Kami naik mobil sedan yang sebenarnya modelnya tahun lama, namun sangat cocok dengan image Ariel yang Badboi sejati. Chevrolet Camaro ZL1 tahun 2017 warna merah.
Kuharap Ariel mendapatkan mobil ini saat ia sudah cukup usia untuk memiliki SIM. Bisa jadi kan dia beli seken dari orang lain? Aku juga malas bertanya lebih lanjut daripada tahu yang sebenarnya malah jadi khawatir.
Aku memandang ke depan, niatku kalau Ariel berjalan dengan kecepatan tinggi, aku akan menegurnya. Tapi ternyata caranya menyetir cukup membuatku nyaman.
Jadi aku diam saja menikmati jalanan ibukota yang masih ramai pengguna jalan, di pukul 10 malam.
Lampu merah, penjual bunga yang biasa mangkal, ibu-ibu peminta-minta bersama balitanya, manusia silver.
Ariel membuka jendelanya dan bertanya sesuatu ke penjual bunga. Aku tidak terlalu tahu apa yang mereka bicarakan karena jalanan Jakarta ternyata sangat bising saat jendela kaca dibuka.
Aku pun membuka jendela untuk memberi ibu-ibu pengemis beberapa lembar rupiah.
Setelah kaca mobil ditarik ke atas, Ariel meletakkan beberapa tangkai mawar hidup di pangkuanku.
Aku menghela nafas.
Lalu menatapnya.
Ia hanya tersenyum tipis, lalu menatapku sendu.
“Capek?” tanyanya.
Aku tidak menjawab, karena jawabannya sudah pasti.
Aku hanya buang muka dan kembali menatap jalanan malam hari di sekitar kami.
Dan saat itu kusadari, perjalanan ini mengarah ke rumahku.
Aku menoleh untuk menatapnya yang sedang menyetir. “Katanya mau ke rumah kamu?” tanyaku.
“Memang di rumah kamu nggak bisa?”
“Yang benar saja!”
Lalu ia pun terkekeh karena melihatku panik, “Aku berubah pikiran.” desisnya sambil berbelok masuk ke dalam komplek perumahanku.
Tak lama, kami pun berhenti di depan rumahku, lebih tepatnya rumah ibuku.
Dan tangannya pun mendarat di pahaku.
Aku mengamati jemari panjang itu. Naik dan turun mengelus pahaku.
Tentu saja aku mengenakan celana panjang kain, aku tidak seperti Davina yang berpakaian vulgar. Walau pun aku pantas saja mengenakan pakaian seksi dan kurasa masih bisa lebih unggul dari Davina karena ukuran dada kami sangat berbeda.
“Besok kujemput pagi-pagi. Kita temui si Baron-Baron itu,” kata Ariel.
“Betul, panggilnya Baron ya. Dia tidak ingin nama aslinya disebut, untuk menjaga privasi dan keselamatan orang-orang sekitarnya,”
“Jadi hanya kita yang tahu nama aslinya?”
“Ya, bahkan Arka tidak kuberitahu.”
Ariel mengangguk.
“Besok hari Sabtu, aku dapat info kalau karyawan libur tapi anak buah Pak Damaskus, Owner Arghading Corp, tetap masuk kantor untuk membereskan hal-hal teknis katanya.” Kataku sesuai dengan info yang kudapat dari Arka.
Dulu, aku juga melobi Raden Arya di hari libur.
“Hal-hal teknis yang berbahaya...” gumam Ariel.
“Yaaa, mungkin banyak yang akan kamu pelajari. Kamu kan suka adegan kekerasan,”
“Di atas ranjang.” Tambah Ariel.
“Aku tak ingin berurusan dengan itu.” Tambahku cepat.
Aku pun mengangkat tubuhku untuk keluar dari mobil. Tapi tangan Ariel mencengkeram pergelangan tanganku, menghentikan gerakku.
Dengan sangat cepat, ia melu mat bibirku.
Sial!
Aku kecolongan.
Aku mendorongnya lalu menamparnya.
“Sudah kubilang, jangan cium aku!” seruku marah.
“Bayaran untuk yang ini, Bu Guru,” dia menunjuk ke arah keningnya.
Aku tak peduli.
Aku keluar dari mobil, kutinggalkan mawar darinya di kursi penumpang.
Lalu masuk ke dalam rumah.
**
Ya Tuhan...
Aku nggak bisa tidur!
Alih-alih beristirahat memulihkan tubuhku dari hidupku yang kacau seharian, aku malah terpaku di depan kaca rias.
Sambil mengelus bibirku.
Baru kali ini aku di cium se-intens itu.
Ciuman dewasa dari anak seusia itu. Entah berapa banyak perempuan yang sudah ia cium kalau rasanya secandu ini.
Sesapannya tanpa ragu, ia bahkan menji lat bibirku.
Seakan ia ingin menunjukkan padaku, kalau dia menginginkanku.
Aku yang receh ini.
Yang tak berdaya, yang judes dan galak, yang selalu menolaknya.
Tapi ia tetap mendekat ke arahku.
Kalau dibandingkan dengan...
Ah! Tidak! Tidak!
Aku menggelengkan kepalaku berusaha menyingkirkan pikiran burukku. Dibenakku terbayang wajah Arka. Tidak bisa, keduanya memiliki sifat berbeda, kelebihan masing-masing, kekurangan sendiri-sendiri.
Aku pun juga banyak kekurangannya.
Kupikir tidak etis kalau membandingkan manusia.
Tapi kenapa...
Kenapa aku malah menyukai ciuman Ariel dibandingkan kekasihku sendiri?
Tadi saat berpisah setelah berkencan, kami seperti biasa berciuman. Rasanya hanya ciuman persahabatan biasa. Tidak ada rasa, tidak saling bernafsu.
Walau pun bibir dengan bibir.
Malah, ciuman Ariel yang kasar dan menuntut membuatku terbayang...
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
Lalu tersirat di benakku.
Apakah karena... ciuman dengan Arka sebenarnya tabu, malah ciuman Ariel yang suamiku sendiri yang pantas?
Astaga...
**
Pukul 1 dini hari aku malah berdiri di depan jendela dengan kopiku sambil menunggu pagi.
Aku kenapa?
Tahu tidak apa yang kupikirkan dari tadi?
Wajah songong Ariel.
Ariel Clodio si Badboy.
Aku heran dengan diriku sendiri sekarang. Begitu haus belaiankah diriku?
Saat cowok sialan itu mengucapkan, kalau sejak saat pertama kami, semua cewek tidak ada rasanya.
Tadi aku merasa terhina.
Entah kenapa sekarang… Aku malah merasa tersanjung.
Ariel masih muda, sudah jelas aku dianggapnya tante-tante. Tapi dia bersedia menikahiku, bahkan mendekatiku setelah itu.
Apa aku terlalu besar kepala kalau merasa percaya diri? Dipikir aku belum terlalu tua juga sih. Usia 24 tahun di awal karier orang lain, banyak yang masuk kategori fresh graduate. Tapi aku menggeluti bidang ini sejak kuliah.
Jadi kuanggap usia 24 sudah cukup berpengalaman dalam karier. Mungkin itu juga yang menjadikan aku tampak jauh lebih dewasa dibandingkan dengan usiaku.
Aku menatap ponselku.
Arka mengirimkan pesan singkat padaku.
"Ini passcode untuk besok. Ariel sudah kukirimkan juga. Istirahat yang cukup ya."
Pesan singkat itu disertai gambar barcode.
Aku hanya meliriknya.
Lalu meneruskan menyesap kopiku.
Sambil memandang ke arah luar jendela.
Dan aku pun mengernyit.
Ada motor memasuki portal di depan komplek. Kebetulan rumah ibuku hanya beberapa rumah dari portal jadi aku bisa melihat aktivitas di sana.
Banyak motor berseliweran hilir mudik, karena ini malam minggu. Tapi motor yang ini menarik perhatianku.
Aku tidak terlalu mengerti jenis motor. Yang ini bodynya berwarna orange, dengan list hitam. Bukan motor sport, karena dudukannya tidak mencuat ke atas. All New Yamaha RX King tahun terbaru, kalau kata Yudhis, rekan kerjaku.
Motor Ariel.
Aku tadinya tak yakin.
Sampai motor itu berhenti di depan pagarku. Dan Ariel membuka helmnya, mengangkat kepalanya, dan menatapku langsung.
Sesaat kami saling bertatapan.
Dan dengan jemarinya ia memberiku kode untuk membuka gerbang.
Anak ini…
Dia pikir siapa dirinya, main perintah saja!
Aku pun menggeleng.
Lalu kutarik gordenku.
Sambil gemetaran aku duduk di lantai sebelah lemari.
Entah kenapa aku merasa takut… Sekaligus bergairah
Ini jam 1 dini hari, buat apa juga Ariel ke rumahku?!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
🏘⃝Aⁿᵘȋ⏤͟͟͞R𒈒⃟ʟʙᴄ🍒⃞⃟🦅
haiiiiisshh terbayang bayang kan jadinya, usia boleh muda umur boleh masih remaja tapi skill level pro bro😭😭😭
2023-08-20
0
Tyaga
ada yg ketagihan sampai terbayang bayang terus..😂😂
2023-08-10
0
cha
udah kena patok lele nya si Ariel jadi nya nepsong terus
2023-08-04
0