Sembari menimbang waktu kedatangan Reksa dan Dani kembali dari meeting pentingnya. Kiran langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Anya. Siapa sangka Kiran membawa sebuah Cutter di tangannya yang sejak tadi dia gunakan untuk memotong kertas.
“Berapa lapis make up yang kau pakai setiap kali keluar dari rumahmu sampai kau tidak tahu malu begini?”
Pertanyaan dan tatapan yang penuh menghina Kiran lontarkan secara langsung tepat di hadapan Anya.
“Beraninya kau, _....”
“Kau pikir aku akan diam saja membiarkanmu memanfaatkan kondisi Mas Reksa saat ini?” potong Kiran dengan cepat dan penuh penekanan.
“Aku bukan wanita sebodoh itu, Anya! Aku akan melakukan segala cara agar Mas Reksa membencimu, meskipun dia harus melupakan tentang aku! Kau harus ingat, aku tidak akan membiarkan kau begitu saja.” Kiran memberi sebuah peringatan keras.
“Dan sebaiknya kau sadar diri secepatnya, sebelum kau menyesalinya! Jika Mas Reksa meninggalkan aku, maka kau juga harus hancur bersamaku.” Kiran semakin mempertegas peringatannya.
Plakk, ….
Sebuah tamparan yang cukup keras Anya layangkan dan mendarat tepat di pipi mulus Kiran. Sontak saja Kiran sangat terkejut dan langsung menatap marah pada Anya.
Ketika Kiran ingin membalas tamparan itu, Kiran bisa mendengar suara langkah kaki yang tengah berjalan mendekat ke arah mereka.
Dengan cepat Kiran langsung mengeluarkan mata pisau cutter di tangannya, lalu menarik salah satu tanga Anya untuk menggenggam pisau cutter itu.
Sedangkan Kiran sendiri memegangi ujung mata pisau cutter yang tajam. Kali ini Anya yang sangat terkejut akan aksi gila Kiran, saking terkejutnya Anya sampai terjatuh di lantai bersamaan dengan datangnya Reksa dan Dani.
“Anya!”
Bukan nama Kiran yang Reksa panggil pertama kali. Dan bukan Kiran juga yang laki-laki itu hampiri melainkan Anya yang kini terduduk di lantai.
Bahkan Reksa sama sekali tidak menatap kearah Kiran sedikitpun. Berbeda dengan Dani yang langsung menyadari bahwa saat itu tangan Nyonya mudanya tengah memegang sebuah pisau cutter dengan darah yang terus menetes di tangannya.
“Bukan aku, …! Bukan Kiran yang pertama kali dia sebut namanya, tetapi Anya! Hiks, … Bahkan untuk melihat keberadaan ku di sini, Mas Reksa sama sekali tidak peduli!” Kiran hanya bisa mengungkap kekecewaan itu dalam hatinya sendiri.
“Mas, aku mencoba bersikap kuat di depan mantan kekasihmu yang tidak tahu malu itu. Namun mengapa kau membuatku terlihat begitu lemah saat di hadapannya,” sambungnya yang hanya bisa diam menahan rasa sakit di hatinya, bahkan rasa sakit di tangannya tidak dia rasakan sama sekali.
“Anya, apa kau tidak apa-apa?” tanya Reksa menatap Anya dengan perasaan khawatir.
“Tuan, tangan Nyonya terluka!” seru Dani menyadarkan kebodohan atasannya itu.
Namun belum sempat Reksa mendapatkan jawaban dari kekasihnya itu, suara seruan Dani mengalihkan tatapannya pada Kiran yang saat itu menatapnya dengan perasaan terluka.
Reksa pun sangat terkejut ketika melihat tangan Kiran yang saat itu tengah memegang erat pisau cutter hingga darah semakin menetes keluar dari tangannya.
“Kiran, lepaskan pisau itu!” ujar Reksa yang dengan panik langsung berusaha melepaskan pisau cutter yang masih berada di genggaman Kiran.
Setelah berhasil membuangnya, Reksa langsung membalut luka di tangan Kiran dengan sapu tangannya sembari berkata, “Kenapa kau memegang benda berbahaya seperti itu?”
“Kau tanya kenapa, Mas? Apakah kau tidak bisa melihat bagaimana aku berjuang untuk melindungi diriku sendiri dari kekasihmu itu.”
Jawaban yang keluar dari mulut Kiran seketika membuat Reksa kembali terdiam dan sontak menatap kearah Anya dengan tatapan yang menuntut penjelasan. Namun salah di artikan oleh Anya sebagai tatapan yang menuduhnya.
“Reksa, apa kau kini menuduhku sekarang?” tanya Anya dengan tatapan tidak percayanya.
“Tidak, bukan seperti itu Anya! Tapi aku butuh penjelasan apa yang sudah terjadi sampai seperti ini,” jelas Reksa yang tidak ingin membuat Anya menjadi salah paham.
“Lalu kenapa cara menatapmu seperti menuduhku! Aku datang hanya ingin menemui, tapi wanita gila itu mengatai diriku sebagai ****** yang tidak tahu diri, _....”
“Aku mengatakannya yang sebenarnya! Jika kau bukan wanita ******, maka tidak seharusnya kau mengganggu suami orang lain. Tapi kau malah semakin tidak tahu malu dengan menampar wajahku dan melakukan itu,” potong Kiran yang tidak akan membiarkan Anya menang begitu saja.
“Reksa, apakah kau percaya pada penjelasanku atau perkataan wanita yang mengaku sebagai istrimu itu?”
“Apalagi ini? Di satu sisi aku merasa yakin bahwa Kiran tidak akan berbohong akan apa yang dia katakan. Namun, aku juga tidak bisa membuat Anya di permalukan seperti ini,” batin Reksa yang seakan tidak bisa memilih di antara dua wanita itu.
Kini pertanyaan Anya mengharuskan Reksa di hadapkan dalam dua pilihan yang sangat sulit. Antara mempercayai apa yang Kiran katakan selaku sebagai istrinya atau kekasihnya yaitu Anya.
Cukup lama Reksa diam tanpa memberikan jawaban apapun. Anya yang merasa sangat kesal, akhirnya lebih memilih meninggalkan tempat itu dari pada lebih di permalukan oleh Kiran.
“Baiklah, sepertinya kau memang lebih mempercayai perkataannya daripada aku!” ujar Anya yang pergi begitu saja setelah mengatakan itu.
“Anya, tunggu! Bukan seperti itu yang, ….”
“Haish, … Pergilah obati lukamu di rumah sakit bersama dengan Dani, aku harus menyusul dan menjelaskan pada Anya tentang ini,” ujar Reksa yang malah mengabaikan keadaan Kiran dan lebih memilih untuk mengejar Anya.
“Jika kau memang ingin mengabaikan aku, maka abaikan saja! Jangan libatkan orang lain untuk menyelesaikan masalahmu!” seru Kiran yang membuat Reksa terpaksa kembali menghentikan langkahnya untuk mengejar Anya.
“Kiran sebenarnya apa yang kau inginkan, Hah?” bentak Reksa yang merasa Kiran terlalu memojokkan dirinya dalam berbagai hal.
“Memangnya apa yang bisa aku inginkan darimu, Mas? Kau pastinya akan lebih mempercayai penjelasan dari wanita yang kau ingat sebagai kekasihmu itu, bukan? Dan mengabaikan penjelasanku, sebagai kau mengabaikan aku sebagai istrimu!” seru Kiran.
Entahlah, Kiran sudah tidak peduli dengan apapun lagi. Dia tidak ingin menangis lagi, tapi dia juga tidak ingin menyerah. Maka yang bisa Kiran lakukan saat itu adalah mengungkapkan segala perasaan yang dia rasakan.
“Jika kau memang ingin mengabaikan aku, maka tidak seharusnya kau menjanjikan hal itu kemarin! Kau menghancurkan aku dengan sebuah harapan yang kau ucapkan sendiri dengan mulutmu,” lanjut Kiran kali ini nada bicaranya begitu lirih.
“Pergilah! Kejar dan tenangkan kekasihmu itu, lalu abaikan aku seperti yang biasa kau lakukan selama ini,” imbuhnya Kiran sembari berjalan untuk kembali duduk di meja kerjanya.
Namun baru beberapa langkah, tangan Reksa memegang tangannya dan berkata, “Ayo, Kita ke rumah sakit untuk mengobati lukamu dulu!”
Bersambung, .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Fahmi Ardiansyah
kmu tu bodoh atau gimana sih reksa udah tau Kiran yg benar kok mlh berpikir mana yg harus di percaya
2024-12-12
0
Fahmi Ardiansyah
heleeeh lambat
2024-12-12
0
𝐙⃝🦜𝐂umi🍊𒈒⃟LBC
heuleuh 🙄🙄 basiiiiii tau gak
setelah di tampar dengan kata kata baru mau melihat Kiran
kan kan iman dan imun sudah mulai turun ini 😫😫😫
2023-07-20
0