Tanpa Sepengetahuan

Akhirnya Kiran menyelesaikan acara masaknya, setelah berbagai drama yang berhasil melukai tangannya. Meski dirinya merasa lapar, tetapi Kiran mengutamakan suaminya terlebih dahulu untuk makan.

Dia menyiapkan sebuah nampan yang berisi nasi beserta lauk pauknya yang sengaja Kiran pisahkan agar suaminya bisa dengan mudah memilih makanan yang dia suka.

“Mas, makan dulu!” ujar Kiran begitu masuk ke dalam kamarnya dengan nampan berisi berbagai jenis makanan.

Namun, tidak ada tanggapan sama sekali dari suaminya. Areksa malah focus dengan ponselnya, bahkan terlihat jelas dia terus tersenyum setiap kali menatap layar dari benda pipih tersebut. Bahkan sampai Kiran duduk di depannya, Areksa juga tidak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari ponsel tersebut.

“Mas, ayo makan dulu! Setelah itu minum obatmu dan istirahat.”

Terpaksa Kiran harus mengulang perkataannya, tapi tetap saja Areksa mengabaikannya dan memilih focus dengan ponselnya.

“Mas, …” Kali ini Kiran sedikit menyentuh kaki suaminya, baru setelah itu Areksa mengalihkan tatapannya pada Kiran.

“Ada apa?” tanya Areksa sedikit ketus.

“Makan dulu, Mas! Setelah itu harus minum obat dan istirahat.” Kiran mengulang perkataan itu sebanyak tiga dalam hitungan menit saja.

“Emm, … Aku makan bisa sendiri!” sahut Areksa yang segera menolak ketika Kiran berniat untuk menyuapinya seperti ketika mereka ada di rumah sakit.

Alhasil, Kiran pun harus mengurungkan niatnya untuk menyuapi makan suaminya, ketika Areksa memaksa mengambil alih nampan berisi makanan dari pangkuan Kiran.

Lagi dan lagi Kiran harus menahan tangisnya, ini baru satu hari perjanjian ini di mulai tapi kenapa rasanya begitu sakit yang Kiran rasakan.

“Bertahanlah, Kiran! Ini baru satu hari, kesempatanmu untuk berusaha membuat Mas Areksa mengingatmu kembali masih tersisa banyak!” batin Kiran.

Ingin sekali Kiran meneteskan air matanya saat itu juga, tapi dia urungkan begitu melihat suaminya masih tetap lahap ketika memakan makanan buatannya.

Meski tatapan mata Areksa lebih focus menatap layar ponselnya dan selalu tersenyum seolah menemukan sesuatu yang menarik dari ponselnya.

“Mas, makanlah dulu! Kau bisa memeriksa ponselmu nanti setelah makan,” ujar Kiran mengingatkan suaminya yang lebih focus dengan ponsel di bandingkan dengan makanan di depannya.

“Bisakah aku memegang janjimu,” ketus Areksa untuk pertama kalinya melontarkan tatapan dinginnya, hingga membuat Kiran cukup tersentak melihatnya.

“I-iya, …”

“Kalau begitu jangan ikut campur dengan apa yang ingin aku lakukan!” tukasnya membuat Kiran semakin tersentak.

“Maaf, …” ucap Kiran lirih dengan wajah tertunduk sembari berusaha menahan rasa ingin menangisnya yang semakin membuncah.

Menyadari perubahan raut wajah dan nada bicara Kiran, Areksa pun merasa sedikit menyesal akan sikapnya yang terlalu dingin. Dia segera membalikan posisi ponselnya dan mulai focus pada makanannya, tapi tidak membuat Kiran mengangkat wajahnya lagi.

Sampai Areksa bertanya, “Apa kau yang memasaknya sendiri?”

“Emmm, … Apakah rasanya enak?” Dan itu berhasil membuat Kiran berani menatapnya lagi.

“Kau sangat pintar memasak, makanan ini jauh lebih enak di bandingkan masakan Mamah!” puji Areksa yang membuat semburat senyuman tercipta di bibir Kiran yang mendapatkan pujian tersebut.

“Meski Mas Areksa belum bisa mengingatnya, tapi pujian yang dia berikan padaku saat ini selalu sama seperti dulu,” batin Kiran yang membuatnya semakin berharap.

“Makasih atas pujiannya!” balas Kiran dengan tulus.

“Apa di rumah ini tidak ada pelayan?” tanya Areksa yang mulai penasaran kenapa Kiran harus memasak sendiri, jika di rumah itu terdapat pelayan.

p

“Ada, namanya Bi Hana! Kita selalu terbiasa memanggilnya Bibi Han, dia hanya membereskan rumah saja. Dua hari sekali dia akan datang untuk membersihkan rumah, _...”

“Lalu sisanya?” potong Areksa.

“Aku yang melakukannya sendiri, Mas!” jawab Kiran lembut membuat Areksa sesaat terkesiap melihatnya.

“Kenapa kau harus melakukannya seperti itu! Biarkan Bi Hana saja yang memasak dan mengurus segalanya mulai sekarang,” ujar Areksa yang entah mengapa merasa tidak suka mendengar Kiran tetap melakukan semuanya sendiri, terlebih sudah ada pelayan di rumah itu.

“Bukankah dulu kita sudah sepakat tentang ini! Dan Mas Areksa juga tidak menyukai makanan yang di masak orang lain selain aku,” terang Kiran yang sedikit terkekeh mendengar suami yang seolah tengah mengkhawatirkan dirinya.

“Aaah, … Aku sudah selesai makan! Bisa tolong bawa ini kembali ke dapur,” pinta Areksa yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan begitu menyadari dirinya terlalu banyak bicara.

“Tentu, minumlah obatmu dulu!” ujar Kiran sembari memberikan obat yang sudah dia siapkan sebelumnya.

Selesai mengurus suaminya, Kiran pun meminta ijin untuk makan dulu di ruang makan. Tentunya Areksa mengijinkannya dengan senang hati, terlebih dia juga ingin lanjut menghubungi Anya.

Areksa selalu saja melakukan komunikasi dengan Anya ketika masa pemulihannya tanpa sepengetahuan dari Kiran. Seakan Areksa tidak pernah sekalipun menghargai usaha Kiran agar ingatannya kembali pulih.

Didepan Kiran, Areksa memang seolah menghargai apapun yang mencoba Kiran lakukan. Seperti melayani semua keperluannya, membereskan rumah besar itu sendirian dan mengajak berkeliling ketika Areksa merasa bosan.

Namun, kenyataan Areksa malah seakan menjadikan Kiran sebagai pelayannya saja.

Disaat Kiran memprioritaskan Areksa di atas dirinya, ternyata Areksa malah mengutamakan segalanya untuk Anya yang dia anggap masih kekasih tercintanya.

Namun, perlakuan special yang Areksa tunjukan malah semakin di manfaatkan oleh Anya. Dan hubungan yang terjalin antara Areksa dan Anya telah berlangsung hampir dua minggu lamanya.

Dan selama itu Kiran tidak mengetahui bahwa suaminya sudah berhubungan kembali dengan mantan kekasihnya yang bernama Anya, sehingga Kiran masih terlihat bersemangat untuk membuat Areksa kembali mengingatnya serta mencintainya lagi seperti dulu.

“Sayang, Agensiku sedang berada dalam masalah! Bisakah kau membantunya? Aku ingin melebarkan profesiku dari model menjadi artis yang terkenal.”

Terdengar suara manja yang penuh dengan rayuan dari Anya begitu sambungan teleponnya terhubung langsung dengan Areksa. Untuk sesaat Areksa cukup tersentak akan ucapan dari wanita yang dia anggap masih kekasihnya itu, tetapi itu hanya sesaat saja.

Setelah itu, Areksa beranggapan bahwa hal seperti itu sudah wajah bagi pasangan untuk saling membantu.

“Tentu, Sayang! Memang di agensi mana kau akan memulai karirmu sebagai artis? Aku akan menanamkan modal di sana agar di perlakukan sebaik mungkin,” ujar Areksa dengan santainya.

“Benarkah? Kau memang yang terbaik, Sayang! Karena itulah aku tidak pernah sekalipun meragukan perasaanmu padaku. Aku sangat mencintaimu, Sayang!” ujar Anya yang terdengar jelas sangat bahagia mendengar keinginannya di kabulkan begitu saja oleh Areksa.

“Aku juga sangat mencintaimu, Sayang!” balas Areksa yang juga menampakan senyuman bahagia di raut wajahnya.

“Aku akan segera mengirimkan kartu namanya padamu! Ouhya, … Kapan kita berdua bisa bertemu? Aku sudah sangat merindukanmu dan ingin segera memeluknya,” ucap Anya.

Bersambung, .....

Terpopuler

Comments

Fahmi Ardiansyah

Fahmi Ardiansyah

peluk peluk emang kamu siapa mau peluk suami org.mudah mudahan nanti ke 2 orgtua areksa dtng kerumah bila Anya dtng berkunjung.

2024-12-11

0

Fahmi Ardiansyah

Fahmi Ardiansyah

tu kan uletnya mulai beraksi minta uang dasar Anya matre sadarlah areksa kmu hanya di manfaatin Anya kmu akan nyesel nanti.

2024-12-11

0

itin

itin

ntar juga ujung² nya areksa akan sembah sujud nangis termehek begitu ingatannya pulih. aplg klo kiranya pergi meninggalkannya

2023-07-13

0

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan
2 Hilang Ingatan
3 Membuat Perjanjian
4 Mengalah
5 Penyesalan
6 Akhirnya Pulang
7 Familiar
8 Hadirnya Pihak Ketiga
9 Pengenalan Tokoh
10 Tanpa Sepengetahuan
11 Kembali Bekerja
12 Menjadi Sekertaris
13 Penolakan
14 Pertemuan Reksa & Anya
15 Tetap Berjuang
16 Sebuah Peringatan
17 Diabaikan
18 Di Tinggalkan
19 Sang Penolong Kiran
20 Mulai Mengingat
21 Hukuman Tak Adil
22 Tidak Pulang
23 Tidak Sengaja Bertemu
24 Keputusan Bercerai
25 Kemarahan Keluarga
26 Menghargai Keputusan
27 Adanya Keraguan
28 Sebuah Permintaan Atau Syarat
29 Kembali Bekerja
30 Suasana Berbeda
31 Menuntut Penjelasan
32 Pertemuan Kembali
33 Sebuah Kejutan Untuk Anya
34 Perdebatan Sengit
35 Keputusan Kiran
36 Pertengkaran Reksa & Anya
37 Tidak Peduli Lagi
38 Janji Makan Malam
39 Perasaan Kesepian
40 Tampak Berbeda
41 (Masih) Tentang Reksa
42 Menyembunyikan Sesuatu
43 Bisakah Kita Perbaiki?
44 Masih Peduli
45 Diam-Diam Perhatian
46 Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47 Sempat Berharap
48 Kebohongan Reksa
49 Muslihat Anya
50 Pelindung Kiran
51 Tidak Mempan
52 Memang Positif
53 Dibalik Kabar Bahagia
54 Meminta Bantuan Pihak Lain
55 Datangnya Surat Perceraian
56 Jebakan Jahat Anya
57 Para Pelindung Kiran
58 Adanya Keraguan
59 Kejutan Yang Sesungguhnya
60 Kekecewaan Kiran
61 Kegilaan Anya
62 Akhirnya Tanda Tangan
63 Terlambat Menyadari
64 Penyesalan Reksa
65 Lembaran Baru
66 Selepas Kepergian Kiran
67 Kebetulan Tak Terduga
68 Diluar Perkiraan
69 Harus Operasi
70 Queenesha Reana Damarwangsa
71 Belum Bisa Memaafkan
72 Waktu Yang Lama
73 Penantian Reksa
74 Rencana Rahasia
75 Bala Bantuan
76 Memilih Hadiah
77 Hadiah Dari Papa
78 Akhirnya Bertemu
79 Ulang Tahun Terbaik
80 Permintaan Maaf
81 Mundur Untuk Sementara
82 Ketakutan Baby Queen
83 Permintaan Putri Tercinta
84 Mendapatkan Ijin Menginap
85 Pamer Putri Tercinta
86 OTW Bertemu Cucu
87 Takdir Mengejutkan
88 Harus Kembali
89 Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90 Bahaya Tengah Mengancam
91 Baby Queen Dalam Bahaya
92 Pengorbanan Reksa
93 Akhirnya Bersama Lagi
94 Pernikahan Seno & Zara
95 Jodohnya Dira
96 Happy Ending
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Kecelakaan
2
Hilang Ingatan
3
Membuat Perjanjian
4
Mengalah
5
Penyesalan
6
Akhirnya Pulang
7
Familiar
8
Hadirnya Pihak Ketiga
9
Pengenalan Tokoh
10
Tanpa Sepengetahuan
11
Kembali Bekerja
12
Menjadi Sekertaris
13
Penolakan
14
Pertemuan Reksa & Anya
15
Tetap Berjuang
16
Sebuah Peringatan
17
Diabaikan
18
Di Tinggalkan
19
Sang Penolong Kiran
20
Mulai Mengingat
21
Hukuman Tak Adil
22
Tidak Pulang
23
Tidak Sengaja Bertemu
24
Keputusan Bercerai
25
Kemarahan Keluarga
26
Menghargai Keputusan
27
Adanya Keraguan
28
Sebuah Permintaan Atau Syarat
29
Kembali Bekerja
30
Suasana Berbeda
31
Menuntut Penjelasan
32
Pertemuan Kembali
33
Sebuah Kejutan Untuk Anya
34
Perdebatan Sengit
35
Keputusan Kiran
36
Pertengkaran Reksa & Anya
37
Tidak Peduli Lagi
38
Janji Makan Malam
39
Perasaan Kesepian
40
Tampak Berbeda
41
(Masih) Tentang Reksa
42
Menyembunyikan Sesuatu
43
Bisakah Kita Perbaiki?
44
Masih Peduli
45
Diam-Diam Perhatian
46
Kembali Dengan Sebuah Tujuan
47
Sempat Berharap
48
Kebohongan Reksa
49
Muslihat Anya
50
Pelindung Kiran
51
Tidak Mempan
52
Memang Positif
53
Dibalik Kabar Bahagia
54
Meminta Bantuan Pihak Lain
55
Datangnya Surat Perceraian
56
Jebakan Jahat Anya
57
Para Pelindung Kiran
58
Adanya Keraguan
59
Kejutan Yang Sesungguhnya
60
Kekecewaan Kiran
61
Kegilaan Anya
62
Akhirnya Tanda Tangan
63
Terlambat Menyadari
64
Penyesalan Reksa
65
Lembaran Baru
66
Selepas Kepergian Kiran
67
Kebetulan Tak Terduga
68
Diluar Perkiraan
69
Harus Operasi
70
Queenesha Reana Damarwangsa
71
Belum Bisa Memaafkan
72
Waktu Yang Lama
73
Penantian Reksa
74
Rencana Rahasia
75
Bala Bantuan
76
Memilih Hadiah
77
Hadiah Dari Papa
78
Akhirnya Bertemu
79
Ulang Tahun Terbaik
80
Permintaan Maaf
81
Mundur Untuk Sementara
82
Ketakutan Baby Queen
83
Permintaan Putri Tercinta
84
Mendapatkan Ijin Menginap
85
Pamer Putri Tercinta
86
OTW Bertemu Cucu
87
Takdir Mengejutkan
88
Harus Kembali
89
Kembalinya Kiran Bersama Baby Queen
90
Bahaya Tengah Mengancam
91
Baby Queen Dalam Bahaya
92
Pengorbanan Reksa
93
Akhirnya Bersama Lagi
94
Pernikahan Seno & Zara
95
Jodohnya Dira
96
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!