“Apa yang Nina alami sudah masuk eksploita*si anak sih. Ngeri pas Excel cerita semuanya,” batin mas Aidan. Ia membiarkan Arimbi mengambil alih Nina. Sementara ia dan Akala memboyong Cinta dari sana karena mereka pun sudah memanggil perawat atau dokter.
Akhirnya Nina sadar dan ini seolah menjadi awal dari hukuman sekaligus keadilan untuknya.
“Tahu gini, mending aku sama Helios saja. Mending enggak usah ada Nina. Toh, Akala yang aku bela-belain justru melempem. Akala sudah enggak mau lagi sama aku,” batin Cinta. Ia melangkah ragu di depan Akala dan mas Aidan.
“Sekarang juga, aku akan antar kamu ke kantor polisi. Atau, kamu mau mereka datang ke sini buat jemput kamu?” ucap mas Aidan.
“Aku akan mengabari orang tua kamu,” ucap Akala.
Detik itu juga Cinta langsung balik badan dan lagi-lagi berlutut. Memohon agar kasusnya tidak sampai pada keluarga maupun orang tuanya.
“Kenapa kamu baru mikir sekarang? Kenapa kamu enggak mikirin dari awal? Kenapa kamu juga enggak mikirin Nina! Sampa*h emang ya otak kamu!” marah mas Aidan.
Di dalam, Nina masih mengawasi sekitar. Ia yang masih terbaring, menatap waspada keadaan di sana. Ia kembali melihat wajah Arimbi dan baginya sangat asing. Arimbi terus tersenyum kepadanya, tapi ia tak mau langsung percaya kepadanya.
“Mas Akala mana? Mas Excel juga,” batin Nina yang juga penasaran, sudah berapa lama ia ada di sana. Juga, apa saja yang sudah ia lewatkan selama ia di sana.
“Aku harus cepat sehat. Aku enggak boleh sakit lama-lama. Aku harus membalas mereka semua. Selain aku yang juga harus urus Malini. Malini butuh aku!” batin Nina lagi. Ia nekat berusaha bangun dan membuat ketiga orang di sana panik.
Karena selain ada Arimbi, di sana juga ada seorang suster. Suster tersebut tengah membantu seorang dokter laki-laki yang menangani Nina.
“Aku ingin sembuh ...,” ucap Nina terengah-engah dan suaranya terdengar menyedihkan bahkan di telinganya sendiri.
Ketiga orang di sana langsung berusaha menenangkan Nina.
“Jangan-jangan, wanita ini orang suruhan mas Reno,” pikir Nina curiga kepada Arimbi. Pengalaman bur*uk di masa lalu memang membuatnya trauma. Ia jadi krisis rasa percaya. Kecuali, Arimbi menjelaskan sejelas-jelasnya seperti yang pernah Excel lakukan.
Barulah sekitar lima menit kemudian, tak lama setelah dokter dan perawat pergi dari sana, Arimbi pun menjelaskan sejelas-jelasnya tentang siapa dirinya sekaligus maksudnya ada di sana.
“Aku enggak akan minta macam-macam. Buat Cinta, dia cukup dipenjara, tapi selain itu, dia juga wajib balikin wajahku. Balikin juga kenormalan wajahku. Karena semenjak menjalani operasi, wajahku jadi sering sakit!” ucap Nina.
Arimbi yang masih ada di sana dan memang menjadi lawan bicara Nina sudah langsung nelangsa.
“Sanggup kamu balikin wajahku seperti semula? Bukan hanya wujud, tapi juga kenyamanannya! Karena setelah kamu ubah jadi begini, wajahku jadi kaku! Buka mulut saja kadang sulit!” tegas Nina setelah akhirnya ia bertemu Cinta.
Disaksikan Akala, mas Aidan, dan juga Arimbi yang masih berdiri di sebelah Nina, Cinta hanya terdiam bingung.
“Enggak usah bingung-bingung. Waktu kamu beli aku ke mas Reno saja, kamu langsung sat set sat set. Heran, bisa-bisanya wanita seperti kamu berhubungan baik dengan germ*o dan kamu sengaja menjalin hubungan! Harusnya kamu orang kaya, berpendidikan juga. Tapi kenapa kelakuanmu mirip manusia?! Ibli*s saja nangis karena mereka kalah kejam!” tegas Nina. Ia masih terbaring dan mulutnya masih dihiasi selang ventilator.
“Jadi, jika aku bisa membuatku kembali memiliki wajahmu, kamu akan memaafkanku?” tegas Cinta merasa tertantang. Ia sudah lelah, bahkan muak karena terus disalahkan. Tak habis pikir, Nina berani menyamakannya dengan manusia padahal jelas-jelas, ia memang manusia.
“Kamu bahkan enggak menyesali kesalahanmu kepadaku? Hanya karena kamu membeliku, kamu enggak merasa apa yang kamu lakukan kepadaku salah?” isak Nina.
“Yah! Karena itu memang setimpal dengan semua biaya yang aku keluarkan!” tegas Cinta yang juga masih menatap tegas Nina. Di ranjang sana, Nina jadi agak meringkuk hanya untuk menatapnya. Namun baru saja, seorang Arimbi yang ia kenal lemah lembut, mendadak menampa*rnya sekuat tenaga. Bukan hanya sekali, karena Arimbi yang menatapnya dengan tatapan khas orang sangat marah, melakukannya sebanyak empat kali. Arimbi yang berlinang air mata melakukannya secara bolak-balik.
“Kamu enggak tahu sakitnya jadi aku, Mbak! Jangan sok suci karena andai kamu jadi aku, aku yakin kamu lebih parah!” kesal Cinta yang langsung membuat mas Aidan teriak.
“JANGAN MENYAMAKAN DIRIMU DENGAN ISTRIKU!” kesal mas Aidan sampai menarik Cinta hingga tubuh wanita itu berakhir terduduk secara pak*sa.
Akala terpejam pasrah sembari menahan sesak sekaligus panas yang menguasai sekujur tubuhnya. Teriakan mas Aidan masih terdengar sangat mengerikan. Kali ini pria itu memaksa Cinta untuk minta maaf kepada Arimbi maupun Nina.
Akala mengeluarkan ponselnya dari saku sisi kanan celana panjangnya. Ia langsung menghubungi kontak Chalvin yang tidak lain kakak Chole.
“Halo ...? Assalamualaikum? Akala, ada apa? Bagaimana?” Suara Chalvin terdengar jelas karena Akala sengaja mengeraskan volume teleponnya.
Apa yang Akala lakukan sudah langsung mencuri perhatian semuanya. Apalagi Cinta yang sudah langsung gelisah. Apalagi awalnya ia yang masih terduduk di lantai, masih menatap mas Aidan dengan tatapan menantang.
“Waalaikum salam, Vin. Vin, kamu bisa ke Cilacap sekarang juga.” Akala sama sekali tidak melirik Cinta yang ia pergoki sudah langsung sibuk menatapnya.
“Gimana-gimana? Aku ke Cilacap sekarang? Bareng keluargaku apa gimana? Jadi, kamu sama Cinta jadi—”
“Enggak. Jangan bawa keluarga dulu karena aku pun enggak akan sama Cinta lagi!” tegas Akala sengaja memotong ucapan Chalvin.
“Owh ... terus, kenapa aku harus ke Cilacap? Mas Aidan sama mbak Mbi kayaknya udah pulang deh. Yang di sini tinggal Excel sama mbak Azzura, terus orang tua kalian,” ucap Chalvin yang langsung terdengar kebingungan.
“Kamu harus segera ke sini karena CINTA SUDAH BUNU*H ORANG! AKU SAMA MAS AIDAN BENERAN UDAH BINGUNG MAU GIMANA URUSNYA KARENA DIA ENGGAK BEDA DENGAN MAS CIKHO!” tegas Akala.
Cinta langsung menunduk dalam bersama air matanya yang berlinang.
Sementara itu, berbeda dari sebelumnya, kali ini Chalvin tak langsung menjawab. Dan semuanya termasuk Cinta yakin, Chalvin yang usianya sebaya dengan Azzura dan Azzam, terlalu syok.
“Hukuman yang pantas buat orang seperti kamu itu hukum sosial. Biarkan masyarakat luas tahu apa yang kamu lakukan. Biarkan mereka menilai. Mengenai hukuman dari kepolisian, itu urusan nanti. Yang penting sekarang, biarkan masyarakat luas yang mengawal. Seperti kematian ayahnya mas Excel, biar masyarakat luas yang mengawal karena merek jauh lebih paham mengenai apa yang harusnya kamu dapatkan, Ta!” tegas Akala walau sambungan teleponnya dengan Chalvin, belum usai.
“Kala, Kala ... ini kamu beneran apa bercanda?!” sergah Chalvin dari seberang sana.
“Aku serius! Cinta sudah membeli wanita ke seorang germ*o buat dioperasi wajahnya agar mirip dia. Wanita itu awalnya akan ditugaskan untuk menikah dengan Helios, masalahnya selain Cinta sama sekali tidak merasa bersalah, wanita yang Cinta beli merupakan korban perdag*angan manusia!” balas Akala yang tak lagi iba kepada Cinta lantaran wanita itu terus saja tidak mau menyesali kesalahannya. Jangankan menyesali, merasa bersalah saja tidak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
bagusss dan..hajar lg kl perlu ganting di menara sutet
2024-10-21
0
himawatidewi satyawira
iyaa manusia tp jalur sesat ta
2024-10-21
0
himawatidewi satyawira
hadeeuh cinta..cinta, jngn mikir kesenangan diri sendiri tp nyengsarain orng lain
2024-10-21
0