Sore itu aku masih bisa mendengar suara Pak Rendi teriak-teriak mengomeli Ariel di dalam ruangannya, jadi aku mengurungkan niatku untuk pulang. Selama dia masih di sekolah resiko untuk kami berpapasan bisa lebih besar.
Jadi aku menunggu sampai Ariel menjauh dulu, baru aku siap-siap mengakhiri pekerjaanku.
Tapi, entah kenapa toilet di ruang guru rusak.
Dan karena aku sudah kebelet banget, jadi aku berencana untuk ke toilet siswa di lantai dasar sebelah Gazebo. Sengaja kupilih toilet yang agak mewah agar akunya juga nyaman menuntaskan kebutuhanku.
Saat aku pipis, aku mendengar suara pintu toilet di buka dari luar, dan
BRAKK!!
Suara kencang sekali, seakan ada seseorang membentur bilik di depan.
“Sis, jangan keras-keras nanti ada yang denger,”
Aku mendengar ada suara seorang siswi.
“Ni cewek nggak tahu diri, bantingan gue malah kurang keras buat bikin efek jera.” kata siswi lainnya.
Dari dua kalimat itu saja aku langsung tahu ada yang sedang di Bully di toilet.
Astaga, tak bisakah mereka membiarkan aku tenang pipis?
Aku ini sudah sering diteror, loh. Ganti siswa, ganti juga pelaku terornya.
Memang kalau menyuarakan keadilan itu susahnya minta ampunnya, ganti almamater, ganti orang, tapi kasusnya sama saja.
Iri hati.
Aku termasuk guru yang tegas dan Zero Tolerance untuk masalah perundungan, pun itu hanya kalimat ancaman dari WA, aku akan laporkan bukan lagi ke Pak Rendi, langsung ke pimpinan Yayasan. Aku hanya memberikan Pak Rendi pemberitahuan.
Kebetulan Pimpinan Yayasan di sini adalah kakak kelasku di kampus dulu, Namanya Ruby Gaspar. Jadi kalau ada apa-apa aku tinggal kirim laporan ke beliau, dan setelah itu tidak ada lagi yang berani menggangguku.
Masalahnya untuk melalui proses itu aku harus mendapatkan bukti valid. Itu sih yang sulit.
Dan karena aku sudah berpengalaman, jadi aku menyudahi aktivitas buang air, lalu ku setting ponselku ke mode video rekam, kuletakkan di atas undakan bilik.
Dari kamera aku bisa melihat ada siswi yang meringkuk di lantai kamar mandi, dan tiga anak perempuan lain berdiri di depannya.
“Sis, bentar dulu! Kita periksa dulu toiletnya!”
“Emang masih ada yang pake toilet? Udah sore gini...”
“Gara-gara Ariel Cintaku, masih ada yang di sekolah, beres-beres dia bikin keributan. Iiiih tadi liat nggak sih dia teriak Cintailah AKu sambil natap ke arah gue loooh!
“Ke arah gue juga kali!”
“Kita bertiga nggak papa kalau jatuh cinta sama Ariel, tapi... si Bebek ini nggak boleh! Hoy!! Denger nggak lo? Paling nggak lo jangan bau got gini kalo mau mencemari nama baik Ariel!!”
Aku pun menghela nafas sekali lagi.
Ya, seperti biasa, topiknya kalau nggak cowok, ya prestasi belajar.
Memang apa lagi yang dipikirkan anak SMA di usia mereka yang masih dini? Nilai kredit dicurangi konsultan? Dapat Surat dari Kantor Pajak? Teman yang menjilat atasan biar cepat naik pangkat? Duit koperasi hilang dikorupsi teman?
Seandainya mereka tahu kalau mengurusi setiap individu di sekolah itu sulitnya minta ampun.
Yang terlihat lemah saat akan dilindungi entah kenapa jadi songong karena merasa ada back up, sementara yang kelihatan kuat ditegor sedikit ngadu ke orang tua berasa drama queen.
Sering sekali orang tua murid protes keras ke kami, anak saya dapat perundungan kok guru-guru tidak ada yang bertindak? Diam saja? Kerja kalian apa?
Mohon maaf, ada hal-hal yang kami bahkan baru tahu saat orang tua murid datang.
Selagi kami sibuk dengan 300 anak lainnya, padahal jumlah kami hanya ada 25 orang, kami juga harus mengerjakan tugas sebagai karyawan untuk memenuhi perut kami yang lapar. Belum kalau ada anak istri yang harus diberi makan, listrik yang harus dibayar, cicilan rumah yang harus dilunasi. Otomatis waktu kami tersita untuk kenaikan gaji. Seminar ini-itu, webinar ini-itu, lokakarya ini-itu, bahan pelajaran dan mempersiapkan soal ujian, rapat ini-itu, memeriksa nilai ini-itu. Belum kami harus belajar sendiri mengenai topik yang tidak dibahas di webinar karena kemajuan jaman yang pesat, dan murid jaman sekarang kritis-kritis, bisa mempermalukan guru di depan umum. Jadi kami tidak boleh ketinggalan berita.
Dan kami hanya manusia.
Enaknya, sekolahku, Zero Tolerance untuk masalah Bullying. Pak Rendi tak mau ambil pusing, selama sekolah itu dibeking oleh 12 naga. Mau anaknya pejabat sekali pun, terbukti membully ya dikeluarkan.
Ah, apa orang tua siswa itu tahu rumah Pak Rendi pernah dilempari Bom saat dia mengeluarkan Surat Pemecatan Siswa? Yang dia Drop Out adalah anak salah satu pejabat Partai terbesar. Kalau santet sih sudah tak terhitung banyaknya.
Pelet apa lagi, secara dia ganteng. Semakin galak semakin terlihat gantengnya.
Intinya, hal yang serius kalau kami bertindak, tapi keluarga kami terancam.
Sebagian besar guru memilih lebih baik pura-pura tidak tahu dari pada keluarga jadi ikut-ikutan masalah siswa, dipanggil polisi, dimintai keterangan, belum amukan dari orang tua murid. Semua itu menyita waktu dan tenaga, makanya tidak semua masukan dari wali murid dapat kami tampung.
Tapi Pak Rendi dan Aku tidak peduli hal itu.
Malah, kami lah yang langsung panggil polisi
Agar orang tua murid tahu, sekali anaknya berurusan dengan polisi, Surat Keterangan Catatan Kepolisian akan jelek. Padahal untuk masuk ke kantor pemerintahan SKCK termasuk dokumen penting di proses seleksi awal. Bahkan untuk keluar negeri kudengar beberapa negara meminta dokumen itu.
Kembali ke situasi yang kuhadapi, tipikal.
Aku buka bilik kamar mandi dengan agar keras.
BRAKK!!
Aku berjalan malas ke arah wastafel.
Kulihat, tiga anak yang berdiri, semua golongan Super-Star. Bintang kelas. Anak populer.
Aku menaikkan daguku.
Aku menatap mereka tajam.
“Ada apa sih ribut-ribut...” gumamku dengan suara rendah sambil mencuci tangan di tengah mereka. Sengaja ambil posisi biar di tengah-tengah, biar mencolok sekalian.
“Merry, kamu ngapain tiduran di lantai?” tanyaku tanpa melirik.
“E-e-eh... terpeleset bu...”
“Terpeleset? Yakin? Kok tiga teman kamu nggak bantu kamu berdiri?”
“Eumh...” lalu ada jeda sebentar, “Saya bisa bangun sendiri kok bu,”
Aku mengambil tisu lalu mengelap tanganku sambil berbalik menatap mereka berempat. Aku berdiri menyandarkan bokongku ke wastafel, menunjukkan keseksianku.
Bukan tanpa alasan, aku ingin membuat mereka jiper, tidak percaya diri.
Di mataku, mereka kalah telak. Baik wajah atau pun tubuh. Hanya dengan cara itu aku bisa membuat si pem-bully bungkam.
Jadi aku berpenampilan seksi dan bersikap judes dengan alasan kuat.
Gunanya ya untuk saat ini.
“Saya tidak mengampuni penindasan ya. Tidak ada yang boleh main tangan ke sesamanya, tidak ada yang boleh mengancam. Semua kami kategorikan perbuatan tidak menyenangkan, sekolah bisa mewakili korban untuk melakukan penuntutan. Jangan kalian kira bisa bernegosiasi dengan Komnas anak ya, Mimpi saja kalian,”
Aku diam sebentar agar mereka bisa mencerna kalimatku.
“Dalam hal ini korban tidak mengadu, saya kebetulan ada di tengah situasi menyebalkan. Entah siapa korbannya entah apa alasannya.” Aku tersenyum ke satu persatu anak di sana, senyum sinis yang mengancam.
“Merry, tidak punya teman di saat sekolah, bukan berarti hidup kamu berakhir. Kamu bisa kok sendirian saat jam istirahat, tanpa orang lain, pulang pergi sendirian, tidak bersosialisasi, lebih baik begitu daripada teman kamu toxic.”
“Dan Keysha, mohon maaf. Jadi populer ketua geng Chantique, tidak menjamin kamu bakal jadi Boss di masa depan. Kelakuan kamu ini kalau viral malah akan membuat bapak kamu dicecar netizen. Ingat, sebagian besar Rakyat Indonesia ada di sisi orang yang didzalimi. Artis yang mengaku kaya raya saja bisa minta donasi sekarang, yang suka hedon di medsos saja dikejar-kejar Kantor Pajak, yang suka konten bagi-bagi emas bisa dirampok tetangganya sendiri sekarang, hati-hati kamu Keysha...”
“Tapi ibu kan tidak tahu masalahnya...”
“Gaes!! Gimana si bebek hah? Ceburin aja lah flush kepalanya ke Toil-“ Davina datang dengan gaya centilnya, masuk ke kamar mandi.
Dan langsung terdiam saat melihatku.
“E-e-eh... Bu Ariel...” dia langsung berdiri terpaku sambil tegang menatapku.
“Kamu lagi? Saya mulai bosan lihat kamu cental-centil gini deh! Kamu ternyata biang keroknya?!”
“Bukan itu buuu, salah paham iniiiii,’
“Pasti masalah Ariel lagi kan?!” tuduhku.
“Yaaaah,” dan Davina melirik Merry yang masih jongkok di lantai dengan tajam.
“Heh!! Anaknya Pak Darsono!!” tegurku agak kencang sambil menyebut nama bapaknya.
“Ya buuu?” gumam Davina.
“Panggil Ariel ke sini!!” seruku kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
𝐙⃝🦜尺o
pak Darsono mantan guru fisika ku,, tapi setau aq anaknya cowok meski wajahnya cantik 😂😂
2024-10-21
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Pak Darsono , tetanggaku😁
Noh anaknya bikin ulah, namanya Davina untung tidak pake skincare d belakang nya😄
2024-08-30
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Bojone Mas Randy Gaspar 😁
Meo apa kabar Ruby😍
2024-08-29
0