Menyukai Tiara

Sebenarnya Tiara masih bisa mendorong troli itu meskipun dia menggunakan tongkat, tapi Alvin tidak membiarkannya. Karena Tiara tidak mau menolak kebaikan Alvin, jadi dia hanya bisa mengikuti Alvin dari belakang seperti seorang bawahan dan Alvin adalah bos nya. Dia merasa bahwa semua itu terasa menarik.

Di bawah kepemimpinan Alvin, Tiara melihat supermarket itu dengan begitu antusias. Ada banyak produk yang membuat Tiara merasa pusing melihat semuanya. Dia berpikir bahwa dunia ini benar-benar menakjubkan dan semua orang yang hidup di dunia saat ini sangat beruntung.

Saat dia mengikuti Alvin, dia pergi ke bagian sayuran dan memilih semua sayuran yang mereka butuhkan. Semuanya berjalan lancar karena Tiara hanya meniru apa yang dilakukan orang lain. Namun ketika tiba waktunya untuk menimbang sayuran, Tiara menyadari bahwa mesin timbangan itu dikelilingi oleh orang-orang. Hal itu membuatnya bingung. Alvin memperhatikan hal itu dan dia dengan segera menarik celana Tiara untuk menghentikannya pergi ke arah timbangan itu.

Alvin pun berkata kepadanya.

"Jangan bergerak. Tunggulah di sini. Aku akan pergi menggantikan dirimu."

Setelah itu Alvin mengambil sayuran yang dipilih Tiara tadi dan berlari untuk mengantri dengan orang-orang lainnya. Meski tubuh mungilnya dikelilingi oleh orang dewasa, tapi Alvin tidak takut. Sebaliknya dia malah tampak sangat tenang.

Ketika giliran Alvin tiba, dia tampak berjinjit untuk meletakkan sayuran di mesin timbangan dan bicara kepada karyawan yang ada di sana.

"Bibi tolong timbang sayurannya." Ucap Alvin.

Ini adalah pertama kalinya pekerja supermarket melihat anak kecil seperti Alvin membeli barang. Karyawan itu memandang Alvin.

Alvin tampak sangat serius dan juga menggemaskan.

Karyawan supermarket itu lalu menimbang sayuran yang dibawa Alvin dengan perlahan. Semua orang yang ada di sekitar itu juga menatap Alvin dengan mata berbinar. Beberapa gadis bahkan mengeluarkan ponsel mereka untuk mengambil potret Alvin.

"Anak itu tampan sekali. Dia sangat menggemaskan. Aku benar-benar ingin membawanya pulang." Ucap seorang gadis.

Tiara melihat semua itu karena dia tidak terlalu jauh berdiri dari sana. Dia merasa begitu bangga. Alvin anak kesayangannya itu benar-benar pintar dan luar biasa.

Beberapa saat kemudian, Alvin tampak berjalan terhuyung-huyung ke sisi Tiara dengan sayuran yang telah ditimbang. Tiara membungkuk dan memeluk Alvin. Dia lalu mencium kening Alvin.

"Alvin, kau benar-benar luar biasa. Mama mengagumimu." Ucap Tiara.

Mata Alvin tampak melebar. Namun, setelah beberapa detik, dia dengan cepat menutupi dahinya dengan tangan gemuknya itu. Dia merasa malu dan menatap Tiara dengan tajam.

"Kau.... kau..." Ucap Alvin yang tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

Wajah Alvin tampak memerah dan pada akhirnya dia kembali mendorong troli belanja itu dan berlari menjauh dari Tiara.

"Hah... Aku benar-benar tidak tahan denganmu. Kau terlalu menyebalkan." Ucap Alvin pada Tiara.

Tiara hanya tersenyum saat dia melihat anak laki-laki gemuk itu mendorong troli belanja dengan susah payah.

Seorang ibu muda yang seumuran dengan Tiara telah melihat seluruh kejadian itu. Ibu muda itu merasa iri dan bicara pada Tiara.

"Itu anakmu kan? Dia sangat menggemaskan dan pintar. Dia peduli padamu dan dia tidak ingin kau mendorong troli itu. Dia bahkan tidak mengatakan apa-apa meskipun dia tampak berkeringat karena mendorong troli itu. Dia tidak seperti anakku yang bahkan tidak mau berjalan selangkah pun."

Anak laki-laki kecil yang sedang duduk di troli belanja ibu muda itu tidak tahu bahwa ibunya mengeluh tentang dirinya. Dia terus memakan es krimnya yang penuh di seluruh mulutnya itu.

Tiara tidak bisa menahan senyumannya. Dia merasa begitu bangga. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada ibu muda itu, Tiara segera mengejar Alvin pergi.

Selain sayuran, Tiara juga memutuskan untuk membeli beberapa buah dan makanan ringan yang disukai Alvin. Akhirnya ibu dan anak itu membeli sekantung besar makanan.

Tiara hanya bisa memegang tongkat di satu tangan dan tas belanja di tangan lainnya. Sangat sulit baginya untuk berjalan.

Ketika Alvin menyadari bahwa Tiara kesulitan berjalan, dia mengerutkan alisnya kemudian dia berlari ke arah Tiara dan membantu mengangkat tas itu. Alvin ingin membantu agar Tiara tidak terlalu kesulitan. Tapi karena dia terlalu kecil, dia tidak bisa berjalan dengan baik dengan membawa barang-barang itu. Dia mulai berjalan goyah dan hampir tersandung.

Tiara dengan cepat memegang tangannya.

"Alvin kau tidak perlu melakukannya. Mama bisa membawanya sendiri. Mama kuat." Ucap Tiara.

Alvin tidak percaya dengan apa yang dikatakan Tiara. Setelah dia melepaskan tangannya dari Tiara, dia mengangkat tasnya lagi sambil mendesah.

"Ah aku memang belum kuat. Akan lebih baik jika Papa ada di sini. Papa sangat kuat." Ucap Alvin.

Tiara dengan cepat menghibur Alvin.

"Jangan khawatir. Kau masih terlalu kecil. Selama kau makan dengan benar, maka kau akan tumbuh dengan tinggi dan kuat." Ucap Tiara.

Alvin diam-diam menganggukkan kepalanya. Dia bertekad untuk tumbuh lebih tinggi dari Papanya di masa depan.

Pada saat mereka sampai di rumah, hari sudah beranjak gelap. Jadi Tiara langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam dan membiarkan Alvin bermain sendirian.

Beberapa saat kemudian, Alvin berdiri diam di pintu masuk dapur sambil melihat Tiara yang memasak. Dia tiba-tiba teringat sesuatu dan berbalik untuk berlari ke kamarnya untuk mengambil tabletnya. Kemudian dia berlari kembali ke arah dapur dan diam-diam memotret Tiara yang tengah memasak.

Melihat Tiara tidak menyadari apapun, Alvin langsung berlari kembali ke kamarnya dan mengunci pintunya seperti seolah dia telah mencuri sesuatu. Setelah itu dia mengirim foto itu kepada Papanya.

"Papa, aku pergi ke supermarket dengan Mama hari ini. Mama punya banyak makanan enak untukku dan sekarang mama ada di dapur membuatkan makanan enak untukku." Ucap Alvin dengan suara yang terdengar sedikit pamer.

...----------------...

Sementara itu di pangkalan militer. Julian tengah mandi setelah dia kembali ke kamarnya. Kemudian dia menyalakan ponselnya dan melihat pesan dari Alvin.

Itu adalah foto seorang wanita yang mengenakan celemek saat memasak di dapur. Wanita itu tampak kurus seperti kerangka dan dia memakai gips di kaki kirinya. Tongkatnya ditempatkan di dekatnya. Wanita itu tampak seolah dia begitu mahir dalam memasak.

Julian merasa wanita di foto itu sangat asing baginya. Wanita itu sama sekali tidak cocok dengan Tiara yang ada dalam pikirannya. Dalam ingatan Julian, Tiara selalu dalam keadaan mabuk atau histeris dan selalu berharap bahwa dia cepat mati. Namun wanita dalam foto itu memiliki aura yang lembut bahkan ada perasaan yang nyaman dan tenang dalam dirinya.

Jika saja sosok di foto itu tidak terlihat persis dengan Tiara, Julian pasti mengira bahwa wanita itu adalah orang lain.

'Mengapa dia begitu berubah? Apakah itu karena amnesia? Jika bukan kehilangan ingatan, tidak ada alasan baginya untuk berpura-pura dan bertingkah seperti ini bukan?' tanya Julian dalam hati.

Julian mencoba untuk menghilangkan kecurigaannya dan melakukan panggilan video dengan Alvin. Panggilannya itu langsung diterima oleh Alvin.

Wajah Alvin yang tampak bulat dan gemuk, muncul di layar.

Saat melihat Julian, Alvin langsung memanggilnya 'Papa' dengan penuh semangat.

Julian tersenyum dan bertanya, "apakah kau makan banyak malam ini?"

Alvin memiliki banyak hal yang ingin dia katakan pada Papanya. Jadi dia langsung menjawab.

"Papa, aku makan dua piring nasi malam ini. Aku juga makan sayap ayam, tahu, dan... dan..."

Ingatan Alvin yang terbatas membuatnya tidak bisa mengingat semuanya. Julian menunggu dengan sabar sampai Alvin mengingat semuanya. Setelah sekian lama, akhirnya Alvin pun ingat.

"Oh iya, ada sup juga dan sup itu sangat enak." Ucap Alvin.

"Oh ya, benarkah? Apa Mama yang membuat semuanya?" Tanya Julian.

Alvin mengangguk dengan kuat. Kemudian dia bertindak seolah-olah dia akan mengatakan sebuah rahasia besar dan berbisik, "Papa, masakan Mama sangat enak. Bahkan itu lebih enak daripada masakan Mbok Lia. Kue-kue yang dibuat Mama juga sangat enak. Mbok Lia tidak pernah membuatnya untukku. Bahkan teman-teman sekelas ku iri padaku."

Melihat Alvin bicara dengan sangat bersemangat dengan hampir semua yang diucapkan Alvin terdengar begitu jujur, Julian merasa bingung.

"Alvin, apakah kau menyukai Mama yang sekarang?" Tanya Julian.

Alvin terdiam. Setelah beberapa saat dia pun mengangguk dengan canggung dan menjawab dengan tenang.

"Papa, aku ingin Mama selalu seperti ini. Aku tidak ingin Mama berubah kembali seperti sebelumnya."

Kali ini Julian terdiam. Dia tiba-tiba tidak tahu harus berkata apa kepada anaknya itu. Semua karena dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Tiara.

'Dia berubah. Apakah dia benar-benar memperlakukan Alvin dengan baik ataukah dia tengah merencanakan sesuatu?' tanya Julian dalam hati.

Julian benar-benar takut jika Tiara hanya berpura-pura baik pada Alvin selama beberapa hari, sebelum kembali kepada dirinya yang dulu. Dia juga takut jika Tiara memberi harapan kepada Alvin dan kemudian menghancurkannya nanti. Jika memang seperti itu, maka Julian pasti tidak akan memaafkan Tiara.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

R yuyun Saribanon

R yuyun Saribanon

thor bahasa utk alvin di perbaiki..jangan menyapa ibunya dg sebutan kau.. tak pantas

2024-09-25

0

Yan

Yan

yg aku hairan nya awp chap ada tertulis dmana alvin berumur skrug nya dlm 4 tahunan gitu...kok slrg malah blm masuk umr 3 tahunan? keliru deh 😅.

2023-08-26

1

Nenk NOER

Nenk NOER

Lanjut Thor... semangat 👍👍👍

2023-07-24

0

lihat semua
Episodes
1 Dimana Aku?
2 Siapa Aku?
3 Memikirkan Alasan Yang Tepat
4 Mendekati Alvin
5 Alvin Merindukan Papanya
6 Sarapan
7 Menjemput Alvin
8 Memeluk Alvin
9 Note Author
10 Belajar Menggunakan Ponsel
11 Bertanya
12 Memasak Untuk Alvin
13 Berdua Dengan Alvin
14 Mengantar Alvin Sekolah
15 Menjemput Alvin
16 Tentang Papa Alvin
17 Amnesia
18 Menyukai Tiara
19 Pusat Perbelanjaan
20 Kakek Buyut
21 Dimaafkan
22 Kedatangan Julian
23 Sikap Julian
24 Merasa Jelek
25 Malu
26 Canggung
27 Alvin Bahagia
28 Bertemu Sekelompok Orang
29 Tidur Bersama
30 Note Author
31 Pentas Sekolah
32 Ikut Atau Tidak?
33 Bertemu Teman-teman Julian
34 Pakaian Renang
35 Pantai
36 Bisa Memasak?
37 Masakan Tiara
38 Pergi Atau Tidak?
39 Pulang
40 Belanja
41 Kembali Ke Markas
42 GGS (Gara-gara Sambal)
43 Ingin Cantik
44 Usaha Menjadi Cantik
45 Camilan
46 Pesan Julian
47 Bantuan Jenny
48 Membalas Kebaikan Jenny
49 Tentang Pemilik Tubuh
50 Memberikan Hadiah Untuk Jenny
51 Mama?
52 Akan Pindah
53 Berkemas
54 Perjalanan
55 Pindah Rumah
56 Apartemen Baru
57 Memasak
58 Makan Malam
59 Mabuk
60 Kaki Bau
61 Membeli Furniture
62 Pakaian Baru
63 Rumah Kita
64 Keluarga Kecil
65 Merendam Kaki
66 Mengundang Semua Orang
67 Makan Malam Bersama
68 Belanja Online
69 Gaun Baru
70 Mama Cantik Bukan?
71 Lima Miliar
72 Alvin Cemburu
73 Sentuhan Julian
74 Memasak
75 Julian Kesal
76 Kedatangan Marina
77 Rencana Mengunjungi Oma Sarah
78 Lari Pagi
79 Bertemu Oma Sarah
80 Alvin Mirip Tiara
81 Tangisan Alvin
82 Tania
83 Perasaan Marina
84 Perubahan Sikap Tiara
85 Perasaan Julian
86 Mengejar Cinta Mama
87 Hadiah Untuk Tiara
88 Hadiah Lagi
89 Hari Pertama Alvin Sekolah
90 Membaik Sementara Waktu
91 Tiara Kesal
92 Kebingungan Julian
93 Penjelasan Jenny
94 Kembali Baik
95 Situasi Marina
96 Gara-gara Jenny
97 Note
98 Tiara Sakit
99 Perasaan Julian
100 Perasaan Julian
101 Akhir Bahagia
102 Pengumuman
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Dimana Aku?
2
Siapa Aku?
3
Memikirkan Alasan Yang Tepat
4
Mendekati Alvin
5
Alvin Merindukan Papanya
6
Sarapan
7
Menjemput Alvin
8
Memeluk Alvin
9
Note Author
10
Belajar Menggunakan Ponsel
11
Bertanya
12
Memasak Untuk Alvin
13
Berdua Dengan Alvin
14
Mengantar Alvin Sekolah
15
Menjemput Alvin
16
Tentang Papa Alvin
17
Amnesia
18
Menyukai Tiara
19
Pusat Perbelanjaan
20
Kakek Buyut
21
Dimaafkan
22
Kedatangan Julian
23
Sikap Julian
24
Merasa Jelek
25
Malu
26
Canggung
27
Alvin Bahagia
28
Bertemu Sekelompok Orang
29
Tidur Bersama
30
Note Author
31
Pentas Sekolah
32
Ikut Atau Tidak?
33
Bertemu Teman-teman Julian
34
Pakaian Renang
35
Pantai
36
Bisa Memasak?
37
Masakan Tiara
38
Pergi Atau Tidak?
39
Pulang
40
Belanja
41
Kembali Ke Markas
42
GGS (Gara-gara Sambal)
43
Ingin Cantik
44
Usaha Menjadi Cantik
45
Camilan
46
Pesan Julian
47
Bantuan Jenny
48
Membalas Kebaikan Jenny
49
Tentang Pemilik Tubuh
50
Memberikan Hadiah Untuk Jenny
51
Mama?
52
Akan Pindah
53
Berkemas
54
Perjalanan
55
Pindah Rumah
56
Apartemen Baru
57
Memasak
58
Makan Malam
59
Mabuk
60
Kaki Bau
61
Membeli Furniture
62
Pakaian Baru
63
Rumah Kita
64
Keluarga Kecil
65
Merendam Kaki
66
Mengundang Semua Orang
67
Makan Malam Bersama
68
Belanja Online
69
Gaun Baru
70
Mama Cantik Bukan?
71
Lima Miliar
72
Alvin Cemburu
73
Sentuhan Julian
74
Memasak
75
Julian Kesal
76
Kedatangan Marina
77
Rencana Mengunjungi Oma Sarah
78
Lari Pagi
79
Bertemu Oma Sarah
80
Alvin Mirip Tiara
81
Tangisan Alvin
82
Tania
83
Perasaan Marina
84
Perubahan Sikap Tiara
85
Perasaan Julian
86
Mengejar Cinta Mama
87
Hadiah Untuk Tiara
88
Hadiah Lagi
89
Hari Pertama Alvin Sekolah
90
Membaik Sementara Waktu
91
Tiara Kesal
92
Kebingungan Julian
93
Penjelasan Jenny
94
Kembali Baik
95
Situasi Marina
96
Gara-gara Jenny
97
Note
98
Tiara Sakit
99
Perasaan Julian
100
Perasaan Julian
101
Akhir Bahagia
102
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!