Beralih pada Reksa yang sepanjang perjalanan terus kepikiran tentang Kiran, tetapi dia juga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendapatkan maaf dari Anya.
Pikiran Reksa memang selalu tertuju pada Anya, akan tetapi hatinya terus mengkhawatirkan Kiran yang dia tinggalkan begitu saja di kota asing.
“Aish, … Sialan, kenapa perasaanku menjadi tidak tenang begini memikirkan Kiran?” umpat Reksa yang menjadi kesal sendiri akan perasaannya.
“Sialan! Sialan! Kiran sialan!”
Reksa terus mengumpat kesal sembari memukul stir mobilnya beberapa kali, ketika di hatinya terus menyuruhnya kembali pada Kiran sedangkan pikirannya dipenuhi oleh Anya.
Hingga tiba-tiba terlintas sebuah ingatan dimana dia mengalami perasaan yang sama seperti yang dia alami sekarang.
“Aaakh, … Sialan! Semarah apapun aku, seharusnya tidak membentaknya sampai membuatnya menangis seperti itu!”
Areksa berteriak frustasi, dia bahkan tidak focus dengan jalanan yang ada di depannya.
“Kiran, bagaimana bisa kau memiliki pikiran seperti itu! Selama ini kita masih baik-baik saja tanpa adanya anak dan kita sudah sepakat untuk tidak membahas soal anak lagi. Tapi kenapa, _....” Areksa tak mampu melanjutkan perkataannya.
“Kenapa kau memintaku untuk menyentuh wanita lain! Bagaimana aku bisa menyentuh wanita lain, jika hati dan hidupku adalah milikmu, Kiran!”
“Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau membuatku kecewa sampai seperti ini!”
Tanpa sadar buliran cairan bening perlahan membasahi wajah tampan Areksa. Dia bahkan tidak sadar bahwa tepat di depannya lampu lalu lintas sudah menyala hijau, tapi Areksa tetap melajukan mobilnya.
Disaat itu juga, sebuah mobil dari arah kiri melesat ke arah mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Areksa sangat terkejut dengan kehadiran mobil tersebut, tapi ketika dia ingin menghindar semuanya sudah terlambat.
Brakk, ….
......................
Ckiittt, ….
Suara rem mobil yang berhenti mendadak terdengar begitu jelas. Reksa yang terkejut akan ingatan yang melintas begitu saja di kepalanya sontak menghentikan mobilnya begitu saja secara mendadak. Ingatan tentang dirinya mengalami kecelakan beberapa minggu yang lalu kembali muncul dengan begitu jelas.
“Ingatan apa barusan yang muncul di kepalaku?” gumam Reksa yang tampak syok akan ingatannya sendiri.
“Apakah Kiran penyebab dari kecelakaan yang aku alami? Sebenarnya apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu terjadi?”
Semakin Reksa berusaha mengingatnya, kepalanya terasa semakin sakit bagaikan di tusuk ribuan jarum. Reksa akhirnya menyerah untuk mencoba mengingat kembali ingatan masa lalunya dan memilih mengabaikannya.
Daripada hati dan pikirannya terus bertarung antara Kiran dan Anya, Reksa akhirnya menghubungi seseorang untuk menjemput Kiran.
“Dan, jemput Kiran di hotel yang hari ini menjadi tempat pertemuanku dengan klien di kota B! Aku percayakan padamu, karena ada urusan penting yang harus aku lakukan,” perintah Reksa tanpa bantahan.
“Ta-tapi Tuan, _....” Belum sempat Dani menolaknya, Reksa sudah menutup teleponnya terlebih dahulu.
“Haaah, … Kenapa pekerjaanku sekarang semakin bertambah, bahkan harus mengurus istri atasanku juga,” gerutu Dani dengan wajah cemberutnya, tetapi dia tetap melaksanakan perintah yang di berikan oleh Atasannya.
Setelah menyerahkan Kiran kepada sekretarisnya, Reksa pun kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemen Anya.
...****************...
Setibanya Reksa di apartemen itu, dia langsung menjelaskan dan meminta maaf kepada Anya. Setelah memohon dan memelas cukup lama, akhirnya Reksa mendapatkan maaf dari Anya dengan syarat menemaninya belanja.
Tentu saja, semua barang yang Anya beli di bayar dengan memakai uang Reksa. Di tengah kesibukannya menemani Anya berbelanja, Reksa tiba-tiba mendapatkan panggilan masuk dari Dani.
“Ada apa?” tanya Reksa begitu menerima panggilan dari sekretarisnya itu.
“Maaf, Tuan! Saya telah memerintahkan seseorang yang saya kenal di sana, tetapi tidak menemukan Nyonya di manapun. Katanya Nyonya sudah pergi dengan seseorang, setelah sempat menanyakan keberadaan anda pada resepsionis yang bertugas,” terang Dani yang ikut panik mengetahui istri atasannya menghilang.
“Apa katamu? Dia pergi dengan seseorang?” seru Reksa yang entah mengapa tidak ingin mempercayainya begitu saja.
Reksa langsung memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas menghampiri Anya yang masih asyik memilih barang-barang mewah yang ada di salah satu toko branded yang ada di mall tersebut.
Dengan alasan ada masalah di perusahaannya, Reksa memaksa Anya untuk pulang saja dan akan menemaninya belanja lain waktu lagi.
...****************...
Setelah mengantar Anya, entah mengapa Reksa merasa harus segera pulang saat itu juga. Benar saja, setibanya Reksa di rumahnya dia melihat Kiran yang sedang berbincang dengan seorang pria yang cukup dia kenal sebagai salah satu rekan bisnisnya.
Entah apa yang Kiran dan rekan bisnisnya itu bicarakan, tetapi cara pria itu menatap Kiran seperti seorang pria yang tengah jatuh cinta.
“Alka, terima kasih sudah mau mengantarku! Jika tidak ada dirimu, maka aku pasti sudah luntang lantung di jalanan kota yang tidak aku kenal sama sekali,” ucap Kiran dengan setulus hatinya.
“Tidak masalah, aku malah senang karena bisa membantumu!” balas Alka yang menunjukan senyumannya yang menawan.
“Tapi aku merasa sangat berhutang budi padamu,” gumam Kiran dengan wajah bersalahnya.
“Kalau begitu balas saja dengan traktir makan siang! Bagaimana?” ujar Alka yang menggunakan kesempatan itu untuk bisa bertemu dengan Kiran lagi.
“Apakah kini kau menemukan yang baru sebagai penggantiku?” Belum sempat Kiran memberikan jawabannya, tiba-tiba suara Reksa mengalihkan keduanya.
“Mas, _...” ujar Kiran yang tidak mengerti arah pembicaraan dari suaminya itu.
“Targetmu lumayan juga! Aku tidak menyangka bahwa sebenarnya kau wanita semacam ini. Kau sungguh mengagumkan, Kiran?” Reksa dengan nada bicara dan tatapan penuh menghina pada Kiran.
“Mas, ini tidak seperti yang Mas pikirkan!” seru Kiran yang mencoba menghentikan Reksa mempermalukan dirinya, apalagi saat ini masih ada Alka di antara mereka.
“Memangnya apa yang aku pikirkan tentangmu?” Reksa semakin mengintimidasi Kiran.
“Tuan Reksa, sepertinya terjadi kesalahpahaman di antara kita, _....”
“Jangan ikut campur urusan kami! Jika kau memang tidak ingin terlibat, maka diam saja dan pergi dari sini! Tapi jika kau memang kau dan Kiran, _....”
“Alka, bisakah kau pergi! Aku mohon padamu,” pinta Kiran yang memotong ucapan Reksa, sebab dia tahu apa yang akan suaminya katakan kepada Alka yang tidak tahu apapun.
“Kau yakin tidak apa-apa? Aku bisa membantumu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Alka yang merasa sangat berat meninggalkan Kiran begitu saja, meski dia kini menyadari bahwa Kiran sebenarnya istri dari Reksa rekan bisnisnya.
“Tidak perlu! Sebaiknya kau pergi saja, Alka!” tolak Kiran dengan lembut.
“Baiklah, hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu.”
Dengan berat hati, Alka harus meninggalkan rumah itu dengan perasaan khawatir pada Kiran. Sedangkan Kiran hanya diam tak menanggapi perkataan Alka, sampai tiba-tiba Reksa menarik paksa tangannya untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
Bersambung, ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Fahmi Ardiansyah
makanya punya istri jgn di tinggal gitu aja demi wanita ulet itu skrg giliran ada yg nolongin langsung marah marah.coba klu gak ada Alka yg nolong habis kmu di marahi ke 2 orangtuamu reksa.
2024-12-13
0
Fahmi Ardiansyah
dasar laki laki egois ni reksa.sellu menuduh yg bukan bukan.gak mau bilng trima kasih asal jeplak aja tu mulutnya greget banget.
2024-12-13
0
Mulaini
Reksa datang² langsung marah melihat Kiran dengan rekan bisnisnya lah dia malah enak² belanja dengan Anya.
2023-07-24
0