“Saya terima nikah dan kawinnya, Nina Nurlaila binti Sumar Atmaja dengan mas kawin—”
Sayup-sayup, Nina mendengar suara seorang pria yang begitu asing di telinganya, tapi menyebut namanya maupun nama alm. sang bapak, layaknya sebuah kalimat untuk sebuah ijab kabul.
Nina benar-benar baru bangun. Kepalanya masih terasa sangat berat, pusing. Langit-langit ruangan terbilang mewah di atasnya dan jelas itu bukan suasana kamarnya, seolah berputar-putar. Entah karena dunia yang mendadak berputar, atau Nina yang memang vertigo akut.
Hal terakhir yang Nina ingat, ia pingsan ketika diminta untuk mandi oleh ibu Sulastri. Kemudian ia dibangunkan paksa karena Nina sadar wajahnya sampai diguyur. Nina diberi minum dan juga sebuah obat yang dijejalkan oleh ibu Sulastri. Saat itu Nina nyaris memuntahkan air minum maupun obatnya. Namun dengan cekatan ibu Sulastri mencubit kuat hidung Nina hingga apa yang awalnya akan Nina muntahkan menjadi tertelan kembali. Di tengah keadaan setengah sadar itu, Nina menco mengambil apa pun untuk memukul ibu tirinya yang begitu keji. Ia mendapatkan gelas yang tadi sempat wanita itu gunakan untuknya minum. Ia lemparkan gelas itu ke kepala sang ibu, tapi ibu Sulastri dengan cekatan memungut gelas kemudian membalas Nina bertubi-tubi. Seperti yang terjadi selama dua bulan Nina disekap kemudian dipaksa meminum obat yang tidak pernah Nina ketahui wujudnya lantaran Nina memang setengah sekarat, adegan ibu Sulastri memeluk manja pak Surat yang baru datang menjadi awal kekejian kedua orang itu. Ibu Sulastri tampak tidak rela meninggalkan suami barunya, tapi wanita itu memilih pergi dari kamar sedangkan pak Surat yang usianya sekitar delapan tahun lebih muda dari ibu Sulastri sementara tangan dan tubuhnya penuh tato, lagi-lagi menindih tubuh Nina yang setengah sekarat dan sepanjang kejadian keji itu terjadi, Nini hanya bisa menangis sebelum lagi-lagi Nina tak sadarkan diri.
Satu hal yang ingin Nina lakukan dan sampai kini belum kesampaian. Nina ingin mati, tapi sebelum itu, Nina harus membu*nuh ibu Sulastri maupun pak Surat.
“Ngapain kamu melotot begitu? Kesurup*an?” tanya ibu Sulastri yang cara berpakaiannya menjadi necis mirip anak muda. Bibirnya saja jadi selalu digincu merah terang, sedangkan wajahnya yang sudah disertai banyak keriput pun ditutup bedak tebal lengkap dengan warna-warni khusus di kelopak kata dan juga kedua pipinya.
“Sah!” Terdengar dari luar yang seolah meresmikan lafal ijab kabul dan sempat Nina dengar. Dan Nina yakin, itu memang pernikahan paksa yang harus ia jalani, tapi bisa Nina pastikan, suara pria tadi bukan suara pak Surat yang sudah berulang kali menggaul*inya.
Seolah mendapat kekuatan bahkan nyawa tambahan\, Nina yang masih sempoyongan segera turun dari tempat tidur empuk keberadaannya. Nina mengincar sang ibu tiri dan tak segan mencek*iknya menggunakan kedua tangan. Ibu Sulastri langsung teriak dan juga berusaha melakukan perlawanan\, tapi Nina yang seolah mendapatkan kekuatan super\, sengaja menghant*amkan-hantamkan kepala ibu Sulastri ke tembok putih sebelah.
Ketika beberapa pria akhirnya datang dan salah satunya pak Surat yang sudah langsung menatapnya penuh rasa kagum khas orang ca*bul\, Nina yang sangat dendam sengaja membant*ing ibu Sulastri yang masih ia ceki*k. Selanjutnya\, Nina juga menendang wajah sang ibu tiri dan terakhir sengaja menginjaknya sekuat tenaga hingga jeritan ibu Sulastri makin membuat keadaan di sana berisik.
Nina yang masih menjadi pusat perhatian oleh keempat orang di sana merasa ada yang aneh dengan penampilannya. Bibir dan wajahnya terasa berat, segera ia raba kemudian hapus. Nyatanya ada rias di wajahnya dan dengan kata lain, ia sengaja didandani.
Seorang pria yang menatap Nina penuh kagum walau tampangnya tak secab*ul pak Surat\, datang mendekat. Sisanya\, mereka kompak pergi dan hanya pak Surat yang tidak ikut serta. Pak Surat menolong ibu Sulastri\, tapi Nina yang masih merasa ada tenaga yang tersisa sengaja meludah*i wajah pria itu disusul ia yang sampai menendang sekuat tenaga pangkal paha pak Surat.
“Ya ampun!” pekik pak Surat langsung meringkuk di atas tubuh ibu Sulastri. Nina yang belum puas karena yang ia mau, kedua orang di hadapannya mati*i oleh kedua tangannya, sengaja menendang kemudian menginjak wajah maupun leher pak Surat. Namun, ulahnya dihentikan oleh pria yang ada di sana. Pria itu mengaku bernama Reno.
“Mulai sekarang aku suamimu! Bapakmu kalah jud*i dan sebagai gantinya, kamu yang harus membayarnya. Kamu harus jadi istriku!” tegas Reno masih mendekap erat tubuh Nina.
Nina yang sudah tidak mau diam dan susah payah memberontak berkata, “Aku bukan anak mereka. Mereka hanya orang gil*a yang numpang hidup ke aku!”
“Terserah! Yang penting sekarang kita sudah menikah. Kamu sudah resmi jadi istriku walau kita baru menikah secara agama!” tegas Reno. Pria yang kiranya berusia tiga puluh lima tahun itu menatap marah Nina. Ia membanti*ng Nina ke tempat tidur kemudian mengusir ibu Sulastri maupun pak Surat.
“Mulai sekarang, kita sudah tidak ada urusan lagi. Semuanya sesuai surat perjanjian yang sudah kita sepakati dan kalian menandatanganinya dengan sadar!” tegas Reno.
Cara Reno berkomunikasi, juga tampang Reno yang tidak mirip orang kampung karena pria itu terbilang gagah dan kulitnya pun bersih, membuat Nina berpikir, Reno bukan orang biasa. Apalagi Reno sampai mengikat ibu Sulastri dan pak Surat dengan perjanjian.
“Terus, ini aku di mana?” pikir Nina. Ia mengawasi sekitar, sambil mencari benda yang kiranya bisa menjadi senjat*a untuknya. Hanya saja, lagi-lagi rasa mual, lemas, dan juga pusing membuatnya tak berdaya. Terseok-seok Nina menuju kamar mandi di sebelah kemudian memuntahkan semuanya di sana.
“Ya Alloh, aku ingin kabur. Kenapa Engkau enggak adil? Kenapa aku harus berada di titik ini? Dua bulan lebih Engkau membiarkan hidupku dirusa*k oleh mereka. Dan Engkau justru membiarkan mereka hidup lebih bahagia. Memangnya aku kurang mengabdi bagaimana? Aku sudah susah payah kerja, dan hasilnya juga sudah langsung ludes ditarik ibu Sulastri! Aku mohon, kalau kamu memang ada, aku mohon tunjukkan kuasamu!” batin Nina masih meringkuk di sebelah kloset duduk ia memuntahkan apa yang membuatnya sangat mual walau yang ada, lagi-lagi hanya berupa cairan bening dan itu pun sangat sedikit.
“Kamu sakit?” tanya Reno yang baru datang dan memang memberikan perhatiannya.
“Sebenarnya orang ini orang baik apa orang jahat?” pikir Nina. Namun, kekejian ibu dan ayah tirinya membuatnya mengalami krisis kepercayaan. “Enggak ada orang baik-baik yang sampai berurusan dengan orang jahat apalagi dia sampai menikahiku tanpa persetujuanku!” yakin Nina dalam hatinya.
“Sepertinya aku hamil!” ucap Nina jujur karena ia tak mau Reno menyesal. Paling tidak andaipun Reno kecewa dan fatalnya sampai membun*uhnya, setidaknya pria itu akan mengejar ibu Sulastri maupun pak Surat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kamiem sag
pusing Thor
ibu tiri atau bapak tiri sih
Nina digarap bapak tiri sampe bunting
kah... trus kenapa bisa Sulastri jadi ibu tiri??
2025-01-11
0
himawatidewi satyawira
su.rat sekalian dong dicekik jg tendang kl perlu sunat hbs
2024-10-19
1
Samsia Chia Bahir
😟😟😟😟😟
2024-05-06
0