Sebuah Peringatan

Saat Kiran tiba di perusahaan, Seno berniat langsung menemuinya untuk menanyakan kepergiannya. Namun melihat Kiran yang kembali bersama Reksa dan keduanya malah terlihat lebih baik dari sebelumnya, hingga Seno akhirnya mengurungkan niatnya.

“Sepertinya aku tidak perlu menanyakan apa yang terjadi. Benar yang di katakan Papah dan Mamah, bahwa aku tidak boleh ikut campur dengan urusan mereka berdua,” gumam Seno yang kemudian lebih memilih untuk kembali ke ruangannya saja.

Hari pertama Kiran bekerja sebagai sekretaris pribadi suaminya sendiri merupakan pengalaman yang begitu luar biasa. Awalnya kehadiran Kiran memang di tentang dengan keras, tetapi siapa sangka di hari yang sama dia malah di akui sebagai seorang istri.

Jam kerja pun telah usai, kini Kiran sedang membereskan pekerjaannya di bantu oleh Dani yang sudah menyelesaikannya lebih dahulu karena dia sudah terbiasa. Lagi dan lagi Kiran sedikit di kejutkan oleh suaminya yang ternyata menunggunya agar mereka bisa pulang bersama.

“Tuan Reksa, apakah anda menunggu Nyonya agar kalian bisa pulang bersama?” tanya Dani yang pertama kali menyadari keberadaan Reksa di sana.

“Mas, ….” Kiran pun ikut menoleh pada Reksa yang tengah berdiri sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Emm, … Apakah kau mau pulang bersama?” ajak Reksa yang tentu saja dengan senang hati Kiran akan langsung menyetujuinya.

“Iya, tapi tunggu sebentar! Aku harus membereskan ini lebih dulu,” ujar Kiran.

“Biar saya saja yang membereskannya, Nyonya! Sebaiknya anda pulang saja sekarang, kasihan Tuan Reksa jika harus menunggu anda lebih lama lagi,” tolak Dani ketika Kiran berniat membantunya, padahal itu memang bagian pekerjaan Kiran.

“Kerja bagus, Dan!” puji Reksa yang langsung menghampiri Kiran dan menarik tangannya dengan pelan untuk mengikutinya.

“Ayo, kita harus segera pulang karena Papah dan Mamah sedang menunggu kita di rumah,” ujar Reksa lagi.

“Papah dan Mamah di rumah kita? Memangnya ada apa?” cecar Kiran yang tampak bingung dengan kehadiran kedua orang tua Reksa di rumah mereka.

“Aku juga tidak tahu, maka dari itu kita harus pulang sekarang!” ujar Reksa dengan santainya.

Keduanya pun langsung masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudian mereka akhirnya tiba di rumah mewah mereka. Dan benar saja, dua buah mobil yang sangat mereka kenali sudah terparkir rapi di sana. Satu milik Papah Ibnu dan yang satunya milik Seno, Kiran sangat mengenali kedua mobil itu.

Begitu masuk Kiran langsung di sambut dengan pelukan hangat oleh Mamah Syifa, Papah Ibnu dan juga Seno meski mereka sudah bertemu selama di kantor.

Dan seperti biasa keluarga itu malah mengabaikan keberadaan anak kandungnya sendiri. Merasa di abaikan oleh keluarganya sendiri, Reksa pun langsung saja pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian santai.

“Papah dan Mamah sudah makan malam?” tanya Kiran setelah temu kangennya selesai.

“Belum, makanya kami datang untuk makan malam bersama dengan kalian,” jawab Mamah Syifa.

“Aku juga belum makan malam, Kakak Ipar!” seru Seno yang tidak mau ketinggalan.

“Baiklah, aku akan memasak sesuatu terlebih dahulu untuk makan malam kita,” ujar Kiran yang langsung bersiap menuju ke dapur.

“Biar Mamah bantu ‘yah, Sayang!” Mamah Syifa menawarkan sebuah bantuan.

...****************...

Tak lama kemudian, Reksa kembali keluar dari dalam kamarnya dan segera menghampiri Papahnya dan juga Seno yang tengah berbincang di ruang tamu. Begitu Reksa bergabung suasana seketika berubah menjadi sangat serius.

“Papah dengar kau terus membuat istrimu menangis.”

Suara Papah Ibnu terdengar penuh penekanan. Seketika tatapan tajam Reksa tertuju pada sang adiknya yang dia kenal sebagai pengadu sejak mereka masih kecil. Entah mengapa bukan Kiran yang menjadi tersangka utamanya, tetapi malah adiknya sendiri.

“Benar-benar pengadu!” gumam Reksa tanpa mengalihkan tatapan tajamnya pada Seno.

“Reksa, Papah hanya akan memberikan satu peringatan padamu! Jika sampai Kiran menceraikan mu karena sikapmu ini atau dia terluka oleh kedua tanganmu, maka Papah tidak akan segan-segan menarik semua yang menjadi milikmu saat ini!” ujar Papah Ibnu yang membuat Reksa maupun Seno sama-sama terkejut begitu mendengarnya.

“Pah, _...”

“Tanpa terkecuali Areksa!” potong Papah Ibnu penuh penegasan.

Kemudian beberapa saat suasana menjadi hening, hingga Papah Ibnu kembali berkata, “Papah tahu saat ini kau masih belum mengingat apapun tentang Kiran. Tapi percayalah kau menikahinya karena pilihanmu sendiri. Kalian saling mencintai, bahkan penyebab kecelakaan yang kau alami juga karena kau tidak ingin melukai hati istrimu.”

“Jadi bersikap baiklah pada istrimu, jika kau tidak ingin menyesalinya suatu hari nanti.” Papah Ibnu kembali menekankan ucapannya.

“Benar, apa yang di katakan Papah, Kak! Selama lima tahun pernikahan kalian Kakak begitu mencintai Kakak Ipar, begitu juga sebaliknya Kakak Ipar sangat mencintaimu. Tapi hanya kerena sebuah kecelakaan, hanya karena sebuah hilang ingatan Kakak bersikap seperti ini!” seru Seno yang ikut angkat bicara setelah sejak tadi hanya diam.

“Baiklah, aku akan mengingat peringatan ini baik-baik,” ujar Reksa yang tidak ingin berdebat apapun lagi.

Setelah pembicaraan itu, Papah Ibnu mencoba mengalihkan pembicaraan dengan membahas bisnis mereka akhir-akhir ini. Tak lama kemudian, Kiran datang untuk mengajak semuanya makan bersama.

Ketika makan malam pandangan mata Reksa terus tertuju pada Kiran, bahkan sampai Kiran sudah tertidur pun Reksa tetap memperhatikannya.

...****************...

Keesokan paginya, Kiran dan Reksa berangkat bersama ke kantor. Pagi itu, Reksa harus mengikuti rapat penting dengan Dani. Sehingga hanya Kiran saja yang berada di meja sekretaris untuk menangani dokumen yang tersisa.

Namun siapa sangka hari itu malah menjadi pertemuan Kiran dengan Anya yang dengan tidak tahu malu datang sebagai kekasih Reksa.

“Dimana Reksa? Katakan pada dia bahwa kekasihnya ingin bertemu!” ujar Anya dengan angkuhnya tanpa menatap siapa yang menjadi lawan bicaranya saat itu.

Kiran yang sejak tadi hanya focus melihat layar komputer, dia terpaksa mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang dengan bersikap tidak sopan bahkan menyebut dirinya sendiri sebagai kekasih suaminya secara terang-terangan.

“Aah, … Jadi, kau wanita yang hanya memanfaatkan suami orang lain demi mencapai tujuannya sendiri,” ujar Kiran dengan tatapan penuh mengejek pada Anya.

“Ouh, … Jadi kau istri yang di lupakan oleh suaminya sendiri? Kasihan sekali, seharusnya kau langsung sadar diri dan menceraikan Reksa secepatnya!”

Bukannya sadar diri, Anya malah semakin memprovokasi Kiran dengan beraninya seolah apapun yang terjadi dia yang akan jadi pemenangnya.

Kiran tentunya sangat geram akan perkataan tidak tahu diri Anya dan ingin sekali rasanya Kiran menampar wajah tidak tahu malunya itu. Namun, Kiran mencoba untuk menahannya, karena dia harus memiliki rencana yang matang jika ingin melawan seorang pelakor.

Bersambung, .....

Terpopuler

Comments

Fahmi Ardiansyah

Fahmi Ardiansyah

benar2 kiran.kamu harus berani menghadapi seorg ulet seperti Anya kmu yg akan menang.

2024-12-11

0

Bundanya Pandu Pharamadina

Bundanya Pandu Pharamadina

bagus Kiran semangat dan kita mendukungmu, hanguskan ulat bulu

2023-11-08

0

Mulaini

Mulaini

Benar Kiran melawan seorang pelakor harus dengan rencana matang dan bermain cantik.

2023-07-20

0

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan
2 Hilang Ingatan
3 Membuat Perjanjian
4 Mengalah
5 Penyesalan
6 Akhirnya Pulang
7 Familiar
8 Hadirnya Pihak Ketiga
9 Pengenalan Tokoh
10 Tanpa Sepengetahuan
11 Kembali Bekerja
12 Menjadi Sekertaris
13 Penolakan
14 Pertemuan Reksa & Anya
15 Tetap Berjuang
16 Sebuah Peringatan
17 Diabaikan
18 Di Tinggalkan
19 Sang Penolong Kiran
20 Mulai Mengingat
21 Hukuman Tak Adil
22 Tidak Pulang
23 Tidak Sengaja Bertemu
24 Keputusan Bercerai
25 Kemarahan Keluarga
26 Menghargai Keputusan
27 Adanya Keraguan
28 Sebuah Permintaan Atau Syarat
29 Kembali Bekerja
30 Suasana Berbeda
31 Menuntut Penjelasan
32 Pertemuan Kembali
33 Sebuah Kejutan Untuk Anya
34 Perdebatan Sengit
35 Keputusan Kiran
36 Pertengkaran Reksa & Anya
37 Tidak Peduli Lagi
38 Janji Makan Malam
39 Perasaan Kesepian
40 Tampak Berbeda
41 (Masih) Tentang Reksa
42 Menyembunyikan Sesuatu
43 Bisakah Kita Perbaiki?
44 Masih Peduli
45 Diam-Diam Perhatian
46 Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47 Sempat Berharap
48 Kebohongan Reksa
49 Muslihat Anya
50 Pelindung Kiran
51 Tidak Mempan
52 Memang Positif
53 Dibalik Kabar Bahagia
54 Meminta Bantuan Pihak Lain
55 Datangnya Surat Perceraian
56 Jebakan Jahat Anya
57 Para Pelindung Kiran
58 Adanya Keraguan
59 Kejutan Yang Sesungguhnya
60 Kekecewaan Kiran
61 Kegilaan Anya
62 Akhirnya Tanda Tangan
63 Terlambat Menyadari
64 Penyesalan Reksa
65 Lembaran Baru
66 Selepas Kepergian Kiran
67 Kebetulan Tak Terduga
68 Diluar Perkiraan
69 Harus Operasi
70 Queenesha Reana Damarwangsa
71 Belum Bisa Memaafkan
72 Waktu Yang Lama
73 Penantian Reksa
74 Rencana Rahasia
75 Bala Bantuan
76 Memilih Hadiah
77 Hadiah Dari Papa
78 Akhirnya Bertemu
79 Ulang Tahun Terbaik
80 Permintaan Maaf
81 Mundur Untuk Sementara
82 Ketakutan Baby Queen
83 Permintaan Putri Tercinta
84 Mendapatkan Ijin Menginap
85 Pamer Putri Tercinta
86 OTW Bertemu Cucu
87 Takdir Mengejutkan
88 Harus Kembali
89 Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90 Bahaya Tengah Mengancam
91 Baby Queen Dalam Bahaya
92 Pengorbanan Reksa
93 Akhirnya Bersama Lagi
94 Pernikahan Seno & Zara
95 Jodohnya Dira
96 Happy Ending
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Kecelakaan
2
Hilang Ingatan
3
Membuat Perjanjian
4
Mengalah
5
Penyesalan
6
Akhirnya Pulang
7
Familiar
8
Hadirnya Pihak Ketiga
9
Pengenalan Tokoh
10
Tanpa Sepengetahuan
11
Kembali Bekerja
12
Menjadi Sekertaris
13
Penolakan
14
Pertemuan Reksa & Anya
15
Tetap Berjuang
16
Sebuah Peringatan
17
Diabaikan
18
Di Tinggalkan
19
Sang Penolong Kiran
20
Mulai Mengingat
21
Hukuman Tak Adil
22
Tidak Pulang
23
Tidak Sengaja Bertemu
24
Keputusan Bercerai
25
Kemarahan Keluarga
26
Menghargai Keputusan
27
Adanya Keraguan
28
Sebuah Permintaan Atau Syarat
29
Kembali Bekerja
30
Suasana Berbeda
31
Menuntut Penjelasan
32
Pertemuan Kembali
33
Sebuah Kejutan Untuk Anya
34
Perdebatan Sengit
35
Keputusan Kiran
36
Pertengkaran Reksa & Anya
37
Tidak Peduli Lagi
38
Janji Makan Malam
39
Perasaan Kesepian
40
Tampak Berbeda
41
(Masih) Tentang Reksa
42
Menyembunyikan Sesuatu
43
Bisakah Kita Perbaiki?
44
Masih Peduli
45
Diam-Diam Perhatian
46
Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47
Sempat Berharap
48
Kebohongan Reksa
49
Muslihat Anya
50
Pelindung Kiran
51
Tidak Mempan
52
Memang Positif
53
Dibalik Kabar Bahagia
54
Meminta Bantuan Pihak Lain
55
Datangnya Surat Perceraian
56
Jebakan Jahat Anya
57
Para Pelindung Kiran
58
Adanya Keraguan
59
Kejutan Yang Sesungguhnya
60
Kekecewaan Kiran
61
Kegilaan Anya
62
Akhirnya Tanda Tangan
63
Terlambat Menyadari
64
Penyesalan Reksa
65
Lembaran Baru
66
Selepas Kepergian Kiran
67
Kebetulan Tak Terduga
68
Diluar Perkiraan
69
Harus Operasi
70
Queenesha Reana Damarwangsa
71
Belum Bisa Memaafkan
72
Waktu Yang Lama
73
Penantian Reksa
74
Rencana Rahasia
75
Bala Bantuan
76
Memilih Hadiah
77
Hadiah Dari Papa
78
Akhirnya Bertemu
79
Ulang Tahun Terbaik
80
Permintaan Maaf
81
Mundur Untuk Sementara
82
Ketakutan Baby Queen
83
Permintaan Putri Tercinta
84
Mendapatkan Ijin Menginap
85
Pamer Putri Tercinta
86
OTW Bertemu Cucu
87
Takdir Mengejutkan
88
Harus Kembali
89
Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90
Bahaya Tengah Mengancam
91
Baby Queen Dalam Bahaya
92
Pengorbanan Reksa
93
Akhirnya Bersama Lagi
94
Pernikahan Seno & Zara
95
Jodohnya Dira
96
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!