Orang seperti Cinta yang tidak pernah merasa bersalah, juga identik dengan tidak pernah merasa takut bahkan pada hukuman terberat sekalipun. Sekelas Nina yang dipak*sa dewasa oleh keadaan paham, berurusan dengan Cinta hanya membuang waktu sekaligus tenaga.
“Sia-sia. Berurusan dengan orang yang enggak pernah merasa bersalah beneran sia-sia. Berharap dia menyadari kesalahannya, berharap dia menyesal kemudian belajar kemudian menjadi orang lebih baik lagi, ... ini beneran susah. Karena walau dia diberi hukuman paling berat sekalipun, dia enggak akan menyesal karena dia dan itu orang sekelas kamu—Cinta, sampai mati pun, ... kamu enggak akan pernah merasa bersalah karena yang kamu rasa, kamu yang selalu benar.” Nina mengatakan itu karena dia terlalu lelah.
“Pergilah ... pergi sejauh mungkin. Lari sekencang mungkin selagi kamu bisa. Namun percayalah, selagi kamu belum berubah, selagi kamu belum menyadari apalagi menyesali keadaanmu, kamu akan menjadi orang paling menyedihkan. Apalagi jika kamu bercermin dan hanya melihat pantulan bayangan diri kamu yang dipenuhi kepalsuan, sementara di sekitar kamu, kamu enggak punya siapa-siapa. Kamu hanya sendiri karena orang yang awalnya peduli memilih pergi.”
“Karena hukuman paling menyedihkan ialah ketika kita menyadari, di dunia ini kita benar-benar sendiri, ... bahkan walau kita sudah melakukan yang terbaik!” Nina memejamkan erat kedua matanya. Kendati demikian, air matanya tetap tidak bisa berhenti berlinang.
“Menyesal tidaknya terserah Cinta, yang penting kita sudah melakukan yang terbaik!” ucap mas Aidan.
Hanya Arimbi dan Akala yang menunduk dalam. Lain dengan Cinta yang tetap tidak ada perubahan.
“Andai aku bisa mengubah keadaan, bertukar posisi agar justru Nina yang jadi aku hingga Nina juga yang harus menjalani semua hukuman. Agar aku juga bisa lari bahkan pergi sejauh mungkin seperti maunya!” batin Cinta diam-diam merencanakan semuanya.
***
🌿Namanya Nina Nurlaila. Usianya masih sembilan belas tahun ketika untuk pertama kalinya, ia menjadi korban rudapaks*a ayah tirinya.
Semuanya bermula setelah ayah kandung Nina menikah lagi. Kemudian ayah Nina sakit parah setelah beliau jatuh dari pohon kelapa. Singkat cerita, semenjak itu ayah Nina tak lagi bekerja hingga Nina yang menggantikannya.
Saat itu Nina masih SMP, tapi setelah pulang sekolah apalagi libur sekolah, Nina akan kerja serabutan di sawah tetangga, mencari rongs*ok, keong, atau membuat sapu lidi untuk dijual. Nina sendiri tergolong anak yang berprestasi. Terbukti, saat lulus SMP, Nina masih bisa bertahan di posisi tiga besar satu sekolah. Namun walau sudah dipastikan akan mendapat beasiswa ke jenjang pendidikan selanjutnya, Nina dipaksa bekerja, pergi ke Bandung untuk menjadi ART terlebih sang ibu tiri sudah mengantongi gaji.
Bertahun-tahun Nina bekerja tanpa gaji karena semua gajinya sudah diminta ibu tirinya secara langsung kepada bos. Bahkan efek hutang ibu tirinya terlalu banyak kepada sang bos, Nina tidak bisa pulang termasuk itu ketika pada akhirnya sang ayah meninggal.
Setelah empat tahun di Bandung, akhirnya Nina pulang ke kampung halaman. Nina terkejut karena di rumahnya ada laki-laki yang tubuhnya dipenuhi tato dan ternyata itu suami baru ibu tirinya. Selain tidak mengabarkan mengenai pernikahan barunya, ibu tiri Nina juga mengajak suami baru yang lebih muda dari ibu tiri Nina, tinggal di sana. Yang membuat Nina terkejut, keduanya sudah menikah sejak enam bulan dari kematian ayah Nina. Ayah Nina sendiri meninggal dua tahun sejak Nina di Bandung. Jadi, terhitung selama dua tahun harus bekerja karena ibu tirinya terus minta kiriman uang, Nina berpikir sebagian besar uang hasil dari keringatnya itu ibu tirinya pakai untuk bersama si suami baru.
Sempat berpikir buru*k, Nina juga langsung tidak suka kepada bapak tirinya yang terus menatapnya dengan tatapan ca*bul. Terlebih dipertemuan pertama, Nina yang menyalami bapak tirinya dengan hormat layaknya apa yang Nina lakukan kepada ibu tiri, sudah langsung direm*as-rema*s payuda*ranya. Lebih kesalnya lagi, suami baru ibu tiri Nina melakukan itu di depan ibu tiri Nina! Kenyataan tersebut pula yang membuat Nina pergi kemudian tidur di makam sang bapak. Nina sampai enggan pulang ke rumah andai adik perempuannya tidak mengajak. Dan, inilah awal mula Nina mengalami eksploita*si anak yang lebih parah dari ketika dirinya harus melupakan biaya siswa dan malah berakhir menjadi ART selama empat tahun tampa gaji.
Karena malam di hari pertamanya pulang kampung, bapak tiri yang di awal pertemuan saja sudah cab*ul, dengan sengaja merudapaks*a Nina. Parahnya, ibu tiri Nina tahu dan kejadian itu terus terulang. Nina dijadikan bud*ak se*ks selama dua bulan lebih. Yang mana selama itu juga, Nina disekap 🌿
Nina menuliskan kisahnya. Semuanya seperti yang Akala minta. Termasuk mengenai pernikahannya dengan Reno hingga akhirnya Nina dijual dan berakhir dengan kehilangan jati diri.
“Kamu akan hidup di setiap tulisan yang kamu tulis. Apalagi jika kamu membagikannya kepada dunia.” Akala menerima ponselnya yang sengaja ia pinjamkan kepada Nina untuk menulis kronologi kasu*s Nina. Ia memeriksa tulisan Nina.
“Tulisanmu rapi,” ucap Akala menatap prihatin Nina yang tak lagi memakai bantuan ventilator maupun EKG. Namun, Nina tampak memiliki trauma yang membuat wanita itu takut berinteraksi dengan orang lain.
“Kamu enggak sendiri, percayalah, kebaikan akan selalu menang terlebih kami akan selalu bersama kamu. Kami—masyarakat luas akan mengawal kas*us kamu sampai tuntas.” Akala masih meyakinkan.
Nina yang duduk selonjor dan sengaja menutup rapat tubuh bawahnya, perlahan mengangkat tatapannya untuk melirik Akala yang ada di hadapannya. “Cinta, ... apa kabar?” lirihnya ragu.
Kemarin malam, yang Nina tahu Cinta dibawa ke rumah Akala. Cinta akan disi*dang oleh keluarga besar mereka sebelum diserahkan ke kantor polisi. Namun, apa yang Nina tuliskan juga akan Akala vira*lkan. Yang Nina tahu begitu dan Nina berharap, ia tidak salah percaya kepada orang lagi seperti pengalaman bur*uknya kepada ibu tirinya.
“Sore ini, aku akan bawa kamu ke rumahku. Kamu enggak usah mikir macam-macam karena keluargaku orang baik.” Akala yang duduk di kursi sebelah Nina kembali meyakinkan.
“Kamu jangan takut. Harusnya kamu bangkit, jangan takut pada apa pun selagi kamu enggak salah! Selagi kamu bukan orang seperti Cinta. Dan setiap kejahatan harus mendapat hukuman. Memang, manusia enggak luput dari kesalahan, tapi kalau manusia dengan sadar apalagi sengaja melakukan kesalahan, mereka wajib dihukum!” ucap Akala.
“Kalau sekadar kesalahan biasa, oke. Namun kalau sudah kejahatan, melanggar HAM, ini jangan sampai dibiarkan. Jera tidaknya dia atas hukuman yang harus dia rasakan, itu tidak menjamin hukuman untuknya harus dilupakan!” yakin Akala yang kemudian berkata, “Nin, aku enggak melarang kamu terluka, aku enggak melarang kamu menenangkan diri, tapi bukan berarti kamu enggak melakukan perubahan lebih baik lagi. Justru, setelah apa yang terjadi, ini beneran jadi kesempatan buat kamu buat membuktikan. Ubah luka dan bahkan trauma kamu buat jadi kekuatan. Jangan mau ditinda*s lagi!”
“Karena mereka yang membencimu hanya ingin melihat kesedihanmu. Dan merasa akan makin bahagia di setiap kehancuran yang kamu rasa. Sementara satu-satunya yang bisa membuat mereka terluka adalah kebahagian dan juga kesuksesan kamu! Jadi, ayo jadi Nina yang lebih maju!” Akala menatap dalam kedua mata Nina yang menjadi basah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nendah Wenda
semangat Nina untuk bangkit akala orang yang tepat
2024-11-21
0
Kamiem sag
ayo Nina bangkir nduk
2025-01-11
0
himawatidewi satyawira
duuhh ni orng mmng rada 1/2 12 ya
2024-10-21
0