Sungai dekat rumah

"Assalamualaikum??", Hasan mengucap salam setengah berteriak.

Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Aku langsung menerobos masuk menuju kamar depan. Aku buka pintu kamar, Irul terlentang mata terpejam, tidur. Eh, tidur atau pura pura tidur nih.

"Woii, pura pura micek nih bocah!", hardik Hasan sambil melemparkan sarung ke wajah Irul.

Irul terhenyak kaget, mengucek mata menoleh bingung.

"Opo sih, ganggu orang tidur aja kalian", Irul menggerutu, menyingkirkan sarung kumal Hasan.

"Hilih, tidur opo, lha tadi cekikikan ketawa ketiwi, karo sopo coba?", serang Hasan.

"Telponan sama pacarmu ya?", tanyaku menyelidik.

"Haa? ketawa? telpon? kalian iku ngomong apa sih?", Irul balik bertanya dengan raut wajah yang jelas tergambar wajah bingung dan nggak ngerti.

"Wooo, lagi belajar akting po gimana ini? Pura pura tidurmu ki bener bener kelihatan natural lho nyuk, kunyuk. .", Hasan terlihat jengkel.

Aku teringat kembali dengan pertanyaan Febi tadi siang. Dan firasatku mengatakan ada yang tidak beres. Kutarik lengan Hasan.

"Coba duduk dulu San, dan Rul aku mau tanya", nada bicaraku terdengar serius, Hasan dan Irul akhirnya duduk dan menyimak.

"Kamu tadi benar benar tidur?", aku perhatikan raut wajah Irul.

Dia mengangguk pasti. Bulu kudukku mulai meremang, sesaat seperti ada yang mengawasi. Aku singkirkan perasaan aneh tersebut.

"Oke, berarti aku dan Hasan tadi salah dengar", lanjutku mencoba meyakinkan diri.

"Tapi kan", Hasan terlihat tidak terima dengan ucapanku.

"Sudah, jangan dipikirkan ", sanggahku cepat.

"Kamu tadi wes tidur, trus apa ya wes sholat?", Aku bertanya pada Irul menyelidik. Irul terlihat cengar cengir kemudian menggelengkan kepala. Dasar semprul.

Sehabis isyak Ibuk dan adik baru pulang. Sementara aku memilih untuk sholat di rumah tidak lagi ke masjid di waktu isyak. Aku dan Hasan duduk di emperan rumah sementara Irul sudah melanjutkan tidur tidak cantiknya. Sejurus kemudian Ibuk menyodorkan "gethuk" warna warni yang terlihat menggoda.

"Lho, kemana temenmu yang satu tadi?", tanya Ibuk bermaksud menanyakan Irul yang sudah ngorok di kamar.

"Ngebo buk, itu si Irul julukannya kalo di kampus si Borem Nebo terus merem", jawabku disambut tawa Hasan yang tak bersuara hanya terdengar seperti orang yang sesak nafas. Aku ikut tertawa bukan karena omonganku lucu tapi karena suara ketawa Hasan yang unik.

Tepat jam sembilan malam aku dan Hasan menuntaskan obrolan beserta gethuk dua piring, kami masuk ke dalam kamar karena hawa di luar semakin terasa dingin. Sebenarnya aku belum terlalu mengantuk, tapi tidak ada juga yang bisa aku kerjakan saat ini. Lebih baik rebahan di kamar, sambil membayangkan senyum Erni pikirku. Hasan terlihat kedinginan, dia memakai sweater dan masih menggunakan sarungnya sebagai selimut. Aku tersenyum sendiri, mungkin bagiku yang sudah terbiasa, udara di sini nyaman nyaman saja, tapi bagi yang belum pernah kesini pas malam hari pasti merasa kedinginan. Aku kembali sibuk ngelamun dan mengingat senyum Erni. Akhir-akhir ini memang, Erni sulit sekali untuk aku singkirkan dari lamunan, memikirkannya bagai candu. Tiba tiba aku teringat dengan Febi, apa yang dikatakannya siang tadi cukup mengusikku.

"Duuutttt"

Bunyi kentut yang keras membuyarkan lamunan, disusul aroma menyengat cukup membuat Hasan terduduk jengkel.

"Irul semprull", Hasan menggerutu sambil menutup hidung.

"Cah, wetengku mules, bagaimana nih?", Irul meringis panik, wajahnya terlihat merah padam, tangannya memegang perut dan pantat.

"Ya terpaksa ke sungai, yok tak antar", jawabku kasihan. Aku ambil senter bersiap untuk ke sungai. Ternyata Hasan ngikut.

"Sekalian deh aku ikut, daripada nanti malem aku yo mules, mending sekarang aja sekalian kita ngeden bareng Rul", celutuk Hasan.

Akhirnya kami bertiga berjalan ke luar rumah bergegas menuju ke sungai.

. . . .

Terpopuler

Comments

Yuli a

Yuli a

tonggeret tu apa sih... kok sering disebut ya..

2025-01-26

0

Yuli a

Yuli a

di cegat hantu nggak nih...

2025-01-26

0

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

🤣🤣🤣🤣

2024-01-28

0

lihat semua
Episodes
1 Hunian nyaman
2 Erni
3 Bayangan yang mengintip
4 Febi
5 Menginap
6 Sungai dekat rumah
7 Bayangan hitam berbulu
8 WES WAYAH EEE
9 Bidadariku
10 Ruangan BEM dan Febi
11 di Radio
12 Bapak Pulang
13 Ternyata, Lek Jo . . .
14 Siapa yang ketuk ketuk pintu???
15 Mulai nggak nyaman
16 Aku dan Febi
17 Rumah Beringin
18 Asap Rokok
19 Aku dan Febi 2
20 Foto yang tersebar
21 Erni yang menjauh, Febi yang mendekat??
22 SURUP
23 Dimana aku???
24 Erni tak datang menjenguk
25 Sahabat > Kerabat
26 Kak Iwan
27 si "Thor"
28 Aku menyukaimu
29 Hari patah hati
30 Perasaan Sebenarnya
31 Lik Wo nggak jadi berkunjung?
32 Kunjungan Lik Wo
33 Warung Tenda
34 Aku, kamu dan trotoar
35 Kekecewaan
36 Sebuah pertengkaran
37 Bogem mentah
38 Dimana Erni???
39 Kampus tengah malam
40 Kamar mandi, handuk, dan Erni
41 Erni kritis
42 Ikan Nila di kolam
43 Se ikat kayu di bekas ruko
44 Tembang dan Tangis
45 Ganda Mayit
46 Mbah Kadir
47 Sogo Girl
48 Pindah??
49 4 April
50 Babak Belur
51 Tindakan Nekat
52 ANOMALI
53 Percakapan dengan petugas SPBU
54 Pesan Bu Sumini
55 Si kunyuk dan bujang berhati batu
56 Hunian yang tidak nyaman (lagi)
57 Ulang tahun Febi
58 Pengkhianat sebenarnya
59 Aku pergi
60 Malam kelabu, Pagi membiru
61 Permintaan maaf Iwan
62 Pak Ndori
63 Daftar orang yang kubenci
64 Kembali ke rumah
65 Ikatan keluarga
66 Malam pertama di rumah
67 Malam pertama di rumah (2)
68 Menginap di rumah Lik Diran
69 Keluarga sing babat desa
70 Menjenguk Lik Wo
71 Surat dari Lik Wo
72 Orang gila di kampus
73 Irul dalam bahaya (?)
74 Penjelasan Irul
75 Alasan sebuah persahabatan
76 Kobeng
77 Kobeng (2)
78 Extra
79 Bapak Sakit
80 Bapak sakit (2)
81 Toilet Rumah Sakit
82 Kepergian Irul
83 Extra
84 Obrolan Bapak dan anak
85 Permintaan Bapak
86 Rawon setan
87 Rencana pembongkaran rumah
88 Extra
89 Bongkar!
90 Hari yang buruk
91 Penjelasan Bu Surti
92 Bawa aku pulang
93 Extra
94 Duka
95 Setelah 7 hari, kini ada apa lagi?
96 Bukit manik manik
97 Se ikat kayu dan sebuah desa berkabut
98 Pertemuan kembali dengannya
99 PENGUMUMAN
100 Penjelasan Febi
101 Penjelasan Febi 2
102 Gulungan sirih dan sebuah keris
103 Rumah di tengah sawah
104 Hancurnya Rumah di tengah sawah
105 Akhir kisah (?)
106 PENGUMUMAN PERPISAHAN RTS
107 PENGUMUMAN RTS #2 TELAH HADIR
108 RTS 3 TELAH DATANG
109 PENGUMUMAN CERITA HOROR BARU
110 NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
111 Ijin Promo Judul Baru
112 Judul Horor Baru bung Kus
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Hunian nyaman
2
Erni
3
Bayangan yang mengintip
4
Febi
5
Menginap
6
Sungai dekat rumah
7
Bayangan hitam berbulu
8
WES WAYAH EEE
9
Bidadariku
10
Ruangan BEM dan Febi
11
di Radio
12
Bapak Pulang
13
Ternyata, Lek Jo . . .
14
Siapa yang ketuk ketuk pintu???
15
Mulai nggak nyaman
16
Aku dan Febi
17
Rumah Beringin
18
Asap Rokok
19
Aku dan Febi 2
20
Foto yang tersebar
21
Erni yang menjauh, Febi yang mendekat??
22
SURUP
23
Dimana aku???
24
Erni tak datang menjenguk
25
Sahabat > Kerabat
26
Kak Iwan
27
si "Thor"
28
Aku menyukaimu
29
Hari patah hati
30
Perasaan Sebenarnya
31
Lik Wo nggak jadi berkunjung?
32
Kunjungan Lik Wo
33
Warung Tenda
34
Aku, kamu dan trotoar
35
Kekecewaan
36
Sebuah pertengkaran
37
Bogem mentah
38
Dimana Erni???
39
Kampus tengah malam
40
Kamar mandi, handuk, dan Erni
41
Erni kritis
42
Ikan Nila di kolam
43
Se ikat kayu di bekas ruko
44
Tembang dan Tangis
45
Ganda Mayit
46
Mbah Kadir
47
Sogo Girl
48
Pindah??
49
4 April
50
Babak Belur
51
Tindakan Nekat
52
ANOMALI
53
Percakapan dengan petugas SPBU
54
Pesan Bu Sumini
55
Si kunyuk dan bujang berhati batu
56
Hunian yang tidak nyaman (lagi)
57
Ulang tahun Febi
58
Pengkhianat sebenarnya
59
Aku pergi
60
Malam kelabu, Pagi membiru
61
Permintaan maaf Iwan
62
Pak Ndori
63
Daftar orang yang kubenci
64
Kembali ke rumah
65
Ikatan keluarga
66
Malam pertama di rumah
67
Malam pertama di rumah (2)
68
Menginap di rumah Lik Diran
69
Keluarga sing babat desa
70
Menjenguk Lik Wo
71
Surat dari Lik Wo
72
Orang gila di kampus
73
Irul dalam bahaya (?)
74
Penjelasan Irul
75
Alasan sebuah persahabatan
76
Kobeng
77
Kobeng (2)
78
Extra
79
Bapak Sakit
80
Bapak sakit (2)
81
Toilet Rumah Sakit
82
Kepergian Irul
83
Extra
84
Obrolan Bapak dan anak
85
Permintaan Bapak
86
Rawon setan
87
Rencana pembongkaran rumah
88
Extra
89
Bongkar!
90
Hari yang buruk
91
Penjelasan Bu Surti
92
Bawa aku pulang
93
Extra
94
Duka
95
Setelah 7 hari, kini ada apa lagi?
96
Bukit manik manik
97
Se ikat kayu dan sebuah desa berkabut
98
Pertemuan kembali dengannya
99
PENGUMUMAN
100
Penjelasan Febi
101
Penjelasan Febi 2
102
Gulungan sirih dan sebuah keris
103
Rumah di tengah sawah
104
Hancurnya Rumah di tengah sawah
105
Akhir kisah (?)
106
PENGUMUMAN PERPISAHAN RTS
107
PENGUMUMAN RTS #2 TELAH HADIR
108
RTS 3 TELAH DATANG
109
PENGUMUMAN CERITA HOROR BARU
110
NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
111
Ijin Promo Judul Baru
112
Judul Horor Baru bung Kus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!