Mistis Sedikit

“Mau pulang kapan?”

Malam itu Ariel mengetuk kamarku sambil tersenyum.

“Terserah kamu.”

“Besok pagi kita ikut nebeng Baron dan lainnya,”

“Aku yakin sekali kamu yang minta nebeng mereka,”

“Jeepnya keren soalnya, hehe,” katanya. Benar kan. Memang satu circle sama Baron. Sama-sama berandal, sama-sama pecinta tatto.

“Papahku on the way ke sini, besok pagi baru dia akan ziarah. Dia dateng bareng sama Tante Mayleen (Ibunya Felix). Nanti pulangnya Ibu nebeng mereka aja ya,”

“Hm... oke lah,” desisku.

“Terus...” dia menatapku dari atas ke bawah. Merasa risih dilihatin terus, aku memicingkan mata.

“Apa?!” tantangku tak sabar.

“Sudah siap jadi jelek?” ia malah cengengesan.

“Apa sih maksudmu bikin syarat begitu?!” rasanya ingin kupukul otak mesumnya itu!

“Yaaah, kamu usahakan saja sebaik mungkin.”

“Jelek standar kamu itu yang bagaimana, Hah?!” seruku kesal.

“Hm...” Ariel memicingkan mata sambil menatap layar ponselnya, lalu dia memperlihatkan sebuah gambar ke depanku. “Ini jelek menurutku.”

Gambar kuntilanak berwajah setengah gosong.

“Aku jangan dibandingkan dengan setan dong,” desisku merasa terhina.

“Jadi sepertinya kita tak akan pernah bercerai, kamu nggak akan pernah jadi jelek sih...” Ariel mendekat.

Aku mundur.

Dia maju lagi selangkah.

Aku mundur dua langkah.

“Mau apa?” aku waspada.

“Mau kamu.” Jawabnya cepat.

“Di rumah ini? Sekarang? Yang benar saja kamu...” gerutuku, “Di kamar depan sana itu baru saja ada kejadian! Bau anyirnya masih menyengat!”

“Itu ya itu, ini ya ini,”

“Jangan Ariel, Pamali.” Aku mendorong dadanya.

Tapi dia mendekat, lalu memelukku.

Pelukannya bisa dibilang santai, ringan dan tidak menekanku. Bahkan ia mengelus punggungku dengan lembut.

“Capek?” ia bertanya padaku. Suaranya terdengar dekat di telingaku. Entah kenapa rasanya menenangkan.

“He’em,” aku menjawab begitu.

“Hidup kita langsung  berubah ya...”

Aku menjawabnya dengan helaan nafas.

“Kamu masih ingin melanjutkan hubungan kamu dengan Arka?”

Aku mengangguk.

“Apa dia menerima kamu apa adanya?” tanyanya lagi.

“Kami sudah bersama selama 6 tahun, Ariel,”

“Selama 6 tahun itu, siapa yang mengajak menikah duluan?”

Apa sih maksud pertanyaannya?

“Aku.” Kujawab demikian.

Dan yang lebih menyebalkannya lagi, dia tersenyum sinis padaku. Sambil terkekeh. Di telingaku, suaranya terdengar menyebalkan.

“6 tahun pacaran, dan kamu yang mengajaknya menikah duluan? Kamu bahkan selama 6 tahun itu masih perawan? Dia gay atau hubungan kalian berlandaskan syariah? Eh... tunggu, kalo syariah nggak boleh pacaran dong ya?”

“Maksud kamu apa hah? Mau ngomong apa kamu?!” tantangku. “Nggak usah bertele-tele!”

“Selama 6 tahun kalian ngapain aja?”

PLAKK!!

Sudah habis kesabaranku, aku menamparnya sekuat tenaga.

“Pergi!” Seruku.

“Jangan kamu dekati aku lagi!!” Aku menyambar tas besarku, kumasukkan baju-bajuku ke dalamnya.

“Aku bertanya dalam kapasitasku sebagai-“

BRAKK!!

Aku melempar sepatuku padanya.

Kulempar benda-benda di sekitarku, ada guci, ada lukisan, ada benda semacam vas antik, kulemparkan semua padanya.

Agar dia menjauh dariku.

Aku memasukkan bajuku asal saja, pokoknya semua tak ada yang tertinggal, kuangkat tas ku dan aku berjalan dengan terburu-buru keluar.

Malam ini aku akan ke stasiun.

Aku sudah tak peduli setan atau apa di jalan, aku mau pergi dari sini!

Di belakangku, kudengar langkah Ariel mengejarku.

“Claudia, plis jangan-“

“Kamu mendekat, awas kamu!”

Sementara para orang tua masih berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan mengenai langkah selanjutnya. Mereka menatapku dan Ariel dengan bertanya-tanya.

“Claudia, itu pertanyaan normal! Aku hanya ingin pernikahan kita tetap-“

Aku berbalik menantangnya tajam.

“Aku ingin bercerai! Aku tidak mencintaimu!!”

PLAKK!!

Kutampar sekali lagi anak brengsek di depanku.

Kali ini ia mundur.

“Aku sudah tidak peduli dengan warisan ini itu! Mau keluarga kita melarat, mau kalian semua bangkrut! Memangnya ada yang mengerti perasaanku?! Tidak kan?! Kalau mau kaya, sana kerja kayak Raden Arya! Bukannya nyari tumbal sodara sendiri!!” seruku keras-keras.

“Kamu bisa dicopret dari daftar-‘

“Coret saja sana!! Jadi bagian dalam keluarga macam ini malah bikin sial! Yang ada pengkhianatan, pembunuhan, rebutan warisan!! Kacau semua!!” seruku sambil pergi ke pintu depan, dan kubanting pintunya kencang-kencang.

**

Duh... gawat deh!

Sudah sekitar satu jam aku berjalan, aku nggak sampai-sampai ke stasiun.

Normalnya perjalanan ke stasiun hanya setengah jam jalan kaki. Iya memang sedekat itu.

Tapi aku sudah menyusuri jalan ini seakan lama sekali.

Akhirnya aku duduk di atas tasku, pinggir jalan.

Aku tahu situasi ini, pernah mengalaminya beberapa kali sih.

Iya, aku dikerjai astral. Bisa jadi dari rumah Ranggasadono menyuruh entah siapa untuk mengerjaiku agar aku nggak sampai-sampai ke stasiun. Dulu waktu aku marah sama salah satu pakdeku, aku ngambek, aku juga disasarin seperti ini.

Karena sudah mengalaminya beberapa kali, jadi aku nggak kaget lagi.

Dan aku sedang berada di dimensi berbeda, mungkin ini kesempatanku untuk berpikir.

Ya, aku tahu Ariel mencoba untuk meyakinkanku dia lebih baik dari Arya. Banyak kok yang bilang gini juga.

Jenny dan teman-temanku juga bilang begitu. Normalnya sih dia sudah mengajakku menikah.

Tapi menurutku semua orang sok tahu.

Tidak semua orang siap menikah, aku tahu itu.

Dan aku tahu sikap Arka semakin lama semakin uek padaku.

Ia bahkan tidak berusaha menghentikanku, atau setidaknya bernegosiasi dengan keluargaku, dan dia tidak tampak sedih, saat aku bilang kalau aku dijodohkan dengan Ariel.

Dia hanya bilang kalau dia percaya padaku.

Aku begitu mencintainya, lalu aku harus bilang apa?

Tapi...

Kalau aku nanti menjanda, apakah ia akan tetap mau bersamaku?

Setidaknya dia masih lebih baik dibanding Ariel yang punya banyak pacar, tukang mabok, tukang ngobat, tukang dugem. Entah mau bagaimana masa depannya, aku bahkan tak yakin dia akan bisa jadi Direktur karena sifat sablengnya itu.

Dia selingkuh pun kurasa aku akan memaafkan Arka, kalau Arka mau kembali padaku.

“Yakin mau begitu?”

Sebuah suara dari arah sampingku.

Muncul lagi si Dewi Rukmini. Wajahnya yang dihiasi kebaya ungu memang cantik, kakinya kaki rusa terbalik. Tapi aku sudah pernah melihat wajah aslinya. Jin yang seperti ini termasuk sakti.

Dia penjaga wilayah sini. Bukannya aku akrab, tapi aku hanya sering bertemu saja.

“Jangan ganggu aku, urusi saja masalah duniamu, Rukmi,” gumamku sambil duduk di aspal dan tiduran dengan menyangga kepalaku dengan tas pakaian. Aku tidur menatap langit dimensi lain.

Sesantai itu aku.

“Mau tinggal di sini saja? Atau kukembalikan ke rumah?”

“Nggak mau tinggal di sini. Tapi nggak mau balik ke Rumah Mbah Rangga. Kalau mau dekat di sini, jangan ganggu. Bilang ke Pakde Suyat, aku nggak mau balik. Kalau dia mau warisan Mbah Rangga, jangan berharap padaku, sana mohon sama Raden Arya saja! Yang berkuasa itu beliau!”

“Suyat tidak terikat perjanjian apa pun denganku, aku hanya penunggu daerah sini.”

“Kenapa aku disasarin?”

“Kamu lagi galau, jadi kamu nyasar sendiri. Kalau keluar gapura, jangan sambil marah-marah, makanya.”

Aku menatap ke arah Dewi Rukmini yang sedang menjilati kaki rusanya. Baunya antara busuk, anyir, wangi juga. Campur aduk. Tapi bau seperti ini sudah biasa ada di sekitarku kalau aku ke rumah Mbah Rangga.

“Hm...” gumamku. “Numpang tidur.”

“Tidurnya agar ke pinggir, kamu itu lagi di tengah jalan kalau di dunia manusia,”

Aku melipir agak ke rumput. Ku tebak, posisiku pasti sedang berdiri terpaku di tengah jalan kalau di realita.

“Dewi, kamu tahu Kencana tidak?” iseng-iseng aku bertanya padanya.

“Tahu.”

Mungkin bisa kutanyakan beberapa hal padanya. Aku lumayan penasaran dengan sosok ‘Kencana’ ini karena aku dulu tidak mengenalnya. “Dia itu siapa?”

“Dia yang sering disebut Rangga dengan julukan ‘harta kesayanganku’.”

“Kok seperti film? Mbah Rangga selingkuh dari Mbah Putri atau gimana?!” dengusku.

“Ini hanya hikayat mencintai tapi tak bisa memiliki.” Jawab Dewi Rukmini.

Aku pun menghela nafas dan kembali menatap langit.

“Tidur bentar. Aku perlu ketenangan.”

“Aku akan di sini menjagamu,” desis Dewi Rukmini sambil membelai rambutku.

“Jangan macam-macam...” desisku sambil memejamkan mataku.

Terpopuler

Comments

YK

YK

lho iyo.. tah...

2023-09-18

0

Ersa

Ersa

cuma di novel kak septi , unsur horor& mistisnya tdk menakutkanku. pdhl aku anti baca novel horor

2023-09-04

0

Ersa

Ersa

lah po Arka Wis nduwe bojo ato bahkan anak yo🤔

2023-09-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!