Kantor Arka dari luar sangat mewah, seperti berada di dalam Mall, dengan langit-langit sangat tinggi dan marmer dimana-mana. Tampak beberapa list emas menghiasi setiap dinding. Liftnya pun di chrome emas.
Akses masuk yang diberikan Arka bukan akses untuk lobby, tapi ke tempat terdalam di gedung itu.
Lantai 7, ruang Direksi. Ruangan yang bagi sebagian besar di gedung ini dianggap terlarang.
Aku sudah pernah mendengar sepupu-sepupuku yang lain kalau gedung ini sebenarnya penjara terselubung bagi para pesakitan yang tidak bisa ditangani aparat. Karena membahayakan masyarakat juga membahayakan napi yang di penjara. Karena itu tidak semua orang mendapatkan kartu akses masuk ke Ruang Direksi.
Aku masuk ke lantai itu pun harus melewati beberapa penjagaan. Banyak bodyguard berjaga di sana, dan setelah aksesku terdeteksi, kami diminta menitipkan KTP Asli dan ponsel kami ke operator. Lalu digiring ke ruang meeting yang sudah seperti ruang tamu sebuah rumah mewah.
Saat duduk di sana dan sedang asik mengagumi interior, Ariel malah menarik-narik lenganku, “Bu Guru, sini lihat deh...”
“Ini hari Sabtu, aku bukan guru kamu,” balasku
“Istriku, sini liat,”
“Lebih parah lagi,” gerutuku. Aku maunya dipanggil ‘Claudia’ seperti semalam. Nama Ariel terlalu menyedihkan untukku. Karena mengingatkanku ke propaganda mengerikan di balik film The Little Mermaid. Sejak tahu itu aku tidak ingin dipanggil ‘Ariel’ tapi apa daya, sejak lahir nama itu terukir di dahiku.
Yang mengerti hanya Alm. Ayahku. Tapi beliau sudah tiada, jadi tidak ada lagi yang memanggilku Claudia.
Aku akhirnya menghampiri Ariel dan menunduk, ia sedang berjongkok di salah satu sudut ruangan di samping lampu, menunduk sambil mengamati sesuatu di dinding bawah.
“Apa?’ tanyaku.
“itu... cipratan darah bukan?” tunjuk Ariel.
Aku memicingkan mataku, noda kehitaman di tembok, namun ada gradasi merah kecoklatan.
“Kopi kali? Atau Wine?” kalau dipikir, aku positif thinking sekali ya
“Hm... anggap saja begitu ya demi ketenangan pikiran,” desis Ariel kemudian.
“Jangan dekat-dekat situ, di sini saja...” desisku sambil mundur dan kembali duduk di sofa seberang sana, jauh dari TKP.
Ariel juga mengikutiku dan duduk
Agak lama suasana hening, dengan mata yang menyapu setiap perabotan di sana.
Ya, kuperhatikan, vas di sana itu retak di bagian bawah dan tampak direkatkan kembali dengan semacam lem keramik. Lalu... kenapa koleksi katana di kabinet itu tampak bersih sekali ya? Sering dilap atau sering digunakan? Kuperhatikan juga banyak bagian dinding yang dicat ulang atau di nat. Dan catnya tampak masih baru.
“Claudia,” desisnya.
"Hm...?” aku menanggapinya dengan tegang. Aku suka kalau dia memanggilku Claudia. Mungkin bisa kurequest saja untuk selanjutnya khusus untuknya memanggilku dengan sebutan itu, selama kami masih menjadi suami-istri.
“Bayangin kamu dasteran dan aku sarungan, terus kita tinggal serumah.”
“Recehan twitter,” tapi aku hampir ketawa. Dia mencoba menghiburku.
“Apa sih pernikahan itu?” dia bertanya lagi padaku.
“Membangun rumah tangga bersama,”
“Oke, nanti aku beli bata, semen, sama tangga. Kita bangun rumah bersama, pakai tangga,”
Tawaku menyembur, “Ancur dasar, malu-maluin Bhakti Putra aja lu...” gumamku. “Kalo gitu kasian dong Keong.”
“Kenapa keong?’
“Iya,kalau mereka udah nikah, tetap nggak bisa tinggal serumah.”
“Hahahahah! Bisa juga kamu receh, kupikir bakal judes terus.” desisnya. Aku menjulurkan lidahku
“Harusnya kalimat ijab kemarin ku-ubah ya...” katanya.
“Ubah gimana?”tanyaku
“Saya terima bawelnya, ngambekkannya, galaknya, cerewetnya, moody-annya, dibayar es krim. Sah?”
“Sah, Hahahahahah!” tapi aku sambil ngakak.
“Bagus kan kita nikah sekarang, tunggu aja pas lebaran, nggak ada yang bakal nanyain kamu ‘kapan nikah’?”
“Kheheheh benar.” Kataku, “Dan bagus juga suasana nikah kemarin,”
“Bagus di mananya?”
“Nggak ada ibu-ibu yang minta suvenir dua.”
“Hahahaha, dan nggak ada yang bawa rantang pas selesai resepsi,” tambahnya.
“Tapi Aku bakal begitu kalau ada temenku resepsi, bawa tupperware buat sisa prasmanan!”
“Aku menjauh aja pura-pura nggak kenal kamu, tapi pas di rumah bantu angetin dan ngabisin, hahahah!”
“Receh sangat hahahah!”
Dan kami tertawa berdua, untuk meredakan ketegangan di antara kami.
“Hey...” suara bariton di belakang kami. “Saya kira kalian bakalan tegang pas ketemu saya, malah cengangas-cengenges...”
Kami langsung berdiri.
Ah...
Itu dia.
Raden Aryaguna Ranggasadono, alias Baron.
Dia tinggi, berambut cepak, tubuhnya penuh tato sampai ke wajah. Tapi dia meletakkan sajadah di salah satu kursi.
“Ron, sesi dua-nya habis makan aja ya, laper,” seorang lagi muncul di depan pintu. Anak muda, tampan, wajahnya campuran antara Turki dan Korea. Dia juga penuh Tatto.
“Lu jangan kabur, yang harus disholatin ada 3 jasad,” desis Raden Arya.
Lalu dia menatap kami berdua sambil menyeringai, “Ariel Claudia ya? Kita pernah ketemu di Basement waktu itu kamu bawa-bawa CV pacar kamu, si Arka.”
“Be-be-betul, hm... Pak Baron.” Desisku langsung tegang.
Lalu Baron menatap Ariel dari atas ke bawah, “Kamu masih sekolah?”
“Iya,” jawab Ariel.
“Nekat juga Mbah Rangga, sudah kubilang tunggu dulu saja sampai kamu lulus, untuk sementara dilimpahkan dulu saja semuanya padaku pakai akta. Dia malah buru-buru. Ngejar jam kematian kayaknya,” Baron tampak menggerutu.
Memang ada ya jam kematian?
“Izrail mana mau nungguin, Pak?” jawab Ariel.
“Kasihan kamu, nggak bisa kuliah dong nanti.”
“Kenapa Pak? Boleh kok!” Ariel langsung sewot.
“Kuliah sambil nikah tuh nggak boleh loh. Nunggu jam istirahat dulu baru nikah, kalo nggak titip absen aja dulu.”
Kami diam.
Ariel langsung jongkok.
“Ini malah kamu nikah sama orang satu sekolah...” desis Baron.
“Ya nggak dong Paaaak, nikah sama satu sekolah bisa-bisa saya mati jantungan! Cukup satu orang ajaaaa!”
Aku masih bengong, nggak ngeh.
Sementara kudengar Ariel dan Baron malah tertawa bersamaan.
"Di sini, jangan panggil dengan nama asliku, oke? Panggil Baron aja. Bisa-bisa hidup kalian tidak selamat satu keturunan. Banyak yang dendam padaku soalnya. Jangan sampai kalian terlihat memiliki hubungan denganku." Begitu kata Baron.
Yah... sepertinya diskusi kali ini akan berjalan lancar. Baron tidak se-mengerikan yang kami bayangkan.
**
“Dispensasi?” ulang Baron sambil menyeringai padaku. Sepertinya dia geli mendengar maksud kedatangan kami nekat datang ke sini menemuinya.
“Iya, tolonglah. Aku sebentar lagi mau menikah dengan Arka.” desisku
“Kamu sudah punya suami, nggak perlu nikah lagi dong... lupakan saja mantan.”
“Arka belum jadi mantan,”
“Segerakan saja jadi mantan,”
“Masa kamu nggak pernah jatuh cinta sih, Baron?”
“Ya pernah... tapi nggak banyak rintangan seperti kamu, hehe,”
“Jadi bagaimana,”
Baron menghela nafas dan meneguk bir kalengnya.
Ariel reflek membuka kaleng birnya, langsung kurebut.
Enak saja minum begituan di depanku. Belum cukup usia!
Jadi kuletakkan botol isi kopi ke depannya. Terdengar erangan tanda mengeluhnya.
“Jujur saja nih, aku sebenarnya nggak tahu apa-apa soal jadi pewaris sah. Semua sudah ditentukan Mbah Rangga, aku tinggal tandatangan. AKu baru tau itu isinya begitu ya sekarang ini. Kalian yang memberitahuku.”
“Kamu main tandatangan saja, sudah tahu Mbahmu itu licik,”
“Dia nggak lciik, hanya terobsesi. Yang jahat itu sebenarnya...” Baron lalu terdiam. “Pokoknya begini.”
“Pakde Sasongko ya? Sudah kuduga.” Sembur Ariel.
“Hah?” aku jelas kaget.
“Dari mana kamu tahu?!”
“Dari mbah Rejo.” Jawab Ariel.
‘Kamu lumayan akrab dengan Mbah Rejo rupanya. Dia nggak pernah cerita banyak loh ke anak cucunya,”
“Kami satu frekwensi, aku belajar nakal juga dari dia...” desis Ariel.
Baron mengangguk, “Iya... dalang penculikan itu bapakku sendiri. Dan sebenarnya... tidak ada emas. Itu hanya akal-akalan Mbah Rejo dan Mbah Rangga agar semua keturunan tunduk terhadap titah mereka.”
“Tidak ada... emas?”
Baron mengangguk.
“Emas yang dimaksud oleh Mbah Rangga dan Mbah Rejo itu... adalah seorang wanita bernama Kencana. Kalau dibahasa Indonesiakan, berarti Emas. Mbah Rangga terobsesi dengan Kencana. Di saat yang bersamaan... Bapakku, Sasongko, mengetahui hal itu, lalu dia merencanakan aksi penculikan.”
Astaga... apa lagi ini?!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Tri Septiadi
ingat lagu favo...mendung tanpa udan....❤️😁
2024-06-21
1
chocochino
wow ternyata, emas yg dimaksud ini toh
2024-05-10
0
Naftali Hanania
wahahahahahaaa
2024-02-11
0