Kembali Bekerja

“Mungkin lusa, sayang! Besok aku harus memeriksakan kembali kondisiku, tapi sepertinya sekarang sudah jauh lebih baik! Beberapa hari yang lalu aku bahkan sudah bisa berjalan kembali seperti biasanya,” jelas Areksa sembari berjalan keluar balkon kamarnya untuk menikmati pemandangan malam itu.

“Benarkah? Kalau begitu ayo bertemu untuk merayakan kesembuhanmu, bagaimana kalau makan malam di restaurant favoritmu?” ajak Anya penuh antusias.

“Tentu, tapi restaurant favoritmu saja! Karena kebahagiaanmu lebih penting, sayang!” ucap Areksa yang membuat Anya semakin melambung tinggi hingga keluar angkasa.

“Aaaah, … Sayang, kenapa kau semakin romantis saja! Aku jadi semakin mencintaimu, jangan tinggalkan aku lagi demi apapun ‘yah?” ucap Anya dengan nada memohon manja.

Degh, …

“Lagi? Bukankah aku dan Anya selama ini tidak pernah berpisah sekalipun, apalagi meninggalkannya?” batin Areksa yang merasakan sesuatu yang aneh dengan ucapan Anya.

“Sayang, apa kau sudah tidur?”

Namun, suara Anya kembali menyadarkan pikirannya agar di abaikan saja karena mungkin itu hanya perasaannya saja. Sebab selama masa pemulihan mereka tidak saling bertemu satu sama lainnya.

“Belum, sayang! Aku hanya sedang memikirkan bagaimana penampilanmu nanti ketika kita bertemu lagi,” terang Areksa.

“Aku akan berdandan sangat cantik, hingga kau tidak bisa mengalihkan pandanganmu pada wanita lain,” balas Anya.

“Sayang, sepertinya kita harus sudahi dulu teleponnya. Soalnya Managerku sangat cerewet menyuruhku untuk segera tidur, karena besok ada pemotretan penting,” lanjut Anya.

“Emm, Baiklah! Selamat malam, semoga mimpi indah dan jangan lupa mimpikan aku selalu!” ucap Areksa dengan senyuman sumringah di bibirnya.

“Love you so much, Reksa!” ucap Anya.

“Love you, My Anya!” balas Areksa tanpa ragu.

Setelah itu, panggilan telepon pun terputus dari keduanya. Meski begitu Areksa masih merasa betah menikmati udara malam itu. Siapa sangka, sejak awal percakapan melalui telepon itu telah di dengar oleh sosok wanita yang terkesan kuat dari luar tapi begitu rapuh di dalam hatinya.

Siapa lagi kalau bukan Kiran, harapannya selama dua minggu ini merawat dan menceritakan segala hal tentang kenangan indah di rumah itu hancur begitu saja dalam hitungan detik.

Istri mana yang tidak akan hancur hatinya ketika mendengar bahwa suaminya mengatakan cinta pada wanita lain yang menjadi masa lalunya.

Ketika melihat Areksa mematikan teleponnya dengan cepat Kiran langsung berlari ke dalam kamar mandi yang saat itu tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Entah mengapa Kiran lebih memilih untuk menghindari Areksa di bandingkan harus berdebat dan mengingatkan atas posisi dirinya yang saat ini masih resmi menjadi istri Areksa.

Sebab Kiran tahu, perdebatan itu akan membuatnya terpojok dengan syarat yang memang sudah dia setuju sejak awal atas perjanjian yang dia tawarkan.

“Hiks, … Mas, kenapa kau setega ini padaku? Kenapa kau dengan mudahnya mempermainkan aku seperti ini? Hiks, … Hiks, …”

“Tanpa sepengetahuan dariku kau kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihmu itu, Hiks, …! Aku pikir itu hanya omong kosong mu untuk menjaga jarak denganku, karena kau belum mengingatku. Hiks, … Tapi ternyata, … Hiks!”

“Hiks, … Sakit sekali hatiku ini, … Yaa Tuhan! Sanggupkah aku menjalani cobaan yang kau berikan pada rumah tangga kami ini, Hiks, … Rasanya begitu menyakitkan,”

“Hiks, … Apakah ini alasan Mas menolak dengan keras saat aku memintamu untuk menyewa rahim pengganti? Hiks, … Agar aku tidak merasakan sakit yang saat ini tengah aku rasakan ketika kau lebih memperhatikan wanita lain selain diriku!”

Menangis dan merintih merasakan sakit pada hatinya, hanya itu yang bisa Kiran lakukan setelah mengetahui bahwa suaminya telah kembali berhubungan dengan mantan kekasihnya.

Kenyataan yang lebih menyakitkan bagi Kiran adalah ketika perhatian Areksa kepada Anya yang lebih dari perhatian yang di tunjukan kepadanya. Ditambah dengan penyataan cinta suaminya yang di tunjukan untuk wanita lain.

Cukup lama Kiran menangisi nasibnya dan berdiam diri di dalam kamar mandi. Dan ketika dia keluar, mata Kiran dapat melihat bahwa kamar itu sudah gelap dengan Areksa yang sudah terlelap dalam posisi memunggungi tempatnya yang masih kosong.

Sembari menahan suara tangisannya, Kiran pun berbaring di samping sisi ranjang yang kosong. Ingin sekali dia tidur sambil memeluk suaminya seperti dulu.

Namun, lagi-lagi kenyataan pahit kembali mengingatkan Kiran bahwa suaminya bukan sosok yang dulu lagi.

Pria yang kini tidur di sampingnya bukan Areksa sang suami yang begitu mencintainya. Akan tetapi, sosok Areksa yang melupakan segala tentang dirinya dan cintanya.

...****************...

Hari pun berganti, semalaman Kiran benar-benar tidak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun. Kiran terus menangis tanpa suara sepanjang malam, hingga berhasil membuat kedua matanya kini sedikit membengkak.

Areksa dengan jelas menyadari mata bengkak Kiran, tetapi dia memilih untuk pura-pura tidak mengetahuinya. Bahkan untuk sekadar menanyakan keadaannya Areksa merasa enggan, meski dirinya merasa sedikit aneh karena tiba-tiba Kiran lebih pendiam dari biasanya.

Sikap diam Kiran pun terus berlanjut hingga mereka mengunjungi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan pada kaki dan tangan Areksa yang sempat retak. Namun, lagi-lagi Areksa tidak ingin menanyakan langsung pada Kiran tentang apa yang membuatnya berubah hanya dalam waktu semalam.

“Sebenarnya apa yang telah membuat wanita ini tiba-tiba menjadi sangat pendiam? Biasanya dia akan berceloteh tanpa henti tentang hal-hal yang sama sekali tidak bisa aku ingat walau sekilas,” batin Areksa yang sesekali mencuri pandang pada sosok Kiran yang mengaku sebagai istrinya.

“Tapi sejak bangun tidur, dia bahkan tidak menyapaku? Atau menawarkan bantuan seperti biasanya? Terlebih lagi matanya yang sangat bengkak, apa dia habis menangis semalaman? Tapi kenapa? Aku tidak berbuat apapun yang melukainya.”

Areksa masih saja bertanya-tanya dalam hatinya, tanpa berniat untuk menanyakannya secara langsung. Karena tidak bisa menanyakan hal yang ada di pikirannya sejak pagi, Areksa pun memutuskan untuk membuka pembicaraan dengan hal lain saja.

Rasanya menyesakkan berada dalam satu ruangan dengan Kiran yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam.

“Besok aku akan mulai kembali bekerja!” ujar Areksa membuka pembicaraan.

“Ya, … Aku akan menyiapkan keperluan kerjamu seperti biasanya!” jawab Kiran sekenanya tanpa menatap lawan bicaranya.

“Hanya itu respon mu?” tanya Areksa menatap tak percaya.

Dengan tatapan sendunya Kiran balik bertanya, “Apa ada yang lain?”

“Tidak! Hanya saja kau terasa begitu aneh hari ini,” jawab Areksa mengutarakan apa yang ada di pikirannya.

“Aku tahu itu,” sahut Kiran lirih.

“Apa kau sakit?” tanya Areksa yang terlihat sedikit khawatir, padahal sejak tadi dia berusaha untuk mengabaikan perasaannya.

“Aku hanya kurang enak badan, istirahat yang cukup akan membuatku kembali pulih!” terang Kiran masih dengan nada lirih sambil menundukkan tatapan matanya.

Bersambung, ....

Terpopuler

Comments

Fahmi Ardiansyah

Fahmi Ardiansyah

iya sellu bersabar n berdiamlah Kiran biar areksa jdi gak nyaman agar menyadari perubahan mu.

2024-12-11

0

Yunia Afida

Yunia Afida

ambil hikmah bya atas kejadian ini kiran

2023-07-15

1

👁️‍🗨️eHa🦄

👁️‍🗨️eHa🦄

huh terlalu sakit untuk dirasakan.orang yg dicintai sudah melupakan kita yg sll mencintainya sepenuh hati.
semoga areksa cepat sembuh.

2023-07-14

1

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan
2 Hilang Ingatan
3 Membuat Perjanjian
4 Mengalah
5 Penyesalan
6 Akhirnya Pulang
7 Familiar
8 Hadirnya Pihak Ketiga
9 Pengenalan Tokoh
10 Tanpa Sepengetahuan
11 Kembali Bekerja
12 Menjadi Sekertaris
13 Penolakan
14 Pertemuan Reksa & Anya
15 Tetap Berjuang
16 Sebuah Peringatan
17 Diabaikan
18 Di Tinggalkan
19 Sang Penolong Kiran
20 Mulai Mengingat
21 Hukuman Tak Adil
22 Tidak Pulang
23 Tidak Sengaja Bertemu
24 Keputusan Bercerai
25 Kemarahan Keluarga
26 Menghargai Keputusan
27 Adanya Keraguan
28 Sebuah Permintaan Atau Syarat
29 Kembali Bekerja
30 Suasana Berbeda
31 Menuntut Penjelasan
32 Pertemuan Kembali
33 Sebuah Kejutan Untuk Anya
34 Perdebatan Sengit
35 Keputusan Kiran
36 Pertengkaran Reksa & Anya
37 Tidak Peduli Lagi
38 Janji Makan Malam
39 Perasaan Kesepian
40 Tampak Berbeda
41 (Masih) Tentang Reksa
42 Menyembunyikan Sesuatu
43 Bisakah Kita Perbaiki?
44 Masih Peduli
45 Diam-Diam Perhatian
46 Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47 Sempat Berharap
48 Kebohongan Reksa
49 Muslihat Anya
50 Pelindung Kiran
51 Tidak Mempan
52 Memang Positif
53 Dibalik Kabar Bahagia
54 Meminta Bantuan Pihak Lain
55 Datangnya Surat Perceraian
56 Jebakan Jahat Anya
57 Para Pelindung Kiran
58 Adanya Keraguan
59 Kejutan Yang Sesungguhnya
60 Kekecewaan Kiran
61 Kegilaan Anya
62 Akhirnya Tanda Tangan
63 Terlambat Menyadari
64 Penyesalan Reksa
65 Lembaran Baru
66 Selepas Kepergian Kiran
67 Kebetulan Tak Terduga
68 Diluar Perkiraan
69 Harus Operasi
70 Queenesha Reana Damarwangsa
71 Belum Bisa Memaafkan
72 Waktu Yang Lama
73 Penantian Reksa
74 Rencana Rahasia
75 Bala Bantuan
76 Memilih Hadiah
77 Hadiah Dari Papa
78 Akhirnya Bertemu
79 Ulang Tahun Terbaik
80 Permintaan Maaf
81 Mundur Untuk Sementara
82 Ketakutan Baby Queen
83 Permintaan Putri Tercinta
84 Mendapatkan Ijin Menginap
85 Pamer Putri Tercinta
86 OTW Bertemu Cucu
87 Takdir Mengejutkan
88 Harus Kembali
89 Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90 Bahaya Tengah Mengancam
91 Baby Queen Dalam Bahaya
92 Pengorbanan Reksa
93 Akhirnya Bersama Lagi
94 Pernikahan Seno & Zara
95 Jodohnya Dira
96 Happy Ending
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Kecelakaan
2
Hilang Ingatan
3
Membuat Perjanjian
4
Mengalah
5
Penyesalan
6
Akhirnya Pulang
7
Familiar
8
Hadirnya Pihak Ketiga
9
Pengenalan Tokoh
10
Tanpa Sepengetahuan
11
Kembali Bekerja
12
Menjadi Sekertaris
13
Penolakan
14
Pertemuan Reksa & Anya
15
Tetap Berjuang
16
Sebuah Peringatan
17
Diabaikan
18
Di Tinggalkan
19
Sang Penolong Kiran
20
Mulai Mengingat
21
Hukuman Tak Adil
22
Tidak Pulang
23
Tidak Sengaja Bertemu
24
Keputusan Bercerai
25
Kemarahan Keluarga
26
Menghargai Keputusan
27
Adanya Keraguan
28
Sebuah Permintaan Atau Syarat
29
Kembali Bekerja
30
Suasana Berbeda
31
Menuntut Penjelasan
32
Pertemuan Kembali
33
Sebuah Kejutan Untuk Anya
34
Perdebatan Sengit
35
Keputusan Kiran
36
Pertengkaran Reksa & Anya
37
Tidak Peduli Lagi
38
Janji Makan Malam
39
Perasaan Kesepian
40
Tampak Berbeda
41
(Masih) Tentang Reksa
42
Menyembunyikan Sesuatu
43
Bisakah Kita Perbaiki?
44
Masih Peduli
45
Diam-Diam Perhatian
46
Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47
Sempat Berharap
48
Kebohongan Reksa
49
Muslihat Anya
50
Pelindung Kiran
51
Tidak Mempan
52
Memang Positif
53
Dibalik Kabar Bahagia
54
Meminta Bantuan Pihak Lain
55
Datangnya Surat Perceraian
56
Jebakan Jahat Anya
57
Para Pelindung Kiran
58
Adanya Keraguan
59
Kejutan Yang Sesungguhnya
60
Kekecewaan Kiran
61
Kegilaan Anya
62
Akhirnya Tanda Tangan
63
Terlambat Menyadari
64
Penyesalan Reksa
65
Lembaran Baru
66
Selepas Kepergian Kiran
67
Kebetulan Tak Terduga
68
Diluar Perkiraan
69
Harus Operasi
70
Queenesha Reana Damarwangsa
71
Belum Bisa Memaafkan
72
Waktu Yang Lama
73
Penantian Reksa
74
Rencana Rahasia
75
Bala Bantuan
76
Memilih Hadiah
77
Hadiah Dari Papa
78
Akhirnya Bertemu
79
Ulang Tahun Terbaik
80
Permintaan Maaf
81
Mundur Untuk Sementara
82
Ketakutan Baby Queen
83
Permintaan Putri Tercinta
84
Mendapatkan Ijin Menginap
85
Pamer Putri Tercinta
86
OTW Bertemu Cucu
87
Takdir Mengejutkan
88
Harus Kembali
89
Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90
Bahaya Tengah Mengancam
91
Baby Queen Dalam Bahaya
92
Pengorbanan Reksa
93
Akhirnya Bersama Lagi
94
Pernikahan Seno & Zara
95
Jodohnya Dira
96
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!