“Aku cerita ke kalian, karena kalian juga korban. Sama sepertiku. Aku dipenjara 9 tahun gara-gara hal itu. Tapi yang kubunuh memang banyak sih.”
“Jangan pakai ‘sih’ dong, kamu menganggap nyawa manusia seperti tikus.”
“Per individunya juga pembunuh, dan rata-rata korbannya random, orang tak bersalah, anak-anak, perempuan, orang yang lagi enak-enak jalan di trotoar mereka bunuh, mereka aniaya...”
“Oke.” Desisku langsung sambil menunduk
“Baiklah Pak,” gumam Ariel langsung sambil -sama sepertiku- menunduk juga.
“Kami para eksekutor ini, algojo kali ya lebih tepatnya, dibayar mahal untuk memusnahkan penyakit, dengan cara yang tidak terdeteksi. Jadi kalian jangan coba-coba bilang ke publik kalau kenal kami ya.”
“Siap, Boss...” gumam aku dan Ariel berbarengan.
“Dan yang aku ketahui, di saat terakhir itu, penculikan itu dirancang untuk mengetahui seberapa besar sebenarnya uang yang dimiliki Mbah Rangga, karena saat itu dia bahkan tidak menunjukkan berapa besar warisan ke anak-anaknya. Saat muncul permintaan tebusan atas nyawa bapakku, Mbah Rangga tidak bisa membayarnya, karena memang tidak punya uang itu. Aku waktu itu panik dan kubilang akan kudatangi mereka. Niatnya ingin menyelamatkan bapak, tapi... Ternyata malah dia dalangnya.”
“Jadi, gara-gara penculikan Pakde Sasongko itu, kalian jadi tahu berapa harta yang dimiliki Mbah Rangga dan Mbah Rejo.” Ucapku.
“Betul,” jawab Baron.
“Berapa?” tanyaku.
“Nol.”
“Hah?”
“Nol rupiah dan Nol gram.”
“Astaga... kami dibohongi?”
“Tidak juga. Itu sebabnya aku bebas lebih cepat. Tuntutanku 25 tahun masa tahanan loh. 9 tahun sudah dibebaskan, tuntutan dicabut untuk mengurus keuangan keluarga.”
“Bagaimana caranya??” tanya Ariel antusias. Kenapa dia jadi penasaran?
“Memang kau dipenjara karena apa sih sampai 25 tahun?!” tanyaku
“Aku membunuh 6 orang penculik yang katanya semuanya satu keluarga. Lalu karena kesal dengan kenyataan yang terjadi, aku menembak kedua kaki Bapakku. Makanya aku diusir dari keluarga dan dipenjara. Tapi Mbah Rangga masih sering menghubungiku.”
“Woh...” desis kami.
“Rumornya macam-macam loh.” kata Ariel. Aku mengangguk juga.
“Biar saja tak usah disangga. Pura-pura saja tidak tahu daripada runyam. Bapakku sampai sekarang benci aku,”
“Dia berusaha membela kamu saat Mbah Rangga meninggal.”
“Jangan digubris, itu hanya untuk menarik simpati.”
“Baron, kami sudah cukup shock karena tidak bisa bercerai sampai 3 tahun mendatang atau semua warisan di berikan padamu. Jumlah per kepala keluarga itu 10 miliar loh. Itu jumlah yang cukup sampai 7 generasi, kalau didepositokan, Baron! Aku bisa ambil gelarku di Inggris dan Ariel bisa menikah bolak-balik dengan wanita yang dia inginkan setelah ada uang itu. Tapi tolonglah! Apa tidak bisa waktunya dipersingkat saja jadi 1 tahun atau bagaimana begitu?!” semburku.
Baron malah tertawa.
“Yang Claudia maksud, tolong jangan menambah-nambah masalah, Baron. Dah itu aja sebenarnya.” Sahut Ariel.
“Claudia?”
“Itu panggilanku untuknya, karena pembaca suka bingung antara Ariel yang suami atau Ariel yang istri. Makanya dibuat POV satu,”
“Tante Author curhat lagi ya? Kasihan kamu.”
“Kenapa harus tiga tahun mendatang, Baron?” tanyaku.
“Karena Ariel masih SMA. Saat ini sudah kelas 12 ya? Jadi sudah mau lulus dong?”
“5 bulan lagi semester genap akan berakhir, kalau dia bisa menjaga sikap.” Desisku.
“Begini Claudia, ada tiga hal kenapa harus tiga tahun,” Baron mencondongkan tubuhnya pada kami.
“Pertama, Dalam akta perusahaan yang kudirikan, pemegang saham adalah WNI berusia minimal 17 tahun dan maksimal 77 tahun. Usia Bapakku saat ini 75 tahun. Aku berusaha agar dia tidak mendapatkan semua saham. Karena usianya sudah mepet."
“Kedua, untuk menjadi CEO, pelamar harus menempuh pendidikan minimal S1. Jadi aku menunggu Ariel untuk menyelesaikan kuliahnya.”
“Ketiga, agar bapakku tidak ikut campur dan membunuhku, aku menginvestasikan semua hartaku ke saham di Garnet Bank yang devidennya baru bisa dicairkan seluruhnya 3 tahun dari sekarang. Kenapa? Karena kusesuaikan dengan usia dan kapasitas Ariel.”
Aku dan Ariel hanya bisa diam saja.
Aku tercengang sekaligus tak terlalu mengerti Baron bicara apa, yang jelas kutangkap, sebenarnya Baron lah Kepala Keluarga sebenarnya dari keluarga Ranggasadono. Dan Bukannya Mbah Rangga atau pun Mbah Rejo.
“Kalian mau tahu dari mana aku mendapatkan harta sebanyak itu dan kenapa aku berniat melepasnya?”
Kami berdua mengangguk.
“Dari penjara. Ada gembong Narkoba besar, dia bekerjasama dengan mafia Italy, Sisilia tepatnya. Bahasa Italyku lumayan bagus jadi kami sering mengobrol. Dia sebentar lagi mau dihukum mati. Dia bilang dia menyimpan emas dalam jumlah besar di suatu desa. Aku boleh memiliki semuanya, dengan syarat menjamin kedua anaknya untuk hidup layak.”
“Lalu, Mbah Rangga menjengukku keesokan harinya. Dari semua anggota keluargaku, satu-satunya yang menjengukku di penjara hanya dia seorang. Kuceritakan padanya, aku punya emas. Dan akhirnya dia bilang ke Bapakku. Bapakku akhirnya membatalkan tuntutan, berharap aku membaginya harta itu.”
“Lalu?” tanyaku.
“Cuma kubagi sedikit. Sepertinya sekarang sudah habis tuh. Dan aku kabur, dan kerja dengan Bossku sampai sekarang sambil berinvestasi, hehehe.”
“Berapa jumlah hartanya?” tanyaku.
“400 kg emas batangan.”
“An jeeeeeeng!!” seru Ariel. Itu makian andalannya.
“Dia Mafia Sisilia. Emas seberat itu termasuk standar di kalangan mereka. Ku jual ke penadah sedikit-sedikit, kudirikan perusahaan. Emasnya jadi saham. Sahamnya beranak, Kini jumlahnya mencapai sekitar 500 miliar. Masalahnya... aku tidak boleh muncul di publik atau hidupku terancam. Jadi aku berniat memberikan semuanya ke penerusku. Kutanya Mbah Rejo, dan dia menunjukmu. Ariel Clodio.”
Aku rasanya pusing.
“Jadi pernikahan kami... bertujuan agar harta itu tetap menjaga silaturahmi antara Rangga-Rejo? Makanya kami dinikahkan?”
“Betul.” Jawab Baron
“Karena kalau sudah Pakde Sasongko yang turun tangan, pasti akan dikuasai sendiri?”
“Betul.” Baron menyeringai.
“Dia tahu hal ini?”
“Mungkin tahu. Tapi dia tidak punya kesempatan, syaratnya sangat jelas. Deviden baru bisa dibagikan ke pemegang saham 3 tahun lagi. Atas Nama PT. Topaz Kencana RR. Saham atas namaku pribadi, yang mana hal itu berbahaya sebenarnya, public tidak boleh tahu ada namaku di sana. Wajahku bisa ketahuan. Jadi sebelum saham itu beredar, aku harus melepas kepemilikan. Aku menunjuk Ariel sesuai amanah Alm. Mbah Rejo.”
Sebagai Guru Ekonomi, aku bahkan tidak tahu ketentuan semacam ini.
Sungguh, aku harus banyak belajar.
**
Kami berjalan ke arah lift, didampingi Baron yang berjalan sambil memeriksa senjatanya. Ia menyelipkan di pinggangnya lalu menyulut rokoknya.
Aku bahkan sudah tidak deg-degan melihat pistol beneran di depan mataku. Kepalaku sakit.
“Maaf ya, membuat kalian susah demi keegoisanku. Nyawaku sangat terancam soalnya kalau sampai publik tahu. Pemerintah pasti akan cari tahu mengenai pemilik modal.” Kata Baron.
“Apakah tidak apa-apa memberikan semua kepada kami? Kalau pernikahan ini ketahuan, aku juga akan dikeluarkan dari sekolah.” kata Ariel.
“Kalau itu terjadi, segera ambil paket C. Felix Ranggasadono punya Yayasan pendidikan yang mengurusi PKBM. Langsung kamu ambil Paket C, nanti dibantu.”
Ariel mengangguk.
Aku pun putus asa.
Bagaimana dengan pernikahan impianku?
Aku harus segera memberitahu Arka...
"Ariel, Claudia. Kuberitahu ya. selama kalian belum dapat semuanya, jangan bercerai. Kalian mewakili masing-masing keluarga besar. Kalau terjadi perceraian, yang berhak atas saham itu adalah Claudia sebagai Keluarga Ranggasadono, karena aku Ranggasadono juga. Padahal di sana ada Bapakku. Nyawa kamu bisa terancam Claudia, dan pertikaian dua keluarga dipastikan akan terjadi. Nggak mau perang saudara karena harta kan?!"
"Makanya... setengahnya kamu bagi-bagi? 10 miliar perkepala keluarga?"aku rasanya lemas.
"Ya, agar beban Ariel sebagai CEO berkurang. Setelah dibagi-bagi porsinya jadi sedikit."
"Hm..."
Kami mengambil ponsel kami di operator depan lift.
Ada 15 kali missed call dari ibuku.
Kenapa banyak sekali?!
Dan kemudian ponsel Ariel berdering.
Di saat yang bersamaan, ponselku juga berdering.
Kuangkat ponselku.
Dan ibuku berbicara sambil panik.
"Nak, ada kabar dari kampung! Pakde Sasongko meninggal! Bunuh diri katanya!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Inalillahi ..
kenapa bunuh dirii
2024-08-29
0
Naftali Hanania
waduhhh...bunuh diri....😱😱...apa iya 🤔😱
2024-02-11
0
Naftali Hanania
buat sendiri mumet dewe ya thor..😁✌️
2024-02-11
0