Cerita Pagi

Jantungku seakan berhenti berdetak, saat kudengar suara ibuku di lantai bawah.

Astaga... aku lupa! Masih ada seseorang yang akan membukakan pintu untuk Ariel!

Aku membuka pintu, berniat ke bawah untuk berlari mendahului ibuku mencapai pintu.

Tapi baru sampai selasar, aku melihat Ariel sudah berdiri di ruang tamu, mengobrol dengan ibuku.

Aku menunduk untuk menyembunyikan tubuhku. Lalu mengendap-endap kembali ke kamar.

Dan mengunci pintu kamarku.

Ku dengar dari lantai bawah ibuku memanggil namaku.

Tidak kugubris, aku menutup telingaku. Sambil berdoa semoga ibuku mempersilakan Ariel pulang karena aku tidak merespon panggilannya, jadi asumsinya aku sudah tidur.

Kalau ayahku masih hidup, pasti ia akan mengusir Ariel langsung karena ini kan jam 1 pagi, ngapain bertamu malam-malam.

Tapi...

Tampaknya harapanku sirna, karena kudengar suara tertawa Ariel berada sangat dekat dari kamarku. Ia sedang bercanda dengan ibuku, dan dari suara langkahnya ia sudah di lantai dua, di dekat kamarku.

Ah, ya aku lupa... lagi-lagi lupa. Ariel itu suamiku.

Tentu saja ibuku akan mengizinkannya masuk.

Bisa jadi malah mengizinkannya menginap.

Dan bisa jadi kalau aku dibawa Ariel untuk tinggal bersamanya, ya ibuku tak berhak melarang.

Sial...

Ini juga rumah Ariel.

“Ibu tidur aja lagi, besok pagi Ariel yang siapin sarapan.” Masih bisa kudengar Ariel bicara begitu.

Lalu pintu kamarku di ketok dari luar.

“Duh...” aku mengeluh.

“Claudia, buka,” terdengar suara Ariel dari luar.

Dia panggil aku apa? Kenapa dia memanggilku nama yang sering ayahku ucapkan?

“Claudia... kalau kamu tidak  buka, ibu akan curiga kenapa aku bisa tidur di luar pintu. Nanti dia bilang-bilang ke sodaranya, sodaranya bilang ke pengacara, runyam jadinya,”

Ya ampun dia mulai mengancam.

“Ibuku nggak bakalan begitu.” Gumamku.

“Yaaa, paling dia akan bilang ‘sama suami sendiri nggak boleh begitu. Hehe’,” suara tertawa Ariel terdengar licik di telingaku.

Aku menarik nafas panjang, kutekan-semaksimal mungkin urat sabarku.

Lalu aku bangun dan berdiri.

Kuputar slot kunci, kuputar gagang pintu.

Si bengal sudah di depan kamarku, menatapku dengan senyum sinis terukir di bibir tipisnya.

“Mau apa?” tanyaku.

“Kangen,” katanya.

Rasanya lututku gemetaran.

“Sana ke Davina,” gumamku berlagak kesal.

Padahal aku senang, entah kenapa. Senang saja saat kangen dia mencariku.

“Hubunganku ke Davina tidak seperti itu.”

“Semua juga tahu di belakang kalian melakukan apa, jangan sok suci Ariel,”

“Kalau lagi ingin, aku biasanya ke yang lain. Main sama temen sekolah berbahaya, bisa merambat ke orang tua mereka. Lebih baik sama orang yang tidak saling kenal,”

Aku berbalik, “Kamu sudah ke dokter belum? Siapa tahu kamu menularkan penyakit padaku.” Aku berusaha membuatnya kesal.

Tapi dia malah terkekeh. “Sebelum dinikahkan denganmu, aku digeret Papah ke RS untuk medical Checkup,”

“Papa sampai tahu kehidupan kelammu,”

“Mungkin dia waktu muda juga begitu, siapa yang tahu.” Ariel mengangkat bahunya dan meletakkan helm di atas meja riaku, lalu membuka jaket kulitnya dan menggantungkannya di belakang pintu.

“Sini,” dia mengulurkan tangannya padaku.

“Aku bukan salah satu wanita malam kamu,”

“Bukan. Sejak punya istri aku berhenti. Mudah-mudahan selamanya...”

Aku menatapnya curiga, “Apa maksudmu dengan selamanya? Selamanya bertobat atau bagaimana?”

Dan ia pun cengengesan lagi, “Terserah kamu aja mau beranggapan apa,” ia menggerak-gerakan jarinya, tanda sekali lagi menyuruhku mendekat.

Aku reflek menggigit bibirku.

Dadaku dari tadi terasa sesak.

Semakin sesak saat melihat tatapan matanya menghujam lurus ke arahku.

Akhirnya, dengan tarikan nafas untuk menetralkan kondisi tubuhku, aku pun menyambut uluran tangannya.

Ia langsung memelukku, meraih belakang kepalaku, dan sekali lagi menye sap bibirku dengan keras.

Kini, ia membuka bibirku dan mencari lidahku.

Aku rasanya sudah tidak ingat lagi sedang dimana.

**

Aku bangun di pagi harinya dengan setengah linglung. Matahari yang membangunkanku.

“Uh...” aku mengeluh karena punggungku rasanya sakit semua.

Lalu aku melayangkan pandanganku ke segala arah, dan kulihat ada air minum di atas meja rias.

Siapa yang meletakkannya di sana?

Tapi tenggorokanku kering, aku pun menggeser tubuhku dengan susah payah dan kuraih gelas itu.

Berikutnya hampir saja aku tersedak.

Bayanganku yang terpantul di cermin meja risa, dalam keadaan telanjang dan rambut berantakan.

Dan dadaku... merah-merah.

Pinggang dan perutku juga.

Berikutnya ingatanku mulai pulih, tadi malam...

Aku langsung merinding.

Kata-kata dengan suara rendah terngiang di telingaku.

Balik badan

Kamu cantik...

Astaga... warnanya pink.

Manis...

Lagi ya?

Lagi...

Lagi...

Lagi...

“Gila!” aku mengusap wajahku. Aku benar-benar hilang akal.

Aku susah payah membuat tubuhku berdiri, dan sempat kulihat bagian belakangku. Bokongku juga merah, di-spank Ariel tadi malam.

“Yang benar saja...” keluhku. Lalu dengan tertatih-tatih, aku masuk kamar mandi. Mudah-mudahan itu-ku tidak perih saat aku di toilet.

**

Aku sampai-sampai memiringkan kepalaku saat kutemui Ariel berada di dapur.

Ibuku sedang duduk di meja makan, dengan ponsel di tangannya sambil mengunyah sesuatu di atas piringnya.

Usia ibuku 46 tahun, beliau memiliki salon kecantikan di ruko dekat sini. Jadi penampilannya juga masih terjaga, cantik dan kencang, dengan tubuh langsing di usia senjanya. Statusnya adalah sebagai ibu tiriku sebenarnya, tapi hubungan kami sangat baik. Sebagai ibu sambung, dia sangat menjagaku, sampai-sampai sepeninggal ayah ia pontang panting membiayai kuliahku dan nekat mendirikan salon kecantikan. Ia bukan keluarga Ranggasadono, ia hanya menantu yang terbawa-bawa tekanan keluarga.

Jadi saat mendengar aku dijodohkan, ia tidak bisa berbuat banyak karena ia merasa tidak memiliki hak penuh atasku.

“Masak Ril?” aku mengernyit ngeri. Kaget kalau dia lancar membalik telor dadar tanpa pakai sutil, hanya dengan menggerakkan teflonnya sedikit, dan terbaliklah lembaran telor dadar itu.

“Mejeng Bu,” jawab Ariel asal.

“Gosong nggak?”

“Dipersilahkan dewan juri mencicipi,” gumam Ariel sambil meletakkan piring berisi sandwich di depanku.

Aku mengernyit melihat daging tebal di balik roti putih, “Kapan kita punya daging ham tebel gini?”

“Barusan kubeli di pasar,”

“Sejak kapan kamu ke pasar?”

“Sejak Adzan berkumandang dan kamu masih tidur ngorok kecapekan,”

Ibuku langsung batuk-batuk tersedak. Ia langsung terbahak mendengar Ariel. “Skakmat! Sudah ibu bilang kamu tuh ngorok loh Ariel!” seru ibuku.

“Aku nggak ngorok!”

“Loh? Aku punya rekamannya nih!”

“Nggaaaaak!” aku merebut ponsel Ariel.

Kucari rekamannya.

Dan ternyata dia memang merekamku!

Aku berniat menghapusnya, namun aku tertegun saat melihat videonya sampai habis.

“Aku sayang kamu...” bisik Ariel di akhir video, ia bilang begitu sambil mengecup keningku.

Jariku langsung gemetaran.

Lalu kuhapus rekaman itu.

Dasar fakboi suka ngumbar kegombalan!

“Makan dulu Bu Guru, sebentar lagi kita ke Arghading,” desis Ariel sambil duduk di depan kami.

“Pada jadi ke Arghading? Mau ketemu Raden Arya?” Ibu menatap kami berdua dengan khawatir.

“Ibu standby saja di salon, weekend pasti ramai.” Kataku.

“Tapi hape aktif ya bu, siapa tahu kami butuh bantuan,” kata Ariel, “Aku juga sudah bilang ke Papah.”

Tampak Ibu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan galau.

“Ibu dapat cerita macam-macam soal Raden Arya...” desis ibu.

Aku dan Ariel mendengarkan sambil mengunyah sandwich.

Kenapa rasanya enak?

Ini kan cuma daing tipis ditangkup roti tawar?

Kulihat dalamnya dia pakai mayones.

“Kubikin sendiri mayonaisenya,” bisik Ariel.

Aku semakin melotot ke arahnya.

Cowok ini penuh kejutan.

“Apa saja yang pernah ibu dengar mengenai Raden Arya?” tanya Ariel.

“Begini...” Ibuku menegakkan duduknya, “Katanya, yang merencanakan penculikan itu sebenarnya adalah Raden Arya sendiri, karena Pakde Sasongko kan pewaris sah. Raden Arya ingin agar harta Mbah Rangga sepenuhnya jatuh ke dia, bukan ke bapaknya. Tapi karena si penculik belakangan malah melawan, jadi Raden Arya menghabisi semuanya... Karena tidak masuk akal seorang manusia bisa menghabisi banyak orang sendirian seperti itu.”

Kami akan menemui orang yang sangat berbahaya.

Lebih baik aku makan yang banyak dulu.

Terpopuler

Comments

El Chia

El Chia

aku iriiii🤤

2024-12-18

0

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

Yang pink apaan madam🙈😁

2024-08-29

0

YK

YK

laah... seumuran...

2023-09-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!