Sudah makin larut, tapi selain tak kunjung mendapat kabar lanjutan Nina dari Syam, Cinta juga tidak kunjung menemukan Nina di basement seperti kesepakatannya dengan Max.
“Terus, aku harus bagaimana?” pikir Cinta yang mondar-mandir gelisah di basement. Karena tak mungkin juga ia menanyakan dirinya sendiri kepada orang lain. Namun karena waktu makin larut dan Helios juga telanjur menyusul, Cinta tidak memiliki pilihan lain selain mengirimi Max pesan.
Hanya saja, Helios yang mendekat dengan tergesa, membuat Cinta tak memiliki kesempatan untuk mengirimi Max pesan karena Helios memang sangat posesif dan apa-apa serba curiga.
“Sudah hampir pukul dua belas malam. Pergi ke kamar dan tidurlah!” sergah Helios. Pria berkacamata hitam dan menutup sebagian besar wajahnya menggunakan masker hitam itu tak segan menggandeng sekaligus menuntun paksa Cinta dari sana.
Namun karena keputusan Helios pula, Cinta yang tinggal di kamar hotel dirinya menginap justru memiliki kesempatan lebih leluasa. Cinta langsung menelepon Max.
Tak butuh waktu lama akhirnya Cinta mendapatkan balasan. “Hallo, Non?”
“Max, kamu di mana?” sergah Cinta.
“Loh, bukannya tadi, Bos Excel bilang, Non sama beliau?” sergah Max dari seberang dan terdengar terkejut.
“Excel ...?” batin Cinta langsung lemas. Ia yang awalnya mondar-mandir, perlahan berhenti dan berakhir duduk di pinggir tempat tidur. “Excel berani mengacaukan rencanaku!” terpikir oleh Cinta untuk melaporkannya kepada Helios agar Excel mendapatkan balasan berkali-lipat. Hanya saja, ia tak mungkin melakukannya karena alasannya menciptakan Nina saja karena untuk mengelabuhi Helios.
“Reno harus menanggung semua ini! Dia harus membawa Nina secepatnya—” Cinta tak memiliki pilihan lain. Nasibnya ada di ujung tanduk karena ia tak mungkin menikah dengan Helios, walau ia juga tak bisa melarikan diri jika Nina belum menggantikannya. “Aku enggak segan sewa pembu*nuh bayaran buat habi*sin kamu kalau orang yang kamu kasih ke aku malah kurang a*jar!”
“Terus aku harus bagaimana kalau aku saja enggak kamu ajak kerja sama dari awal dia balik ke Jakarta!” balas Reno dari seberang.
Suara musik disko yang awalnya begitu berisik, perlahan berkurang dari sekitar Reno. Cinta yakin, Reno yang sedang ‘bersenang-senang’ sudah langsung menanggapinya dengan serius.
“Tunggu sebentar! Aku akan mengecek keberadaan sinyal ponsel Excel! Urusan kita belum selesai!” tegas Cinta. Ia yakin, ia bisa memantau kepergian Excel melalui sinyal ponsel pria itu.
“Tunggu pembalasanku, Xel! Padahal kamu juga yang membuatku melakukan ini. Kamu yang meragukan ketulusan cintaku kepada Akala. Sementara aku melakukan ini karena agar aku bisa selalu bersama-sama Akala. Agar Nina menggantikan aku dan Helios tetap memiliki wanita berwajah aku!” kesal Cinta dalam hatinya dan masih berusaha melacak sinyal ponsel Excel melalui ponsel canggihnya.
***
Ditemukan oleh Excel yang meyakinkannya bahwa pria itu mengu*tuk perbuatan keji Cinta, memang menjadi jalan ninja untuk Nina. Walau awalnya ragu bahkan takut kepada Excel yang Nina curigai orang Cinta, setelah Nina mendengar penjelasan Excel mengenai Cinta berikut rahasia wanita itu, Excel yang ternyata juga mengetahui keadaan Nina, membuat Nina tidak memiliki pilihan lain selain menerima bantuan Excel. Bagi Nina, tawaran yang Excel berikan merupakan kesempatan langka. Terlebih, Excel sudah menyiapkan segala persiapan pelarian Nina dari Cinta.
Sekitar pukul setengah tiga pagi akhirnya mereka sampai di bulak tak jauh dari rumah orang tua Nina. Rumah semi permanen itu tampak sunyi tapi Nina yakini berpenghuni.
“Kamu harus melakukan semuanya sendiri karena aku sudah berjanji kepada istriku untuk tidak melukai orang lagi!” lirih Excel yang sudah menurunkan Nina dari motornya. “Ingat, mereka sudah tahu kamu dengan penampilan baru kamu karena Cinta sudah mengabari para ibl*is. Jadi, suami maupun orang tua tiri kamu beneran sudah tahu dan otomatis, kamu wajib waspada. Kamu wajib jadi wanita kuat!”
Nina yang berdiri di depan Excel, menyimak saksama setiap ucapan Excel sambil mengangguk-angguk paham.
“Ingat, jangan jadi wanita lemah. Setelah puas memberi orang tuamu pelajaran tanpa benar-benar membun*uhnya, kamu harus lari, pergi ke pelelangan ikan!” lanjut Excel.
“Kenapa aku harus ke pelelangan ikan, Mas?” tanya Nina tidak paham maksud Excel memintanya pergi ke sana.
“Akala ada di sana,” balas Excel.
“Ipar sekaligus pacar, si Cinta?” balas Nina yang sudah mengetahui sebagian kisah Cinta dengan Akala maupun Helios.
Excel berangsur mengangguk. “Pastikan, sebelum pukul tujuh pagi, kamu ke sana. Buat seolah kalian tak sengaja bertemu.” Ia menunjukkan foto Akala yang menghiasi galeri foto di ponselnya.
“Aku tahu, jarak dari sini ke tempat pelelangan ikan terbilang jauh, tapi aku mau, kamu tetap ke sana tepat waktu!” lanjut Excel dan lagi-lagi membuat Nina yang menyimak, mengangguk-angguk sanggup.
“Ada yang mau ditanyakan sebelum aku benar-benar pergi?” tanya Excel memastikan. Ia yang ada di atas motor memang akan langsung bersiap sekaligus pergi jika Nina tidak memiliki pertanyaan lagi. Excel masih memiliki urusan lain termasuk itu bertemu sang istri kemudian kembali ke Jakarta lagi untuk menghadiri pernikahan Helios. Kebetulannya lagi, rumah orang tua Nina masih satu kabupaten dengan kampung halaman Azzura istri Excel. Keduanya masih sama-sama tinggal di kabupaten Cilacap Jawa Tengah.
Nina berpikir sejenak. “Mas, boleh aku pinjam uang untuk beli bensin dan korek? Aku enggak ikhlas rumah dan tanah peninggalan orang tua kandungku tetap ditinggali mereka, padahal di sini juga, mereka menyiksaku dengan keji. Selama dua bulan lebih aku disekap di rumahku sendiri oleh orang yang hanya menumpang hidup kepadaku. Dan selama itu juga, aku berulang kali disetubu*hi walau pada akhirnya, aku keguguran!” Nina benar-benar dendam. Di kepalanya kini seolah ada bara api yang berkobar-kobar hingga ia merasa sangat panas. Kepalanya bisa meledak andai ia tak kunjung melampiaskan dendamnya.
Biar aku yang membelikan bensin maupun koreknya untukmu!” tegas Excel yang buru-buru pergi.
Excel memang sengaja tidak langsung mengantar Nina hingga depan rumah orang tua wanita itu agar tidak menimbulkan kecurigaan. Agar awal balas dendam Nina berjalan dengan lancar karena kini saja, kaburnya Nina sudah membuat geger Cinta dan orang-orangnya.
“Aku benar-benar hanya bisa bantu sampai sini. Aku tahu ini enggak mudah, tapi kamu harus bisa lewati.” Excel yang sudah kembali, memberikan dua kantong bensin dan juga korek permintaan Nina.
Nina mengangguk-angguk paham, dan lagi-lagi mengucapkan terima kasih. Wanita itu melangkah dengan hati-hati sambil menjinjing kantong hitam berisi bensin sekaligus korek. Ketika akhirnya Nina menyiram keliling rumah semi permanen menggunakan bensinnya, Excel masih mengawasi dari tempat sama. Barulah setelah Nina melempar korek ke siraman bensin dan membuat api langsung tersulut, Excel pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
sweetie belle
ini asal mula hrs bc drmn y, td bc yg kembar jenius cm gk paham mpe cari2 n ktmu yg ini asal mula cinta da tobat itu.. tp ini ada azura kyk gk asing namanya 😅😅
2024-12-21
1
Nendah Wenda
gimana adik mu Nina malini
2024-11-16
0
Kamiem sag
sekeren itu Axcel
2025-01-11
0