namun sebisa mungkin ia menahan sakitnya agar bisa berbicara dengan Cedric. “Kak Peter sering bertanya padaku dan aku hanya berbicara apa yang ditanyakan, dan sore itu Elea tidak sengaja melihat kami.” Lavina tak melanjutkan ucapannya setelah melihat ekspresi datar Cedric.

Sepertinya Cedric masih marah dan kecewa pada Lavina. Dan sepertinya permintaan maaf dari Lavina tidak akan pernah dibalas olehnya. Jadi untuk apalagi Lavina terus berusaha menjelaskannya dan berbicara panjang lebar. Cedric benar-benar sudah kecewa padanya saat ini.

Lavina memilih kembali membaringkan dirinya dan beristirahat. Kemarin malam ia tidak tidur karena menunggu Cedric dan pria itu tidak tahu dan mungkin tidak akan peduli, seperti saat ini pun permintaan dari Lavina terus diabaikannya dan penjelasannya pun tak ada artinya.

“Aku tahu, dan aku juga minta maaf karena telah menuduhmu. Sekarang istirahatlah tak perlu pikirkan lagi.” Cedric mengelus rambut Lavina.

Lavina terdiam menahan sesaknya. Bagaimana jika nanti Cedric tahu yang sebenarnya jika dirinya mencintai Peter selama bertahun-tahun ini dan awalnya ingin mengagalkan pertunangannya dengan kakaknya sebelum akhirnya justru mereka yang terjebak. Apakah jika Cedric tahu perasaannya dan rencananya, ia akan lebih kecewa dari ini atau justru akan membencinya?

...***...

Hari sudah berganti dan kesehatan Lavina sudah sedikit membaik setelah beristirahat. Dan selama itu juga Cedric hanya sesekali berada di kamar mengecek keadaannya, setelahnya pria itu akan kembali pergi meninggalkannya di kamar.

Entah apa yang dilakukan pria itu, tapi sejak kesalahpahaman mereka sore itu. Cedric tak lagi mengurung diri di kamarnya dan juga tak mengabari ke mana dia pergi pada Lavina.

Mungkin pria itu ingin membalas apa yang pernah dilakukan oleh Lavina setelah meninggalkannya sendirian di kamar dan sekarang giliran Cedric yang pergi menghilang meninggalkannya sendirian di kamar.

“Gimana kondisi kamu, sudah membaik?” tanya Amber saat mereka sedang sarapan.

Lavina menatap Amber yang bertanya padanya dan menganggukkan kepalanya, “Sudah, Mah.” jawabnya canggung.

Entah mengapa tatapan dari Amber tak jauh beda dengan Alexander, tajam dan seolah mengintimidasi membuat Lavina menjadi gugup setiap kali bertemu tatap dengan mereka.

Apalagi sejak kejadian di taman sore itu, Lavina merasa Amber makin tak menyukainya dan pertanyaan barusanpun sepertinya hanya basa-basi saja karena sudah beberapa hari Lavina tidak ikut makan bersama mereka.

“Cedric bilang katanya kamu pusing dan muntah-muntah? Apa jangan-jangan kamu lagi hamil?” tanya Amber lagi yang membuat Lavina tersedak.

Cedric dan Peter yang terkejut melihat Lavina yang sudah terbatuk-batuk dengan sigap memberikannya air dan membuat pandangan yang lainnya menatap ke arahnya sebelum akhirnya Lavina meraih gelas yang diberikan Cedric dan meneguknya hingga tandas.

“Hati-hati,” ujar Cedric mengelus punggung Lavina yang duduk disampingnya.

Amber menatap ke arah Lavina dengan wajah datarnya kemudian beralih pada Peter yang menunduk seperti sedang kecewa.

“Gimana caranya kak Lavina hamil? Nikah aja belum sebulan atau jangan-jangan sebelum tidur dengan kak Cedric--?” Eleanor mengantung ucapannya saat Amber menatapnya tajam memberi kode untuk diam.

“Elea, jaga ucapanmu!” tegur Peter.

Lavina merasa dirinya semakin direndahkan oleh Eleanor dan sekarang bahkan wanita tersebut juga sudah berani merendahkannya di depan Alexander yang sejak tadi masih dengan tenang menyantap makanannya.

Di sebelahnya ada Cedric, suaminya. Tapi sayangnya dia tak bisa membelanya ataupun sekedar menegur adik perempuannya setelah mengatakan hal yang menyakitkan pada Lavina. Apa yang bisa dia harapkan, Cedric tampak tak peduli dengannya.

“Pusing dan mual-mual yang aku alami kemarin karena maag-ku kambuh. Aku permisi lebih dulu, terima kasih sarapannya,” pamit Lavina meninggalkan meja makan dan tak pedulikan jika dirinya tidak sopan pergi lebih dulu dan meninggalkan Cedric begitu saja.

...***...

Setelah meninggalkan meja makan, Lavina memilih duduk di balkon kamar. Rasanya sekarang hidup Lavina makin menyakitkan saja, setiap kali ia menutup matanya beristirahat. Lavina berharap dirinya tak lagi berada di dunia ini, karena rasanya terlalu menyakitkan untuk ia lalui.

Tidak ada cinta, teman ataupun keluarga. Di mansion megah ini Lavina terpenjara dalam kesunyian dan tak bisa menikmati apapun. Sekarang taman belakangpun sudah pasti Lavina hindari agar tak bertemu dengan Peter dan membuat kesalahpahaman lagi.

“Aku akan pergi ke kantor.”

Suara Cedric terdengar dari dalam kamar dan membuat Lavina menoleh. Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan formal tanpa bantuannya.

“Ya,” balas Lavina yang kemudian memalingkan wajahnya menatap ke arah langit-langit pagi ini.

“Apa yang akan kamu lakukan saat aku pergi?” tanya Cedric tiba-tiba.

“Tidak ada, aku akan berdiam diri di sini.” Lavina menjawab tanpa menoleh pada Cedric. Ia merasa malas dan masih kecewa dengan suaminya.

Tak ada lagi suara dari Cedric dan mungkin pria itu sudah pergi meninggalkannya sendirian di kamar. Lavina menghela nafasnya dan mencoba menahan tangisnya. Sudah beberapa hari ini ia terus menangis dan Lavina benci melihat dirinya yang benar-benar lemah.

Dulu saat dia belum menikah, Lavina hampir jarang menangis meskipun Ayahnya sering kali memarahinya ataupun membandingkannya dengan Helena, kakaknya ataupun saat dirinya di marahi oleh Ibunya karena menghabiskan uang bulanannya untuk berbelanja dan lainnya ia masih bisa menahan tangisnya. Tapi mengapa sekarang ia begitu lemah, bahkan hanya karena Cedric mengabaikannya saja ia ingin menangis.

Lavina memilih untuk kembali ke kamarnya beristirahat karena kondisinya masih belum sepenuhnya membaik. Namun saat membalikkan badannya, Lavina terkejut melihat Cedric yang masih berada di pintu kaca menatapnya membuat Lavina dengan cepat menghapus air matanya.

“Bukannya kamu akan pergi ke kantor?” tanya Lavina.

Cedric tidak menjawabnya dan masih menatap Lavina. Namun Lavina tidak peduli, ia memilih masuk ke dalam kamarnya mengabaikan Cedric yang entah sejak kapan hanya diam menatapnya.

Sebelum masuk ke dalam kamar, tiba-tiba tangan Lavina ditarik Cedric yang membuat badannya tak seimbang hingga terduduk di pangkuan pria itu.

Lavina yang terkejut hendak berdiri, namun pria itu menahan pinggangnya yang membuat Lavina tak bisa melepaskan diri dan berdiri apalagi tenaga Cedric yang lebih besar darinya.

“Cedric apa yang kamu lakukan?” Lavina mencoba melepaskan tangan Cedric dari pinggangnya.

Namun sayang, Cedric terus menahannya dengan kuat dan membuat Lavina terkurung dengan posisi mereka yang saat ini begitu intens. Lavina bisa merasakan hembusan nafas pria itu di leher dan telinganya.

“Kenapa menangis?” tanyanya.

“Bisakah kamu bertanya dengan lepaskan aku dulu?” tanya Lavina yang merasa gugup karena Cedric menatapnya dengan begitu dekat.

“Apa karena aku mengabaikanmu?” tanya Cedric yang membuat Lavina akhirnya menatap ke arahnya dan terdiam sesaat melihat bola mata pria itu.

Lavina mengerjapkan matanya berulang kali sebelum akhirnya kembali mencoba melepaskan tangan Cedric di perut dan pinggangnya. Sayangnya tubuh Lavina lebih kecil dan ringan sedangkan tenaga Cedric begitu besar dan membuatnya tak bisa melepaskan diri dari pria itu.

“Apakah kamu sering menangis sendirian seperti ini? Apa itu karenaku?” tanya Cedric kembali.

Lavina tak menjawabnya, dia masih mencoba melepaskan dirinya dari Cedric dan berhasil satu tangan kiri Cedric terlepas, namun belum sempat Lavina berdiri, dagunya sudah diraih pria itu agar mereka bisa bertemu tatap dan membuat pergerakan Lavina menjadi sulit.

Dan disaat Lavina terdiam dan masih terkejut, tiba-tiba sebuah benda kenyal menempel dibibir ranumnya. Cedric sudah mengikis jaraknya dengannya dan bibirnya sudah menempel dengan bibir Lavina begitu saja yang membuat Lavina gugup dan terkejut dengan aksi pria itu.

Tak hanya diam, Cedric mulai membuka mulutnya dan mencoba menerobos bibir Lavina yang masih terkunci. Dengan sigap Lavina mencoba mendorong bahu Cedric dengan kuat agar pria itu melepaskan ciumannya karena leher belakang Lavina masih ditahan olehnya.

Lavina terisak karena Cedric mengambil ciuman pertamanya. Dan saat air mata Lavina mengalir, akhirnya Cedric melepaskan ciumannya dan menatap Lavina yang terlihat benar-benar terluka karena perbuatannya.

Cedric tersadar dengan tindakannya barusan, ia tidak sadar karena tak bisa menahan emosinya saat ini dan ia juga melepaskan pelukannya di pinggang Lavina.

“Maaf,” ujar Cedric sebelum akhirnya pergi meninggalkan Lavina yang hanya terdiam dengan tindakan pria itu padanya.

Terpopuler

Comments

🤩😘wiexelsvan😘🤩

🤩😘wiexelsvan😘🤩

rasanya sprt keluarga yg misterius adja nich,,,alexander,amber,peter,cedric juga eleanor smua sprt menyimpan rahasia,,,bang cedric knp bs membenci bang peter ada mslh apa d antara mereka coba,,,q khan jd penasaran banget thorrr 🤭😁😁😁

2023-08-01

2

Mully Augustine

Mully Augustine

kyanya sih bang peter sukanya sama lavina,jangan kelamaan thor buat updatenya 😁

2023-07-31

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!