Tiba-tiba terdengar nada dering ponsel berbunyi. Itu adalah ponsel milik Mbok Lia yang ada di dalam sakunya. Mbok Lia lantas dengan cepat meletakkan mangkuk makanannya untuk mengangkat telepon itu.
"Halo nak, kenapa kau menelpon?" Ucap Mbok Lia.
Tidak ada yang mengetahui apa yang dikatakan oleh orang yang di seberang telepon itu, tapi ekspresi wajah Mbok Lia langsung berubah dan dia tampak gugup dan langsung berdiri.
"Baik... baik... Ibu akan mencoba untuk datang sekarang juga. Kau harus menjaga Liana dengan baik ya." Ucap Mbok Lia.
Setelah menutup telepon Mbok Lia melirik ke arah Alvin dan juga Tiara. Dia menjadi tampak begitu putus asa dan dengan cepat mencoba menelepon seseorang. Tapi panggilan itu tidak berhasil. Dia menghentakkan kakinya dengan putus asa.
"Tuan tidak mengangkat telepon. Dia pasti belum kembali. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ucap Mbok Lia.
Ketika Tiara melihat Mbok Lia bertingkah sangat cemas, dia pun bertanya padanya.
"Mbok Lia ada apa? Apakah terjadi sesuatu?"
"Anak saya baru saja menelpon. Dia mengatakan bahwa menantu saya tidak sengaja jatuh dan dia sekarang terpaksa melahirkan prematur. Dia ada di rumah sakit, tapi tidak ada yang bisa merawat cucu tertua saya. Jadi mereka membutuhkan saya untuk pulang dan merawatnya. Tapi jika saya pergi, lalu bagaimana dengan Den Alvin? Ah... saya juga tidak bisa menghubungi nomor Tuan. Sekarang apa yang harus saya lakukan?" Ucap Mbok Lia
'Persalinan prematur?' ucap Tiara dalam hati.
Tiara pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya. Dia tahu jika berbahaya bagi seorang wanita untuk melahirkan secara prematur. Jadi tidak mengherankan jika dia melihat Mbok Lia yang tampak sangat cemas dalam situasi seperti itu. Tiara tampak berpikir sejenak dan kemudian bicara.
"Mbok Lia, kau harus pergi dan menjaga menantu perempuanmu. Aku akan menjaga Alvin. Jangan khawatir, aku akan menjaga Alvin dengan baik." Ucap Tiara.
"Ah, tapi..."
Mbok Lia terdengar khawatir. Lagi pula, dengan Tiara yang bersikap baik selama 2 hari terakhir, tidak cukup untuk menembus semua pengabaian yang dia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Jadi bagaimana Mbok Lia bisa merasa nyaman membiarkan Tiara menjaga Alvin. Bagaimana jika Tiara mulai minum dan mabuk lagi? Itulah yang dicemaskan oleh Mbok Lia.
Mbok Lia tampak sangat cemas hingga membuat dia berkeringat. Dia tidak menyerah dan berusaha menelpon Papa Alvin lagi. Tapi lagi-lagi tidak ada yang mengangkat sambungan teleponnya itu. Saat itulah Alvin yang sejak tadi diam, mulai bicara.
"Mbok Lia bisa pergi. Aku akan baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Ucap Alvin.
Mbok Lia tampak ragu-ragu. Tapi pada akhirnya dia tidak bisa menemukan solusi lain. Jadi dia memutuskan untuk setuju dengan ucapan Alvin dan Tiara. Setelah itu dia kembali bicara dengan Tiara.
"Nyonya, tolong ingatlah bahwa Nyonya harus menjaga Alvin dengan baik. Jangan memarahinya, dan jangan minum alkohol lagi." Ucap Mbok Lia.
Tiara tampak mengangguk.
"Tenang saja Mbok Lia, aku janji." Balas Tiara.
Mbok Lia masih belum merasa lega. Dia lalu memberitahu sesuatu kepada Alvin.
"Den Alvin, nomor saya ada di jam tangan kecil Anda. Hubungi saya jika terjadi sesuatu." Ucap Mbok Lia.
Alvin mengangguk dengan patuh. Mbok Lia lalu segera pergi ke kamarnya dan mengemasi barang-barangnya. Saat dia keluar, dia memberi Tiara sebuah kartu dan setumpuk uang tunai.
"Ini yang tuan berikan untuk pengeluaran sehari-hari. Sekarang saya memberikannya pada Nyonya. Jaga Den Alvin dengan baik. Saya akan kembali secepat mungkin." Ucap Mbok Lia.
Tiara sedikit mengerti bahwa tumpukan kertas merah itu adalah uang. Di tempat dia tinggal, uang sepertinya sama sekali tidak berlaku. Karena semua kegiatan perdagangan dilakukan secara barter.
Tiara lalu mengambil uang itu dan berkata, "aku tahu. Mbok Lia jangan khawatir kan kami dan jaga menantu perempuanmu dengan baik." Ucap Tiara.
Bahkan dengan keseriusan di wajah Tiara, Mbok Lia masih merasa khawatir. Jadi dia hanya bisa menghela nafas dan berjalan pergi. Sekarang, hanya ada Tiara dan Alvin yang tersisa di rumah.
Alvin tampak mengambil tisu lalu menyeka mulutnya. Setelah selesai makan, dia perlahan turun dari kursinya dan berlari kembali ke kamarnya. Tiara ingin menghentikannya tapi dia tidak secepat Alvin yang bisa berlari. Pada akhirnya Tiara hanya bisa mulai merapikan meja makan.
Butuh waktu 1 jam bagi Tiara untuk selesai membersihkan dan merapikan dapur karena cedera pada kakinya itu yang membuatnya bergerak lambat. Tiara tidak bisa membaca waktu di jam yang ada di dinding, sebaliknya dia hanya mengandalkan instingnya dan tahu bahwa saat ini sudah mulai larut. Dia pun tertatih-tatih berjalan ke kamar Alvin dan mengetuk pintu kamarnya.
"Alvin kau harus tidur sekarang. Haruskah Mama membantumu mencuci tangan dan kakimu dan juga menggosok gigimu?" Ucap Tiara.
Namun tidak ada tanggapan dari dalam kamar itu. Tiara lalu mencoba membuka pintu. Dia terkejut ketika mendapati bahwa pintunya tidak dikunci sama sekali. Setelah dia membuka pintu, Tiara melihat ada gumpalan kecil di tempat tidur. Pria kecil itu meringkuk menjadi seperti bola. Tiara tidak yakin apakah Alvin sedang tidur atau tidak.
Tiara perlahan mendekat kemudian dia menarik selimut yang dikenakan Alvin sedikit demi sedikit dan melihat kepala Alvin.
"Alvin sayang, apa kau sudah tidur?" Ucap Tiara.
Mata Alvin tidak bergerak. Tapi Tiara memperhatikan gerakan bulu mata Alvin dan dia tahu jika Alvin berpura-pura tidur. Tiara tertawa kecil kemudian dia berpura-pura bicara pada dirinya sendiri.
"Jadi Alvin ku sayang sudah tidur ya?" Ucap Tiara.
Bulu mata Alvin bergerak lagi. Tiara lalu mengangkat selimut dengan lembut dan mendapati bahwa Alvin sudah mengganti pakaiannya. Tiara juga mencium aroma harum dari tubuh Alvin. Ternyata Alvin sudah mandi sendiri. Tiara merasa begitu bahagia melihat anak kecil di hadapannya itu bisa makan dan mandi sendiri. Dia benar-benar anak yang baik dan pintar.
Tiara merasa begitu bangga karena merasa anaknya lebih hebat dari anak orang lain, dia pun memuji Alvin.
"Wah Alvin anak Mama sangat pintar. Dia bisa mandi sendiri. Dia begitu hebat." Ucap Tiara.
Kelopak mata Alvin terus bergerak. Tiara berpura-pura tidak memperhatikan hal itu. Dia lalu dengan perlahan mengusap kepala Alvin dan menggunakan kesempatan itu untuk meminta maaf. Meskipun sebenarnya bukan dirinya yang melakukan kesalahan. Tapi dia sekarang berada di tubuh pemilik aslinya karena dia akan hidup dengan identitas pemilik asli dari tubuh itu, dia pun bertanggung jawab atas semua yang telah dilakukan oleh pemilik asli dari tubuhnya itu.
"Alvin sayang, Mama memang salah. Mama tidak bersikap baik di masa lalu kan? Itu karena kepala Mama tidak sehat. Tapi saat Mama terluka, kepala Mama mulai bekerja kembali dengan baik. Mama tahu kalau Mama salah dan Mama akan berubah. Mama pasti akan mencintai dan menyayangi Alvin mulai sekarang dan memperlakukan Papa dengan baik juga. Alvin bisa mengawasi Mama, oke." Ucap Tiara.
Tiara memperhatikan tubuh Alvin menegang saat dia mengerucutkan bibirnya ketika Tiara mengatakan semuanya. Dia lalu membungkuk dan mencium kening Alvin. Dia memastikan Alvin sudah mengenakan selimut dengan baik sebelum pergi.
Sebelum dia menutup pintu kamar Alvin, dia kembali berkata kepada Alvin.
"Alvin sayang, Mama akan tidur sekarang."
Pria kecil itu tetap diam. Tiara tersenyum dan menutup pintu kamar Alvin dengan perlahan.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Siti Mujimah
namanya anak kecil ..dia lebih perasa dan paling tau mn yg benar2 sayang dengan tulus
2024-01-09
1
Nenk NOER
Lanjut Thor..
2023-07-16
0