Penyesalan

“Aku bahkan tahu kalau kau memiliki tahi lalat yang cukup besar di pantat sebelah kanan,” bisik Kiran lagi di sertai kekehan kecilnya.

“Apa?” seru Areksa yang tentunya tidak percaya, karena dia melupakannya.

Pada akhirnya Kiran benar-benar membantu Areksa mengganti pakaiannya. Sebab meski sudah berusaha, Areksa tetap kesulitan karena kaki dan tangannya yang tengah di pasang gips.

Dan benar saja, Kiran mengganti pakaian Areksa tanpa merasa risih maupun canggung dan malah terlihat sudah terbiasa melihat tubuhnya.

“Pah, Seno sudah menyelesaikan administrasinya dan mobil juga sudah berada di depan,” ujar Arseno yang baru selesai dnegan urusan administrasi sekalian mengambil mobil dari parkiran.

“Baiklah, ayo kita pulang sekarang!”

Papah Ibnu membantu membawakan barang-barang, sebelum di ambil alih oleh Seno. Sedangkan Kiran dan Mamah Syifa mendorong kursi roda yang di naiki Areksa.

Setibanya di depan mobil Arseno dan Papah Ibnu membantu Areksa naik ke dalam mobil, kemudian membereskan kursi roda dan barang lainnya ke dalam bagasi mobil.

Sepanjang perjalanan kembali ke rumah mereka, tatapan Kiran tertuju keluar jendela mobil yang terus berjalan. Seketika Kiran teringat tentang kejadian satu minggu sebelumnya, ….

Tepatnya setelah semua keluarga mengetahui bahwa Areksa mengalami Amnesia Disosiatif. Areksa melupakan ingatannya selama 6 tahun kebelakang, dimana semua ingatan tentang Kiran tercipta bersamanya. Selepas dari ruangan Dr. Aiden, Kiran berniat untuk melihat keadaan suaminya lagi.

Namun, tepat sebelum Kiran membuka pintu ruangan itu. Kiran bisa mendengar dengan jelas bahwa Areksa selalu menanyakan keberadaan mantan kekasihnya, Anya seorang model yang saat ini tengah naik daun pada Arseno.

“Seno, tidak bisakah kau menghubungi Anya untuk datang? Aku sangat merindukannya,” pinta Areksa pada adik kandungnya itu.

“Yakh, … Apa Kakak sudah gila! Kakak sudah menikah dengan Kak Kiran, meski saat ini Kakak melupakannya tapi tetap saja saat ini Kak Kiran masih istri Kakak!” seru Arseno sedikit meninggikannya.

“Jika dia memang istriku, seharusnya ada sedikit perasaan saat melihatnya! Tapi aku sama sekali tidak merasakan apapun padanya. Jangan-jangan Papah dan Mamah yang sudah memaksaku untuk menikahinya, lalu aku kabur dan mengalami kecelakaan seperti ini!”

“Aku tidak peduli dengan siapa wanita bernama Kiran itu, karena di hatiku saat ini hanya ada Anya saja!”

Kiran hanya bisa menahan suara tangisnya ketika mendengar perkataan yang suaminya ucapkan. Bagaimana bisa dalam satu malam, dirinya di lupakan dengan mudahnya oleh Areksa.

Bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi, Areksa masih mengatakan padanya betapa dia sangat mencintai Kiran sampai tidak mau menyentuh wanita lain ketika Kiran memaksanya.

“Hiks, … Kau boleh melupakan tentang diriku, Mas! Namun, tidak bisakah kau ingat perasaanmu untukku selama ini! Kau yang mengatakan sendiri tidak ingin menyentuh wanita lain, tapi sekarang, … Sekarang, kau bahkan mencari wanita lain,” batin Kiran yang menangis pedih mendengar semua yang Areksa katakan.

“Kak, apa yang kau bicarakan! Bagaimana kalau Kak Kiran mendengar apa yang Kakak katakan, _...”

“Aku tidak peduli! Biarkan saja dia mendengarnya, aku juga tidak merasa nyaman jika dia berada di dekatku dengan wajah seperti itu,” tukas Areksa dengan santainya.

Sontak, Kiran yang tidak ingin mendengarnya lebih jauh lagi langsung berlari meninggalkan kamar rawat Areksa sambil menangis terisak. Hingga tiba di sebuah taman rumah sakit, Kiran mendudukkan tubuhnya pada salah satu bangku taman yang ada di pojokan.

Dia kembali teringat hal yang membuatnya bertengkar hebat dengan Areksa sebelum kecelakaan itu terjadi. Sebuah rasa penyesalan yang akan dia ingat seumur hidupnya. Dimana tidak seharusnya Kiran mendengarkan perkataan orang itu saat di pesta.

Flashback sebelum pertengkaran terjadi, ….

Pada saat itu, Areksa dan Kiran mendatangi sebuah pesta dari salah satu kolega bisnisnya. Pesta yang bertemakan sebuah keluarga harmonis itu, di hadiri para rekan bisnis Areksa bersama dengan keluarga masing-masing.

Selama pesta berlangsung para suami dan istri membentuk kelompok masing-masing.

Dimana para suami pasti akan membicarakan tentang bisnis mereka, sedangkan para istri membicarakan tentang kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Meski sebagian besar hanya untuk pamer barang-barang malah yang di miliki atau tentang prestasi anaknya.

Hingga sebuah topik pembicaraan yang selama ini di hindari Kiran menjadikan dirinya sebagai pemeran utama. Terlihat wanita yang membuka topik tentang anak dan program hamil adalah wanita yang sebelumnya berselisih dengan Kiran.

“Bukankah tahun ini adalah usia pernikahan anda yang kelima, Nyonya Kiran?” tanya wanita bernama Samantha seolah tidak tahu, padahal dia menanyakan hal itu untuk serangan selanjutnya.

“Benarkah?” sahut wanita lainnya.

“Iya, beberapa hari yang lalu kami sudah merayakan hari pernikahan kami yang ke-5!” jawab Kiran dengan senyuman lembut di bibirnya.

“Waah, … Selamat ‘yah atas lima tahun pernikahannya!” ucap wanita yang lainnya satu persatu mengucapkan selamat kepada Kiran, kecuali Samantha.

“Kalian sudah menikah selama lima tahun! Apakah masih tidak berniat untuk memiliki seorang anak?” Samantha mulai melancarkan aksinya.

“Bukannya kami tidak ingin memiliki anak, tapi apalah daya kalau Sang Maha Pencipta belum memberikannya,” jawab Kiran terdengar sangat bijak, bahkan dia juga tersenyum manis meski hatinya terasa berdenyut.

“Benar! Jika yang di atas belum mau menitipkan seorang anak pada kita, maka tidak ada yang bisa kita berbuat selain bersabar sampai waktunya tiba,” ujar wanita lain yang menyetujui jawaban Kiran.

“Jangan berkecil hati! Tuhan pasti akan menyiapkan hal terindah untuk kalian. Jika bukan besok, mungkin lusa dan seterusnya!” Wanita lain memberi semangat dan dukungan kepada Kiran, sontak membuat Samantha terlihat sangat kesal melihatnya.

“Apakah kau sudah mencoba program hamil?” tanya Samantha lagi yang tidak menyerah begitu saja untuk menjatuhkan mental Kiran.

“Emm, … Kami sudah mencobanya, tapi memang belum ada hasilnya!” jawab Kiran yang masih berusaha untuk tetap tersenyum.

“Bagaimana dengan program bayi tabung? Aku dengar kalian pernah melakukannya?” Samantha seakan semakin menyudutkan Kiran.

“Iya, tapi sepertinya Tuhan tidak merestuinya sehingga hasilnya gagal!”

Kali ini Kiran tidak dapat lagi mempertahankan senyumannya. Beberapa wanita yang lain kembali memberi semangat kepada Kiran, sebagai seorang wanita mereka bisa memahami perasaan Kiran tapi tidak dengan Samantha yang malah memberikan saran yang cukup gila.

“Bagaimana kalau kalian menggunakan rahim pengganti saja!” ujar Samantha lagi.

“Kau hanya perlu membayar seorang wanita untuk melakukan hubungan intim dengan suamimu. Kemudian, jika wanita itu hamil maka anak itu akan menjadi milik kalian,” terangnya mencoba memprovokasi Kiran.

“Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau menyarankan hal menjijikan seperti itu pada Kiran!” seru seorang wanita yang bernama Grace yang tersulut api amarah mendengar perkataan Samantha.

Bersambung, ....

Terpopuler

Comments

Fahmi Ardiansyah

Fahmi Ardiansyah

nah ini org semua gara2 Samantha yg bikin kiran terprovokasi hingga Kiran berdebat Ama suaminya apa mungkin wanitanya yg di maksud kenalannya sendiri

2024-12-11

0

Fahmi Ardiansyah

Fahmi Ardiansyah

ni ibuk ya nggak mau ngalah sellu memojokkan kiran.

2024-12-11

0

🤩😘wiexelsvan😘🤩

🤩😘wiexelsvan😘🤩

owaallahhh ternyata kiran terprovokasi omongan samantha gila,,,jd nyesel d akhir khan low sdh bgtu,,,punya suami setia,sangat mencintai dan tidak banyak menuntut hrsnya bersyukur bknnya mlh hasutan gila d trima bgtu adja 🤭😁

2023-07-28

1

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan
2 Hilang Ingatan
3 Membuat Perjanjian
4 Mengalah
5 Penyesalan
6 Akhirnya Pulang
7 Familiar
8 Hadirnya Pihak Ketiga
9 Pengenalan Tokoh
10 Tanpa Sepengetahuan
11 Kembali Bekerja
12 Menjadi Sekertaris
13 Penolakan
14 Pertemuan Reksa & Anya
15 Tetap Berjuang
16 Sebuah Peringatan
17 Diabaikan
18 Di Tinggalkan
19 Sang Penolong Kiran
20 Mulai Mengingat
21 Hukuman Tak Adil
22 Tidak Pulang
23 Tidak Sengaja Bertemu
24 Keputusan Bercerai
25 Kemarahan Keluarga
26 Menghargai Keputusan
27 Adanya Keraguan
28 Sebuah Permintaan Atau Syarat
29 Kembali Bekerja
30 Suasana Berbeda
31 Menuntut Penjelasan
32 Pertemuan Kembali
33 Sebuah Kejutan Untuk Anya
34 Perdebatan Sengit
35 Keputusan Kiran
36 Pertengkaran Reksa & Anya
37 Tidak Peduli Lagi
38 Janji Makan Malam
39 Perasaan Kesepian
40 Tampak Berbeda
41 (Masih) Tentang Reksa
42 Menyembunyikan Sesuatu
43 Bisakah Kita Perbaiki?
44 Masih Peduli
45 Diam-Diam Perhatian
46 Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47 Sempat Berharap
48 Kebohongan Reksa
49 Muslihat Anya
50 Pelindung Kiran
51 Tidak Mempan
52 Memang Positif
53 Dibalik Kabar Bahagia
54 Meminta Bantuan Pihak Lain
55 Datangnya Surat Perceraian
56 Jebakan Jahat Anya
57 Para Pelindung Kiran
58 Adanya Keraguan
59 Kejutan Yang Sesungguhnya
60 Kekecewaan Kiran
61 Kegilaan Anya
62 Akhirnya Tanda Tangan
63 Terlambat Menyadari
64 Penyesalan Reksa
65 Lembaran Baru
66 Selepas Kepergian Kiran
67 Kebetulan Tak Terduga
68 Diluar Perkiraan
69 Harus Operasi
70 Queenesha Reana Damarwangsa
71 Belum Bisa Memaafkan
72 Waktu Yang Lama
73 Penantian Reksa
74 Rencana Rahasia
75 Bala Bantuan
76 Memilih Hadiah
77 Hadiah Dari Papa
78 Akhirnya Bertemu
79 Ulang Tahun Terbaik
80 Permintaan Maaf
81 Mundur Untuk Sementara
82 Ketakutan Baby Queen
83 Permintaan Putri Tercinta
84 Mendapatkan Ijin Menginap
85 Pamer Putri Tercinta
86 OTW Bertemu Cucu
87 Takdir Mengejutkan
88 Harus Kembali
89 Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90 Bahaya Tengah Mengancam
91 Baby Queen Dalam Bahaya
92 Pengorbanan Reksa
93 Akhirnya Bersama Lagi
94 Pernikahan Seno & Zara
95 Jodohnya Dira
96 Happy Ending
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Kecelakaan
2
Hilang Ingatan
3
Membuat Perjanjian
4
Mengalah
5
Penyesalan
6
Akhirnya Pulang
7
Familiar
8
Hadirnya Pihak Ketiga
9
Pengenalan Tokoh
10
Tanpa Sepengetahuan
11
Kembali Bekerja
12
Menjadi Sekertaris
13
Penolakan
14
Pertemuan Reksa & Anya
15
Tetap Berjuang
16
Sebuah Peringatan
17
Diabaikan
18
Di Tinggalkan
19
Sang Penolong Kiran
20
Mulai Mengingat
21
Hukuman Tak Adil
22
Tidak Pulang
23
Tidak Sengaja Bertemu
24
Keputusan Bercerai
25
Kemarahan Keluarga
26
Menghargai Keputusan
27
Adanya Keraguan
28
Sebuah Permintaan Atau Syarat
29
Kembali Bekerja
30
Suasana Berbeda
31
Menuntut Penjelasan
32
Pertemuan Kembali
33
Sebuah Kejutan Untuk Anya
34
Perdebatan Sengit
35
Keputusan Kiran
36
Pertengkaran Reksa & Anya
37
Tidak Peduli Lagi
38
Janji Makan Malam
39
Perasaan Kesepian
40
Tampak Berbeda
41
(Masih) Tentang Reksa
42
Menyembunyikan Sesuatu
43
Bisakah Kita Perbaiki?
44
Masih Peduli
45
Diam-Diam Perhatian
46
Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47
Sempat Berharap
48
Kebohongan Reksa
49
Muslihat Anya
50
Pelindung Kiran
51
Tidak Mempan
52
Memang Positif
53
Dibalik Kabar Bahagia
54
Meminta Bantuan Pihak Lain
55
Datangnya Surat Perceraian
56
Jebakan Jahat Anya
57
Para Pelindung Kiran
58
Adanya Keraguan
59
Kejutan Yang Sesungguhnya
60
Kekecewaan Kiran
61
Kegilaan Anya
62
Akhirnya Tanda Tangan
63
Terlambat Menyadari
64
Penyesalan Reksa
65
Lembaran Baru
66
Selepas Kepergian Kiran
67
Kebetulan Tak Terduga
68
Diluar Perkiraan
69
Harus Operasi
70
Queenesha Reana Damarwangsa
71
Belum Bisa Memaafkan
72
Waktu Yang Lama
73
Penantian Reksa
74
Rencana Rahasia
75
Bala Bantuan
76
Memilih Hadiah
77
Hadiah Dari Papa
78
Akhirnya Bertemu
79
Ulang Tahun Terbaik
80
Permintaan Maaf
81
Mundur Untuk Sementara
82
Ketakutan Baby Queen
83
Permintaan Putri Tercinta
84
Mendapatkan Ijin Menginap
85
Pamer Putri Tercinta
86
OTW Bertemu Cucu
87
Takdir Mengejutkan
88
Harus Kembali
89
Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90
Bahaya Tengah Mengancam
91
Baby Queen Dalam Bahaya
92
Pengorbanan Reksa
93
Akhirnya Bersama Lagi
94
Pernikahan Seno & Zara
95
Jodohnya Dira
96
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!