Jalan hidup Nina tak mengizinkan wanita itu kabur. Karena setelah kesepakatan, Nina langsung diboyong entah ke mana. Lagi-lagi Nina dibuat tak sadarkan diri menggunakan cairan yang disu*ntikan ke lengan kirinya dan itu oleh Reno.
Di tengah pengalaman yang sangat minim, Nina yang memang masih muda yakin, pria yang menikahinya tak lebih dari mucika*ri. Dan rencana gil-a itu sungguh terjadi. Padahal Reno tahu Nina sedang hamil muda dan bisa jadi berbahaya, berdampak pada janin yang Nina kandung atau berdampak fatal pada Nina sendiri.
“Mak, Pak, ... malang sekali nasib anakmu ini. Andai Bapak enggak nikah lagi. Andai Bapak enggak tertipu bujuk manis ibu Sulastri. Andai Alloh kasih aku kesempatan buat pergi dari takdir ini. Andai aku tetap di Bandung dan enggak pernah pulang lagi. Andai aku tahu ternyata ibu Sulastri sudah menikah lagi dan sepertinya sengaja menghabiskan uang kerjaku bersama baji*ngan itu. Namun, semuanya seolah harus aku jalani meski aku sudah sangat ingin mati. Orang bijak bilang, Alloh enggak mungkin menguji melebihi batas kemampuan umatnya. Masalahnya, memangnya aku sekuat apa, hingga aku sampai harus menjadi boneka mereka?” Jauh di bawah alam sadarnya, Nina terus berkeluh kesah. Hingga sepanjang proses beda*h berlangsung, air matanya terus berlinang.
“Jika ini jalanku, jika dengan cara ini aku bisa mati tapi sebelum itu aku harus bisa balas dendam ... terserah! Aku beneran enggak peduli!” Tak ada lagi yang Nina rasa selain kekecewaan mendalam sekaligus dendam. Nina merasa Sang Pemilik Kehidupan sangat membencinya. Padahal sejauh ini, Nina selalu melakukan yang terbaik. Nina bahkan tidak pernah melawan perbuatan semena-mena ibu Sulastri walau hanya berupa suara. Hanya kemarin saja Nina mulai melakukannya dan bagi Nina wajar, keputusannya menga*muk ibu Sulastri maupun bajin*gan Surat karena keduanya sudah sangat tidak manusiawi!
***
Hari demi hari berlalu dan Nina tidak berani melihat wajahnya. Awalnya wajah Nina sangat bengkak, sangat kaku, dan Nina juga sampai merasakan kesakitan luar biasa karenanya.
Entah berapa lama Nina dikurung di sebuah ruangan penuh peralatan medis. Dan selama itu juga, Nina terus menjalani infus sekaligus serangkaian penanganan lainnya yang prosesnya sama sekali tidak Nina pahami. Yang mana selama itu juga, Nina tidak pernah diajak bicara selain setiap pertanyaannya yang selalu diabaikan.
Kehadiran penunjuk waktu apalagi teknologi yang membuat Nina mengenal dunia luar bahkan sekadar televisi juga tidak ada. Suasana di sana benar-benar senyap bahkan seekor nyamuk saja tidak ada karena memang hanya ada Nina di sana. Bahkan karena tidak ada yang bisa Nina ajak bicara apalagi pertolongan, wanita itu meraung-raung kesakitan sendirian ketika pada akhirnya, Nina mengalami pendarahan hebat dari jalan lahirnya. Nina keguguran.
“Hai Cinta, ... hai ibu Sulastri, hai bajing*an Surat, ... semoga kalian masih bernapas dengan baik agar kita tetap bisa bertemu dan aku bisa membuat kalian mat*i secara perlahan!” sumpah Nina dalam hatinya. Sumpah yang juga terus terulang di setiap ia melihat pantulan bayangan wajahnya. Karena di setiap ia melihat wajahnya yang makin lama makin terbentuk sempurna, ia akan melihat sosok wajah yang sangat ia benci. Karena seperti rencana para ibli*s yang ia dengar, wajahnya sudah mulai tampak sangat mirip wajah Cinta. Operasi wajah yang ia jalani benar-benar sukses.
“Pesan maut untuk Cinta, kau rebut hidupku, kurebut hidupmu. Aku pastikan, kau akan merasakan kepedihan yang harus Nina rasakan. Aku pastikan, kamu juga akan mencicipi kekejian bajin*ngan Surat dan juga wanita tak tahu diri Sulastri!” sumpah Nina dalam hatinya.
Setelah sekian lama dan Nina juga benar-benar menjadi orang lain tanpa ada sedikit pun yang tersisa termasuk benih dari bajin*ngan Surat yang pada akhirnya gugur, kini Nina diboyong keluar dari sebuah gedung.
“Memangnya seberapa kaya wanita bernama Cinta itu hingga dia mengirimku keluar negeri. Dia bahkan bisa mempersiapkan keperluanku ke sini dalam waktu yang sangat cepat! Atau mungkin Cinta main curang juga? Ayolah Nin, dia itu ibli*s. Dia bukan manusia karena jika dia manusia, dia enggak mungkin bikin kamu menjalani kekej*ian sejauh ini!” batin Nina.
Nina yang memakai pakaian serba panjang sekaligus hangat lengkap dengan kacamata hitam yakin, dirinya ada di Korea Selatan. Musim dingin tengah melanda bersama gumpalan lembut berwarna putih yang berjatuhan dari langit.
“Salju? Salju itu indah, bahkan sangat indah meski mereka dingin dan bisa membuat tempat mereka berada beku. Dan memang tidak ada salahnya aku bermain cantik tanpa menunjukkan misi balas dendamku! Biarkan Cinta merasakan kepedihan kehidupan Nina, hanya itu karena aku enggak sudi jadi Cinta. Aku beneran enggak akan merebut apalagi menjalani kehidupan ibl*is berkedok manusia seperti Cinta!” pikir Nina yang lagi-lagi dibuat terkejut lantaran pria sangar dan itu pria berwajah orang lokal sana, mendorongnya dengan pak*sa agar masuk mobil di seberang jalan rumah sakit yang ia keluarkan.
Di mobil yang membuat Nina hanya berdua dengan pria tadi, Nina yang duduk di belakang pria yang memang menyetir mendapati sebuah koran yang terselip di sela belakang tempat duduk di pria. Dari sekian tulisan yang sama sekali tidak Nina ketahui maknanya, yang wanita itu cari adalah waktu terbitnya.
“2023 ...? Hah, selama itu aku di sini?” batin Nina benar-benar syok.
Yang Nina ingat, dirinya pulang dari Bandung ke kampung halaman itu akhir bulan November tahun 2021. Yang dengan kata lain, pertemuannya dengan Reno maupun Cinta, sekitar awal tahun 2022. “Selama ini ... dan andai benih baji*ngan itu tidak gugur, bisa jadi sekarang usianya sekitar empat atau lima bulan!” Tiba-tiba saja Nina kepikiran, apakah kepulangannya juga akan dibarengi dengan rencana pernikahan yang harus ia jalani karena ia harus menggantikan Cinta?
“Cinta ini beneran ib*lis pintar. Sepertinya dia juga main serba cantik. Dia bahkan bisa mengulur waktu hingga aku benar-benar sudah mirip dia agar aku bisa berfungsi dengan semestinya!” batin Nina lagi karena ia tak mungkin mengutarakannya. Ia tak mau rencananya diketahui oleh orang lain apalagi pihak Cinta.
“Hal pertama yang harus aku lakukan adalah kabur sebelum pernikahan digelar. Aku harus kabur agar Cinta maupun bajin*gan Reno sibuk mencari, hingga otomatis baji*ngan Surat dan ibl*is Sulastri juga diminta membantu mencariku. Dan aku harus bikin Cinta asli yang ditemukan oleh mereka, ... bukan aku. Setelah itu, baru aku memulai balas dendamku secara langsung!” Dalam hatinya Nina yakin, rencananya akan menjadi awal mula kehancuran ibl*is wanita sekelas Cinta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kamiem sag
Cnta... Cinta... mak gak nyangka nduk kau sejahat itu
2025-01-11
0
Samsia Chia Bahir
Hhuuuuuuuhhhh 😥😥😥😥
2024-05-06
0
Al Fatih
semangat mengikuti kisah perjalanannya Nina....
2024-01-28
0