Ketika Alvin melihat ketidak percayaan di wajah Papanya, dia dengan cepat berkata, "Papa, menurutku Mama benar-benar kehilangan ingatannya." Ucap Alvin.
"Oh, kenapa kau bisa berpikir begitu?" Tanya Julian.
"Karena dia sangat berbeda dari dirinya masa lalu. Dia tidak peduli padaku sebelumnya. Tapi sekarang dia membuatkan makanan untukku setiap hari dan itu sangat enak dan dia juga akan membuatkan makanan ringan untuk aku bawa ke sekolah dan dia juga akan menjemput ku pulang dari sekolah. Dia juga..."
Sampai di bagian itu, Alvin menjadi sedikit canggung. Dia juga terlihat berusaha menyembunyikan kebahagiaannya.
"Dia memanggilku Alvin sayang dan kadang dia memanggilku Alvin manis dan dia juga bilang dia mencintaiku. Itu sangat menyebalkan." Ucap Alvin.
Julian dipenuhi kecurigaan. Dia tahu jelas tentang sikap Tiara. Dimana Tiara bahkan tidak mau melirik Alvin selama ini.
'Lalu kenapa Tiara tiba-tiba melakukan begitu banyak hal untuk Alvin? Apa yang sebenarnya terjadi?'
Juliana tidak menyuarakan pertanyaan di dalam hatinya itu. Tapi dia mengalihkan pembicaraan mereka dengan bertanya pada Avin tentang Mbok Lia.
"Bagaimana dengan Mbok Lia? Ke mana dia pergi? Mengapa Mama yang memasak?" Tanya Julian.
"Mbok Lia pulang, dia harus merawat cucunya." Ucap Alvin.
Julian telah mendengar tentang kehamilan menantu Mbok Lia.
Julian langsung berkata, "Alvin, sekarang ini hari sudah beranjak siang. Cepat pergi mandi dan gosok gigi lalu sarapan sebelum pergi ke sekolah. Papa akan datang dan menemui mu dalam beberapa hari."
"Baiklah sampai jumpa Papa." Ucap Alvin yang sebenarnya tidak mau menutup panggilan itu.
Tapi dia tahu bahwa panggilan itu harus diakhiri. Jadi dia melambaikan tangan pada Papanya dan dengan enggan mengakhiri panggilan itu.
Setelah itu, Julian lalu keluar dari aplikasi kemudian dia membuka kontak dan menelpon Mbok Lia.
...----------------...
Beberapa saat kemudian...
Tiara melihat bahwa Alvin sedang dalam suasana hati yang baik pagi ini. Semua terlihat jelas karena Alvin terus-menerus mengayunkan kakinya saat dia makan di meja makan dan dia juga sesekali tersenyum.
"Alvin apakah sesuatu yang baik terjadi? Bisakah kau memberitahu Mama tentang hal itu?" Tanya Tiara.
Alvin berhenti mengayunkan kakinya. Dia menelan makanannya dan memasang ekspresi serius di wajahnya.
"Tidak ada." Ucap Alvin.
Tiara tidak mempercayai hal itu. Dia tahu bahwa Alvin tidak mau bicara. Jadi dia menggunakan trik rahasianya.
"Ah kemari lah anak manis, dan beritahu Mama. Ayo beritahu Mama Alvin kesayangan Mama. Mama benar-benar ingin tahu." Ucap Tiara mencoba menggoda Alvin.
Alvin memelototi Tiara.
"Baiklah, baiklah. Kenapa kau begitu menjengkelkan. Aku akan menjadi sangat kesal. Aku akan memberitahukan kepadamu. Papa akan kembali dalam beberapa hari untuk menemui ku." Ucap Alvin.
"Ah, apa? Papa mu akan kembali? Lalu... lalu...?"
Tiara tidak menyangka hal seperti itu akan terjadi. Dia belum pernah bertemu Papa Alvin. Tapi dia bisa merasakan jantungnya berdetak dengan keras lagi.
Setelah dia mengantar Alvin pergi ke bus sekolahnya, Tiara kembali ke kamar. Dia terus bertanya-tanya seperti apa rupa Papa Alvin dan juga seperti apa kepribadiannya. Apa yang harus dia lakukan ketika dia melihat Papa Alvin.
Tiara mengingat, menurut apa yang dikatakan Mbok Lia padanya, bahwa pemilik asli dari tubuhnya itu tidak menyukai Papa Alvin.
'Lalu apakah itu berarti bahwa Papa Alvin juga tidak menyukai aku? Jika dia benar-benar tidak menyukaiku, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?' tanya Tiara dalam hati.
Pikiran Tiara menjadi kacau. Namun pada akhirnya dia memutuskan untuk berusaha keras menjadi orang baik dan memperlakukan Papa Alvin dengan baik dan memutuskan untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang istri. Dia juga berpikir bahwa jika Papa Alvin masih tidak menyukainya, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi setidaknya dia akan memperlakukan Alvin dan Papa nya dengan baik.
'Papa Alvin tidak akan mengusirku karena dia tidak menyukai aku bukan?' tanya Tiara dalam hati lagi.
Terus memikirkan hal itu membuat Tiara sedikit stres. Dia mengalihkan pikirannya dan mulai memikirkan apa yang harus dia masak untuk Alvin malam nanti. Namun ketika dia membuka lemari pendingin, Tiara menemukan bahwa lemari pendingin itu sudah kosong.
Mbok Lia sudah pergi selama beberapa hari. Lemari pendingin yang awalnya penuh, kini sudah kosong. Tiara tahu bahwa dia sudah harus pergi keluar dan membeli makanan untuk diisi ulang di dalam lemari pendingin.
Tapi masalahnya, dia tidak tahu ke mana dia bisa pergi untuk membeli barang-barang itu.
Setelah berpikir sebentar, dia tersadar bahwa dia hanya bisa pergi dengan meminta bantuan Alvin.
Begitu sekolah berakhir, Tiara pergi menjemput Alvin. Mereka tidak langsung pulang, karena Tiara meminta bantuan Alvin.
"Alvin sayang, sudah tidak ada bahan makanan yang tersisa di rumah. Bisakah kau membantu Mama untuk pergi membeli beberapa bahan makanan? Mama tidak tahu caranya." Ucap Tiara.
Saat ini Alvin sendiri sudah percaya bahwa Tiara tidak mengingat apapun. Jadi dia tidak terkejut seperti sebelumnya. Sebaliknya sia memutuskan untuk berjalan di depan dan memimpin jalan mereka.
"Ikuti aku. Kita akan pergi ke supermarket." Ucap Alvin.
Sebelumnya Mbok Lia memang sering membawa Alvin bersamanya setiap kali dia pergi ke supermarket. Jadi Alvin tahu di mana rutenya.
Tiara pernah melihat supermarket di dalam televisi sebelumnya, dimana bagian dalamnya sangat besar dan orang-orang bisa membeli segala macam barang disana.
Sampai di supermarket, Alvin pergi ke area troli belanja dengan santai dan mengeluarkan koin dari sakunya kemudian dia berdiri berjinjit untuk memasukkan koin ke dalam lubang kecil di troli belanja itu. Tiba-tiba troli itu terbuka kuncinya dan Tiara yang sedang melihat ha itu, matanya tampak begitu berbinar. Seolah hampir ada bintang di dalam matanya.
Mata Tiara terus menatap Alvin yang dengan tenang mendorong troli jam tangannya seperti seorang bos dan memanggil Tiara yang ada di belakangnya.
"Ayo pergi...." Titah Alvin.
Tiara dengan cepat dan patuh mengikuti bos kecil itu. Meskipun bos kecil itu memiliki aura dan sikap yang mengesankan, tapi dia terlalu pendek. Dia lebih pendek dari troli belanja itu. Jadi dia harus menggunakan banyak tenaga untuk membuat troli itu bergerak.
Hati Tiara merasa sakit karena dia hanya bisa melihat Alvin melakukan hal itu. Dimana biasanya anak-anak seusia dirinya akan duduk di kursi troli. Sementara orang dewasa yang mendorongnya seperti yang dilakukan pemeran utama pria di dalam televisi.
Tiara melihat sekelilingnya dan mendapati bahwa sebagian besar anak duduk di troli belanja. Jadi Tiara bicara pada Alvin.
"Alvin, biarkan Mama yang mendorongnya. Kau bisa duduk di troli. Biarkan Mama yang mendorongnya." Ucap Tiara.
Alvin melirik anak-anak lain yang duduk di troli. Dia memang ingin melakukan hal seperti itu. Tapi dia masih menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Tiara.
"Aku tidak akan duduk di sana. Hanya anak usia 3 tahun yang akan duduk di troli belanja." Ucap Alvin.
Alvin diam-diam melirik kaki Tiara yang terluka. Tiara tidak menyangka akan ucapan Alvin itu.
"Tidak masalah Nak. Meskipun Alvin belum berusia 3 tahun, tapi kau masih anak-anak. Jadi naik dan duduklah." Ucap Tiara.
Namun lagi-lagi Alvin menggelengkan kepalanya. Dia terus mendorong troli itu lagi dengan sungguh-sungguh.
Namun Alvin terdengar mengeluh.
"Kau bahkan tidak bisa berjalan dengan baik. Aku tidak ingin terluka jika kau mendorong troli saat aku duduk di atasnya. Ayo pergi." Ucap Alvin.
Tiara mengerti sekarang bahwa sebenarnya si kecil Alvin sedang mengkhawatirkannya.
'Anak yang baik. Dia adalah benar-benar anak yang berperilaku sangat baik. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa pemilik asli dari tubuh ini memperlakukan Alvin dengan sangat buruk.' ucap Tiara dalam hati.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nenk NOER
Lanjut Thor...
2023-07-19
0