Nina membawa Malini agak jauh dari kobaran api yang melahap habis rumahnya. Ia menurunkan Malini yang tingginya sudah selengannya. Malini terus menatap wajah Nina. Wajah asing yang sudah babak belur penuh luka.
“Mbak pasti sakit banget, ya? Mata Mbak sampai berdarah. Itu kok bisa gitu?” tanya Malini.
Belum sampat Nina menjawab, warga sudah berbondong-bondong datang. “Aku harus pergi! Setidaknya aku sudah membuat mereka tahu bahwa aku kembali! Aku pastikan mereka akan menganggap Cinta sebagai aku. Dan setelah itu terjadi, Cinta akan merasakan ketidakadilan yang harusnya aku dapatkan!” batin Nina. Ia langsung lari tanpa pamit ke Malini. Terus begitu walau sepatu yang dipakai jebol. Walau sekujur tubuhnya sudah penuh luka, bahkan di beberapa kesempatan ia kerap menelan rasa asin akibat cairan darah di bibir, Nina terus lari.
Namun baru Nina sadari, seseorang mengejarnya menggunakan motor. Celaka, itu Reno!
“Lari, Nin! Lari! Kamu harus ke tempat pelelangan ikan. Harus sampai di sana sebelum pukul tujuh! Kamu harus mencari Akala di sana!” batin Nina menyemangati dirinya sendiri.
Reno yang memakai motor trail sudah kerap menekan klakson, tapi Nina terus kabur dan sama sekali tidak peduli. Termasuk ketika Reno nekat menabr*ak Nina dan seketika Nina juga langsung jatuh, Nina tetap buru-buru bangkit, lari dan terus begitu.
Tanpa terasa, adzan subuh sudah berkumandang tapi perjalanan Nina ke pelelangan masih jauh. Nina memang ada niat berhenti dan meminta tolong, tapi ia takut, Reno justru akan memutar balikkan fakta dan fatalnya memfitnahnya. Karenanya, Nina mewajibkan dirinya untuk terus lari hingga ia bertemu Akala. Harusnya, Akala mampu menyelamatkannya. Andaikan Akala ragu, nanti Nina akan meminta Akala untuk mengabari Excel. Itu menjadi pelarian terbaik daripada Nina meminta tolong pada orang lain yang bisa jadi jika tidak membuat Nina makin celaka, orang yang Nina mintai bantuan juga akan ikut celaka.
Suasana jalan yang Nina lewati mulai ramai hingga Reno tak lagi bisa menabra*knya layaknya tadi. Namun, kali ini pria itu berteriak, meneriaki Nina “cop*et!”
“Aku sumpahi, seumur hidupmu, kamu enggak pernah bahagia, Mas!” batin Nina.
Beberapa orang mulai mengejar Nina, tapi Nina memutuskan terus lari sambil memanjatkan doa terbaik. Nina nekat lari dari pekarangan rumah ke pekarangan lain demi menghindari kejaran Reno yang masih bertahan menggunakan motor. Sementara orang yang sempat membantu mengejar, semuanya tidak bertahan hingga akhir. Mereka memilih menyerah karena lari Nina terlalu cepat.
Demi menyamarkan penampilannya, Nina nekat mengambil sebuah daster warna kuning yang ada di salah satu jemuran warga. Ia buru-buru membawanya masuk ke kamar mandi dan kebetulan ada di luar rumah.
“Semangat Nin! Sebentar lagi sampai pelelangan! Namun ini masih gelap, sepertinya belum ada pukul enam. Kira-kira Mas Akala sudah sampai belum, ya?” pikir Nina.
Ternyata Reno belum menyerah. Walau sempat kebablasan menab*rak rumah warga beberapa kali dan membuat orang-orang mengejarnya, Reno tetap menyusul Nina.
Nina benar-benar sampai di area parkir pelelangan. Suasana di sana sudah sangat ramai karena biasanya sebelum subuh memang sudah terjadi aktivitas jual beli ikan. Nina agak paham suasana di sana karena sebelum ibu kandungnya meninggal, sang bapak merupakan penjual ikan keliling dan biasanya akan mengambil ikan di sana.
“Mas Excel bilang, mas Akala bakalan pakai mobil pick up putih ...?” batin Nina. Baru juga ia bahas di dalam hatinya, mobil yang dimaksud justru memasuki tempat parkir. Mobil putih dan dikendarai oleh Akala langsung! Nina langsung merinding, tapi ia buru-buru lagi. Namun lagi, Reno yang baru datang menabr*aknya dengan keji.
Tanpa mematikan mesin motornya, Reno yang sudah muak dengan cara Nina, buru-buru turun dari motornya.
“Kamu yah, Nin. Daripada kamu terus kabur dan bikin aku makin celaka, mending kamu mat*i saja!” kesal Reno. Buru-buru ia lari kemudian menginjak punggung Nina lantaran ia yakini, wanita itu akan lari.
“Tolooooonggggggg! Cooooooooppeeeettttttttt! Jambreettttttt!” Nina terus berteriak, hingga beberapa orang datang.
Namun, seperti yang Nina khawatirkan, Reno sudah langsung mengarang cerita, memutar balikkan fakta.
“Dia yang sudah mengambil uang saya, makanya saya dan yang lain bikin dia babak bel*ur begini!” tegas Reno.
“Enggakkkk, dia paksa saya buat jadi pela*cur lagi di Jakarta. Dia ini ger*mo! Kalau enggak percaya, ayo kita bereskan ini di kantor polisi!” Nina tak kehabisan akal. Karena andai Reno main licik dan ia sudah ada di dekat Akala, ia juga bisa membuka kartu Reno.
Sadar pria-pria di sana dan Nina yakini akan mengunjungi tempat pelelangan ikan mulai terbawa arus yang ia lakukan, Nina berkata, “Ciu*um saja tubuhnya, dia bau alkoooohhol!”
Balasan Nina barusan membuat Reno kalah telak. Reno refleks mendelik menatap tak percaya Nina.
Pria dewasa di sana dan jumlahnya lebih dari lima orang sudah langsung menggelar sidang dadakan untuk Reno. Nina memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari Akala. Ia kehilangan jejak karena di sana ada beberapa mobil pick up yang warnanya sama-sama putih.
Nina sengaja mendatangi setiap mobil pick up putih. Ia pastikan pengemudinya dan kebanyakan tidak berpenghuni. Nina benar-benar kehilangan jejak Akala, padahal lagi-lagi, Reno berhasil melarikan diri dari masalah yang ia ciptakan. Dan lagi-lagi, pria itu menyusulnya. Kali ini, Reno berlari dan langsung menatap tajam Nina. Seolah pria itu memang akan langsung menghabi*si Nina seperti niat yang sebelumnya sudah pria itu sampaikan kepada Nina.
Seseorang menabrak Akala tak lama Akala turun dari mobil. Dua wadah ikan dan itu berupa ember besar langsung jatuh bahkan terlempar dari tangan Akala. Seseorang tak memakai alas kaki penyebabnya. Akala yakin sepasang kaki berdarah itu penyebabnya. Hati seorang Akala sudah langsung pedih hanya karena kenyataan tersebut. Lebih menyakitkan lagi, ketika Akala memastikan tubuh bagian atas sosok tersebut yang memang seorang wanita, darah segar juga masih ada di bagian tubuh lainnya.
Kedua tangan, dada dan punggung yang darahnya tembus ke pakaian warna kuning si wanita, menandakan darah dari luka terbilang banyak. Yang membuat Akala terkejut, wajah si wanita yang penuh lebam dan tak luput dari darah, benar-benar mirip Cinta!
“Ta–” refleks Akala langsung mengejar, tapi si wanita justru makin ketakutan dan buru-buru meninggalkannya.
Wanita itu memakai daster kuning lengan pendek yang menutupi hingga bawah lutut. Rambut lurus sepinggangnya awut-awutan dan tampak basah. Wanita itu benar-benar tak berjilbab, tapi bagi Akala sangat mirip dengan Cinta.
Sembari terus mengejar, Akala mengerjap beberapa kali. Bermaksud memastikan pandangannya lantaran di matanya, wanita itu terus mirip Cinta. Namun sampai titik ini, hingga akhirnya Akala berhasil menahan sebelah tangan si wanita, kemiripan itu sangat nyata.
“Bunuh saja aku ... bunuh ... bukan mauku jadi seperti ini ...,” lirih wanita itu tergolek lemas dan berakhir bersujud di hadapan Akala. “Nin, bukankah ini mas Akala?” batin Nina. Terlalu takut menghadapi Reno membuatnya melihat wajah Akala jadi mirip Reno.
“Suara mereka berbeda, tapi kenapa rupa mereka sangat mirip? Benarkah ini ... Cinta? Bukankah harusnya dia ada di Jakarta dan menjalani pernikahannya?” batin Akala. Di hadapannya, Nina yang awalnya bersujud berangsur menengadah. Membuatnya bisa jauh lebih leluasa menatap wajah Nina.
Detik itu juga dunia Nina apalagi Akala yang tengah mengawasi wajah Nina, seolah berhenti berputar. Bagi Akala yang sudah sangat memahami Cinta, wajah wanita di hadapannya memang sangat mirip. Namun, rambut dan gayanya sangat berbeda walau semacam itu memang bisa dibuat. Hanya saja, bagi Akala yang juga paham jemari tangan maupun kaki Cinta, wanita di hadapannya benar-benar hanya memiliki kesamaan wajah saja dengan Cinta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kamiem sag
Ninaaaaaa semangat ya nduk mak diain Akala menolongmu
2025-01-11
0
Nendah Wenda
apa akala akan menolongnya
2024-11-16
0
himawatidewi satyawira
malini gimn nasibnya? kasian..semoga dia baik" saja
2024-10-20
0