Saat nama Alvin disebutkan, ekspresi dingin di wajah Julian sedikit tenang. Bahkan ada sedikit kehangatan disorot matanya.
"Aku sudah mengajukan cuti selama 5 hari kali ini. Aku juga telah menyelesaikan semua pekerjaanku untuk saat ini. Jadi aku akan kembali minggu depan." Ucap Julian.
Pria yang bersama Julian sejak tadi, tampak menghela nafas. Dia adalah sahabat Julian bernama Doni.
"Ah kau hanya bisa melihat anakmu setiap satu atau dua bulan sekali dan Mama dari anak itu... Dia bukanlah wanita yang baik. Kenapa kau tidak membawa anakmu ke sini saja? Meski sekolah disini belum sempurna, tapi sudah cukup lumayan baik. Jika kau membawa Alvin ke sini, maka kau dapat melihatnya setiap hari dan kau tidak perlu khawatir." Ucap Doni.
Doni dan Julian adalah teman sekelas saat Sekolah Menengah Atas. Mereka masuk militer bersama dan keduanya bekerja di pasukan khusus. Jadi bisa dikatakan bahwa mereka telah melewati banyak kesulitan bersama. Mereka sudah seperti saudara yang sangat dekat dan mereka dapat membicarakan tentang segala hal secara langsung satu sama lain. Doni juga adalah satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran tentang pernikahan Julian dan istrinya itu.
Julian terlihat menggelengkan kepalanya.
"Tidak baik untuk membawa Alvin ke sini. Aku bisa menjalankan misi kapan saja dan jika aku pergi, maka tidak akan ada orang yang menjaga Alvin." Ucap Julian.
Doni setuju dengan ucapan Julian itu. Menyewa seorang pengasuh untuk Alvin dan tinggal di pangkalan perumahan militer juga bukanlah ide yang baik dan itu juga tidak diperbolehkan.
Doni tahu bahwa Mama Alvin tidak dapat diandalkan. Bahkan jika Alvin akan dibawa ke pangkalan militer ini tidak akan ada orang yang menjaga Alvin di sini.
'Alangkah baik, jika Mama Alvin itu normal.' ucap Doni dalam hati.
Doni menghela nafas.
"Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa kau masih bersama dengannya? Aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya untuk menceraikannya dan mencari ibu baru untuk Alvin. Lagi pula tidak semua ibu tiri itu buruk. Setidaknya dia akan lebih baik daripada Mama kandung Alvin sendiri." Ucap Doni.
Julian berhenti menulis laporannya. Tapi dia tidak menjawab ucapan Doni dan kembali menulis laporannya itu lagi.
Doni tahu benar jika Julian tidak suka membahas topik itu. Jadi dia tidak mengatakan apapun lagi. Dia lalu mengucapkan selamat malam kepada Julian dan meninggalkan Julian pergi.
Ketika Julian menyelesaikan laporannya, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Dia memijat matanya yang sakit dan mematikan lampu ruangan itu sebelum kembali ke kamarnya.
Julian adalah seorang Kapten dari timnya. Tapi kamarnya sangat sederhana semuanya tertata begitu rapi. Julian duduk di mejanya dia seperti mengingat sesuatu. Jadi dia mengeluarkan ponselnya dan menyalakannya.
Ponselnya bergetar saat dihidupkan. Julian tidak peduli dengan hal lain dan langsung membuka sebuah aplikasi berkirim pesan berwarna hijau. Dia melihat ada banyak pesan dari Alvin. Ekspresi di wajahnya melembut. Tanpa sadar dia mengetuk pesan suara untuk mendengarkan semuanya.
"Papa, kenapa Papa tidak melakukan video call denganku, hah? Apakah Papa sibuk?"
"Papa, kenapa Papa tidak melakukan video call lagi? Apakah Papa sedang menjalankan misi?"
"Papa, apakah Papa belum kembali dari misi Papa? Kapan Papa akan kembali?"
"Papa sudah lama Papa tidak melakukan video call denganku. Papa ada di mana?"
Suara si kecil Alvin terus terdengar di ponsel itu. Mendengar semua itu, hati Julian melunak. Jika seseorang bertanya, apa yang diberikan pernikahan kepadanya dan apa yang dia syukuri daei pernikahannya itu, maka Julian akan menjawab tanpa ragu, hal itu adalah anaknya Alvin.
Istrinya telah melahirkan Alvin. Jadi untuk Alvin, Julian bersedia mentoleransi sikap buruk istrinya itu. Selama istrinya tidak melampaui batasnya, Julian berjanji untuk menyediakan semua yang dibutuhkan istrinya untuk menjalani kehidupan yang nyaman.
Julian terus mendengar pesan suara dari Alvin itu. Ketika dia mencapai sebuah pesan suara terakhir, suara seorang wanita yang tak terduga terdengar dari ponselnya.
"Tuan... Eh, maksudku suamiku. Kau... kau harus menjaga dirimu sendiri dengan baik. Jangan khawatirkan aku dan Alvin."
'Tiara?' ucap Julian dalam hati.
Alis Julian berkerut. Dia menatap ke arah pesan suara terakhir. Dia sedang memikirkan kenapa Tiara mengiriminya pesan suara dan mengapa nada suaranya terdengar seperti itu?
Julian berpikir sejenak dan membuka catatan panggilannya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Mbok Lia. Alvin awalnya ingin menelpon balik Mbok Lia. Tapi dia mengurungkan niatnya ketika dia melihat jam. Setelah itu, dia pun memutuskan untuk mengambil beberapa pakaiannya dan pergi ke kamar mandi.
Saat pagi tiba, Julian pergi untuk latihan paginya. Setelah itu dia menebak bahwa Alvin seharusnya sudah bangun saat ini. Jadi dia kembali ke kamarnya dan membuka aplikasi berwarna hijau itu untuk mengirim permintaan panggilan video kepada Alvin.
"Papa... Papa... sudah kembali...!"
Ketika panggilan video call itu diterima, wajah gemuk si kecil Alvin muncul di layar. Senyuman langka muncul di wajah serius Julian setelah melihat hal itu.
"Alvin, apakah kau baru bangun tidur?" Tanya Julian.
Alvin langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya Pa, aku baru bangun. Papa sudah lama tidak meneleponku. Apakah Papa sedang dalam misi? Apakah Papa mendapatkan luka? Kapan Papa akan kembali untuk bertemu denganku?" Cecar Alvin.
Pertanyaan Alvin datang dengan cepat satu demi satu. Julian mendengarkan pertanyaannya itu dengan sabar dan dia merasa begitu terpukul. Dia tahu bahwa dia bukan seorang Papa yang baik bagi Alvin dan dia juga telah mengecewakan Alvin. Julian tahu bahwa Alvin merasa kesepian tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Papa baru saja kembali dari misi Papa. Papa tidak terluka. Papa akan datang dan menemui mu dalam beberapa hari lagi." Ucap Julian.
Ketika Alvin mendengarkan hal itu, matanya menjadi berbinar dan bibirnya tersenyum memperlihatkan gigi putih kecilnya.
"Benarkah Papa? Kalau begitu aku akan menunggu Papa kembali. Papa harus segera kembali." Ucap Alvin begitu senang.
"Baiklah, Papa akan segera kembali." Ucap Julian.
Dia lalu bertanya kepada Alvin.
"Alvin, apakah sesuatu terjadi pada Mama baru-baru ini?" Tanya Julian.
Alvin langsung mengangguk. Lalu dia melirik sekilas ke arah pintu. Setelah dia memastikan bahwa pintu itu tertutup, dia dengan hati-hati memberitahukan sesuatu pada Julian.
"Papa... Mama tertabrak mobil sebelumnya dan kakinya terluka dan juga ada banyak goresan di wajahnya." Ucap Alvin.
Bibir Julian tampak tertutup. Dia tidak bicara. Alvin melirik ke arah pintu lagi sebelum dia melanjutkan bicaranya.
"Pah, masih ada hal yang lainnya lagi. Mama mengatakan bahwa dia tidak ingat apa-apa. Dia tidak tahu bagaimana melakukan banyak hal. Jadi dia membutuhkan bantuan ku untuk mengajarinya." Ucap Alvin.
'Amnesia?'
Reaksi pertama Julian adalah ketidakpercayaan. Dia tidak percaya pada Tiara.
'Apakah Tiara mencoba menarik perhatian kami?' tanya Julian dalam hati.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Siti Mujimah
iy mn percaya kalau Tiara amnesia..tapiii emang iy Karena dalam diri Tiara bersemayam orang asing🤭
2024-01-09
0