Pagi ini Lavina sudah bangun lebih awal karena ia sengaja memasang alarm di ponselnya. Semua pakaian miliknya telah di antar ke mansion milik Alexander, namun sayangnya hanya supir keluarga Lavina yang mengantarkannya setelah Albert memintanya. Padahal Lavina berharap Eliza—ibunya datang mengantarkan pakaiannya sekaligus bertemu dengannya, namun harapan Lavina sia-sia karena hingga sampai hari ini, wanita yang telah melahirkannya tersebut belum mau menjawab panggilannya.
Koper berwarna kuning cerah tersebut baru di buka oleh Lavina karena ia akan memakai pakaian lamanya hari ini. Sebelumnya, Cedric telah memberikannya beberapa pakaian namun Lavina tidak ingin memakainya karena dirinya tak suka memakai pakaian pemberian orang lain meskipun itu pemberian dari Cedric yang kini sudah menjadi suaminya.
Pakaian Lavina dilipat dan disusun rapih di koper miliknya. Lavina terdiam menatap pakaiannya di sana, matanya sudah berkaca-kaca. Jika dulu ia sering memasukkan beberapa helai pakaiannya ke dalam koper itu saat akan pergi berlibur, tapi sekarang pakaian dalam koper tersebut tidak akan lagi pulang ke tempat semula karena kini sudah ada lemari pakaian baru untuk menyimpannya.
“Ada tempat kosong, kamu bisa menyusunnya di sana.” Cedric tiba-tiba sudah berada di samping Lavina.
Sejak kejadian semalam, Lavina tidak melihat keberadaan suaminya dan ia juga melewatkan makan malam bersama keluarga Alexander karena setelah selesai mandi ia merasakan kantuk berat dan memilih tidur.
Lavina mendadak canggung melihat Cedric saat ini, ia belum sempat meminta maaf atas ucapannya yang sudah keterlaluan pada pria itu. Meskipun Cedric tampak biasa aja, namun ia tahu hati pria itu pasti terluka karena ucapannya.
“Aku akan menyusunnya nanti.” Lavina berdiri setelah menutup kembali kopernya.
Cedric masih terdiam di tempatnya dengan sebuah buku yang ada di pangkuannya pagi ini. Lavina ingin berlalu ke kamar mandi, namun ia juga merasa berat melangkahkan kakinya saat pandangan matanya bertemu dengan Cedric yang menatapnya dengan bingung dan seolah bertanya ada apa?
“Aku minta maaf karena sudah berucap keterlaluan semalam," Lavina membungkuk meminta maaf sebelum akhirnya berlalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Cedric yang tampak terkejut melihat istrinya tersebut yang meminta maaf padanya.
...***...
Lavina dan Cedric sudah berada di meja makan lebih dulu. Sesuai permintaan Alexander, Lavina membantu mendorong kursi roda Cedric sampai ke ruang makan dan membantunya duduk di kursi meskipun awalnya pria itu menolaknya dan meminta agar pelayannya yang menolong.
Beberapa menu sarapan sudah tersaji di meja, pelayan juga sedang menyusun piring bersama sendok dan garpu sebelum akhirnya Eleanor—adik Cedric datang dan duduk di meja setelah menyapa Cedric namun mengabaikan Lavina.
Wanita berambut pirang panjang dan bergelombang itu tampak tidak menyukai Lavina, sejak kejadian dirinya kepergok bersama dengan kakak keduanya itu. Eleanor sudah memandang tak suka padanya, namun Lavina tak begitu mempedulikannya. Lagi pula ia tidak suka berada di rumah ini dan tidak menyukai keluarga Alexander, kecuali Peter. Tapi, apakah boleh Lavina masih menyukai pria yang kini menjadi kakak iparnya itu?
“Selamat pagi.” Sapa pria yang baru saja disebutkan Lavina dalam hati kini sudah datang dan menarik kursinya berhadapan dengan Lavina.
“Hari ini jadikan antar aku ke kampus?” Eleanor menoleh pada Peter dan menatap pria itu dengan tatapan penuh harap.
“Kakak ada rapat pagi ini,” jawabnya singkat.
“Tapi, kak Peter janji akan antar Elea ke kampus.” Wanita itu menampakkan wajah kecewanya saat ini.
Peter menatap ke arah adiknya itu dan mengelus rambutnya, “Next time oke.” Seraya memberikan senyuman meminta maaf.
Eleanor masih memasang wajah kecewanya karena kakak pertamanya itu gagal memenuhi janjinya. Namun wajah kecewa Eleanor kini sudah berubah dengan cepat saat Tuan Alexander dan Amber istrinya datang dan duduk di meja makan.
Keadaan menjadi hening sesaat sebelum akhirnya terdengar suara sendok dan garpu yang saling bersahutan di meja makan.
...***...
Lavina menyusun semua pakaian miliknya di lemari yang sudah dikosongkan Cedric. Beberapa gaun yang pria itu belikan sudah digantung di sana dan hanya tertinggal pakaian milik Lavina yang di bawa dari rumah saja yang harus di susunnya dengan rapih.
Cedric juga kini berada di kamar dan membawa sebuah buku bersampul hitam juga pensil di pangkuannya. Entah apa yang sedang dilakukan dan di tulis pria itu, Lavina sempat melihat pria itu tengah serius menulis di buku tersebut.
Kamar milik Cedric cukup luas, walk in closetnya bahkan lebih besar dari kamar milik Lavina di rumah, ditambah jajaran baju dan beberapa barang ber-merek yang di koleksinya. Susunan sepatu-sepatu dengan merek yang terkenal sudah tersusun di lemari bagian kiri, dan disampingnya berjajar jas dan tuxedo dengan warna yang di pakai untuk acara formal juga menggantung rapih di sana. Jangan lupa di tengah-tengah ruangan, pria itu membuat meja kaca khusus untuk menaruh koleksi jam tangan berbebagai merek dan juga dompet dan aksesoris lainnya di sana. Kehidupan bak sultan itu benar-benar nyata.
Lavina sebelumnya sempat terpana dengan semua barang-barang yang dimiliki pria itu, apalagi koleksi parfumnya yang dijajarkan di lemari kaca dengan aroma yang berbeda-beda dan tentunya juga dengan merek populer yang hanya di miliki beberapa oleh Albert—Ayah Lavina namun Cedric sudah mengoleksinya dan memajangnya seperti memiliki toko parfum sendiri. Sayangnya, meskipun pria itu memiliki segalanya tapi itu tampak tak ada artinya karena dirinya hanya bisa menghabiskan waktunya sepanjang hari duduk di kursi roda.
Selesai menyusun barang-barang dan pakaiannya yang hanya seperempat dari yang dimilikinya suaminya. Lavina berjalan menemui Cedric yang masih fokus dengan buku catatan hitamnya.
Lavina memperhatikan pria itu yang tampak fokus pada bukunya, wajah pria itu dari samping terlihat sangat tampan, bulu matanya yang tidak terlalu panjang namun tampak tebal itu berulang kali berayun dan lekukan hidungnya yang begitu sempurna ditambah bibir tebal bewarna merah dan kulitnya yang putih. Pria itu nyaris sempurna, hanya saja sorot matanya yang begitu menyedihkan karena terlihat kekosongan di dalamnya.
Cedric menyadari jika Lavina berdiri agak jauh di sampingnya dan sedang memperhatikannya. Merasa sedikit malu karena baru saja terciduk sedang memandangi Cedric, Lavina mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berjalan mengambil ponselnya di meja.
“Sudah selesai menyusun pakaiannya?” Tanya Cedric.
“Sudah, pakaianku hanya beberapa. Tidak butuh waktu lama untuk menyusunnya.”
“Apa kamu ingin berbelanja membeli beberapa pakaian atau lainnya?” tawar Cedric.
“Tidak perlu, Tuan Cedric tak perlu menghaburkan uang untuk membelikanku pakaian karena aku tidak begitu membutuhkannya.”
“Bisakah kamu tinggal memanggilku dengan sebutan tuan? Aku bukan tuanmu!” Cedric menutup buku catatannya.
“Bukankah kau tuanku karena berhasil membeliku dari orang tuaku?” Lavina masih saja bersikap menyebalkan pada suaminya.
Cedric memijat pelepisnya, tampaknya lama-lama ia bisa darah tinggi dan mati cepat karena sakit hati oleh sikap Lavina yang selalu ketus dan tak menyukainya. Tapi bagaimana lagi, Cedric sudah memgambil keputusan saat itu dan ia harus menerima segala konsekuesi dari apa yang ia pilih.
“Aku hanya lebih tua dua tahun darimu, sebut saja namaku dan jangan panggil lagi dengan kata tuan karena aku menikahimu untuk menjadikanmu istri, bukan membelimu dan dijadikan budak.” Cedric sudah menjalankan kursi rodanya dengan tombol otomatis di kursi rodanya dan pergi keluar meninggalkan Lavina.
...***...
Setelah kebosanan yang melandanya sepanjang hari hingga malam tiba, Lavina akhirnya kembali mengendap-ngendap keluar kamar sebelum Alexander dan Amber pulang.
Sejak tadi, ia tidak tahu di mana Cedric karena pria itu tidak masuk kamarnya setelah siang tadi pergi. Mungkin pria itu sedang berada di ruangan lain, entahlah Lavina tak begitu pedulikan karena ia juga ingin menghirup udara bebas sebentar.
Lavina tak punya tempat lain di mansion ini selain taman belakang yang ia sukai. Di sana hawanya begitu sejuk dan menenangkan, karena hanya taman belakang saja yang tak terpantau atau di awasi oleh para pengawal karena tempat itu memang biasanya jarang disinggahi para pemiliknya yang memang selalu sibuk dengan urusan masing-masing.
Lavina duduk di ayunan, ia berharap tak ada yang melihat dan menemukannya di sini karena ia ingin menenangkan dirinya sebentar dari kebosanan yang dialaminya.
“Sepertinya ada yang suka mengendap-ngedap ke taman lagi.” suara yang sama kembali terdengar dan membuat Lavina terkejut dan sedikit takut karena dirinya sudah kembali keluyuran di malam hari.
“Kak Peter.” Lavina sudah ketakutan karena terciduk pria itu dan buru-buru turun dari ayunan dan membuatnya terjatuh di tanah dan dengan cepat Peter yang melihatnya langsung membantunya.
Telapak tangan Lavina sedikit tergores saat menahan tubuhnya yang terjatuh ke tanah. Lavina tak tahu mengapa dirinya begitu ketakutan jika ada yang menemukannya tengah berada di taman seperti saat ini dan membuatnya jadi ceroboh dan akhirnya malah terluka.
“Mengapa kamu begitu takut padaku?” tanya Peter tampak khawatir melihat Lavina yang baru saja terjatuh saat melihatnya. “Apa karena Papah yang melarangmu berkeliaran di mansion?” lanjut Peter menatapnya.
Lavina tidak menjawabnya, ia terus menunduk dan membersihkan pakaiannya yang kotor. Peter tiba-tiba menarik tangannya dan menuntunnya hingga mereka berdua duduk di kursi.
“Papah dan Mamah sedang menghadiri acara dan akan pulang larut malam, dan Elea akan mengunci dirinya di kamar jika malam begini. Tidak akan ada yang melihatmu di taman, kecuali mungkin aku,” Peter tertawa kecil.
“Apa kak Peter tidak akan mengadukannya pada tuan Alexander?” tanya Lavina dengan wajah tampak penasaran dan takut.
“Menurutmu?” Peter mengangkat sebelah alisnya.
“Tidak ada yang aku percaya di rumah ini, sebaiknya aku kembali ke kamar.” Lavina sudah berdiri hendak pergi namun Peter menahan tangannya sebentar sebelum akhirnya melepaskannya kembali.
“Duduklah sebelum Papah pulang.”
Lavina tampak ragu untuk kembali duduk bersama pria itu, apalagi perasaan sukanya pada pria itu masih ada dan jantungnya juga sejak tadi merasa berdebar-debar saat pria itu membantunya berdiri dan menahan tangannya untuk tidak pergi dan sekarang dipinta duduk disampingnya. Apa Lavina bisa baik-baik saja berdekatan dengan orang yang menjadi cinta pertamanya sejak tujuh tahun lalu yang kini justru menjadi kakak iparnya.
“Aku tahu kamu sangat terpukul dengan pernikahan ini, tapi Cedric adalah pria baik dan bertanggung jawab. Dia juga penyayang, kamu pasti akan bahagia bersama dia,” Peter melipat tangannya di dada menatap Lavina yang masih diam berdiri di sampingnya.
Mengapa pria itu justru membahas soal Cedric adiknya? Padahal selama tujuh tahun ini Lavina ingin sekali bisa berbicara dengan Peter dan menanyakan bagaimana kabarnya selama ini dan apa saja yang dilakukannya dan ia juga ingin bertanya mengapa pria itu berhenti bernyanyi dan apakah ia masih mengingatnya?
Andaikan saja saat itu rencananya berhasil untuk menjebak pria itu, mungkinkah saat ini dirinya menikah dengan Peter? Atau apakah pria itu justru akan membencinya karena rencana yang dilakukannya?
“Semuanya benar-benar diluar dugaan, aku kira kita akan menjadi keluarga saat aku menikah dengan Helena tapi sekarang, justru kamu menjadi bagian dari keluarga ini,” Peter tersenyum menggelengkan kepalanya seolah merasa lucu dengan apa yang terjadi.
“Aku minta maaf karena sudah membuat pertunangan kalian gagal,” Lavina merasa bersalah.
Lagi, Peter justru tersenyum tulus padanya yang membuat Lavina menjadi bingung.
“Aku tahu ini bukan salahmu.”
“Kak Peter percaya kalau kami di jebak?”
“Ya, aku percaya.” Peter menganggukkan kepalanya.
Lavina kembali merasa kecewa, saat ini sudah ada yang percaya jika kejadian yang menimpa dirinya dan Cedric itu adalah sebuah jebakan. Tapi mengapa keluarga mereka begitu marah dan bukan mencari tahu siapa dalang sebenarnya dibalik jebakan yang membuatnya terpaksa menikah dengan Cedric.
“Seharusnya mereka juga bisa percaya, mungkin jika mereka percaya tidak ada pernikahan ini.”
Ya, seharusnya juga keluarganya bisa percaya padanya terutama Ibunya jika dirinya dijebak. Namun kenyataannya, pada malam itu saat mereka semua menemukannya di kamar dengan keadaan polos tak berbusana bersama Cedric, mereka semua sudah menghakiminya dan bahkan ia bisa mengingat amarah Ayahnya yang membuat dua tamparan di pipinya yang rasa sakitnya masih terasa membekas di hati Lavina.
“Apa kamu tidak menyukai pernikahan ini atau tidak menyukai Cedric?”
Lavina terdiam tidak menjawabnya. Dan Peter bisa menduganya jika Lavina tidak menyukai keduanya. Peter mengerti karena semuanya memang terasa begitu berat untuk Lavina.
“Keputusan Cedric untuk bertanggung jawab dengan menikahi kamu adalah benar, jika dia tidak menikahimu mungkin orang tua kamu akan lebih kecewa dan mungkin juga ada orang luar yang melihat kalian dan berbuat gosip diluaran sana. Dalam hal ini, wanitalah yang akan dirugikan dan orang tua kamu juga akan menanggung malunya.”
Lavina hanya diam mendengarkan kata-kata dari Peter, entahlah mungkin saja ucapan pria itu ada benarnya juga tapi Lavina tampaknya masih belum bisa menerimanya begitu saja.
Ia dan Cedric tidak saling mengenal satu sama lain sebelumnya, sampai akhirnya mereka berdua dijebak dan dalam sekejap mereka menikah begitu saja. Siapapun yang berada di posisi Lavina saat ini tentu saja tidak akan menerimanya.
“Meskipun Papah memiliki aturan, tapi dia adalah orang baik dan penyayang. Dia hanya ingin membuat anak-anaknya disiplin, dan karena kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga ini jadi kamu hanya perlu mematuhinya.”
“Apa kak Peter juga diatur olehnya?” tanya Lavina akhirnya.
Peter terdiam setelah mendengar pertanyaan Lavina yang begitu tiba-tiba.
“Maaf aku sudah lancang bertanya.” Lavina merasa tak enak karena berani bertanya begitu pada Peter.
“Ya, kami semua di sini diatur olehnya. Aku, Mamah, Cedric dan Elea. Kami semua punya aturan berbeda yang tak boleh dilanggarnya,” jawab Peter.
“Termasuk melarang apa yang disukai?” Lavina penasaran dan ingin tahu mengapa pria itu berhenti bermain musik.
Peter tak menjawabnya dan hanya tersenyum tipis, dan dari raut wajahnya tersebut Lavina bisa menarik kesimpulan jika pertanyaannya itu adalah benar. Mungkin saja karena hidup Peter dan semua keluarganya di atur oleh pria itu membuatnya berhenti bermain musik.
“Apa kamu punya hal yang disukai?” Peter balik bertanya.
Belum sempat Lavina menjawab, terdengar suara teriakan dari dalam rumah memanggil nama Cedric yang membuat Lavina panik dan berlarian ke dalam.
...***...
Tangan Lavina bergetar setelah terkejut melihat Cedric yang tak sadarkan diri dan terjatuh dari kursi rodanya juga keningnya yang tergores berdarah.
Eleanor yang menemukan kakak keduanya pertama kali itu di kamar sudah panik menangis melihat kondisi pria itu dan saat Lavina datang ia menatapnya kesal.
Cedric sudah tersadar dan keningnya juga sudah diobati setelah Dokter pribadi keluarga mereka datang dan saat ini pria itu tertidur setelah meminum obatnya.
Hal yang menakutkan setelah melihat kondisi Cedric adalah berurusan dengan Alexander yang saat ini pria tersebut sudah pulang bersama Amber dan mengetahui insiden yang terjadi pada Cedric.
“Kamu pergi ke mana hingga Cedric bisa terjatuh dari kursi roda dan Elea yang menemukannya?” tanya Alexander di ruang tengah.
Lavina benar-benar ketakutan, tatapan Alexander sudah tajam menatapnya penuh emosi setelah terkejut mendengar kabar anak keduanya yang terjatuh dan tak sadarkan diri.
“Apa kamu pergi meninggalkan Cedric sendirian di kamar sampai ia terjatuh dan keningnya menghantam besi ranjang? Sudah berapa lama kamu meninggalkan dia sendirian?” Suara Alexander sudah mengintimidasi Lavina yang membuat wanita itu memilin bajunya takut.
Lavina masih terkejut dengan apa yang terjadi pada Cedric dan sekarang ia juga harus berurusan dengan Alexander yang sudah menyidangnya karena diduga melanggar aturan yang telah dibuatnya.
“Apa kamu lupa aturan yang saya katakan? Apa kamu tidak peduli dan merasa aturan yang saya buat itu main-main?”
“Lavina pergi ke dapur membuatkan teh, aku melihatnya di sana.” Peter tiba-tiba berbicara membelanya.
Peter menatap Lavina yang tampak bersalah dan ketakutan dan ia tahu bagaimana Alexander jika ada orang yang melanggar aturannya dan dia tidak akan segan-segan berlaku kasar dan menghukumnya.
“Pah, biarkan Lavina kembali ke kamar. Dia tampak mengakhawatirkan Cedric,” Amber menenangkan suaminya.
Alexander berlalu pergi begitu saja bersama Amber, lutut Lavina serasa lemas dan jantungnya masih berdetak cepat karena ketakutan dan juga rasa terkejutnya.
“Kembalilah ke kamar dan jaga Cedric, tak perlu pikirkan soal Papah,” ujar Peter yang kemudian berlalu meninggalkan Lavina setelah membantunya dengan berbohong.
Lavina menghapus air matanya yang sudah turun membasahi pipinya, di ruang tengah saat ini hanya tersisa dirinya dan Eleanor setelah semuanya pergi. Beruntungnya Lavina hari ini bisa lolos dari amarah Alexander karena pria itu tidak menanyakan keberadaan dirinya saat itu pada para pelayan apalagi Peter telah berbohong soal dirinya yang berada di dapur membuatkan teh.
“Selama ini, kak Cedric baik-baik aja walaupun hanya di kursi roda. Tapi setelah menikah wanita sepertimu seperti dia menjadi sial!” ketus Eleanor yang menatapnya penuh benci dan meninggalkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
🤩😘wiexelsvan😘🤩
klwrg alexander penuh mistery bikin q makin penasaran 😁😁😁
2023-07-09
1