Menjadi Sekertaris

“Jika kau merasa sakit seharusnya tadi kau ikut di periksa oleh dokter!” ujar Areksa.

“Tapi suhu tubuhmu terasa normal!” lanjutnya.

Tanpa sadar Areksa meletakan telapak tangannya pada kening Kiran, hingga membuat sang pemilik kening tesebut sedikit merasa terkejut akan aksi orang di sampingnya.

Mata keduanya akhirnya saling bertemu dan mengunci satu sama lain. Terasa jelas debaran jantung Areksa ketika melihat wajah Kiran dari jarak sedekat itu.

“Maaf, sebaiknya kita istirahat sekarang! Jika besok keadaanmu belum membaik, aku akan meminta Seno untuk mengantarmu berobat di rumah sakit,” ucap Areksa begitu menyadari akan apa yang sedang dirinya perbuat.

“Emm, … Kau istirahat saja duluan! Aku belum mengantuk,” ujar Kiran yang juga mengalihkan tatapannya dari Areksa, seketika dirinya kembali merasakan sakit di dadanya ketika suaminya sendiri malah menyuruh orang lain untuk memeriksa kondisinya.

“Baiklah, jangan tidur terlalu larut! Karena tidak baik untuk kesehatanmu,” pesan Areksa sebelum benar-benar meninggalkan Kiran sendirian di ruang keluarga, sedangkan dirinya masuk begitu saja ke dalam kamar mereka.

Kiran sama sekali tak menjawabnya, dia masih menatap ke arah lain hingga dia mendengar suara pintu terbuka dan tertutup dari arah kamarnya.

Kiran kembali menangis dalam diam, jujur saja dia sudah lelah dan ingin sekali menyerah saat itu juga. Semua yang dia lakukan selama dua minggu ini sama sekali tak berarti di mata suaminya.

“Haruskah aku menyerah dan membiarkan suamiku kembali lagi dengan mantan kekasihnya? Hiks, …” gumam Kiran di sela isak tangisnya.

Drrt, … Drrt, … Drtt, ….

Namun di tengah ratapannya, tiba-tiba ponsel milik Kiran berdering menampilkan nama Papah mertuanya yang menelponnya larut malam begini. Takut ada sesuatu hal terjadi kepada keluarga suaminya itu, Kiran pun segera menerima panggilan telepon tersebut.

“Hallo, Pah!” sapa Kiran begitu sambungan telepon itu terhubung.

“Syukurlah kau belum tidur, Nak! Apa Areksa ada berada di sampingmu sekarang?” tanya Papah Ibnu memastikan keberadaan putranya.

“Tidak, Pah! Mas Areksa sudah tidur, kerena besok dia akan kembali bekerja di perusahaan,” jawab Kiran.

“Baguslah, Papah juga sudah mengetahui bahwa anak itu akan kembali bekerja mulai besok! Karena itulah Papah menelponmu malam-malam begini, maaf jika Papah mengganggu waktu istirahatmu, Nak!” ujar Papah Ibnu.

“Tidak sama sekali, Pah! Memangnya ada apa, Papah sampai menelpon larut malam begini? Apakah terjadi sesuatu pada Mamah?” Kiran mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Tidak, Mamah baik-baik saja! Papah hanya ingin menawarkan sesuatu kepadamu, mungkin ini bisa membantumu agar bisa membuat anak bodoh itu kembali mengingatmu,” terang Papah Ibnu.

“Maksud Papah?” tanya Kiran menuntut penjelasan lebih sebab dia sungguh tidak mengerti.

“Datanglah besok untuk menjadi sekertaris pribadi anak bodoh itu! Mungkin ini tidak terlalu banyak membantu, tetapi Papah pikir dengan kalian selalu bersama anak itu bisa lebih cepat mengingat semua tentangmu,” jelas Papah Ibnu akan maksudnya menawarkan hal tersebut untuk menantunya.

Sejenak Kiran terdiam, terlihat keraguan memenuhi hati dan pikirannya. Baru saja, Kiran memikirkan untuk melepaskan semuanya demi kebahagiaan Areksa. Akan tetapi, Kiran lupa bahwa dia tidak boleh egois karena masih ada keluarga yang selalu mendukungnya.

“Benar, ini terlalu awal untukku menyerah! Banyak yang membantu dan mendukungku, suatu saat usahaku pasti akan membuahkan hasil walau hanya sedikit harapan aku ingin tetap memegang harapan itu sekuat hatiku,” batin Kiran yang akhirnya malah melamun.

“Kiran, apa kau sudah tidak, Nak!” Suara Papah Ibnu kembali menyadarkan Kiran dari lamunannya.

“Belum, Pah! Kiran akan mempertimbangkan tawaran Papah lebih dulu, _...”

“Baiklah, jika kau menerima tawaran Papah kau besok langsung berangkat saja! Ada Seno dan Papah sudah memberitahukan tentang hal ini padanya,” potong Papah Ibnu yang mengerti keraguan dari menantu kesayangannya itu.

“Baik, terima kasih sebelumnya!” ucap Kiran dengan ketulusan hatinya.

“Tidak masalah, Nak! Apapun yang bisa membantumu, maka Papah dan Mamah serta Seno akan senantiasa membantu dengan senang hati. Sekarang istirahatlah, ini sudah larut malam,” ujar Papah Ibnu.

Setelah saling mengucapkan selamat malam, sambungan telepon itu pun terputus. Untuk beberapa saat Kiran tetap duduk termenung memikirkan tawaran dari Papah mertuanya.

Hingga waktu hampir menunjukan pukul tengah malam, Kiran baru masuk ke dalam kamarnya. Matanya tertuju pada Areksa yang sudah begitu terlelap dalam mimpi indahnya.

“Mas, aku akan lebih berjuang untuk mempertahankan dirimu! Jadi, tolong jangan dorong aku untuk menjauh darimu,” ucap Kiran sembari membelai lembut wajah tampan suaminya.

“Selamat malam, Suamiku! Semoga mimpi indah dan kau cepat kembali mengingatku!”

Sebuah kecupan singkat Kiran berikan secara diam-diam pada kening suaminya dan setelah itu, Kiran ikut menyusul Areksa dalam dunia mimpi.

...****************...

Hari telah berganti, seperti biasa Kiran akan menyiapkan keperluan suaminya akan berangkat bekerja dengan sangat teliti. Mulai dari setelan jas yang akan di kenakan, dokumen kantor dan bahkan sarapan pagi.

Kiran melakukan semua itu seorang diri, meski kali ini sangat berbeda dengan hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Areksa tidak memberikan sebuah ciuman padanya ketika akan berangkat ke kantor.

“Aku berangkat dulu!” pamit Areksa begitu saja dan segera masuk ke dalam mobil dimana sang supir sudah menunggunya sejak tadi.

“Tidak apa, Mas! Aku menyadari keadaan kita sekarang ini,” gumam Kiran yang harus tersenyum pahit menatap kepergian suaminya.

Tak ingin membuang waktu, Kiran pun segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian santainya dengan pakaian kerja yang dia miliki.

Bertepatan Kiran selesai bersiap dengan sedikit meriah dirinya, tiba-tiba suara klakson mobil Seno terdengar membuat Kiran segera menyambar tas kerjanya dan segera berlalu keluar.

“Sudah siap untuk hari ini, Nyonya Damarwangsa!” goda Seno begitu Kiran menaiki mobilnya dan duduk di sampingnya.

“Jangan menggodaku, Seno! Lebih baik kita berangkat sekarang, karena aku tidak ingin terlambat untuk hari pertamaku bekerja!” ujar Kiran yang sepertinya sudah terbiasa dengan sikap Seno yang selalu mengajak siapa saja bercanda.

...****************...

Setibanya di perusahaan, Areksa langsung saja di arahkan untuk menuju ke ruangan miliknya nanti bekerja oleh seorang pria bernama Danial Saputra yang mengakui sebagai salah satu sekretarisnya. Karena merasa tidak ada yang aneh, Areksa pun hanya mengangguk mengerti pada sekretarisnya itu.

“Silahkan, Tuan! Ini ruangan anda, jika memerlukan sesuatu ruangan saya ada tepat di depan ruangan anda ini,” ujar Dani setelah mengantar Areksa masuk ke dalam ruangan Ceo.

Namun seketika mata Areksa tertuju pada sebuah figura yang di letakan di meja kerjanya. Dimana figura itu berisi fotonya bersama dengan Kiran yang terlihat begitu bahagia dan saling mencintai seperti foto lainnya yang dia lihat sebelumnya.

Bersambung, ....

Terpopuler

Comments

Fahmi Ardiansyah

Fahmi Ardiansyah

semoga usahamu TDK sia sia Kiran kliru ada ulet datang ke kantor serang n basmi biar gak ada org ke 3 .

2024-12-11

0

Fahmi Ardiansyah

Fahmi Ardiansyah

Nah skrg sadarlah areksa walau cuma sedikit aja.

2024-12-11

0

Mulaini

Mulaini

Semangat Kiran untuk menjadi sekretaris Areksa 💪💪

2023-07-16

0

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan
2 Hilang Ingatan
3 Membuat Perjanjian
4 Mengalah
5 Penyesalan
6 Akhirnya Pulang
7 Familiar
8 Hadirnya Pihak Ketiga
9 Pengenalan Tokoh
10 Tanpa Sepengetahuan
11 Kembali Bekerja
12 Menjadi Sekertaris
13 Penolakan
14 Pertemuan Reksa & Anya
15 Tetap Berjuang
16 Sebuah Peringatan
17 Diabaikan
18 Di Tinggalkan
19 Sang Penolong Kiran
20 Mulai Mengingat
21 Hukuman Tak Adil
22 Tidak Pulang
23 Tidak Sengaja Bertemu
24 Keputusan Bercerai
25 Kemarahan Keluarga
26 Menghargai Keputusan
27 Adanya Keraguan
28 Sebuah Permintaan Atau Syarat
29 Kembali Bekerja
30 Suasana Berbeda
31 Menuntut Penjelasan
32 Pertemuan Kembali
33 Sebuah Kejutan Untuk Anya
34 Perdebatan Sengit
35 Keputusan Kiran
36 Pertengkaran Reksa & Anya
37 Tidak Peduli Lagi
38 Janji Makan Malam
39 Perasaan Kesepian
40 Tampak Berbeda
41 (Masih) Tentang Reksa
42 Menyembunyikan Sesuatu
43 Bisakah Kita Perbaiki?
44 Masih Peduli
45 Diam-Diam Perhatian
46 Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47 Sempat Berharap
48 Kebohongan Reksa
49 Muslihat Anya
50 Pelindung Kiran
51 Tidak Mempan
52 Memang Positif
53 Dibalik Kabar Bahagia
54 Meminta Bantuan Pihak Lain
55 Datangnya Surat Perceraian
56 Jebakan Jahat Anya
57 Para Pelindung Kiran
58 Adanya Keraguan
59 Kejutan Yang Sesungguhnya
60 Kekecewaan Kiran
61 Kegilaan Anya
62 Akhirnya Tanda Tangan
63 Terlambat Menyadari
64 Penyesalan Reksa
65 Lembaran Baru
66 Selepas Kepergian Kiran
67 Kebetulan Tak Terduga
68 Diluar Perkiraan
69 Harus Operasi
70 Queenesha Reana Damarwangsa
71 Belum Bisa Memaafkan
72 Waktu Yang Lama
73 Penantian Reksa
74 Rencana Rahasia
75 Bala Bantuan
76 Memilih Hadiah
77 Hadiah Dari Papa
78 Akhirnya Bertemu
79 Ulang Tahun Terbaik
80 Permintaan Maaf
81 Mundur Untuk Sementara
82 Ketakutan Baby Queen
83 Permintaan Putri Tercinta
84 Mendapatkan Ijin Menginap
85 Pamer Putri Tercinta
86 OTW Bertemu Cucu
87 Takdir Mengejutkan
88 Harus Kembali
89 Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90 Bahaya Tengah Mengancam
91 Baby Queen Dalam Bahaya
92 Pengorbanan Reksa
93 Akhirnya Bersama Lagi
94 Pernikahan Seno & Zara
95 Jodohnya Dira
96 Happy Ending
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Kecelakaan
2
Hilang Ingatan
3
Membuat Perjanjian
4
Mengalah
5
Penyesalan
6
Akhirnya Pulang
7
Familiar
8
Hadirnya Pihak Ketiga
9
Pengenalan Tokoh
10
Tanpa Sepengetahuan
11
Kembali Bekerja
12
Menjadi Sekertaris
13
Penolakan
14
Pertemuan Reksa & Anya
15
Tetap Berjuang
16
Sebuah Peringatan
17
Diabaikan
18
Di Tinggalkan
19
Sang Penolong Kiran
20
Mulai Mengingat
21
Hukuman Tak Adil
22
Tidak Pulang
23
Tidak Sengaja Bertemu
24
Keputusan Bercerai
25
Kemarahan Keluarga
26
Menghargai Keputusan
27
Adanya Keraguan
28
Sebuah Permintaan Atau Syarat
29
Kembali Bekerja
30
Suasana Berbeda
31
Menuntut Penjelasan
32
Pertemuan Kembali
33
Sebuah Kejutan Untuk Anya
34
Perdebatan Sengit
35
Keputusan Kiran
36
Pertengkaran Reksa & Anya
37
Tidak Peduli Lagi
38
Janji Makan Malam
39
Perasaan Kesepian
40
Tampak Berbeda
41
(Masih) Tentang Reksa
42
Menyembunyikan Sesuatu
43
Bisakah Kita Perbaiki?
44
Masih Peduli
45
Diam-Diam Perhatian
46
Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47
Sempat Berharap
48
Kebohongan Reksa
49
Muslihat Anya
50
Pelindung Kiran
51
Tidak Mempan
52
Memang Positif
53
Dibalik Kabar Bahagia
54
Meminta Bantuan Pihak Lain
55
Datangnya Surat Perceraian
56
Jebakan Jahat Anya
57
Para Pelindung Kiran
58
Adanya Keraguan
59
Kejutan Yang Sesungguhnya
60
Kekecewaan Kiran
61
Kegilaan Anya
62
Akhirnya Tanda Tangan
63
Terlambat Menyadari
64
Penyesalan Reksa
65
Lembaran Baru
66
Selepas Kepergian Kiran
67
Kebetulan Tak Terduga
68
Diluar Perkiraan
69
Harus Operasi
70
Queenesha Reana Damarwangsa
71
Belum Bisa Memaafkan
72
Waktu Yang Lama
73
Penantian Reksa
74
Rencana Rahasia
75
Bala Bantuan
76
Memilih Hadiah
77
Hadiah Dari Papa
78
Akhirnya Bertemu
79
Ulang Tahun Terbaik
80
Permintaan Maaf
81
Mundur Untuk Sementara
82
Ketakutan Baby Queen
83
Permintaan Putri Tercinta
84
Mendapatkan Ijin Menginap
85
Pamer Putri Tercinta
86
OTW Bertemu Cucu
87
Takdir Mengejutkan
88
Harus Kembali
89
Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90
Bahaya Tengah Mengancam
91
Baby Queen Dalam Bahaya
92
Pengorbanan Reksa
93
Akhirnya Bersama Lagi
94
Pernikahan Seno & Zara
95
Jodohnya Dira
96
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!