Nina kritis akibat luka-luka di tubuhnya yang fatal. Akala menjadi satu-satunya yang terjaga di depan ruang ICU. Pria itu tidak bisa tenang dan terus melongok keadaan Nina dari balik pintu yang sengaja sedikit ia buka.
Sementara di kantor polisi, Reno langsung ditahan meski beberapa kali, pria itu menjanjikan akan memberi polisi di sana banyak uang.
Sehari satu malam, Reno tahan. Namun karena tahanan yang ia alami terus berlanjut, Reno sengaja menyeret ibu Sulastri dan juga pak Surat.
Polisi yang mendapatkan kabar tersebut langsung melakukan olah TKP. Hanya saja, alamat yang mereka datangi justru berupa puing-puing bekas kebakaran. Namun warga setempat sudah langsung mengabarkan bahwa ibu Sulastri dan pak Surat tengah dirawat di RS akibat luka bakar yang keduanya alami.
“Kemarin kan rumahnya kebakaran, Pak. Dibawalah mereka ke puskesmas, tapi karena luka bakarnya terbilang serius, dirujuklah ke rumah sakit,” jelas seorang pria di sana dengan sangat santun.
Pria tersebut tidak hanya menjelaskan sendiri. Karena beberapa tetangga yang ada, juga membagikan informasi yang mereka ketahui. Termasuk itu, fakta Malini yang selamat dan kini dirawat oleh salah satu tetangga.
“Malini masih sekolah, Pak.”
Yang warga tahu, kebakaran di rumah orang tua Nina, murni kecelakaan. Hingga ketika polisi menanyakan kabar Nina yang menjadi korban rudapak*sa pak Surat dan diketahui oleh ibu Sulastri, warga langsung heboh. Terjadilah cocok logi dadakan. Sebab dulu saat Nina pulang, mereka memang hanya melihat gadis itu di hari pertama Nina pulang. Setelahnya, Nina tidak terlihat lagi. Yang mana di setiap tetangga menanyakan kabar Nina, ibu Sulastri dan pak Surat kompak mengabarkan bahwa Nina sudah kembali ke Bandung untuk kembali bekerja.
“Ya Alloh, masa gitu? Kasihan banget si Nina. Padahal bu Sulastri saja sampai bawa suami baru ke rumah. Ibaratnya kan mereka numpang. Bukan hanya numpang tinggal, tapi juga menumpang hidup! Kan Nina juga yang jadi tulang punggung, kerja di Bandung!”
Kini, semuanya memang iba kepada Nina. Semuanya mengutuk apa yang telah pak Surat maupun ibu Sulastri lakukan. Namun, apa yang menimpa Nina dan itu tak beda dengan tragedi, juga telah sepenuhnya meno*dai Nina di mata mereka. Bahkan walau mereka sadar, Nina korban. Korban rudapaksa layaknya Nina juga akan mereka anggap kot*or sekaligus jij*ik. Memang ironi, tapi juga seolah sudah jadi hukum alam di masyarakat kita.
***
Setelah polisi mengumpulkan sederet informasi, mereka memang menemukan pak Surat dan ibu Sulastri. Keduanya masih bisa berbicara bahkan makan walau sebagian besar wajah, kedua tangan, kedua kaki, dan juga punggung keduanya mengalami luka bakar serius. Bisa kalian banyangkan betapa mirisnya keadaan kedua orang itu. Malahan sebagian tetangga yang ikut menyaksikan proses tindak lanjut pak Surat dan ibu Sulastri, takut. Bagi mereka, tampang pasangan itu sangat mengerikan, mirip dengan kelakuannya.
“Pantas kalian dipanggang hidup-hidup! Kelakuan kalian saja mirip dakjal!” ucap para ibu-ibu tetangga ibu Sulastri benar-benar sinis. Kemudian, mereka juga kompak berbicara, “Itu dirujak saja anu*nya si pak Surat. Diiris tipis-tipis dibikin dendeng juga boleh terus kasih ke kucing, mana tahu ada yang doyan!”
Sampai detik ini, baik ibu Sulastri maupun pak Surat belum ada yang mengetahui bahwa alasan mereka didatangi polisi karena apa yang telah mereka lakukan kepada Nina. Mungkin karena efek mereka terbiasa menganggap dosa sebagai hal biasa, hingga mereka tak lagi memiliki rasa takut apalagi rasa bersalah.
“Syukurlah mereka ke sini. Pasti mereka mau kasih bantuan karena rumah kebakaran dan aku sama Ayankbeb kebakar gini,” batin ibu Sulastri yang memang kembali rasa ABG hanya karena hubungannya dengan suami berondongnya. Tak peduli meski pak Surat sudah biasa celap-ce*lup di banyak rahim, asal pak Surat tetap kembali kepadanya, ia tetap butjin!
Tanpa direncanakan, pak Surat dan ibu Sulastri yang berbaring di ranjang berbeda, tapi posisinya bersebelahan, refleks bertukar lirikan. Dalam hitungan detik, ekspresi keduanya langsung melas. Ibu Siti berangsur batuk-batuk kemudian menunduk. Gelas di tangan kanannya pun ia letakan di meja kecil yang ada di sebelahnya.
“Sabar, Bu. Sabar. Rumah kita memang sudah ditakdirkan terbakar. Sabar, nanti pasti ada rezeki lagi buat bangun,” ucap pak Surat sudah langsung melanjutkan sandiwara sang istri. Mereka sudah terbiasa begitu, jadi tanpa harus membuat skenario dadakan, ia sudah langsung bisa menarik simpati orang-orang melalui sandiwaranya.
“Alaaaah, sudah breeeesss, bawa saja ke kandang, Pak!” ucap ibu-ibu di sana dan memang bermaksud mengawal jalannya hukuman untuk pak Surat dan ibu Warisem.
“Tenggelamkan di Nusakambang juga bukan ide yang salah, Pak!” usul ibu-ibu yang masih memenuhi pintu ruang rawat pak Surat dan ibu Sulastri. Mereka yang jumlahnya ada sebelas orang dan berdiri berjejer, juga kompak meminta oak Surat untuk disunat sampai habis.
Lain dengan para ibu-ibu, bapak-bapak di sana justru hanya menjadi penonton baik. Mereka hanya sesekali menggeleng, mengangguk, dan terus begitu mirip tim hore yang sengaja puasa bicara.
Beberapa saat kemudian setelah tiga polisi yang datang ke sana akhirnya menjelaskan maksud kedatangan mereka, kenyataan tersebut langsung membuat pak Surat dan ibu Sulastri ketar-ketir. Mimpi akan mendapat bantuan hidup bahkan dibangunkan rumah baru, raib seketika.
Keduanya digiring keluar walau luka-luka di kaki dan juga bagian lainnya membuat mereka melangkah terseok-seok. Layaknya artis papan atas, setiap langkah dan gerak mereka tak luput dari kamera ponsel yang mengabadikan. Ibu-ibu tetangga Nina pelakunya.
Akala menyaksikan itu, dan langsung menanyakannya kepada polisi yang juga menghampirinya. Itu polisi yang menangani masalah Nina dan Reno. Betapa kagetnya Akala ketika mendengar cerita runtutnya dan itu menyeret Nina sekaligus Cinta.
“Cinta ...?”
Akala sampai tak bisa berkata-kata. Segera ia menghubungi nomor ponsel Cinta tanpa berpikir status wanita itu sekarang dan Akala yakin sudah menjadi istri Helios.
“Nggak aktif!” lirih Akala. Napasnya memburu, dan ia terlalu emosi. Ia terlalu syok, tak menyangka Cinta bisa begitu. Namun sebanyak ia mencoba, sebanyak itu pula telepon suaranya tidak terhubung.
Karena walau nasih dugaan, Akala sudah langsung menemukan motif dari yang dituduhkan kepada Cinta.
“Kenapa kamu jadi gini, Ta? Kenapa kamu menyakiti orang dengan sangat keji? Benarkah kamu melakukan semua ini demi aku?” Akala sudah langsung kacau. Air matanya berlinang dan ia menerobos masuk menghampiri Nina yang sampai detik ini masih kritis. Nina belum sadarkan diri dengan sederet luka yang wanita itu miliki.
Sudah menjadi korban kekejian orang tua tiri, Nina juga sampai dijual oleh sang suami dan berakhir kehilangan jati diri karena wajahnya dioperasi mirip orang lain. Mirip.Cinta!
Hati Akala yang sangat lembut sudah langsung remuk redam. Akala merasa sangat terluka. Dan Akala menyalahkan dirinya sendiri karena alasan Cinta melakukan semua itu memang karena dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kamiem sag
duuuuhhh... Akala si hati lembut jadi bingung
2025-01-11
0
Nendah Wenda
semoga Nina cepat sembuh
2024-11-16
0
himawatidewi satyawira
syukurlah malini selamat
2024-10-20
0