“Tadinya aku ingin membuatkanmu bubur, tapi dua pengawal itu melarangnya dan bilang aku hanya boleh memintanya pada pelayan,” ujar Lavina saat keduanya sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Sejak tadi Cedric tengah sibuk dengan Ipad di tangannya, sedangkan Lavina tengah duduk di ranjang sambil membaca komik salah satu koleksi Cedric walaupun sebenarnya wanita itu tidak tertarik dengan hal semacam itu, membaca komik atau novel. Tapi saat ini tak ada lagi kegiatan yang dilakukannya jadilah ia memilih membaca salah satu koleksi milik Cedric yang terpajang di rak kamarnya.
“Dua pengawal, apa maksudmu? Di luar kamar ini ada pengawal yang berjaga?” Cedric terkejut sampai menghentikan kegiatannya setelah terlalu lama fokus menatap layar ipadnya.
Lavina tidak melanjutkan ucapannya dan kembali fokus dengan buku ditangannya dan beberapa kali membuka lembaran halamannya. Cedric menatap wanita itu yang mengatakan hal tersebut padanya dengan santai padahal ia tahu jika hati wanita itu merasakan kesal dan terluka karena terkurung di sini.
Dan dua pengawal yang disebutkannya sudah pasti itu adalah suruhan Alexander, namun mengapa pria itu sampai melakukan hal ini? Apakah karena dirinya yang terjatuh kemarin dan dia menghukum Lavina dengan membawa dua pengawal untuk berjaga dan mencegahnya keluar kamar?
Cedric menaruh ipadnya miliknya di meja dan melajukan kursi rodanya ke arah Lavina yang membuat wanita itu menoleh ke arahnya.
“Apa kamu masih ingin membuatkanku bubur?” tanya Cedric.
“Apa kamu sedang lapar?”
“Aku ingin mencoba bubur buatanmu.”
Lavina kembali membuka halaman komik yang dibacanya dan kembali fokus dengan komiknya, “Sayangnya kamu tidak akan pernah mencobanya, karena pengawal itu tidak akan membiarkanku beranjak satu langkahpun dari kamar ini,” jawabnya.
“Itu mudah, aku akan antar kamu ke dapur dan menunggunya sampai selesai. Mereka tidak akan menahanmu jika pergi bersamaku.”
Lavina tampak tak begitu tertarik dengan ajakan Cedric, lagi pula ia sudah tidak ingin membuatkan bubur untuknya setelah pagi tadi moodnya sudah hancur karena dua pengawal yang mencegahnya di depan pintu kamar. Jadi ia sudah mencoret daftar kebaikannya untuk membuatkan Cedric bubur.
Hari juga sudah siang dan matahari sudah menjulang tinggi yang cahayanya sudah masuk ke celah jendela kamar Cedric. Dan bubur sangat tidak cocok untuk di makan siang hari seperti ini, lebih baik ia bermalas-malasan saja di ranjang sepanjang hari ini. Meskipun ia tak tahu apakah besok dan seterusnya ia juga akan melakukan hal yang sama seperti ini terkurung di kamar?
“Apa kamu tidak mau untuk keluar dari kamar ini? Aku hanya memberikan satu kali tawaran. Jika tidak, lebih baik aku saja yang pergi ke luar.”
“Jika kamu pergi dari kamar ini, aku harus ikut. Tugasku adalah menjagamu dan jika kamu pergi sendirian tanpaku, entah hukuman apalagi yang akan tuan Alexander berikan padaku,” Lavina menurunkan kedua kakinya dari ranjang dan menutup komik yang tengah dibaca.
“Kalau begitu, antarkan aku keluar kamar. Aku bosan di sini.”
Dengan rasa malas harus melakukan tugasnya mendorong kursi roda dan menemani ke manapun Cedric pergi. Akhirnya Lavina hanya bisa pasrah dengan mengalah mengantar suaminya itu pergi ke luar kamar. Mungkin juga sedikit lebih baik untuknya melihat keadaan di luar kamar sekarang ketimbang harus membaca komik yang ia tak mengerti alur ceritanya sejak tadi membacanya.
...***...
Benar kata Cedric, saat dirinya berjalan keluar dengan pria itu. Kedua pengawal hanya menundukkan pandangan mereka dan tidak berbicara apapun atau menghalangi mereka.
Apa-apaan begini? Apakah hanya Cedric satu-satunya kunci utama untuk Lavina di mansion ini? Apakah artinya ia juga tidak bisa pergi lagi ke taman sesuka hati dan bertemu dengan Peter? Ah tidak, kenapa Lavina masih sempat-sempat memikirkan pria yang dikaguminya itu.
Lavina mendorong kursi roda Cedric tanpa tujuan yang pasti sampai mereka tiba di dapur. Mungkin hanya jalan ini yang diingat Lavina yang tak pernah pergi berkeliling mansion dan tak tahu ruangan-ruangan di yang ada di dalamnya.
“Apa kamu jadi memasakkan bubur untukku?” tanya Cedric saat menyadari wanita itu membawanya ke dapur.
“Tidak, aku hanya tak tahu akan membawamu ke mana karena kau tidak bicara sebelumnya hendak ke mana.”
“Aku ingin ke taman,” tunjuknya dengan dagu.
Ke taman siang hari? Lavina belum pernah melihat taman di mansion ini saat siang hari. Apakah bunga-bunga di sana terlihat lebih indah di lihat saat siang hari seperti ini? Dan apakah kira-kira ia bisa berjumpa dengan Peter di sana? Karena terakhir kali saat mereka mulai berbicara, Lavina belum menjawab pertanyaan pria itu dan dia sudah menyiapkan jawaban saat berjumpa lagi.
“Apa kamu pernah ke sini?” tanya Cedric saat mereka tiba di taman.
“Tidak, aku baru pertama kali ke sini dan melihatnya,” bohong Lavina yang langsung meninggalkan Cedric dan pergi melihat ikan di kolam sambil berjongkok di sana.
Memang benar dugaannya, jika siang hari halaman taman ini memang terlihat sangat indah di bandingkan sore hari saat pertama kali ia berada di sana dan malam hari yang hanya diterangi lampu-lampu di sekeliling kolam.
Cedric sudah melajukan kursi rodanya ke bunga-bunga yang ada di sana dan ia sudah menyentuh bunga Bellis perennis. Lavina teringat perkataan Peter sebelumnya, ia bilang bunga itu adalah kesayangan Cedric.
Sejujurnya Lavina penasaran mengapa pria itu menyukai bunga tersebut, apakah bunga itu memiliki arti khusus atau mengingatkannya pada seseorang? Tapi rasa penasaran Lavina kembali di pendam. Ia tak ingin terlalu tahu menahu soal pria itu sebelum dirinya bercerita lebih dulu.
“Lavina.” Panggil Cedric.
“Ya?” Lavina menoleh ditempatnya.
“Bisakah kamu ambilkan selang di sana?” pinta Cedric sambil menunjukkan letak barang yang diinginkannya.
Lavina menurut, ia segera berdiri dan mengambil selang air yang di minta pria itu saat ini. Dan setelahnya, ia memberikan selang itu pada Cedric sebelum kembali melihat ikan-ikan di kolam.
“Lavina.” Panggil Cedric lagi saat Lavina sudah berjalan ke arah kolam.
“Apa lagi?”
Cedric mengacungkan selang yang di pegangnya tersebut dan menunjukkan ujung dari selangnya, “Aku ingin menyiram bunga, jadi tolong kamu putar kerannya.”
Kenapa tidak bilang dengan jelas sih? Lavina menghela nafasnya pelan kemudian berjalan ke arah keran air dan langsung memutar keran tersebut cukup kencang sampai terdengar suara Cedric yang berteriak.
Lavina tidak tahu jika selang tersebut akan mengeluarkan air lebih kencang karena ia memutarnya full. Cedric yang belum siap akhirnya terkena cipratan air yang membuat tubuhnya sedikit basah.
“Aku minta maaf, tidak tahu jika airnya begitu kencang.” Lavina merebut selang tersebut dari tangan Cedric yang kini sedang mengelap mukanya yang basah.
“Aku tahu belum mandi hari ini, tapi bukan berarti harus di guyur air seperti ini,” ujarnya dengan wajah datarnya.
Lavina yang melihat keadaan Cedric saat ini justru tertawa kecil mendengar jawaban pria itu. Dan untuk pertama kalinya Cedric melihat senyuman dari bibir wanita itu sejak pertama kali mereka bertemu dan menikah. Sangat manis, bahkan terlalu mempesona ditambah suara tawa kecilnya menatap Cedric.
“Aku ambilkan handuk dulu ke dalam,” Lavina tersadar.
“Tak perlu, jika kamu pergi ke dalam sudah pasti kamu tidak akan bisa kembali lagi karena dua pengawal itu akan menahanmu di sana dan aku bisa terjebak di sini.”
“Ahh benar juga.” Lavina mengangguk setuju.
Karena Cedric sudah sedikit basah terkena air, Lavina mengambil alih selang tersebut dan mulai menyirami tanaman di sana.
“Sudah cukup, matikan lagi airnya dan simpan kembali selangnya,” sahut Cedric yang disetujui Lavina.
“Apa kamu tahu jenis dan nama bunga di sini?” tanya Cedric setelah Lavina kembali dan duduk di bangku.
“Tidak, aku hanya tahu 3 jenis bunga saja di dunia ini.”
“Apa itu?” tanya Cedric.
“Bunga mawar, melati dan satu lagi bunga yang paling aku suka adalah bunga Bank!” jawabnya yang membuat Cedric tertawa melihat ekspresi Lavina yang sudah begitu serius.
“Kamu sudah kaya masih suka dengan bunga bank?”
“Tapi aku tidak sekaya keluargamu.”
Senyuman Cedric menghilang dan pria itu memasang wajah tampak tak suka saat Lavina menyebutkan kata keluarga.
“Cedric, apa aku boleh bertanya?”
“Soal apa?”
“Sebenarnya apa pekerjaanmu?” tanya Lavina penasaran karena mereka sama sekali tidak saling mengenal sejak awal ikatan pernikahan mereka lakukan.
Sejak awal mereka terjebak dalam pernikahan, Cedric selalu berada di dalam rumah seharian dan kadang ia hanya melihat pria itu mengecek ipadnya berjam-jam dan kadang malam hari pria itu sudah menggantinya dengan laptop di pangkuannya.
Dan rasanya tak mungkin jika Cedric tak memiliki pekerjaan, karena keluarga Alexander tidak akan memberikan uangnya secara cuma-cuma apalagi hanya karena Cedric mengalami kelumpuhan saat ini.
“Kenapa, kamu takut aku tidak bisa membiayai hidupmu?” Cedric malah berbalik bertanya.
“Ya, aku takut kamu tidak bisa membiayai kebutuhanku,” jawab Lavina dengan sebal karena Cedric tidak langsung menjawab pertanyaannya.
“Papah memberikan aku posisi di kantor dan aku mengerjakan semua pekerjaan di rumah dan jika ada rapat atau pertemuan baru aku pergi.”
Lavina menganggukkan kepalanya, pantas saja pria itu sering mengecek tablet atau laptopnya, rupanya ia sedang bekerja. Untung saja keluarganya kaya raya, jadi Cedric masih bisa mendapat pekerjaan dengan kondisi sekarang dan bahkan bisa melakukannya di rumah. Sepertinya tuan Alexander hanya memberikan pekerjaan untuk anak keduanya itu secara cuma-cuma.
“Ada lagi yang ingin kau ketahui dan tanyakan?” Tawar Cedric.
Lavina sempat terdiam sedang menimbang-nimbang pertanyaan yang akan ia tanyakan pada suaminya itu. Ia sedikit ragu menanyakannya karena takut pria itu akan tersinggung atau kembali mengingat kisah kelamnya yang mungkin masih membekas dalam ingatannya.
“Tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui selama aku mau menjawabnya,” ujar Cedric kembali setelah melihat keraguan di wajah istrinya.
“Hmm, itu--, aku hanya penasaran apa yang terjadi padamu sampai berakhir di kursi roda. Maaf aku menanyakan hal ini.”
Cedric terdiam sesaat, wajahnya terlihat bersedih dengan pertanyaan dari Lavina. Dan wanita itu menyadari jika pertanyaan sudah membuat pria itu bersedih. Ia merasa bersalah.
“Tujuh tahun lalu aku mengalami kecelakaan. Aku tak ingat kejadiannya dengan jelas tapi saat terbangun di rumah sakit, aku sudah tidak bisa menggerakan kedua kakiku.”
Tujuh tahun lalu, bukankah sudah cukup lama pria itu mengalami kelumpuhan dan menghabiskan kesehariannya di kursi roda. Apakah keluarganya tidak melakukan cara lain untuk bisa menyembuhkannya? Ia melihat Cedric seperti sendirian dan kesepian apalagi keluarganya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan kedua saudaranya pula tampak tak begitu dekat dengannya.
Lavina ingin kembali bertanya dan mengetahui hal lainnya, tapi ia merasa ragu dan juga takut jika pertanyaannya akan membuat Cedric terluka dan bersedih.
“Apa kamu punya pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan sebelumnya?” tanya Cedric setelah keduanya sama-sama terdiam sesaat.
“Tidak ada, aku terlahir sebagai tuan putri yang menghabiskan waktu di rumah,” jawab Lavina sekenanya.
Cedric tersenyum dengan jawaban Lavina. Wanita itu sebenarnya tidak begitu kaku ataupun membosankan meskipun sikap dan ucapannya karena ketus tapi ia bisa melihat jika Lavina adalah wanita yang ceria. Seandainya mereka tidak terjebak malam itu dan membuat mereka terpaksa menikah, mungkin Cedric bisa memulai perkenalan yang baik dengannya.
“Cedric, bisakah aku petik beberapa bunga mawar di sana?” tanya Lavina yang sudah berdiri menunjuknya.
“Untuk apa?”
“Aku ingin berendam dengan bunga mawar itu.” Lavina sudah berjalan mendekati bunga mawar tersebut namun Cedric sudah melarangnya.
“Tidak boleh, itu bunga kesayangan Amber. Jangan pernah mendekati bunga mawar itu.”
“Tapi aku hanya akan mencabutnya beberapa saja,” goda Lavina.
“Tidak, kamu akan terkena masalah nanti.”
“Aku bisa bilang kalau kamu yang mengizinkan,” Lavina benar-benar ingin menggoda Cedric yang menurutnya sangat kaku itu.
“Kita bisa memasannya pada pelayan, lebih baik kita menghindari masalah di rumah ini.” Kata Cedric yang akhirnya membuat Lavina berhenti menggodanya lagi.
Sebenarnya Lavina hanya ingin menggoda Cedric saja, ia sangat tahu jika bunga-bunga di taman ini sudah pasti tidak diperbolehkan untuk dipetik sembarangan. Namun melihat wajah serius dari Cedric saat ini yang begitu tegas melarangnya, Lavinapun tak tertarik lagi untuk menggodanya.
“Maaf, aku takut kau terkena masalah dan aku tidak bisa melindungimu.” Kata Cedric merasa bersalah.
“Aku tahu, tadi aku hanya ingin menggodamu saja,” jawab Lavina sambil tersenyum.
...***...
Cedric mengira sikap Lavina hari ini berubah karena sudah mau menerima hubungan dan mulai ingin membuka hatinya. Karena seharian ini, Lavina begitu berbeda dari sebelumnya dan bahkan entah berapa kali Cedric melihat senyuman yang terukir di bibir wanita itu.
Saat mereka sudah kembali masuk ke kamar setelah makan malam dan Lavina juga membantunya untuk berbaring di kasur dan mereka sama-sama tertidur di sana.
Tengah malam ini, Cedric tiba-tiba terbangun. Namun ia terkejut setelah melihat disampingnya saat ini, Lavina tengah duduk menghadap ke arah jendela kamar sambil menukuk lututnya.
Awalnya Cedric pikir wanita itu tengah sulit tidur dan sedang melamun sendiri di sana. Tapi beberapa saat ia perhatikan tanpa ada niatan untuk memanggilnya, Cedric mendengar suara isakan dari wanita itu. Suara tangis yang cukup pelan namun ia bisa merasakan bagaimana perasaan wanita itu yang terlihat sangat menyedihkan.
Sudah berapa lama Lavina terjaga dan sudah berapa lama wanita itu menangis. Dan apakah selama beberapa hari ini saat Cedric terlelap, diam-diam wanita itu sering menangis menekuk lututnya seperti ini?
Cedric merasa begitu bersalah, sejak awal mereka menikah Lavina tak pernah bahagia dan terus menangis karenanya. Dan sekarang, tengah malam di saat semua orang di rumah ini sudah terlelap, Lavina justru menangis meratapi nasibnya saat ini. Apakah yang harus Cedric lakukan untuk istrinya itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments