KEPARAT KAU ARYA!!
Tulisan dengan darah itu terpatri di dinding depan kami, dengan jasad yang sudah tak bernyawa tepat di bawahnya, di atas kursi roda,dengan pergelangan tangan teriris.
Jelas kami heboh.
Polisi tidak ada.
Sengaja tidak diberitahu mungkin, karena ada nama Raden Arya di sana. Pihak keluarga ragu, apabila polisi dihubungi dan Raden Arya dijadikan tersangka atau bahkan terkena masalah, sementara dia sebagai pewaris yang sah dan satu-satunya orang yang memegang kasta tertinggi di keluarga Ranggasadono, maka akan berdampak pada harta yang akan diterima sebagai kompensasi pernikahan kami. Aku dan Ariel.
Ibuku gemetaran memeluk lenganku, ia menyembunyikan wajahnya di punggungku.
“B-b-beneran mati, Nduk?” tanyanya bergetar.
“Ada yang sudah periksa? Kalau masih hidup masih bisa dibawa ke-“
Tapi Pakde Suyat menggeleng, “Tidak usah,” bisiknya. Dia sebagai anak kedua Ranggasadono malah menggeleng. Kakak kandungnya bersimbah darah di depannya, dan dia bahkan mencegah kami untuk berbuat lebih jauh. Seperti menyelamatkan Pakde Sasongko atau mengambil pertolongan pertama pun tidak dilakukannya. Bude Nimas, Anak Ketiga Mbah Rangga juga menggeleng, “Biar anaknya saja yang memeriksa.”
“Anaknya?”
“Ini penting, kita jangan ikut-ikutan. Saya kurang mengerti masalahnya. Kami sudah menghubungi Felix, dan dia dalam perjalanan kemari. Kami tidak tahu nomor Raden Arya-“
“Dia dalam perjalanan ke sini.” Kataku.
“Dari mana kamu tahu?”
“Dia sedang bersamaku dan Ariel tadi. Kami beda transportasi, tapi berangkat berbarengan.” kataku.
Pakde Suyat dengan khawatir menatap Bude Nimas.
“Kalau kami boleh terus terang, Ariel,” ia menghadap ke arahku, “Tidak ada di antara kami yang tahu seperti apa sosok Raden Aryaguna. Kecuali Mbah Rangga dan Pakde Sasongko. Mungkin pengacara juga tahu. Tapi tidak ada di antara kami yang tahu, jangan sampai kalian dibohongi orang yang mengaku-ngaku.”
Aku tersenyum memaklumi.
“Ya, saya mengerti kenapa dia sembunyi Pakde. Tapi Identitasnya Valid, Keterangan dari penjara juga valid, saya pernah mencarinya dulu dan memang sulit sekali kalau tidak ada keterangan dari Pakde Sasongko. Saya dulu menemuinya untuk membantu seseorang mencari pekerjaan.” Kataku.
“Aaaah ya, kamu pernah bilang itu,” kata Pakde Suyat, “Mengenai sosok Raden Arya yang kata kamu seram.”
Aku mengangguk.
“Seingat Pakde, dia tidak seseram itu. Tapi memang tinggi besar.” Kata Pakde Suyat.
“Sekarang seram Pakde, kan tahu kehidupan di penjara seperti apa,”
Di tengah kasak-kusuk itu, sepupuku datang dengan mobil mewahnya. Felix dan Hector Ranggasadono. Keduanya pengusaha besar dan termasuk ke dalam 12 Naga. Kumpulan pengusaha muda yang dijadikan acuan perekonomian negara ini. Aku sudah duduk saja di salah satu sofa dengan mata menerawang saat mereka datang.
Felix berlutut dan mencubit pipiku, “Hey, Bu Guru. Masih sadar kan ya? Nggak kena sawan kan??”
“Apa sih kamu?!” omelku sambil menepis tangannya..
“Jangan bengong, Belum 40 hari, hehe,” kekeh Felix. "Arwah penuh dendamnya masih berkeliaran di sekitar sini, kehehehehe"
“Aku bukan penggemar mistis. Kenapa kalian malah senang ada yang meninggal loh ini, Pakde kita sendiri!” sahutku.
“Aku lebih merasa sedih saat Mbah Rangga yang meninggal daripada Pakde,”
“Jadi kamu sudah dengar rumor itu, yang tentang Raden Arya,” gumamku pelan.
“Rata-rata pengusaha tahu. Aku tahu cerita yang sebenanrya saat aku menapaki karier ni. Ya Tor?” Felix menoleh ke arah Hector yang sedang menatap licik ke arah kamar Pakde Sasongko.
Hector mengangguk, “Tau-tau mayatnya hidup lagi terus teriak, ini Praaaaank hehehe,”
“Saat itu apa yang akan kamu lakukan?”
“Tembak mati biar beneran, khehehehehe!”
Dan mereka berdua terkekeh. Ternyata banyak juga yang tidak suka sama Pakde Sasongko.
“Jadi fix ya, pewaris berikutnya selain Raden Arya, ya Ariel Clodio.” Kata Felix. “Perlu pengacara nggak, Ariel?” ia menatapku dengan senyum bersemangat.
“Kenapa aku?” gerutuku.
“Kamu istrinya. Jadi istri orang kaya tidak semudah itu. Chyntia harus menggunakan beberapa bodyguard saat shopping dengan anakku karena ada beberapa penguntit.”
“Aku ingin segera bercerai saja,” gerutuku. “Semua ini kan dirancang agar Pakde Sasongko tidak ambil saham itu. Dia sudah meninggal, sudah tidak perlu ikatan lagi kaaaaaan??”
“Yah, aku juga butuh trainer sih, jadi kuharap kamu segera ambil degree kamu di Inggris agar cepat masuk Garnet.”
“Aku baru bekerja selama dua tahun di Bhakti Putra, Felix, belum cukup untuk CV ke Garnet! Kamu bilang minimal pengalaman kerja sebagai tenaga pengajar 3 tahun, dan memiliki jurnal penelitian lebih diutamakan. Kamu minta title dari Inggris, Astaga!” omelku.
Felix malah terbahak, tawanya menyebalkan!
“Biarkan aku dengan kehidupanku yang menyedihkan!” omelku lagi sambil nguyek-nguyek pipi Felix.
“Butuh apa dari kami?” tanya Hector.
“Sebisa mungkin aku tidak mengemis ke kalian,”
“Kamu tidak mengemis, kami yang menawarkan bantuan.” Kata Hector.
“Kalau begitu, tolong ubah ketentuan manajemen Trainee Garnet Bank,”
“Tidak bisa, nanti pesaingmu banyak.” Kata Felix cepat. “Aku sengaja menambah-nambah klasifikasi agar yang melamar sedikit.”
“Gimana sih?!” dengusku sebal.
Selang berapa menit kemudian, ada mobil Jeep besar masuk ke parkiran. Beberapa orang seram-seram keluar dari mobil, termasuk Baron.
Ariel dari kejauhan menghampiriku, “Dia pakai kamuflase, hebat juga.” katanya. Aku memiringkan kepalaku karena sedang berpikir.
Seseorang yang tidak kukenal menghampiri Felix dan Hector. Gaya rambut skinhead, beberapa tindik, tatto sampai leher, dan saat menyeringai terlihat kalau giginya dipangkas sampai menyerupai vampir, dengan taring agak panjang. Mungkin kosmetik gigi yang memakai resin.
Felix menjabat tangan pria itu , “Apa kabar? Malware yang kemarin lancar?”
“Sudah diusut sampai ke Deepweb. Sejauh ini aman.” Desis pria itu.
Hector mungkin melihatku yang kebingungan, “Itu Ivander dari Praba Grup, eksekutor juga.”
Aku melihat raut wajah Pakde Suyat, ia tampak mengamati Ivander dengan takjud, Bisa jadi ia menyangka Ivander adalah Raden Arya.
Lalu Baron masuk ke rumah, tapi tidak menyapa semuanya. Ia berjalan langsung ke dalam kamar Pakde Sasongko sambil memakai sarung tangan karetnya, di belakangnya ada pemuda yang saat kami di gedung juga melongok masuk ke dalam, pemuda yang berwajah campuran Turki-Korea.
Kali ini menyapa Felix dan Hector dengan mengangguk dan tersenyum sekilas.
“Itu Artemis dari Arghading,” kata Hector padaku.
Itu Ivander, yang ini Artemis. Nama yang cukup unik. Mungkin seperti Baron, bukan nama asli?
Lalu ada satu lagi pria yang hampir mirip seperti Baron, tapi bukan Baron. Tampak lebih muda dengan gayanya yang petantang-petenteng mirip Ariel.
“Bro bantuin lah!” serunya ke Ivander.
“Gue ngopi aja di sini, investigasi urusan lu!”
Hector lagi-lagi mencondongkan tubuh padaku, “Itu Griffin dari Arghading.” bisiknya
Griffin? Fix bukan nama asli.
Aku langsung tahu kalau sama seperti Baron, mereka ini mantan kriminal yang tidak ingin identitas aslinya diketahui banyak orang. Baron sengaja membawa semua orang-orang yang setipe dengan gayanya, agar semakin mengaburkan sosoknya. Kini semua orang di sana bertanya-tanya yang mana Raden Arya.
Bisa jadi mereka menyangka Ivander yang berdiri di sebelah Felix adalah Raden Arya.
Pak Johan dan Pak Abel, Sang Pengacara, masuk ke dalam TKP dengan terburu-buru.
Yang Bernama Artemis keluar dan menghampiri Felix.
“Meninggal karena kehabisan darah. Semua limpahan di pengacara. Baron masih berdiskusi dengan mereka.” Kata Artemis.
Pakde Suyat dan Bude Nimas menghampiri Felix. “Anuuu, Bagaimana ini? Apa keputusannya?”
Felix dituakan di Ranggasadono di antara cucu Mbah Rangga karena termasuk yang paling berhasil berkarier. Ia juga salah satu yang menolak warisan. Hector dan Beberapa dari Rejoprastowo juga begitu. Para pengusaha dan pejabat yang hartanya Ratusan Miliar, tidak terpengaruh warisan berdarah yang cara menggapainya dengan menindas orang lain.
Artemis dan Ivander masuk ke dalam TKP.
“Raden Arya dan Pengacara sedang berdiskusi di dalam.”
“Raden Arya itu yang mana? Yang tadi di sini dengan kalian?” tanya Pakde Suyat.
Tapi Felix dan Hector hanya tersenyum tipis, tidak menjawab.
Pakde Suyat menatapku.
Aku jawab, “Salah satunya, Pakde.”
“Yang Mana?”
“Masa keponakan sendiri nggak kenal sih Pakde?” tanyaku balik. Pakde SUyat mencibir sebal padaku.
Suasana saat itu cukup tegang.
Banyu Rejoprastowo menghampiri kami dengan santai, lalu menepuk-nepuk bahu Ariel yang dari tadi merokok di depan jendela.
“Gimana kehidupan pernikahan?” tanya Om Banyu.
“Yaaaah, Anggun tahu lah rasanya, hehe,” jawab Ariel. Lalu ia mengerling padaku.
Aku langsung buang muka.
Lalu Om Banyu beralih ke Felix danHector. “Kalau sudah begini ketentuan perusahaan bisa jadi berubah ya?”
Hector mengangguk tipis, “Katanya Pakde Sasongko masih berharap ia kebagian saham, kemarin ia menemui pengacara. Dan setelah itu muncul kejadian ini.”
“Raden Arya sudah merancang agar Bapaknya tidak bisa memiliki semuanya. Walau pun ia mencelakai Dua Ariel, tetap saja ia tidak bisa memiliki semua,”
“Ada klausula kalau Dua Ariel terkena force major atau keduanya meninggal dunia, seluruh harta atas nama Raden Aryaguna dilimpahkan ke Praba Grup sebagai aset perusahaan, dengan kata lain Topaz Kencana RR akan dilebur ke Kantor Pusatnya. Hahaha cerdik sekali.” Kata Om Banyu.
“Itu cuma 500 miliar, tidak seberapa,” gumam Felix.
Kami semua menatapnya sinis.
“Apa?” tantangnya, “Perceraianku dengan mantan istri menghabiskan dana lebih dari 1 triliun, akunya slow aja tuh!”
“Kita Shalawat Nabi Yuk!” seru Ariel sambil cengengesan.
Om Banyu menunjuk Ariel pertanda setuju sambil menadahkan tangan dan meraup wajahnya.
“Aku dapat 120 miliar dengan korban mental putriku, Anggun.” Desis Om Banyu, “Syukurlah semua berakhir baik.”
Kami semua terdiam sambil menatap ke arah kamar Pakde Sasongko.
Setelah ini, mungkin ini terakhir kalinya kami berkunjung ke rumah ini. Kampung halaman kami semua.
Yang ada di sini hanya pengalaman buruk, berbagai keanehan, klenik, harta yang bersimbah darah, pengkhianatan.
Keluarga ini, Ranggasadono - Rejoprastowo, dibangun dengan darah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Mei Saroha
kakak othorrr... bacaanmu apa sih, koq bs keren giniii... 👍
2024-12-01
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
😒😒😒😒😒😒
2024-08-29
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Bude Nimas ibunya Andra yaaa
2024-08-29
0