“Aku lagi meeting sama Boss,” begitu jawaban Arka malam itu.
Setelah kukirim WA tadi malam saat aku makan di restoran Korea, baru dibalas jam 12 tengah malam.
Meeting?
Di Hari Jumat sampai tengah malam?
Tapi dia bekerja di bagian Treasury yang mengurusi saham perusahaan. Hari Jumat memang biasanya closing. Tapi ini kan tengah bulan?
Duh, Ariel Claudia... hilangkan pikiran burukmu! Aku memarahi diriku sendiri. Yang penting dia sudah balas WA jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Besok mau lunch bareng di Mall yang baru?” tawarku.
Aku begitu merindukannya.
“Besok aku mau istirahat di rumah seharian. Hari Minggu saja ya?” begitu balasan dari Arka.
Bersabar sehari lagi.
Baiklah...
Tapi sebelum ada Ariel di hidupku, perangai Arka sudah lebih dulu berubah. Saat kuajak ke pameran wedding dia lebih memilih menghindar. Jadi aku yang ke pameran sendirian. Bahkan aku yang memilih sendirian, aku bahkan membeli cincin pernikahan sendirian, dia tinggal transfer uangnya. Kami hanya bertemu sekali seminggu, WA sudah mulai jarang dibalas.
Alasannya sibuk.
Yang jelas perlakuannya padaku sangat berbeda dengan 6 tahun yang lalu.
Apakah masa itu terlalu lama untuk seseorang berpacaran? Apakah kami seharusnya menikah lebih cepat?
Waktu itu ibuku memang menyarankan agar aku menikah lebih cepat, tapi Arka belum mau, katanya dia tidak pe-de mempersuntingku karena belum memiliki pekerjaan.
Samar-samar kudengar suara motor dari ujung jalan.
Aku menghela nafas. Suara mesin menggerung yang kukenal.
Lagi-lagi dia...
Deru motornya berhenti di depan pagarku. Aku tidak membuka gordenku karena malas lagi rebahan.
Dua detik kemudian ada WA darinya.
“Kangen, bukain gerbang.”
“Aku lagi haid!” kubalas begitu. Aku sudah tahu dia datang karena mau ngapain, kuharap dengan keadaanku yang sedang datang bulan, dia bisa segera pergi.
“Yah, dedenya nggak jadi ya?” balasnya.
Sialan...
“Padahal udah kusiapin nama.” dia mengirimkan WA lagi padaku.
“Jangan aneh-aneh kamu.” Balasku. “Jangan coba-coba kamu kasih nama Ariel Junior, atau Ariel 1 – 2 – 3 atau Ariel A, B,C! Awas kamu,”
“Namanya Cahaya. Bisa untuk laki-laki bisa perempuan.” Balas Ariel.
Aku diam sebentar.
Nama yang indah.
Tapi terlalu indah untuk hubungan kami berdua yang suram dan tanpa masa depan.
“Setelah haid aku mau pasang KB, biar tidak kau hamili.”
“Kita harus bicara dengan lebih serius mengenai hal ini. Buka dong gerbangnya, dingin nih di luar...”
Ternyata alasanku sedang haid tidak menyurutkan niatnya untuk bermalam di kamarku.
“Kamu pulang saja sana, aku lagi badmood!” desisku.
Aku pun mematikan ponselku dan kutarik selimut sampai kepala, mencoba tidur.
**
Pagi harinya aku menatap diriku di cermin.
Aku belum mandi, belum creambath belum maskeran, tentu saja belum dandan. Wajahku berpenampilan apa adanya.
Wajah ini yang akan kupakai mulai sekarang.
Aku juga akan makan sesukaku, berpakaian yang nyaman bagiku, mandi seadanya sekali sehari saja.
Semakin cepat jadi jelek, semakin baik.
Kulitku terlalu putih, jadi hari ini aku akan berjalan-jalan di taman komplek biar terkena paparan sinar matahari, tanpa sunblock agar kusam. Mungkin sekalian beli sayur. Aku tanyakan dulu ke Ibu dia butuh apa untuk masak hari ini.
Saat aku ke bawah, ternyata beliau sudah sibuk memotong-motong sayur di dapur.
Kukecup pipinya dan kubuat kopi untuk mengganjal perut.
“Ariel di atas?” tanya ibuku.
“Nggak tuh, kusuruh pulang tadi malam,” kataku.
"Kok motornya di depan gerbang? Ibu pikir dia di atas,”
Aku diam sambil menaikkan alisku, juga langsung merasa khawatir.
“Motornya di depan gerbang?” tanyaku ulang
“Iya,” ibuku ekstra mengangguk.
“Dia ke mana?!”
“Ibu nggak tau, ibu belum buka gembok gerbang, cuma melongok sedikit dari jendela tadi pagi,”
“Ibu nggak ke pasar?”
“Kemarin pulang dari salon sudah ke supermarket beli sayur untuk persediaan seminggu.” Lalu ibu menunjuk pintu, “Kamu cek deh di depan pagar, sekalian buka gembok. Bahaya loh motor di depan gerbang. Walau pun komplek kita aman dan sekuriti buka-tutup portal, tapi ya masa motornya parkir di depan gerbang?”
Aku pun menyambar kunci rumah yang digantung di atas pintu.
Terus terang saja, aku deg-degan.
Di pikiranku ini berbagai kemungkinan terlintas.
Masa sih... karena tidak kuizinkan masuk dia tidur di...
“Ya Ampuuuuuun!!” seruku.
Bener dong, dia tidur ngemper di depan gerbang!! Alas kardus pula!
“Ariel hoy! Yang benar saja kamu!!” seruku sambil berjongkok memeriksa keadaannya.
“Eh?” dia gelagapan karena bangun mendadak. “Hey sayang... hehe... udah pagi toh! Ketinggalan solat subuh dong aku?”
“Memang kamu solat subuh?!”
“Jangan ngeremehin aku terus dooong, kan latihan jadi bapak yang baik,”
Dia berusaha berdiri. Tapi duduk lagi.
“Bentar... nyawa belum kekumpul,” desisnya sambil mengangkat tangannya.
Aku mencengkeram lengannya, niatnya ingin membantunya berdiri dan segera masuk ke dalam rumah dari pada jadi omongan tetangga, “Makanya jangan tidur di aspal! Kamu nih-“ dan aku pun terdiam.
Badan Ariel... suhunya kenapa panas begini? Masa sih terjemur matahari? Ini baru jam 7 sinar matahari masih hangat, belum terik.
Reflek aku menempelkan tanganku ke dahinya, lalu ke lehernya.
“Kamu demam kayaknya...” desisku. “Masuk ke dalam cepetan! Cek suhu!”
“Aku nggak pap-“ dan dia limbung lagi. “Pusing...” desisnya.
“Ya kamu-nya nekat! Cepet masuk!!” aku mengalungkan lengannya ke bahuku dan membantunya berdiri. Ya ampun, ternyata dia berat sekali kalau tak bertenaga begini!! Aku sampai terseok-seok memapahnya masuk rumah!
**
Yah, aku tak jadi jalan-jalan di taman.
Lagi-lagi dasteran di rumah sambil mengompres dahi Ariel.
Setelah cek suhu, dia panas 38 derajat. Katanya tenggorokannya juga sakit sekali, dan kepalanya pusing.
Aku duduk di pinggir ranjangku, di sampingnya persis, menghadap ke nakas sambil mengaduk air hangat dengan madu dan lemon, sementara Ariel tidur miring dengan kain di keningnya dan menatapku dengan pandangan menerawang,
Tapi jarinya mengelus pu ting-ku dari luar daster.
Kubiarkan saja, karena dia lagi sakit.
Sebenarnya risih karena aku sedang menstruasi, sekujur tubuh rasanya pegal-pegal dan lebih sensitif.
“Tidur sini dong...” Ariel menepuk-nepuk area kosong di depannya.
“Nggak,” gumamku. “Jangan protes,”
Dia hanya cemberut dan diam. Lalu lanjut mengelusku.
Sepertinya dadaku jadi pelampiasan stressnya.
“Minum nih, sudah kutambah jahe,” kataku sambil mengajukan gelas kaca isi air lemon madu..
“Sedotannya mana?” tanya-nya.
“Pakai sedotan?!” aku sewot.
“Aku lagi sakit loooh,”
“Kamu bukan anak kecil!”
“Buuuuu aku diomelin niiiih!”
“Ariel, lembut dikit sama suami kamu kenapa siiih?” tegur ibu dari bawah. Laaaah, dia ngadu! Sompret bener!
“Suami atau bayi??” seruku kesal. Mungkin dua-duanya. Aku pernah lihat artikel di instagram, kalau suami lagi sakit dia akan bertingkah lebih bayi dari bayi yang sebenarnya. Mungkin itu benar...
Tapi aku lihat sendiri buktinya.
“Kompresnya udah anget,” desis Ariel. Akhirnya aku ambilkan juga sedotan dan dia sedang kalem menyeruput lemon madunya.
“Ya ganti aja...”
“Duh lemes banget mau ke baskom.”
“Baskomnya cuma 30 senti dari kepala kamu,”
“Memang kamu ukur ya barusan?”
Aku menghela nafas, dan mengalah untuk mengambil waslap dari jidatnya dan memasukkannya ke air dingin, lalu memerasnya dan kembali meletakkannya di dahinya.
“Sayang...” panggilnya.
Apa lagi kali ini?!
“Laper...” katanya
“Hm,”
“Mau McD dong,” pintanya
“Lagi sakit,” kuingatkan kondisinya.
“Ya udah, Sop Kaefci deh,” dia nawar loh!
“Malas belinya,” kujawab saja begini.
“Kan bisa delivery,” dia masih berusaha bernegosiasi.
“Ada pilihan lain nggak yang gampang?”
“Indomie deh?”
Astaga bayi gede!
“Kamu lagi sakit,” kuingatkan kembali kondisinya.
“Minta dipeluk kamu kalo gitu, gampang kan?”
Aku pun menarik nafas panjang berharap stok kesabaranku masih banyak.
“Aku pesenin sop kaefci dulu...” aku pun beranjak untuk mencari ponselku. Mau delivery paketan KFC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
punya suami bocah , tukang ngadu lagi🤣
2024-08-30
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-08-30
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
padahal lagi sumeng kamu riel sempet²nya ya kmu mentil🤣
2024-08-30
0