“Mas—” Nina menerobos masuk dan menatap muak kebersamaan di dalam.
Fokus tatapan Nina tertuju kepada wajah khususnya kedua mata Reno. Setelah tatapan mereka akhirnya bertemu, Reno yang langsung terkejut juga kebingungan. Tentu, detik itu juga dirinya salah kira. Walau kini ada dua wanita berwajah Cinta dan keduanya sama-sama tidak berjilbab karena Cinta melepas jilbabnya, jika sudah dihadapkan layaknya sekarang, ia paham, mana yang Cinta dan mana yang Nina.
Akala sudah langsung mengambil alih Cinta. Melalui lirikan, Nina melihat pria yang ia ketahui merupakan mantan Cinta, masih sangat peduli kepada Cinta.
“Kelakuanmu, beneran enggak jelas. Di rutan saja Mas tega, setelah apa yang terjadi dan Mas terancam dibui!” kecam Nina masih menatap muak sang suami.
Biar bagaimanapun, sampai detik ini Nina belum pernah ditalak. Meski tentu saja, alasannya menemui Reno juga untuk itu—menyelesaikan sekaligus mengakhiri hubungan mereka.
“Talak aku, agar aku terbebas dari laki-laki enggak jelas seperti Mas!” tuntut Nina, tapi pria yang menjadi lawan bicaranya langsung menggeleng tegas.
“Sampai mati pun, aku enggak akan melakukannya!” tegas Reno mendekati Nina dan tak segan menatap Nina dengan tatapan intimidasi.
Nina melirik sinis Reno kemudian bersedekap. “Kalau begitu, setelah apa yang terjadi dan Mas bahkan sudah tega menjualku, itu cukup jadi alasan pernikahan kita enggak pernah ada. Terlebih, alasan aku harus menikah dengan Mas pun, saat itu posisinya aku sedang sekarat. Pernikahan itu beneran tanpa sepengetahuanku. Dan otomatis, harusnya pernikahan itu enggak sah!” tegas Nina. Namun karena Reno terus maju dan pria itu tampak akan melayangkan perlawanan, ia sengaja berkata, “Kalau Mas terus mempersulit gerak sekaligus kebebasanku, biarkan pengacaraku yang urus!”
Merasa tersentak sekaligus tertantang, Reno mengangkat tinggi tangan kanannya dan nyaris menghantamkannya ke pipi kiri Nina. Namun, kedua tangan Nina silih berganti menahan tangan kanan Reno, disusul juga kedua tangan Akala yang seketika memiti*ng Reno.
Akala memilih melepaskan Cinta hanya untuk mnghentikan kebatilan seorang Reno kepada Nina. Membuat Reno meringis kesakitan karena Akala juga enggan mengakhiri ulahnya.
Sambil menahan sakit, Reno yang masih meringis karena efek dipit*ing oleh Akala berkata, “Ingat yah, Nin. Walaupun aku harus dipenjara, orang-orangku enggak segan cari kamu dan sampai kapan pun, kamu enggak akan pernah hidup tenang!” Reno tidak main-main dan bersumpah akan membuat hidup Nina tidak tenang.
“Semoga kamu diberi umur panjang agar kamu bisa merasakan hidayah, Mas!” tegas Nina. “Sampai jumpa di persidangan!” tegasnya memilih pergi dan tak mau lagi lama-lama di sana.
Kepergian Nina juga membuat Akala tak memiliki alasan untuk tetap di sana. Akala sengaja mendorong Reno sekuat tenaga hingga pria itu terjerembab di lantai keramik putih berdebu di bawah sana. Namun sebelum benar-benar pergi, Akala menoleh dan menatap Cinta. Tadi, wanita itu sempat menangis ketakutan sambil memeluknya. Kini, sambil batuk-batuk, Cinta menyusulnya dengan langkah buru-buru.
“Akala!” sergah Cinta terbatuk-batuk efek ceki*kkan Reno yang baginya terasa sangat menyiksa.
Akala berhenti melangkah kemudian belik badan hingga membuatnya menghadap kemudian menatap Cinta. Di hadapannya, Cinta berangsur menyudahi langkahnya.
“Akala, aku butuh kamu! Aku mohon kasih aku kesempatan sekali saja! Aku mohon, tolong. Aku janji aku akan berubah!”
“Jangan pernah berubah karena orang lain, Ta. Karena saat orang itu sudah enggak peduli, kamu akan kehilangan jati diri!” yakin Akala. Apalagi kini saja, Cinta sudah tak lagi memakai jilbabnya. Jilbab yang dulu sempat Akala pasangkan untuk pertama kalinya di kepala Cinta.
Cinta yang merasa tersindir langsung kebingungan. Ia mengerling ke samping bawah. Membuatnya mendapati rambut sepinggangnya yang tak tertutup jilbab lagi.
“Pergilah ke kantor polisi, belum terlambat kalau kamu mau merenungi kesalahan kamu. Bersikaplah koperatif. Kalau kamu merasa tidak bersalah, yakinkanlah polisi.” Akala masih berucap sangat sabar dan menatap Cinta penuh keteduhan.
“Setelah semua yang terjadi, kamu masih merasa menjadi korban? Semuanya sudah sangat peduli loh, Ta. Justru kamu yang mengkhianati kepedulian sekaligus ketulusan kami!” lanjut Akala.
Cinta berangsur menunduk dalam. “Aku beneran masih butuh waktu, Akala.”
“Jangan lama-lama. Karena makin kamu bermain-main dengan hukum, makin sulit juga kamu menghindarinya!” tegas Akala dan kali ini sengaja meninggalkan Cinta.
Kedua kaki Cinta refleks hendak mengejar, tapi wanita itu urung melakukannya. “Lapor sekarang dan meyakinkan polisi bahwa aku enggak bersalah. Bisa enggak sih, soalnya aku sudah mengoperasi wajah Nina jadi mirip aku. Kok, terasa mustahil aku bisa bebas bahkan meski sampai bersyarat,” pikir Cinta benar-benar ragu.
Padahal sana sini sudah memberi masukan, agar ia menyerahkan diri agar hukuman yang didapatkan juga jauh lebih ringan. “Ya sudah deh, besok pagi.” Setelah yakin dengan keputusannya, Cinta buru-buru menyusul Akala.
Cinta bermaksud mengabarkan niatnya kepada Akala. Tadi, mereka ke sana menggunakan mobil Akala. Namun meski Cinta sudah sampai berlari hingga ke pinggir jalan raya untuk menyusul, ia tetap tertinggal. Akala meninggalkannya tanpa kembali membawanya ikut serta.
“Akala jahat banget sih. Kenapa dia justru jadi peduli ke Nina?!” kesal Cinta. Ia sengaja mencari transportasi terdekat.
Sambil terus melangkah di pinggir jalan, Cinta sengaja mengeluarkan ponsel dari tote bag merah yang menghiasi pundak kanannya. Tak di sangka, baru juga ponsel itu dikeluarkan, sebuah motor yang dikendarai oleh orang berboncengan menghampiri Cinta. Pria yang membonceng merebut ponsel Cinta, kemudian melakukan hal yang sama pada tote bag merah Cinta. Cinta langsung mengejar, terus begitu sambil berteriak sementara kedua tangannya berusaha meraih tote bagnya.
Sempat berhasil mempertahankan tote bag menggunakan kedua tangan, di tengah suasana yang sedang terik-terinya karena waktu yang berjalan sekitar pukul setengah dua siang, Cinta justru mendapat sabetan golo*k di kedua tangannya. Cinta langsung terjerembab dan melepaskan tote bagnya. Akan tetapi, rambut panjangnya yang tergerai nyangkut ke rantai dan terjadilah adegan menyeramkan yang membuat darah segar menghiasi aspal panas. Darah segar yang berasal dari wajah Cinta yang terluka.
Detik itu juga Cinta tak lagi mampu berteriak. Perjalanan panjang yang sangat menyakitkan karena wajahnya harus diadu dengan aspal panas dan itu dalam keadaan motor melaju kencang.
Sebagian dari saksi yang akhirnya berani menghadang be*gal dan menjadikan Cinta sebagai korban, bekerja sama melemparkan sebuah bangku di jalan yang harusnya motor beg*al lalui. Keribut*an tak terelakan antara beg*al dan para warga yang kompak menyer*ang menggunakan apa pun yang ada di sekitar mereka.
Hanya saja, walau pada akhirnya beg*al tersebut berhasil diamankan, keadaan Cinta sudah sangat mengenaskan. Wanita itu masih merintih kesakitan bersama darah segar yang terus keluar dari luka di wajahnya. Kepala Cinta dalam keadaan tertindih kenalpot panas setelah motor bebek butut si beg*al dijatuhkan begitu saja hanya karena sang pengemudi berusaha menghindari amukan warga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kamiem sag
waouwwww... keren, mak suka tanpa melakukan oplas wajah Cinta berubah
2025-01-11
0
Nendah Wenda
karma di bayar kontan cinta miris sekali
2024-11-21
0
Akbar Razaq
Sebenarnya sah tidak sih pernikahan mereka bukannya Nina dalam kondisi tak sadar atau setengah sadar.Dia tdk tahu betul ternyata ia di nikahkan oleh orang tua tiri pula tanpa ia setujui.
2024-06-27
0