Hilang Ingatan

“Kiran, kau tenanglah! Percaya pada Areksa bahwa dia pasti akan baik-baik saja. Mamah dan Papah akan segera menyusul ke sana!” ujar Mamah Syifa yang mencoba sedikit menghibur dan menenangkan menantu kesayangannya itu.

Meski di dalam hati dan pikirannya sendiri juga tidak bisa tenang ketika mendengar putranya mengalami kecelakaan.

“Iya, Mah!” lirih Kiran.

Tak lama setelah percakapan melalui telepon itu berakhir, akhirnya taksi yang di naiki Kiran tiba juga di rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Kiran langsung menanyakan keberadaan suaminya kepada salah satu perawat yang berjaga di meja administrasi.

“Di-dimana, … Dimana pasien atas nama Areksa Serano Damarwangsa sekarang?” tanya Kiran dengan suara gemetar dan air matanya yang tiada hentinya terus mengalir membasahi wajah cantiknya.

“Aah, … Pasien yang datang karena kecelakaan ‘yah! Saat ini masih mendapat penangan khusus di ruang ICU,” terang salah satu perawat di sana.

Tanpa buang waktu dan dengan kepanikannya, Kiran segera mencari letak ruangan ICU yang di maksud. Ketika Kiran masuk ke dalam ruangan itu, tubuhnya seketika lemas melihat tubuh suaminya yang di penuhi dengan peralatan medis rumah sakit.

“Maaf, anda siapa ‘yah?” tanya salah satu perawat yang menyadari keberadaan Kiran di sana.

“Sa-saya istri dari pasien yang bernama Areksa, … Hiks!” jawab Kiran begitu lirih.

“Jadi, anda keluarga pasien ini!” Dokter yang mendengarnya pun segera menghampiri Kiran.

“I-ya, Dok! Apa yang terjadi dengan suami saya, Dok? Hiks, …”

Kiran berusaha untuk tidak menangis saat itu, tapi melihat tubuh suami yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit membuat dadanya terasa begitu sesak.

Sang Dokter bisa memahami apa yang keluarga pasiennya rasakan, sehingga dia bisa mengerti jika Kiran menangis saat itu.

“Bisa bicara di ruanganku? Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang cukup panjang untuk menjelaskan kondisi Tuan Areksa saat ini,” ujar Dokter tersebut dengan ramah.

“Ba-baik, Dok! Ta-tapi bolehkah saya melihat keadaan suami saya dulu, Dok!” pinta Kiran yang ingin sekali melihat keadaan suami tercintanya.

“Tentu, silahkan saja!” Dokter itu tidak keberatan sama sekali.

“Sus, tolong nanti antar keluarga pasien ini ke ruanganku!” pesan Dokter itu pada Perawat yang berjaga di sana.

“Baik, Dok!” sahut Perawat tersebut.

Kiran kini sudah mengabaikan perkataan Dokter itu, tatapan matanya hanya tertuju pada sang suami yang tengah terbaring lemah. Namun, ketika Kiran sudah berjarak begitu dekat dengan suaminya dia langsung berbalik.

“Dokter, … Mari kita bicara dulu tentang keadaan suamiku!” ujar Kiran yang berubah pikiran.

Dokter itu cukup terkejut, tapi hanya sesaat. Setelah itu, dia menjawab, “Tentu, mari ke ruangan saya!”

Begitu keluar dari ruang ICU, Kiran malah berpapasan dengan keluarga suaminya. Mendengar Kiran yang ingin mendengar penjelasan Dokter terkait kondisi Areksa, keluarganya pun memutuskan untuk ikut mendengarkannya.

“Bagaimana keadaan putra kami, Dok?” tanya Ibu Areksa yang tidak sabar ingin mendengar kondisi putranya.

“Begini, sepertinya Tuan Areksa mengalami benturan yang cukup parah saat terjadi kecelakaan itu! Tangan kanannya mengalami keretakan, begitu juga dengan kaki kirinya. Sehingga untuk beberapa minggu sepertinya Tuan Areksa harus menggunakan kursi roda,” jelas sang Dokter.

“Namun yang saya takutkan adalah benturan di bagian kepalanya! Kami sudah melakukan Magnetic Resonance Imaging atau MRI dan hasilnya kemungkinan besar Tuan Areksa akan mengalami Amnesia,” sambungnya yang membuat semua orang tidak mau mempercayainya, terutama Kiran.

“Tidak mungkin, …” gumam Kiran yang tak mau mempercayainya.

“Untuk jenis Amnesia-nya kami tidak bisa memastikannya sekarang! Kita harus menunggu sampai pasien sadar lebih dulu,” ujar sang Dokter.

Setelah mendengar penjelasan sang Dokter, Kiran dan keluarganya sepakat untuk memindahkan Areksa ke ruangan rawat VVIP. Karena mereka ingin Areksa mendapatkan perawatan terbaik dan fasilitas yang nyaman.

...****************...

Semalaman mereka menunggu Areksa sadar, tapi sampai pagi menjelang Areksa tidak kunjung sadar.

Bahkan sampai pagi tiba, Areksa belum juga menunjukan tanda-tanda akan sadar. Kiran bahkan semalaman tidak tidur dan selalu berada di samping suaminya sembari menggenggam tangannya.

Sedangkan Ibu Areksa tertidur di kasur tambahan yang di minta, sang ayah tertidur di sofa yang juga sudah tersedia di sana.

“Kapan kau akan membuka matamu lagi, Mas?” gumam Kiran dengan suara lirih dan matanya yang bengkak karena terus saja menangis.

“Maafkan aku, Mas! Seharusnya aku tidak memintamu untuk melakukan itu, sehingga kita tidak bertengkar dan kau menjadi seperti ini, … Hiks!”

Tangisan Kiran kembali pecah mengingat pertengkaran semalam yang membuat suaminya menjadi seperti sekarang. Disela isak tangisnya, Kiran merasakan kalau tangan Areksa perlahan mulai bergerak. Dengan cepat Kiran pun segera menghapus sisa air mata di wajahnya dan menatap suaminya semakin lekat.

“Mas, akhirnya kau membuka matamu lagi!”

Sebuah senyuman indah terukir di wajah cantik Kiran ketika Areksa benar-benar membuka matanya. Kedua orang tua Areksa pun terbangun, ketika mendengar suara Kiran yang mengatakan bahwa putra mereka sudah sadar.

“Ran, Areksa sudah bangun?” tanya Mamah Syifa, ibu kandung dari Areksa dan ibu mertua Kiran.

“Iya, Mah! Mas Areksa sudah membuka matanya lagi,” jawab Kiran dengan senyuman yang terus merekah di wajahnya.

“Pah, cepat panggil Dokter sekarang!” ujar Mamah Syifa pada suaminya.

“Iya, Mah! Papah akan memanggil Dokternya sekarang,” sahut Papah Ibnu, ayah kandung Areksa dan ayah mertua Kiran tentunya. Papah Ibnu segera keluar untuk memanggil Dokter yang menangani Areksa sebelumnya.

Terlihat Areksa yang masih diam sembari memperhatikan sekitarnya. Areksa kemudian menatap sosok Kiran dengan raut wajah yang sulit di artikan oleh Kiran. Seketika Kiran tersadar bahwa cara menatap Areksa padanya kini berbeda dengan sebelumnya.

“Kenapa cara Mas Areksa menatapku berubah? Tidak, … Aku tidak boleh berpikiran negative di saat seperti ini!” batin Kiran yang menepis firasat buruknya.

“Mas, apa ada yang terasa sakit?” tanya Kiran memastikan, dia mengabaikan firasat buruknya yang terus berusaha mendominasi hati dan pikirannya.

“Lepaskan! Memang siapa kau sampai terus memegangi tanganku seperti ini!”

Areksa menarik tangannya secara kasar dan menatap Kiran dengan tatapan tidak bersahabat. Baik Kiran maupun Mamah Syifa pun terkejut dengan perkataan Areksa yang terkesan tidak mengenali istri yang sangat dicintainya sama sekali.

“Reksa, jangan bercanda, Nak! Jangan berpura-pura tidak mengenali istrimu sendiri.”

Mamah Syifa angkat bicara, sebab dia mengira bahwa Areksa hanya tengah mempermainkan mereka saja seperti biasanya. Sedangkan Kiran masih terdiam di tempatnya, kali ini firasat buruknya benar-benar sudah mendominasi.

Hanya buliran air matanya yang perlahan turun, sebagai bentuk kesedihan dan kepedihan hatinya yang tidak bisa dia ucapkan dengan kata-kata melihat suaminya yang tidak mengenali dirinya lagi sebagai istrinya.

Bersambung, ......

Terpopuler

Comments

Fahmi Ardiansyah

Fahmi Ardiansyah

yaaa mungkin areksa hanya pura pura hilang ingatan biar kiran gak jadi menuntutnya LG soal anak.

2024-12-10

0

neng ade

neng ade

Areksa tak mengingat Kiran tapi masih mengingat mama nya

2024-06-03

0

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

amnesia

2023-12-05

0

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan
2 Hilang Ingatan
3 Membuat Perjanjian
4 Mengalah
5 Penyesalan
6 Akhirnya Pulang
7 Familiar
8 Hadirnya Pihak Ketiga
9 Pengenalan Tokoh
10 Tanpa Sepengetahuan
11 Kembali Bekerja
12 Menjadi Sekertaris
13 Penolakan
14 Pertemuan Reksa & Anya
15 Tetap Berjuang
16 Sebuah Peringatan
17 Diabaikan
18 Di Tinggalkan
19 Sang Penolong Kiran
20 Mulai Mengingat
21 Hukuman Tak Adil
22 Tidak Pulang
23 Tidak Sengaja Bertemu
24 Keputusan Bercerai
25 Kemarahan Keluarga
26 Menghargai Keputusan
27 Adanya Keraguan
28 Sebuah Permintaan Atau Syarat
29 Kembali Bekerja
30 Suasana Berbeda
31 Menuntut Penjelasan
32 Pertemuan Kembali
33 Sebuah Kejutan Untuk Anya
34 Perdebatan Sengit
35 Keputusan Kiran
36 Pertengkaran Reksa & Anya
37 Tidak Peduli Lagi
38 Janji Makan Malam
39 Perasaan Kesepian
40 Tampak Berbeda
41 (Masih) Tentang Reksa
42 Menyembunyikan Sesuatu
43 Bisakah Kita Perbaiki?
44 Masih Peduli
45 Diam-Diam Perhatian
46 Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47 Sempat Berharap
48 Kebohongan Reksa
49 Muslihat Anya
50 Pelindung Kiran
51 Tidak Mempan
52 Memang Positif
53 Dibalik Kabar Bahagia
54 Meminta Bantuan Pihak Lain
55 Datangnya Surat Perceraian
56 Jebakan Jahat Anya
57 Para Pelindung Kiran
58 Adanya Keraguan
59 Kejutan Yang Sesungguhnya
60 Kekecewaan Kiran
61 Kegilaan Anya
62 Akhirnya Tanda Tangan
63 Terlambat Menyadari
64 Penyesalan Reksa
65 Lembaran Baru
66 Selepas Kepergian Kiran
67 Kebetulan Tak Terduga
68 Diluar Perkiraan
69 Harus Operasi
70 Queenesha Reana Damarwangsa
71 Belum Bisa Memaafkan
72 Waktu Yang Lama
73 Penantian Reksa
74 Rencana Rahasia
75 Bala Bantuan
76 Memilih Hadiah
77 Hadiah Dari Papa
78 Akhirnya Bertemu
79 Ulang Tahun Terbaik
80 Permintaan Maaf
81 Mundur Untuk Sementara
82 Ketakutan Baby Queen
83 Permintaan Putri Tercinta
84 Mendapatkan Ijin Menginap
85 Pamer Putri Tercinta
86 OTW Bertemu Cucu
87 Takdir Mengejutkan
88 Harus Kembali
89 Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90 Bahaya Tengah Mengancam
91 Baby Queen Dalam Bahaya
92 Pengorbanan Reksa
93 Akhirnya Bersama Lagi
94 Pernikahan Seno & Zara
95 Jodohnya Dira
96 Happy Ending
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Kecelakaan
2
Hilang Ingatan
3
Membuat Perjanjian
4
Mengalah
5
Penyesalan
6
Akhirnya Pulang
7
Familiar
8
Hadirnya Pihak Ketiga
9
Pengenalan Tokoh
10
Tanpa Sepengetahuan
11
Kembali Bekerja
12
Menjadi Sekertaris
13
Penolakan
14
Pertemuan Reksa & Anya
15
Tetap Berjuang
16
Sebuah Peringatan
17
Diabaikan
18
Di Tinggalkan
19
Sang Penolong Kiran
20
Mulai Mengingat
21
Hukuman Tak Adil
22
Tidak Pulang
23
Tidak Sengaja Bertemu
24
Keputusan Bercerai
25
Kemarahan Keluarga
26
Menghargai Keputusan
27
Adanya Keraguan
28
Sebuah Permintaan Atau Syarat
29
Kembali Bekerja
30
Suasana Berbeda
31
Menuntut Penjelasan
32
Pertemuan Kembali
33
Sebuah Kejutan Untuk Anya
34
Perdebatan Sengit
35
Keputusan Kiran
36
Pertengkaran Reksa & Anya
37
Tidak Peduli Lagi
38
Janji Makan Malam
39
Perasaan Kesepian
40
Tampak Berbeda
41
(Masih) Tentang Reksa
42
Menyembunyikan Sesuatu
43
Bisakah Kita Perbaiki?
44
Masih Peduli
45
Diam-Diam Perhatian
46
Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47
Sempat Berharap
48
Kebohongan Reksa
49
Muslihat Anya
50
Pelindung Kiran
51
Tidak Mempan
52
Memang Positif
53
Dibalik Kabar Bahagia
54
Meminta Bantuan Pihak Lain
55
Datangnya Surat Perceraian
56
Jebakan Jahat Anya
57
Para Pelindung Kiran
58
Adanya Keraguan
59
Kejutan Yang Sesungguhnya
60
Kekecewaan Kiran
61
Kegilaan Anya
62
Akhirnya Tanda Tangan
63
Terlambat Menyadari
64
Penyesalan Reksa
65
Lembaran Baru
66
Selepas Kepergian Kiran
67
Kebetulan Tak Terduga
68
Diluar Perkiraan
69
Harus Operasi
70
Queenesha Reana Damarwangsa
71
Belum Bisa Memaafkan
72
Waktu Yang Lama
73
Penantian Reksa
74
Rencana Rahasia
75
Bala Bantuan
76
Memilih Hadiah
77
Hadiah Dari Papa
78
Akhirnya Bertemu
79
Ulang Tahun Terbaik
80
Permintaan Maaf
81
Mundur Untuk Sementara
82
Ketakutan Baby Queen
83
Permintaan Putri Tercinta
84
Mendapatkan Ijin Menginap
85
Pamer Putri Tercinta
86
OTW Bertemu Cucu
87
Takdir Mengejutkan
88
Harus Kembali
89
Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90
Bahaya Tengah Mengancam
91
Baby Queen Dalam Bahaya
92
Pengorbanan Reksa
93
Akhirnya Bersama Lagi
94
Pernikahan Seno & Zara
95
Jodohnya Dira
96
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!