Davina

“Passcodenya ada Mbak?” seorang sekuriti menghentikanku yang akan masuk ke dalam.

“Nggak bisa beli saja dengan tunai Pak?”

“Kami sistem booking Mbak, jadi Mbaknya beli dulu di aplikasi tiket, karena kapasitas di dalam terbatas.”

Jelas ini club eksklusiv, tidak semua orang bisa masuk, tapi Ariel yang belum 21 bisa masuk dengan mudah.

“Pak, tadi saya melihat murid-“

“Dia sama gue,” desis Ariel yang langsung muncul di sebelah sekuriti.

“Oh, sama Mas Ariel toh,” desis Pak Sekuriti sambil menyeringai.

Ariel men-tab layar ponselnya dan menarikku masuk.

“Jangan bilang ‘murid’ dong, Bu Guru. Nanti umurku ketahuan...” desis Ariel sambil merangkul bahuku dan berbisik di dekat telingaku. “Untung kekejar tepat wakktu,” desisnya lagi.

“Gimana caranya kamu bisa masuk ke club dewasa?!” tanyaku kesal sekaligus penasaran.

“Nanyanya nggak penting amat deh, Bu,” aku mendengar Ariel sedikit mengeluh, tapi di bibirnya tersungging senyum licik seakan bilang ‘aku hebat kaaan?!’ begitu. Padahal menurutku tindakannya sama sekali tidak hebat. Malah akan berdampak ke semua aspek. Dia ini masih pelajar. Kalau terjadi sesuatu, yang direpotkan adalah orang tua, sekolah, dan tentu saja masa depannya sendiri.

Pernah kan mendengar stigma negatif orang terhadap salah satu sekolah. Padahal yang berbuat oknum macam Ariel, hanya satu orang, tapi yang kena imbas seluruh siswa di sana. Seperti MSA X sarang tawuran, SMA Y sarang Preman, SMA U sarang narkoba, SMA T tempatnya cabe-cabean berkeliaran nyari Daddy.

Kami jelas tidak ingin hal itu terjadi di SMA Bhakti Putra!

“Dengerin aku!” Aku menekannya ke pilar, “Kalau kamu mau nakal, pindah sekolah saja sana! Aku masih mau bekerja di Bhakti Putra! Kami semua bekerja setulus hati setiap hari banting tulang, bisa hancur semua karena sikap egois kamu yang tidak bertanggung-jawab!”

AKuy melihat Ariel menaikkan sebelah alisnya saat menatapku, mulutnya cemberut.

“Kamu kenapa? Lagi PMS? Nggak jadi hamil dong?”

Dia malah ngomong begitu.

“Ariel! Serius dong!”

“Hey, dengar...” tangan Ariel sudah di rahangku, menekan kepalaku supaya menatapnya. “Kalian tenaga pengajar dari pukul 7 pagi sampai 15. Di luar itu, kelakuan kami sudah bukan tanggung jawab kalian. Aku nggak pakai seragam ya kesini. Aku hanya ingin bersenang-senang. Gue pingin seneng-seneng, tuh kalimat slangnya. Nggak usah sok prefeksionis jadi guru, kecuali dari setiap siswa yang dapet rangking kamu kebagian cuan,”

“Kami bukan budak korporat, nggak gitu cara kerjanya!”

Ariel melambaikan tangannya di depan hidungku, “Kamu ngapain di sini? Nggak nurut sama suami heh? Aku bilang kan batalkan semua janji! Malah pacaran...”

“Kamu sendiri? Selingkuh? Sama berapa cewek? Mau ngapain di sini? Bertani?” aku membalas kalimatnya.

Lalu dia terdiam, tidak membalasku.

Ia hanya menatapku.

Tapi manik matanya berkilat.

Dan yang paling mengerikan adalah aksi berikutnya...

Ia menjilat bibirnya sendiri.

“Benar juga... daripada sama orang lain, mending sama istri sendiri ya. Oke!! SInikamu!”

Dan ia menggeretku masuk ke ruangan VIP.

Aku  meronta sekuat tenaga.

Aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Sialan! Aku di tengah kondisi sedang berkencan dengan Arka.

Sampai di dalam, kuraih botol air mineral kaca, dan kupukulkan ke kepalanya.

PRANG!!

Ia menatapku sambil terperangah.

“Kamu ... barusan ingin membunuhku?”

“IYA! Awas saja kalau maju lagi!” seruku ketakutan.

Aku benar-benar merasa seperti sedang diincar binatang buas!

Tapi aku pun diam, saat darah mengalir dari pelipisnya.

“Berdarah nih Bu Ariel...” gerutunya sambil menatapku.

Astaga... aku keterlaluan kali ini! Aku reflek memukulnya! Kupikir tidak akan sesakit itu!

“Balik badan,” aku bisa mendengar suara geraman darinya.

“Ariel...” aku mundur.

Ia mengusap keningnya yang berdarah.

“Balik badan sebelum aku ngamuk...” desisnya sambil mengambil tisue dari atas meja dan melap darah yang menetes dari keningnya.

“Kamu mau apa?” pertanyaan bodoh dariku, kami berdua tahu dia mau ‘itu’. Tadi sudah dijelaskannya dengan sangat gamblang.

“Apa aku perlu berlutut untuk sekedar meminta pelukan dari istriku?”

“Istri-istri-istri, plis deh Ariel! Kalau memang mau ‘itu’ dariku, Beri dulu aku nafkah!”

“Mau berapa?”

Dia malah menantangku?!

Aku hanya bisa diam.

Kenapa aku malah jadi merasa seperti pela cur begini?

“Kenapa diam?” ia maju dan menatapku dengan senyum sinisnya.

“Aku sedang tidak ingin berdebat, kamu keluar dari sini, kita pulang. Aku nggak suka bercinta di tempat seperti ini,”

“Kita pulang, langsung ke rumahku. Mengerti?” desis Ariel sambil sekali lagi mencengkeram rahangku. Aku menepis tangannya.

“Ke rumah sakit dul-“

“Nggak! Langsung ke rumah!” serunya sambil kembali menggiringku keluar dari sana.

“Se-setidaknya biarkan aku berpamitan dengan Arka!”

“Yang cepet! Sekalian pamitan sama ibumu, bilang kamu nggak pulang malam ini, Menginap di rumahku,” katanya sambil meminta semacam waslap dari bartender. Sepertinya sudah sering perkelahian terjadi di sana, karena bartender sudah siap menyediakan kotak P3K, kain kasa dan antiseptik saat Ariel meminta.

Di luar,

Ariel mengikutiku sambil menempelkan kain di kepala sebelah kanannya. AKu menghampiri Arka yang sedang sibuk dengan laptopnya.

Ia tampak menatapku dengan kaget, dan lebih kaget lagi saat melihat Ariel mengikutiku.

“Apa yang-“

“Arieeeel!!”

Seseorang berlari menghampiri Ariel dan langsung memeluknya.

Bukan itu saja, cewek berpakaian mini itu langsung mencium bibir Ariel dengan bernaf su, di depan kami semua. Sungguh tindakan yang tidak tahu malu! Hey! Ini negara Timur!

Heh, tunggu...

Aku memicingkan mata.

Perasan aku kenal cewek ini...

“Davina?”

Cewek itu langsung melepaskan bibir Ariel dan menoleh menatapku.

Ia mendorong Ariel seketika, “Bu-bu-bu Ariel? Kok... di sini?”

“Saya lagi date,” aku menunjuk Arka.

Davina dan Arka saling menatap, lalu semua melihat ke arah Ariel.

Davina langsung bersembunyi di punggung Ariel. ”Anuuu, ini cuma kesalahpahaman bu,” desis Davina.

“Kesalahpahaman?” tanyaku sarkas, “Tolong jelaskan ke saya yang logis ya Davina, kesalahpahaman-nya seperti apa?! Mata saya nggak merem waktu kamu mencium bibir Ariel di depan umum!”

“Jangan bilang Ayah saya...”

“Bagaimana bisa Davina!?” suaraku meninggi. Astaga... Davina ini sehari-harinya kalem dan lembut, ia bintang sekolah dan usianya baru 17 tahun! Orang tuanya bersahaja dan seorang motivator.

“Bu, tolong jangan bilang ayah saya, saya bisa di-“ Davina diam.

“Di- apa? Kamu bisa di-apain?!” aku tak sabar.

“Masa ibu nggak tahu sih? Digebukin, disiksa, sampai bisa jadi dia diasingkan ke pesantren atas gunung! Jauh dari peradaban.” Kata Ariel melengkapi kalimat Davina. Davina hanya menggoyang-goyangkan lengan Ariel. Dia memberi kode supaya Ariel tidak meneruskan kalimatnya.

Bukannya aku tidak tahu seperti apa di balik perangai orangtua Davina yang tampak bersahaja itu, aku pun merasakan suatu tekanan yang tak kentara saat mereka mengambil laporan nilai ke sekolah. Tapi, kalau memiliki anak seperti Davina, aku malah merasa wajar saja orang tuanya bersikap begitu. Karena aku juga akan begitu.

“Sudah tahu orang tua kamu begitu adatnya, kenapa kamu tidak bersabar untuk ‘jadi gila’ saat kamu memiliki penghasilan sendiri, Vina?! Setelah itu mau kabur ke mana pun, se-sinting apa pun tak ada yang bisa mencegahmu!” seruku kesal.

Tampak bola mata Davina menatap ke atas, sepertinya dia langsung memikirkan kalimatku. Aku yang langsung sadar, gila juga aku ini seorang guru! Masa aku menganjurkan sesuatu yang bernada ‘melawan orang tua’ kepada siswiku?! Ini karena aku sudah keburu emosi...

“Ini hanya pelampiasan saya karena hidup saya di rumah kacau-balau,”

“Dengan mencium cowok yang pacarnya banyak? Jangan-jangan kalian juga-“ aku langsung memijat kepalaku. Tidak kuteruskan kalimat yang nantinya malah akan jadi boomerang ke diriku sendiri.

“Bu Ariel, tolonglah...” kurasakan Davina menarik-narik ujung lenganku. “Saya masih harus memenangkan olimpiade matematika Se-Jabodetabek. Juga masih harus meraih intermediate di sertifikat Bahasa Inggris. Saya sudah sering melakukan ini kok bu, tidak akan berdampak pada sekolah,” bisik Davina.

Apa yang dia maksud dengan ‘melakukan ini’?!

Kurasa, kuminta dia menjauhi Ariel si sableng saja tidak akan mempan.

“Saya akan tutup mulut kali ini, awas kamu begini lagi,” ancamku.

Ya pasti dia akan begini lagi. Lagi dan lagi. Tapi aku bisa apa? Gairah muda anak-anak ini terlalu kelewatan.

Terpopuler

Comments

🏘⃝Aⁿᵘȋ⏤͟͟͞R𒈒⃟ʟʙᴄ🍒⃞⃟🦅

🏘⃝Aⁿᵘȋ⏤͟͟͞R𒈒⃟ʟʙᴄ🍒⃞⃟🦅

ya di manapun tempatnya sama seperti itu, satu oknum berulah satu instansi kena imbasnya, dan imbasnya ga cuma satu dua hari bisa tahunan

2023-08-20

0

Shi Dia

Shi Dia

gue seumur lan davina udah biasa kerja nyambi jualan di pasar malam, emak gue Janda anaknya 3......

2023-08-07

0

cha

cha

confuse kalau Ariel dan Ariel udah satu frame...apalagi kalau terlibat percakapan dengan orang ketiga aduh panggilan nya sama lagi

2023-08-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!