“Tadi Kakak Ipar memang makan siang bersamaku, sedangkan Kak Reksa entah pergi kemana bahkan tanpa membawa sekretarisnya,” jawab Seno sesuai apa yang terjadi.
“Bagaimana bisa anak itu meninggalkan istrinya begitu saja!” gerutu Papah Ibnu yang tidak habis pikir dengan kelakuan putra sulungnya.
“Pah, … Sepertinya tadi Kakak Ipar menangis setelah mendapatkan pesan dari seseorang! Seno sebenarnya ingin ikut campur, tetapi Seno masih ingat akan pesan Mamah dan Papah untuk tidak terlalu mengurusi rumah tangga Kak Reksa dan Kak Kiran,” ujar Seno yang tidak bisa tinggal diam saja.
“Ceritakan semuanya pada Papah apa yang terjadi, Seno! Keputusanmu sudah tepat, biar Papah yang mengurus bocah itu,” desak Papah Ibnu yang terdengar menahan amarahnya ketika mengetahui menantu kesayangannya di sakiti, meski pelakunya putranya sendiri.
Seno pun menjelaskan bagaimana penolakan Reksa ketika mengetahui bahwa Kiran akan menjadi sekretaris pribadinya. Kemudian, tentang dia melihat Kiran sedang menangis sendirian di ruangan kerjanya setelah di tinggalkan oleh Kakaknya entah kemana.
Papah Ibnu hanya diam mendengarkan setiap cerita yang Seno katakan, sambil sesekali menggeram kesal akan perlakuan Reksa kepada istrinya sendiri.
...****************...
Sedangkan Kiran sendiri saat ini berjalan tanpa arah tujuan sembari Merapi nasibnya. Di saat yang bersamaan, Reksa yang baru saja kembali setelah mengantar Anya pulang tidak sengaja melihat Kiran yang sedang melamun sambil jalan sendirian.
“Kenapa dia berada di jalanan? Bukankah sebentar lagi waktu istirahatnya sudah mau habis,” gumam Reksa yang terus memperhatikan Kiran yang kini malah duduk di pinggir jalan.
“Sudahlah sebaiknya aku abaikan saja dia!”
Final Reksa yang kembali mengemudikan mobilnya menuju perusahaan. Akan tetapi, hatinya malah menjadi tidak tenang dan pikirannya pun semakin kacau. Alhasil, Reksa pun terpaksa memutar balikan mobilnya untuk menghampiri Kiran.
“Sial, kenapa aku tidak bisa mengabaikannya saja!” umpat Reksa begitu menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Reksa pun keluar dari mobilnya dengan kesal dan berjalan menghampiri Kiran yang tengah menundukkan kepalanya. Menyadari ada seseorang yang berdiri tepat di depannya, perlahan Kiran pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang itu.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini? Apa kau tidak tahu bahwa sebentar lagi waktu istirahatnya sudah hampir habis?” cecar Reksa dengan nada ketusnya.
Sedangkan Kira hanya diam menatap wajah suaminya dengan lekat. Pesan yang di kirimkan sahabatnya seketika terlintas begitu saja, hingga membuat hatinya merasakan sakit yang teramat sangat. Tanpa mampu Kiran tahan air matanya lolos begitu saja membasahi wajahnya.
Degh, ….
Lagi-lagi Reksa merasakan hal aneh di dalam hatinya ketika melihat Kiran menangis dalam diam sambil menatapnya. Entah mengapa di benak Reksa merasa sedikit bersalah, tetapi dia terus saja mengabaikannya.
“Kenapa kau menangis lagi? Apa aku menyakitimu, tidak ‘kan?” cecar Reksa yang tidak ingin menjadi bahan tontonan untuk orang-orang yang berlalu lalang di sana.
“Mas, …” Suara Kiran begitu lirih ketika memanggil Reksa.
“Apa?” sahut Reksa dengan malas.
“Bisakah suatu hari nanti Mas Reksa mengingatku lagi? Hiks, …”
“Bisakah suatu hari nanti kau mencintaiku lagi, Mas? Hiks, …”
“Hiks, … Bisakah aku tetap berjuang untuk menahan mu di sisiku, hanya untukku tidak berbagi dengan wanita lain, Hiks, …”
Reksa hanya bisa terdiam, tak mampu membalas ataupun menjawab pertanyaan yang Kiran lontarkan. Perasaannya semakin kacau, bahkan Reksa sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan ketika mendengar semua pertanyaan Kiran.
“Hentikan! Jika kau memang tidak tahan menghadapi sikapku, sebaiknya kita sudahi saja perjanjian ini,” ujar Reksa setelah cukup lama terdiam.
“Perjanjian mana yang kau bicarakan, Mas?” seru Kiran masih dalam keadaan menangis, kini bahkan Kiran sudah berdiri berhadapan dengan Reksa.
“Aku selalu menepati syarat yang kau minta atas perjanjian tersebut. Aku tidak sekalipun mencampuri urusanmu dengan wanita itu. Ketika kau saling menghubungi tanpa sepengetahuan dariku, aku tetap diam saja, Mas!”
“Ketika kau pergi menemuinya, makan siang bersama dengannya dan meninggalkan aku sendirian tanpa peduli aku sudah makan atau belum! Aku pun masih diam, Mas!”
“Sedangkan kau, … Pernahkah kau sekalipun memperlakukan aku sebagai istrimu sesuai perjanjian yang kita sepakati? Tidak pernah sekalipun, Mas!”
Kiran kembali mengungkap semua isi hatinya yang dia pendam selama ini. Sungguh Kiran sudah tidak peduli lagi, meskipun Reksa pada akhirnya ingin berpisah dengannya. Percuma adanya perjanjian itu, tetapi Reksa sendiri tidak serius untuk menjalaninya.
“Benar! Dia selalu diam, meski telah mengetahui bahwa aku selama ini berkomunikasi dengan Anya dan siang ini menemuinya. Sedangkan aku tidak pernah sekalipun memperlakukannya sebagai seorang istri! Reksa sejak kapan kau menjadi idiot yang tidak tahu malu dengan mengabaikan janji yang sudah kau sepakati dengan wanita ini,” batin Reksa menyadari kesalahannya sendiri.
Namun siapa sangka Reksa malah meraih tubuh Kiran dalam pelukannya. Mencoba menenangkan Kiran dengan menepuk punggungnya dan berkata, “Maaf, jika selama ini aku tidak menepati perjanjiannya! Dan bila memang kau ingin mengakhiri semuanya sekarang, aku akan menerimanya!”
“Jawab aku! Bisakah aku tetap berjuang untuk mendapatkan mu kembali?” tanya Kiran memastikan.
“Kau bisa mencobanya lagi dan kali ini aku berjanji akan menghargai dirimu sebagai istriku!”
Meskipun bukan jawaban yang Kiran inginkan, tetapi setidaknya Reksa tidak memutuskan untuk langsung berpisah dengannya. Kiran juga menyadari bahwa di lubuk hati suaminya masih ada rasa untuknya.
Hal itu sudah cukup untuk membuat Kiran bertahan sedikit lebih lama lagi untuk memperjuangkan cinta dari sang suami yang melupakan tentang dirinya.
“Sekarang apa keputusanmu?” tanya Reksa yang juga harus memastikan kelanjutan hubungannya dengan wanita yang mengaku sebagai istrinya itu.
“Ayo, kembali ke perusahaan! Bukankah waktunya jam istirahat sudah selesai,” jawab Kiran yang sebenarnya tidak mau melepaskan pelukan dari sang suami yang sudah lama dia rindukan.
“Baiklah, cepat masuk ke dalam mobil!” ujar Reksa membantu Kiran membukakan pintu mobilnya.
...****************...
Di tengah perjalanan, siapa sangka kalau Reksa akan mampir ke sebuah restaurant cepat saji untuk membelikan makanan karena mengira Kiran belum makan siang karena dirinya. Walaupun sebenarnya Kiran sudah sempat makan bersama dengan Seno, tetapi dia tetap diam saja menerima perhatian suaminya.
“Selama ini mungkin aku terlalu menjadi istri yang terlalu pengertian, mandiri dan seolah bisa melakukan apapun tanpa bantuannya. Namun, sesungguhnya aku hanya tidak ingin merepotkan suamiku hanya karena hal kecil. Mungkin ini waktunya aku harus menjadi istri yang manja dan selalu haus akan perhatian dari suaminya,”
“Mas, mungkin beberapa waktu ke depan aku akan selalu merepotkan mu! Jika tidak bisa membuatmu mengingatku lagi, maka aku akan menciptakan kenangan indah kita yang baru,” batin Kiran dalam diam menatap penuh cinta pada Reksa.
Bersambung, ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Fahmi Ardiansyah
ya jgn menyerah untuk mendapatkan perhatian dari areksa bersabarlah Krn itu ujian dari yg kuasa
2024-12-11
0
Maria Yap
yah ampun
baca ini novel
jadi ikutan nangis
😭😭😭
semangat neng Kiran
2023-09-01
0
Mulaini
Semangat Kiran 💪💪
2023-07-20
0