Cintailah Aku

Dia...

Dia...

Claudia...

“Claudia!!”

“Berisik banget sih!” seruku langsung berseru kesal. Aku dalam posisi tidur, dibangunkan dengan suara kencang. Siapa yang tak kesal?!

Tapi tunggu...

Aku di mana ini? Kok ada selang infus?

Ada cahaya lampu sangat terang dan ruangan ini bukan kamarku. Bukan juga kamar di rumah Mbah Rangga.

Ini di mana? Perasaan aku terakhir ada di rumput samping sungai, di sebelah jalan desa, di seberang kebon pisang.

Ini seperti dekorasi di rumah sakit? Sepertinya memang di rumah sakit. Entahlah di daerah mana.

Berikutnya yang kudengar ibuku memelukku kencang sekali sambil nangis-nangis.

Aku semakin kebingungan. “Ibu kenapa?”

“Ya Allah Alhamdulillah kamu sadar Arieeeeel!” isak ibuku.

“Aku cuma tidur, Bu,” gumamku. Ya masa aku hanya tidur sebentar dia nangis-nangis, seperti aku bangkit dari ambang kematian

“Kamu tidur tiga hari siapa yang nggak khawatir!” Seru Ariel.

Eh?

Eh? Kok tiga hari?!

“Dan terakhir kamu kejang-kejang! Makanya aku teriak!” kata Ariel lagi. Ia menatapku sambil mengerutkan kening seakan memastikan aku dalam kondisi baik-baik saja.

Aku mencoba duduk, badanku pegal-pegal luar biasa.

Lalu aku bertanya.

“Ini hari apa?” tanyaku. Suaraku serak, hampir habis.

“Hari Selasa.”

Jadi, aku benar-benar baru saja bangkit dari ambang kematian.

Dan aku pun menghela nafas. Lokakarya masih hari Kamis, jadi aku aman.

Masalahnya aku tak masuk kerja 2 hari dong?!

“Kamu jangan tenang-tenang gitu lah! Kamu tuh tidur tiga hari!!” seru Ariel. Ia tampak... yah wajahnya kesal sekaligus khawatir. Wajah yang tak pernah ia tampakkan di depanku.

“Aku tahu aku kenapa, Ariel, dan ini bukan pertama kalinya.” desisku sambil memijat kepalaku.

“Kamu sakit atau bagaimana?!”

“Aku nggak sakit, kalau habis ketemu dia memang begini,”

“Dia siapa?”

“Dia,”

“Dia?”

“Masa kamu nggak tahu dia siapa? Yang di depan Gapura!”

“Depan Gapura? Ada yang menemui kamu?”

“Ya jelas yang nunggu di sana siapa lagi?!”

“Siapa? Arka? Arka jemput kamu? Terus ninggalin kamu di pinggir jalan? Kurang ajar tu cowok!”

“Ha?” ini aku beneran bengong. Jauh amat dari Dewi Rukmini ke Arka? Harusnya dia paham dong aku tak boleh mengeluarkan nama Dewi Rukmini secara gamblang dari mulutku atau astral itu akan datang karena merasa diundang!

“Sebrengsek-brengseknya aku nggak bakal pernah ninggalin cewek di pinggir jalan!” seru Ariel.

“Masa sih Arka begitu?! Kalian berantem?!” ibuku ikut-ikutan.

“Ya tapi jangan gitu juga dong!”

“Berantem macam apa yang sampai tega ninggalin kamu di sana Ariel?!” ibuku mengguncang-guncangkan tubuhku. “Kamu nggak usah ketemu-ketemu dia lagi!”

”Tapi aku nggak lihat mobil dia sepanjang jalan,” desis Ariel sambil menatapku.

Aku sudah malas berdebat, badanku pegal-pegal.

Tapi memang selalu begini kalau aku habis bertemu. Keturunan Ranggasadono dan Rejoprastowo memang sarat akan hal-hal Kejawen.

Aku pun melirik Ariel yang masih protes mengenai perlakuan ‘Arka’ yang sebenarnya tak salah apa-apa.

“Memang kamu mencariku?” tanyaku.

“Ya tentu saja aku mencarimu! Kamu berdiri di pinggir jalan di depan kebon pisang dengan mata terpejam! Aku pikir kamu pingsan berdiri! Pas kutepok, malah jatoh!”

“Memang kamu ngapain ngejar aku?”

“Kenapa kamu malah bertanya? Dasar istri tega!” serunya. “Dua keluarga sampai heboh waktu kamu bilang mau bercerai dariku!”

“Oh iya, tolong ceraikan aku dengan cepat. Aku pusing dengan semua ini...” Aku mengibaskan tanganku.

“Nggak bisa Claudia. Kita nggak bisa bercerai sekarang.”

“Kenapa? Apa lagi urusannya?!”

“Karena kamu belum jadi jelek. Ngerti?”

“Hah?”

“Jadi jelek, baru kuceraikan,”

“Pergi. Aku mau sendiri...” Aku mengibaskan tangan ke arah Ariel, mengusirnya pergi dari kamarku.

**

Seminggu Kemudian.

Jadi jelek tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk orang yang dikaruniai wajah sepertiku. Dari lahir aku tak pernah merasakan kulit kusam.

Seperti sebagian besar Keluarga Ranggasadono, DNA kami memang berbeda, lebih awet muda dan jerawat adalah hal asing bagi kami. Mbah Rangga memiliki 8 orang istri. 4 secara sah dan yang 4 lagi dicerai dengan alasan tekanan dari masyarakat. Tapi masih ia biayai dan tinggal serumah. Makanya rumah kami sangat besar.

Iya aku tahu itu Illegal. Selama tidak ketahuan ia akan meneruskan aksinya mengawini entah siapa. Dan ke -delapan istri sahnya itu dari etnis yang berbeda-beda. 3 dari Indonesia, 5 dari barat. Makanya wajah kami kebanyakan blasteran. Dari sana ia memiliki 12 anak. Pakde Sasongko adalah anak pertama dengan wanita dari Amerika. Punya satu anak namanya Raden Aryaguna. Usia baron sekarang sudah 41 tahun.

Anak kedua namanya Pakde Suyat, Anak Ketiga Bude Nimas, Anak keempat adalah Alm Ayahku. Ke-empatnya dari istri pertama yang orang Indonesia. Kalau sepupuku, Felix, Mbah Putrinya adalah istri keempat Mbah Rangga, etnis tionghoa. Dan Hector, Mbah Putrinya adalah wanita berkebangsaan Jerman, istri kedua Mbah Rangga.

Aku lupa setelah itu ada siapa lagi keturunan Mbah Rangga dan dari istri-istri yang mana... tidak semuanya akrab soalnya.

Yang jelas, ada gosip akalu Mbah Rangga tidak sepenuhnya mencintai istri-istrinya. Dia terobsesi dengan seoarng wanita bernama Kencana.

Di Lain pihak, Mbah Rejo juga mencintai wanita ini, Kencana ini.

Tapi seminggu kutelusuri, belum menemukan nama itu di daftar silsilah keluarga kami.

Dan selama seminggu itu aku menghindari Ariel yang-

JREEENGGGG!!!

JRENG!! JRENG!! JREEEENG!!!

Ini suara distorsi gitar

“Lagu ini kami persembahkan kepada adik-adik kelas...”

Suara Ariel. Huh!

“... yang sedang galau hatinya karena nilai PTS tidak cukup membanggakan orang tua...”

DURUDG DURUDUG DURUDUGG BRANGG!!

Suara drum.

“... Semoga kalian selalu SENANG HATINYAAA!!”

JRENGG!! JRENG!!

“Sudaaaah, kudaki gunung tertinggiiii, hanya untuuuk...”

Suara Ariel menyanyi lagu dari Dewa berjudul ‘Arjuna’.

Anak-anak heboh, berlarian ke tengah lapangan.

Guru-guru keluar dari kelas dan ruang guru.

Pak Rendi keluar dari kelas 12-D IPS dan berdiri bersandar ke tiang sambil melipoat kedua tangannya di depan dada dengan wajah kesal.

Aku hanya berdiri di depan jendela, dengan kopiku. Mengawasi.

Si Ketos Bhakti Putra, dengan mic di depannya, diiringi teman-teman biang rusuhnya, bawa-bawa sound system dari ruang kesenian dan main band dadakan di tengah lapangan.

“Akulah ARJUNAAAA AAAAKKK!!”

Yeah, seru tapi gila.

Sementara siswa makin tidak terkendali, mereka bergerak semaunya mengiringi nyanyian Ariel.

Aku bahkan tak yakin janin si Ariel sudah direncanakan saat lagu ini dirilis. Bahkan mungkin bapak-ibunya belum ketemu, masih beda negara.

“Yang Mencari Cintaaaa,”

Ariel menatapku lalu mengacungkan telunjuknya padaku.

Dia melihatku, padahal aku di dalam ruangan ruang guru, di belakang jendela pula.

“Para wanita aaaaaaaak!” dia teriak lagi, “CINTAILAH AKUUUU,”

Aku mengacungkan kepalan tangan padanya dan kembali menyesap kopiku.

SROOOTTTT!!

Pak Rendi datang dan menyemprot Ariel pakai APAR.

“An jeeng!!” seru Ariel jatuh dari podium.

“Kamu ngatain saya anjing?”

“Bukan pak, APARNYA yang anjing,”

“Ini APAR, bukan anjing,” balas Pak Rendi.

Lalu Pak Rendi menunjuk ruang kepala Sekolah, ”Masuk!”

“Siap Kanjeng Gustiiii,” gumam Ariel.

Tak lupa dia layangkan ciuman jarak jauh ke siswa-siswi, yang menanggapinya dengan antusias. “I Lov U Aaaaal, follow gue di-“

“MASUK CEPETAN!!” seru Pak Rendi.

“Ampun...” desis Ariel sambil buru-buru masuk ruangan Kepsek.

“BUBAR SEMUANYA!!” seru Pak Rendi pakai Mic yang tadi digunakan Ariel. Semua mende sah kecewa.

Aku menarik nafas panjang.

Kemarin dia membajak server komputer sekolah sampai semua layar di gedung ini berubah jadi film The Little Mermaid.

Besoknya lagi dia tulis kata ‘tolong’ pakai cat merah di sepanjang tembok sekolah. Setelah itu sampai malam dia bersihkan cat merah itu.

Bukannya aku tak mengerti kodenya.

The Little Mermaid. Cat Merah ‘tolong’, dan lagu Arjuna.

Ariel, Tolong Cintailah Aku.

Suamiku ternyata maksimal gilanya...

Aku bodo amat.

**

Terpopuler

Comments

Tri Septiadi

Tri Septiadi

tuhh bukti bucin dg Ariel 😁

2024-06-22

0

Albi yustian

Albi yustian

/Good//Good//Good//Good//Good//Good/

2023-10-23

1

Triani

Triani

🤣🤣🤣
dasarrr sableng.....


kasian pak Rendy...punya murid setiap angkatan nya ada aja yg sableng....untung ngga struk karena darting ...wk wk wk

2023-10-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!