Terpaksa Menikah

Wajah sedikit lebam dan matanya yang sembab sudah ditutupi makeup, meskipun entah berapa kali seorang pria yang mahir merias wajahnya itu menutupi bagian matanya, air mata Lavina berulang kali lolos membasahinya.

Bibirnya yang terasa perih karena sobekan kecil akibat tamparan yang diberikan Albert sudah mulai ditutupi warna lipstik yang dipoleskan pria yang dipanggil Cadby. Dengan bulu mata lentik, kulit eksotis dan rambut keriting mirip salah satu penyanyi barat populer. Pria itu begitu telaten mengaplikasikan makeupnya di wajah sedih Lavina.

Cadby sempat bingung saat nyonya Amber membawa Lavina yang terlihat begitu menyedihkan dan memintanya untuk menghiasnya menjadi pengantin. Tak banyak tanya dan tampak seolah mengerti yang diperintahkan, Cadby menjalankan tugasnya.

“Berhentilah baby, jangan buat karyaku menjadi sendu karena air matamu,” Cadby mengambil dagu Lavina yang membuat mereka bertemu tatap.

Pria itu tersenyum seolah menyemangati Lavina. Wanita itu menahan tangisnya karena saat ini Amber bersama anak gadisnya juga sudah kembali dan memperhatikannya.

Lavina dituntun Cadby untuk segera mengganti pakaiannya dengan gaun yang akan dipakai untuk pernikahan yang tak pernah direncanakannya.

“Apakah kamu tidak punya gaun berwarna hitam? Dan bisakah kamu tambahkan lagi warna hitam di bagian mataku?” Lavina menoleh pada Cadby yang baru saja merapihkan tatanan rambutnya. “Hari ini bukanlah pesta pernikahanku. Tapi ini adalah hari pemakamanku,” ujar Lavina menatap Cadby dari cermin.

...***...

Sejak insiden yang terjadi, Lavina tidak lagi melihat Eliza—ibunya. Bahkan saat pesta pernikahan yang tak direncanakan itu terjadi, hanya ada Albert yang menemaninya bersama keluarga Alexander.

Lavina bisa melihat rona kekecewaan dari Alexander setelah mengumumkan pada para tamu jika pesta pertunangan tersebut telah beralih menjadi pesta pernikahan dan untuk pertama kalinya Alexander memperkenalkan putra keduanya, Cedric yang duduk di kursi roda dan membuat para tamu berbisik-bisik membicarakannya. Entah itu soal kabar perselingkuhan Alexander yang kembali mencuat, entah karena melihat Cedric yang duduk di kursi roda atau karena perubahan acara pesta yang begitu tiba-tiba?

Lavina juga masih mengedarkan pandangan mencoba mencari keberadaan Eliza dan kakaknya Helena. Ia tahu telah membuat Eliza kecewa mendalam saat ini, dan Lavina ingin meminta maaf pada ibunya. Tapi kenyataan ia mendapat kabar dari Ayahnya yang menghampirinya dan mengatakan jika Helena mengantar Heliza pulang setelah pingsan beberapa saat sebelum acara di mulai.

...***...

Jam sudah menunjukkan larut malam dan Lavina kini di bawa pulang ke mansion mewah milik keluarga Alexander bersama Cedric yang baru saja turun dari mobil dibantu dua penjaga. Lavina sempat meliriknya sekilas dan bahkan mengumpat dalam hati mengatakan pria itu benar-benar payah!

Cedric telah memimpin lebih dulu masuk ke dalam mansionnya yang disambut oleh beberapa pelayan yang membuat Lavina tertegun, karena meskipun keluarganya juga cukup berada, namun baru kali ini ia benar-benar melihat kehidupan bak istana sesungguhnya.

Tapi, untuk apa ini semua? Meskipun para pelayan tersebut menyambutnya dan tampaknya sudah diberitahu status barunya. Semuanya tak diinginkan Lavina karena ia harus menikah dengan orang yang tak dicintainya.

Langkah mereka terhenti sejenak karena tetahan oleh pria yang menghampiri mereka. Lavina masih bisa mencium aroma parfum yang sama saat pertemuan kembali mereka setelah tujuh tahun lalu itu.

Seharusnya malam ini adalah pesta pertunangannya dengan wanita yang dijodohkannya. Namun, karena insiden tak terduga membuat rencana tersebut benar-benar gagal termasuk perjodohannya.

“Papah sudah istirahat lebih dulu, beliau akan bicara besok pagi,” ujar Peter menatap Cedric dan Lavina bergantian sebelum berlalu pergi.

Ekor mata Lavina mengikuti langkah pria itu, hatinya merasa tersayat dan sedih. Jika saja ia tidak membuat rencana untuk mengagalkan pertunangan Peter dengan kakaknya, mungkin saja ia tidak akan terjebak dalam pernikahan abnormal seperti ini.

...***...

Lavina masih terdiam di ambang pintu kamar milik Cedric. Beberapa pelayan yang mengantar mereka telah pergi termasuk perawat Cedric juga sudah meninggalkan pria itu sampai depan kamarnya.

Meskipun hari ini terasa lelah, namun Lavina masih meratapi nasibnya saat ini. Ia masih merasakan semuanya seperti mimpi buruk, dan berulang kali Lavina mencoba mencubit tangannya hanya memastikan agar dirinya segera terbangun.

“Masuklah, pakaian barumu ada di ranjang.” Cedric memutar kursi rodanya menatap Lavina.

Lavina tersenyum mengejek pada pria yang kini sudah berstatus suaminya. Pria yang tak pernah di kenalnya, pria asing yang tak tahu bagimana kehidupannya namun dalam satu malam sudah menjadi suaminya.

“Untuk apa pakaian itu? Bukankah awal pertemuan kita bermula tanpa sehelai benang?” Lavina mengangkat alisnya menatap tajam Cedric.

Cedric memiliki postur tubuh yang cukup tinggi, kira-kira jika ia bisa berdiri tingginya tak jauh berbeda dengan Peter kakaknya dan kulitnya tampak lebih putih dari saudara-sudaranya, mungkin karena ia banyak berdiam diri di kamarnya dan jarang terpapar sinar matahari. Pahatan sempurna untuk bentuk hidungnya yang mancung dan bola mata hitamnya dengan sorot mata meneduhkan. Pria itu cukup tampan, hanya saja ketampanannya tertutup karena kondisi fisiknya saat ini.

“Apa kamu membenciku karena pernikahan ini?” tanya Cedric.

“Menurutmu? Bagaimana bisa anda berbicara akan bertanggung jawab untuk menikahiku padahal tidak ada yang terjadi diantara kita karena semua itu jebakan,” Lavina sudah mulai emosi karena sejak tadi ia belum berbicara dengan Cedric bahkan disaat pria itu mengambil keputusan besar. “Oh, atau mungkin anda yang sengaja membuat jebakan ini agar bisa menikah karena tahu banyak wanita yang menolak anda karena lumpuh?”

Perkataan dari Lavina sangat menyakitkan, namun Cedric tidak memasukkannya ke dalam hati karena tahu wanita tersebut sudah terluka dalam karena keputusannya. Dan mungkin Lavina akan terus membencinya setelah ini.

Cedric menatap langkah Lavina yang berjalan ke arah ranjang mengambil beberapa pakainnya yang disimpan di sana. Dan tanpa diduganya, wanita itu melempar semua pakaian itu ke lantai begitu saja sebelum ia menaiki ranjang dan berbaring di sana menarik selimut sampai suara isakan terdengar menyakitkan di baliknya.

Cedric mencoba bersabar dan memungut pakaian-pakaian yang dilempar wanita itu meskipun sedikit kesulitan menjangkaunya namun ia berhasil mengambilnya. Lavina sempat mengintip dibalik selimut dengan mata berairnya melihat apa yang dilakukan pria itu sampai terakhir ia merasakan kasurnya sedikit bergerak karena kursi roda pria itu menabraknya.

Terlihat pria itu tampak ingin menaiki kasur, namun karena dirinya tak bisa melakukannya sendiri jadi dia terdiam sedikit lama menatap Lavina. Lavina tak peduli bagaimana pria itu akan tertidur malam ini karena pria itu adalah musibah untuknya.

Terpopuler

Comments

🤩😘wiexelsvan😘🤩

🤩😘wiexelsvan😘🤩

waahhh bang cedric sabar banget menghadapi lavina,,,bang cedric nie beneran lumpuh atw pura" lumpuh ya thorrr 😁😁😁

2023-07-08

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!