Salah Paham

Kembali ke istana megah milik keluarga Alexander adalah masuk penjara menurut Lavina. Mansion yang luas, dengan segala ruangan dan fasilitas di dalamnya dan di tambah penjagaan yang sangat ketat membuat Lavina merasakan hidupnya seperti seorang tahanan.

Pernikahan mendadak karena kesalahpahaman dan harus tinggal satu atap dengan orang yang tidak di cintainya sudah membuat Lavina merasa hidupnya tak lagi bermakna. Bukan karena Cedric orang yang tidak baik, bukan karena Cedric yang kini mengalami kecacatan, hanya saja ia tak bisa mencintai pria itu tapi ia sudah terikat dalam pernikahan yang tak pernah ia inginkan dan bayangkan sebelumnya.

Cedric tidak jahat dan tidak juga cuek padanya. Tapi Lavina tidak merasa nyaman bersama pria itu dan masih merasakan keasingan.

“Baju ini?” Lavina mengambil pakaian yang sulit di jangkau Cedric dari lemarinya.

“Ya.”

Lavina menyerahkan baju yang akan dikenakan suaminya itu. Sejak kepulangan dari rumah orang tuanya, Lavina merasa kecewa dan sedih sampai-sampai ia mengabaikan Cedric yang kesulitan untuk melakukan aktivitas seperti mengambil pakaiannya saat ini dan pria malah selalu mengerti perasaan Lavina dan sengaja tak mau menganggunya.

Kadang Lavina juga berpikir bagaimana dengan Cedric menjalani kehidupan dengan kakinya yang mati rasa tersebut? Bukankah pria itu jauh lebih menderita karena tak bisa bergerak bebas karena keterbatasan yang dia miliki?

“Apa perasaanmu sudah membaik?” tanya Cedric yang begitu saja membuka bajunya di hadapan Lavina yang membuat wanita itu cepat-cepat menatap ke arah lain.

“Tidak.”

“Bisahkah kamu ambilkan celana yang di ujung sana?” tunjuk Cedric yang dituruti Lavina.

Lavina menyerahkan celana milik suaminya itu, “Bagaimana caramu memakainya?” tanya Lavina penasaran.

Iya, Lavina selalu penasaran bagaimana pria itu memakai celananya atau melakukan kegiatan lain seperti mandi, buang air kecil dan lainnya karena meskipun Lavina membantunya itupun hanya sekedar mendorong kursi rodanya sampai masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Cedric sendiri sampai pria itu kadang-kadang memanggilnya.

“Apa kamu ingin lihat bagaimana caraku memakai celana?” Cedric benar-benar hampir nekat saat bergerak hendak membuka seleting celananya dan membuat Lavina sontak terkejut dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

“Apa yang kamu lakukan?” omel Lavina.

“Bukankah kamu penasaran ingin tahu bagaimana aku memakai celana, biar kutunjukkan.”

“Tidak perlu, aku tidak ingin melihatnya.” Lavina berlarian ke kasurnya meninggalkan pria itu di walk in closet.

Wajah Lavina sudah memerah karena merasa malu, ia tahu jika Cedric hanya ingin menggodanya saja. Tapi bukan berarti pria itu tidak nekat.

Lavina berjalan keluar kamarnya dan seperti biasanya, ia akan pergi ke tempat yang membuatnya nyaman yaitu taman belakang. Waktu masih sore dan menikmati waktu senja di sana mungkin lebih nyaman bagi Lavina.

“Apa kamu sedang demam? Wajahmu memerah?” Lavina terkejut melihat Peter yang sudah ada dibelakangnya dan hampir menyetuh keningnya untuk mengecek keadaannya.

Untungnya Lavina dengan sigap menghindar, karena bisa-bisa wajahnya akan lebih memerah seperti ketiping rebus karena disentuh Peter. Pria itu masih membuat hati Lavina berdebar-debar, padahal kini status mereka sudah menjadi ipar.

“Sepertinya Cedric melakukan sesuatu padamu, apa dia menggodamu?” selidik Peter.

Lavina tak menjawabnya, wanita itu memilih duduk di bangku mengabaikan ucapan Peter. Sejujurnya Lavina ingin menghabiskan waktunya sendirian di taman ini karena dia sedang malas berbincang dengan siapapun termasuk Peter.

Tapi ternyata pria itu sudah lebih dulu menyusulnya ke sini dan tidak mungkin Lavina mengusirnya ataupun memilih pergi meninggalkannya. Bagaimanapun, Peter telah membantunya untuk bisa pulang ke rumahnya.

“Bagaimana setelah bertemu keluargamu? Apa perasaan kamu sudah membaik?” Tanya Peter sambil memberi makan ikan-ikan di kolam.

“Ya, sedikit membaik.”

“Mengapa wajahmu terlihat murung?”

Lavina menghela nafasnya, kemudian berjalan mendekati Peter yang kini memberikan makanan ikan padanya dan Lavina berjongkok memberikan ikan-ikan itu makanan.

“Aku tidak bertemu Ibu, dia sedang pergi,” ujar Lavina.

“Kalau begitu bagaimana kalau kamu mengundang keluargamu untuk makan malam di sini?”

“Bolehkah?”

“Aku akan meminta izin pada Papah.”

Mendengar Peter akan kembali membantunya dan meminta izin pada Alaxender, Lavina langsung menolaknya. Ia merasa tak enak dan juga tak ingin melibatkan Peter hanya karena ingin berjumpa keluarganya.

Lagi pula, ia adalah istri Cedric dan seharusnya Cedriclah yang peka dan memberikan ajakan itu, tapi sayangnya pria itu tak membantunya. Bahkan saat Lavina memintanya ingin bertemu keluarganya saja, Cedric langsung menolaknya tanpa alasan yang jelas.

“Apa ada ikan milik kak Peter di sini?” tanya Lavina.

“Dulu punya, tapi setelah dia mati aku tidak ingin memeliharanya lagi.”

“Kenapa?”

Peter masih fokus menatap ikan-ikan di dalam kolam, “Aku tak ingin merasakan kehilangan lagi, karena itu aku tidak ingin memelihara hewan.”

“Semua makhluk yang bernyawa pasti mati. Karena itu, selama dia hidup rawat dan jagalah dengan baik.”

“Jadi, kamu punya peliharaan juga?” tanya Peter.

“Ya, dulu aku punya dua kelinci. Tapi sayangnya sekarang sudah mati.”

“Dan kamu tidak memeliharanya lagi?” tanya Peter.

Lavina mengangguk sambil tersenyum, “Aku takut kehilangan lagi,” jawab Lavina yang membuat Peter tertawa mendengarnya karena wanita itu tadi baru saja mengajarinya tapi ternyata dirinya juga sama.

Saat keduanya terlihat makin dekat dan bahkan saling tertawa bersama sekarang, tiba-tiba Eleanor melihat kedekatan kakak pertamanya dengan kakak iparnya yang membuatnya kesal dan langsung menghampiri mereka.

“Apa yang kalian lakukan? Dan kau wanita gatal, apa kamu juga sedang mencoba menggoda kakak iparmu?” tanyanya menatap Lavina tajam.

Lavina terkejut melihat kedatangan Eleanor yang melihatnya bersama Peter dan wanita itu terlihat sangat membenci Lavina sejak pertemuan pertama kali mereka kala itu karena jebakan yang membuatnya menjadi menantu keluarga Alexander.

Eleanor sudah menahan diri untuk tidak menyapa ataupun bertemu tatap dengan wanita yang kini menjadi kakak iparnya tanpa diinginkan, namun hari ini ia melihat istri dari kakak keduanya justru sedang bersama Peter berduaan di taman membuat rasa bencinya bertambah.

“Elea, jaga bicaramu. Kami tidak sengaja bertemu di taman,” ujar Peter.

Eleanor melipat tangannya di dada dan menatap sinis mendengar Peter mencoba membela Lavina, “Tidak sengaja? Aku melihat kalian berdua sampai tertawa bersama. Sejak kapan kak Peter bisa akrab dengan wanita seperti itu jika bukan dia yang lebih dulu mendekati dan menggodamu?”

Lavina ingin membela diri dengan tuduhan yang Eleanor katakan, sejak kapan ia ingin menggoda pria? Bahkan ia saja tak tahu jika Peter akan berada di taman saat ini.

Namun semua tuduhan yang dilontarkan oleh Eleanor itu terdengar oleh Amber yang datang menghampiri mereka setelah mendengar keributan sore ini. Lavina merasa saat ini akan diserang habis-habisan oleh ibu dan anak itu, meskipun selama Lavina tinggal bersama mereka, Amber tak pernah menyindirkan ataupun berbicara buruk tentangnya, tapi ia bisa melihat tatapan tak suka istri Alexander itu padanya.

“Ada keributan apa di sini?” tanya wanita berambut sebahu tersebut.

“Lavina sedang menggoda kak Peter di sini bukannya menjaga kak Cedric!” adu Eleanor yang membuat Amber menatap ke arah Lavina dan Peter bergantian.

“Sedang apa kamu di sini?” tanya Amber menatap Peter.

“Hanya lewat dan tidak sengaja melihat Lavina dan aku sengaja menghampirinya hanya untuk menyapa,” Peter berusaha meredakan kesalahpahaman yang Eleanor katakan.

“Menyapa? Jelas-jelas kalian tertawa bersama sambil memberi makan ikan, sepertinya Lavina sudah sering mendekati kak Peter, kan? Apa kamu tidak puas menjebak kak Cedric dan sekarang ingin mendekati kak Peter juga?” Eleanor terlihat sangat tak suka dengan Lavina.

“Aku hanya berjalan-jalan ke sini sebentar dan tak sengaja bertemu kak Peter,” Lavina mencoba membela diri.

“Mengapa kamu berjalan-jalan sendirian? Ke mana Cedric, bukahkan tuan Alexander menyuruhmu untuk menjaganya?” tanya Amber pada Lavina.

Lavina bingung ingin menjawab apa karena memang salah dirinya yang pergi begitu saja ke taman dan meninggalkan Cedric sendirian di kamar saat ini.

Namun ditengah-tengah keributan yang terjadi, pandangan Lavina beralih menatap tajam ke arah Cedric yang sudah berada di belakang Amber dan tampaknya pria itu sudah berada di sana sejak Amber datang dan pasti mendengarkan semua aduan Eleanor dan tuduhan yang dibuatnya.

Lavina mengabaikan Amber dan memilih berjalan menemui Cedric yang kini menatapnya dengan wajah datar.

“Cedric.”

Belum sempat Lavina menghampirinya, pria itu sudah lebih dulu menjalankan kursi rodanya berbalik arah dan pergi meninggalkannya. Sepertinya pria itu juga salahpaham mendengar tuduhan Eleanor.

“Apa kamu tidak puas setelah tidur bersama kak Cedric dan sekarang mencoba merayu kak Peter? Benar-benar wanita murahan!” caci Eleanor yang membuat emosi Lavina terpancing.

“Hentikan, jaga ucapanmu Elea!” hardik Peter yang terlihat marah setelah adiknya itu melontarkan kata-kata yang kurang pantas pada Lavina.

Lavina tak tahu ingin menjawab dan membalas ucapan Eleanor bagaimana, karena ia belum mengenal jauh bagaimana sifat keluarga Alexander tersebut. Jadi lebih baik saat ini Lavina diam saja dan mengabaikan ucapan dari adik iparnya tersebut, hal yang lebih penting saat ini adalah Cedric. Suaminya mungkin telah salah paham padanya.

...***...

Lavina berjalan ke kamarnya menyusul Cedric yang lebih dulu masuk. Pria itu memang tampak marah pada Lavina, bahkan beberapa kali ia memanggil Cedric namun pria itu terus mengabaikannya.

“Sejak tadi aku memanggilmu,” kata Lavina pada Cedric yang justru diabaikan oleh pria itu begitu saja karena tatapannya sudah fokus pada gadget ditangannya.

Lavina bimbang, apakah ia harus menjelaskan pada Cedric soalnya dirinya bersama Peter di taman tadi? Tapi bagaimana jika Cedric tidak mendengar ucapan Eleanor tadi atau mungkin saja Cedric juga tidak akan peduli.

“Sejak kapan kamu sering bertemu dengan Peter?” tanya Cedric tanpa menatapnya.

“Aku? Tidak, kami jarang bertemu. Tadi hanya kebetulan.”

Cedric menatapnya dengan wajah terlihat dingin dari biasanya. Tampak tatapannya sudah berubah seolah sedang marah pada Lavina.

“Kebetulan?” Cedric tersenyum kecil, “Kebetulan seperti apa yang membuat Peter tahu jika kamu ingin pulang menemui orang tuamu hingga dia sendiri yang meminta izin pada Papah?”

Lavina terdiam saat Cedric membahas masalah Peter yang meminta izin pada Alexander agar dirinya bisa pulang menjumpai orang tuanya. Memang, sebelumnya ia pernah bercerita pada Peter dan memang ini bukan pertama kalinya ia berbicara dengan pria itu. Tapi kedekatan mereka juga bukan kesengajaan melainkan karena kebetulan pria itu sering datang saat dirinya berada di taman.

Apakah Cedric curiga dan percaya dengan ucapan Eleanor tadi?

“Jawab Lavina, sejak kapan kamu sering bertemu dan berbicara diam-diam dengan Peter?” bentak Cedric pertama kalinya yang membuat Lavina terkejut dan menjadi takut melihat amarah pria itu.

Matanya masih menatap tajam ke arah Lavina yang membuat wanita itu tak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan suaminya.

“Sejak kapan diam-diam kamu menemui Peter dan sejak kapan kamu dekat dengannya, jawab Lavina!”

“Bisakah kamu tidak membentakku?” Lavina merasa takut dan hampir menangis saat Cedric membentaknya dan menatapnya dengan tajam saat ini.

Tangan Cedric sudah mengepal menahan amarahnya pada Lavina. Sebelumnya ia mencari Lavina dan ingin berbicara dengannya, namun ia tak menduga menemui istrinya sedang berada di taman setelah mendengar suara amarah Eleanor dan hal membuat emosinya tersulut setelah melihat Lavina berada di sana bersama Peter.

Entah sejak kapan keduanya akrab hingga Amber datang melihatpun, Peter sampai membelanya di depan adik dan Ibunya. Ia tahu pernikahan mereka tidak inginkannya, tapi mengapa mereka tak bisa saling menerima satu sama lain dan justru ada orang lain yang membuat Lavina nyaman dan itu adalah Peter, kakaknya yang dibenci Cedric.

Tak ada jawaban apapun dari Lavina dan kini Cedric memilih pergi menjalankan kursi rodanya keluar kamar, namun sebelum membuka pintu kamarnya, pria itu berhenti dan mengucapkan perkataan yang membuat hati Lavina mencelos.

“Aku tahu pernikahan ini tidak kamu inginkan dan pernah kamu terima. Aku juga pria cacat, tidak bisa melakukan apapun. Tapi bukan berarti kamu bisa bebas juga dekat dengan pria manapun, termasuk kakakku. Kamu tahu, hal yang menyakitkan diantara keterbatasanku adalah melihat orang yang ku miliki dekat dengan orang lain dibanding denganku.” Tatapan Cedric sudah tak setajam sebelumnya dan terlihat jelas wajah kecewanya mengatakan hal itu sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu meninggalkan Lavina dengan perasaan bersalahnya.

Terpopuler

Comments

kiki

kiki

Yg ditunggu akhirnya up lagi

2023-07-25

1

🤩😘wiexelsvan😘🤩

🤩😘wiexelsvan😘🤩

lavinna cobalah untuk menerima atas apa yg sudah terjadi,,,bukalah pintu hatimu bwt bang cedric,,,jalani smua dengan ikhlas pasti kamu akan bahagia 😘😘😘

2023-07-24

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!