“Kau juga seorang wanita, seorang istri yang memiliki suami! Bagaimana jika kau yang berada di posisi Kiran? Apa kau rela membiarkan suamimu tidur dengan wanita lain, Hah?” sambung Grace seolah mewakili Kiran bereaksi.
“Aaah, … Aku hampir lupa! Suamimu ‘kan memang suka tidur dengan wanita lain, bahkan di depanmu sekalipun!” Grace benar-benar mewakili Kiran membalas penghinaan dari Samantha.
“Jaga mulutmu!” bentak Samantha tidak terima.
“Kau yang harus jaga mulut sampahmu itu!” balas Grace tak gentar sedikitpun.
Suasana pun seketika menjadi tegang, para suami segera menghampiri istrinya masing-masing. Suami Grace dan Samantha menenangkan istrinya masing-masing, bahkan terlihat Samantha langsung di seret oleh suami dengan kasar meninggalkan pesta itu. Berbeda dengan Suami Grace yang malah memperlakukan istrinya dengan penuh cinta.
“Apa yang terjadi, Kiran?”
Begitu juga Areksa yang langsung memeluk Kiran dan bertanya tentang apa yang sudah terjadi, tapi Kiran tak menjawabnya.
“Kita pulang saja ‘yah!”
Akhirnya Areksa memutuskan untuk membawa Kiran pergi saja, dia sudah menduga bahwa Samantha pasti yang membuat istrinya bersedih lagi. Terlebih ini sudah ke sekian kalinya kejadian seperti ini terjadi.
Selama dalam perjalanan Kiran terus diam dengan menunjukan wajah sedihnya. Kiran terus memikirkan perkataan Samantha tentang rahim pengganti. Jujur saja, dia juga ingin memiliki seorang anak tapi dia tidak akan rela membagi suaminya seperti itu.
“Haruskah aku membujuk Mas Reksa tentang rahim pengganti ini? Tapi aku tidak bisa melihat suamiku tidur dengan wanita lain? Dan sisi lain, aku juga ingin melihat Mas Reksa memiliki keturunan. Apa yang harus aku lakukan?” batin Kiran yang dilema besar.
“Ada apalagi yang dia pikirkan? Seharusnya aku tidak meninggalkannya begitu saja! Lebih baik aku akan membicarakannya nanti ketika di rumah,” batin Areksa yang terus memperhatikan sikap diam istrinya.
Tak lama kemudian, tibalah mereka di rumah. Meski ragu, Kiran tetap mencoba membujuk Areksa untuk menerima tentang rahim pengganti.
Ternyata keinginan Kiran untuk memiliki seorang anak mampu mengalahkan pemikirannya untuk mengikhlaskan suaminya tidur dengan wanita lain.
Sontak saja, Areksa tidak akan pernah menyetujuinya dia terlalu mencintai Kiran dan tidak akan pernah mau melakukan yang namanya rahim pengganti.
Namun, Kiran kala itu bersikeras dan sedikit memaksa Areksa untuk menyetujuinya. Sehingga terjadilah pertengkaran hebat untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka. Dan berakhir dengan kecelakaan yang menyebabkan dia melupakan Kiran seperti sekarang.
Flashback Off, ….
Kiran pun tersadar dari lamunannya ketika sebuah tepukan yang cukup keras mendarat bahunya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Areksa yang tengah menatapnya dengan kesal. Ternyata sejak tadi, Kiran terus di tanyakan pendapat oleh kedua mertuanya.
“Nak, apa yang kau pikirkan sampai melamun terus sejak tadi?” tanya Mamah Syifa yang miris melihat betapa tertekannya Kiran akhir-akhir ini karena hilangnya ingatan Areksa.
“Aah, … Maaf, Mah! Hanya beberapa hal yang sedikit mengganggu pikiran saja,” jawab Kiran yang memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum.
“Jika kau tengah memikirkan tentang keadaan Areksa, _....”
“Tidak, Mah! Aku akan membantu Mas Areksa untuk mengingatku kembali. Aku yakin Mas Areksa pasti akan kembali mengingatku dan mencintaiku seperti dulu lagi,” ujar Kiran yang tidak ingin menunjukan sisi lemah di depan mamah mertuanya. Areksa hanya diam dan mendengarkan apa yang Kiran katakan seolah tidak peduli sama sekali.
“Benar, kau harus yakin Kiran! Jika, anak ini menyakitimu katakan langsung pada Papah! Biar Papah kasih pelajaran.” Papah Ibnu ikut buka suara.
“Maaf menyela, tapi jadinya kita mau pulang kemana?” sela Arseno yang bingung dengan kemana dia harus mengemudikan mobilnya.
“Iya, sejak tadi kami menanyakan keputusanmu Kiran! Mau tetap tinggal di rumah kalian atau ke rumah Mamah dan Papah dulu, biar Areksa bisa Mamah bantu mengurusnya,” ujar Mamah Syifa mengulang pertanyaannya.
“Kan sudah Reksa katakan pulang ke rumah Mamah dan Papah saja,” sela Areksa.
“Kami pulang ke rumah kami saja, Mah! Karena di sana lebih banyak kenangan kita bersama dan kata Dr. Aiden akan membantu Mas Areksa untuk lebih cepat mengingat kembali,” terang Kiran yang sontak mendapat tatapan tajam dari Areksa, tapi dia mengabaikannya.
“Kau memang istri yang sangat baik, Kiran! Anak ini saja yang tidak tahu bersyukur memiliki istri sebaik dan secantik kamu, Nak!” puji Papah Ibnu pda Kiran sekaligus menyindir putranya sendiri.
“Aku juga tidak mau mengalami kecelakaan seperti ini dan hilang ingatan, Pah! Siapa ‘sih yang mau tulangnya retak dan kepalanya di operasi,” celetuk Areksa tidak terima karena semua keluarganya sangat mendukung Kiran.
“Tidak apa, Mas! Nanti aku akan merawatmu hingga sembuh,” ujar Kiran lembut, tapi Areksa menepis dan mengalihkan tatapan matanya dari Kiran.
Awalnya, Papah Ibnu dan Mamah Syifa menyarankan untuk sementara waktu Areksa dan Kiran tinggal di rumah mereka saja. Akan tetapi, Kiran menolaknya dengan alasan mereka sudah memiliki rumah mereka sendiri.
Kiran juga menyakinkan bahwa dirinya sanggup untuk merawat Areksa seorang diri, apalagi mengingat belum ada anak di antara mereka.
“Kalian yakin akan tetap tinggal di rumah kalian sendiri saja? Jika kalian tinggal bersama kami, maka kami bisa membantu merawat Areksa,” ujar Mamah Syifa dengan tatapan penuh khawatir.
“Jangan khawatir, Mah! Kiran bisa merawat Mas Areksa sendirian ‘kok!” Kiran menyakinkan Mamah mertuanya itu.
“Mamah jangan khawatir, Areksa tidak akan terlalu merepotkan Kiran,” imbuh Areksa membantu Kiran menyakinkan Mamahnya.
“Baiklah, tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi kami ‘yah!” pesan Papah Ibnu yang menghargai keputusan pasangan itu.
“Kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, maka Mamah tidak bisa memaksa lebih jauh lagi,” ujar Mamah Syifa yang harus mengalah.
“Bagaimana kalau Seno saja yang menginap di sini untuk membantu Kakak Ipar?” celetuk Arseno.
“Jangan mencoba kabur anak nakal! Kau harus menggantikan posisi Kakakmu sementara waktu di perusahaan. Atau kau memang tidak memperlakukan bantuan dari Papahmu ini, Hah?” ujar Papah Ibnu mengingatkan putra bungsunya akan tugas baru yang harus Arseno hadapi.
“Heheheee, … Aku hampir saja lupa kalau Papah tidak mengingatkan,” tutur Arseno dengan tampang tak merasa bersalahnya. Hal itu, berhasil membuat Kiran dan mamahnya tersenyum.
“Kau ini ada-ada saja kelakuannya,” ujar Kiran.
“Areksa! Kiran, kami pamit pulang sekarang!” pamit Mamah Syifa mewakili Papah Ibnu dan Arseno yang sudah naik mobil lebih dulu.
“Hati-hati di jalan, Mah!” ucap Kiran dnegan senyuman manis di wajahnya, kemudian kedua wanita itu pun saling berpelukan satu sama lain.
“Kau juga, Nak! Jangan sungkan kalau mau minta bantuan Mamah,” ujar Mamah Syifa kembali mengingatkan.
“Tentu, Mah!” sahut Kiran.
Bersambung, ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Fahmi Ardiansyah
Samantha ini pasti iri dn kehidupan rumah tangganya Kiran makanya sengaja berbicara ngawur n memberi solusi yg TDK baik untuk menghancurkan rumahtangga Kiran.
2024-12-11
0
Yunia Afida
samanta iri ni karena kiran dicintai suaminya sedangkan dia suaminya kasar
2023-07-13
0
Mayda Yanti
ahaha yg iri pasti bnyk
semangat Kiran 🥰🥰🥰😘😘😍😍💪🏻💪🏻💪🏻
2023-07-13
0