Rencananya, Nina akan langsung membuka lembaran baru bersama Malini sang adik, setelah kasu*snya selesai. Nina berencana menjual pekarangan rumahnya kemudian membuka usaha kecil-kecilan yang juga tetap bisa menopang kebutuhan sehari-harinya.
Niatnya, Nina ingin menyekolahkan Malini setinggi mungkin. Agar Malini menjadi orang berguna dan mencari pekerjaan pun bisa jauh lebih mudah. Nina sudah merasakannya sendiri, bahwa modal lulusan SMP tidak akan membuat seseorang memiliki pekerjaan apalagi kedudukan mentereng, kecuali orang itu membuat gebrakan tersendiri. Soalnya diam-diam Nina tahu, banyak orang yang tidak berpendidikan bahkan memang tidak sekolah, tapi justru sukses. Kendati demikian, Nina tidak bermaksud membenarkan pendidikan bukan hal yang penting. Semuanya benar-benar penting dan memang harus seimbang.
Pendidikan, pengalaman, niat, usaha, tanpa pantang menyerah— bagi Nina, semua itu merupakan kunci dari sebuah keberhasilan sekaligus kesuksesan. Dan Nina yang sadar diri dirinya bukan berasal dari orang berpendidikan, paham, Nina harus sekuat baja karena kerikil kehidupan akan membuatnya berjuang lebih keras. Ditambah lagi, ia memiliki Malini sebagai tanggung jawabnya.
Sorenya, Nina yang masih lemas, dibawa Akala menggunakan mobil. Wajah Nina masih bengkak, sementara luka akibat ulah Reno, ibu Sulastri maupun pak Surat juga masih sangat terasa. Akala memberi Nina beberapa setel pakaian lengkap, selain sebuah sandal dan sebuah sepatu flat. Semua itu dalam keadaan baru. Akala memaksa Nina untuk menerima semua itu tanpa alasan.
Nina memutuskan untuk menjalani rawat jalan agar biaya yang harus ia tanggung tidak membeludak. Terlebih sampai detik ini, sekadar uang seribu saja, Nina tak punya. Karena itu juga, di otak Nina sudah penuh tuntutan, “kerja, kerja, kerja, agar kamu dapat uang dan kamu bisa menghidupi diri kamu. Agar kamu bisa memiliki kehidupan layak termasuk itu membesarkan Malini!”
Di sebelah rumah yang Akala katakan sebagai rumah orang tuanya, ada sebuah klinik. Klinik Mitra Sehat Azzura.
“Itu kliniknya mbak Azzura, istrinya mas Excel. Mbak Azzura itu kakakku, dan mbak Azzura punya kembaran namanya mas Azzam. Sementara kakak kami bernama mas Aidan. Dan istri mas Aidan namanya mbak Arimbi. Yang kemarin itu, dan kebetulan, aku bungsu.” Akala menjelaskan dengan santun sembari turun dari mobil.
Nina yang masih bingung kenapa Akala sampai menjelaskan silsilah saudaranya juga segera menyusul keluar. Ternyata Akala membukakan pintu untuknya. Sungguh pribadi yang sangat baik sekaligus lembut. Beda dari Excel maupun mas Aidan, meski ketiganya memang sama-sama baik.
“Janda!” teriakan suara cempreng di sertai sosok pria yang memakai serba pink, langsung membuat Nina panik. Nina yang awalnya melangkah di sebelah Akala, buru-buru mundur dan bersembunyi.
Nina melongok dari sebelah bahu kokoh milik Akala. Ia dapati, sosok serba pink yang sampai memakai sandal bulu warna pink bunyi cit-cit itu benar seorang pria. Pria dewasa dan harusnya sudah berusia sekitar kepala empat. Namun jika melihat tampang dan kelakuannya yang mirip belat*ung cabai, Nina ragu pria itu dalam keadaan baik-baik saja.
“Jan! Aku menci*um aroma janda!” ucap pak Haji Ojan bersemangat. Dialah si pemuja janda yang malah membuat hidup para janda makin sengsara. Pria penggila warna pink dan semua aksesori maupun makanan manis itu terus berusaha mengintip Nina yang masih bersembunyi di balik bahu Akala.
Akala mengembuskan napas panjang. “Yang namanya Ojan itu kan Mas, bukan aku,” ucapnya sabar.
“Hai Janda! Dengar, kan? Nama aku Ojan, tapi kamu cukup panggil aku suaaami!” ucap pak Haji Ojan ceria dan berakhir tertawa.
“Bismillahir—”
Dari belakangnya, Akala mendengar Nina yang sampai melantunkan ayat kursi. Hal yang langsung membuat Akala menahan senyum.
“Alhamdullilah, adzan juga. Aku mau buka puasa! Tapi asli, aku merasakan sinyal janda kuat. Memang iya, kan? Yang di belakang kamu Calda alias calon janda kan, Akala? Dengar-dengar begitu, tuh rame di dalam lagi bahas. Si Cinta katanya sudah minta dibungkus pake kafan ditali kenceng biar jadi poceong! Hahaha! Ayo masuk, anggap saja rumah sendiri!” sergah pak Haji Ojan.
Di balik persembunyiannya, Nina menatap aneh kepergian pak Haji Ojan. Pria itu lari tanpa beban. Bukan hanya suara berisik cit cit dari suara sepatu bulu warna pink-nya yang mengganggu. Karena kenyataan bok*ong pak Haji Ojan yang sampai geal-geol dalam melangkah agak loncat juga membuat Nina merasa geli.
“Tapi biasanya yang begitu yang malah tulus. Baik. Baik banget malahan,” batinnya yang kemudian kembali mengawasi sekitar. Di depan sana tak jauh dari gerbang, ada beberapa mobil dan salah satunya ia ketahui mobil sangat mahal.
Bekerja sebagai ART di kota dan kerap diajak keliling ke tempat wisata maupun tempat menjual barang-barang mahal karena Nina memang merangkap jadi baby sister, membuat wanita itu paham barang mahal. Sementara tadi, pria bernama Ojan yang minta dipanggil suamiii berdalih, semuanya sudah berkumpul untuk membahas ulah Cinta.
Masuk ke ruang keluarga kediaman orang tua Akala yang terbilang mewah untuk mereka yang tinggal di pedesaan, di sana memang sudah banyak orang. Kebanyakan orang paruh baya. Mas Aidan dan Arimbi juga ada di sana. Termasuk Cinta, wanita itu duduk di tengah para wanita, di sofa panjang. Cinta terus menunduk walau semua mata di sana sudah langsung menjadikan kedatangan Nina sebagai fokus perhatian. Semuanya kecuali Cinta, mas Aidan, dan juga Arimbi, refleks berdiri.
Setelah saling tatap satu sama lain, mereka sampai mendekat, menatap wajah penuh luka milik Nina, dengan saksama.
Ibu Septi, ibu Arum, pak Kalandra, dokter Andri, dan juga kakek nenek Akala, semuanya sampai tidak bisa berkomentar. Mereka menggeleng ringan, terus begitu di tengah air mata mereka yang akhirnya berlinang.
“Astagfirullah ....” Semuanya berucap lirih, terus terulang yang mana mereka khususnya seorang Chalvin, tampak sangat terpukul.
Chalvin yang memang menghampiri paling akhir, sampai menggunakan kedua tangannya untuk membingkai wajah Nina.
Nina yang trauma dengan sentuhan laki-laki refleks mundur. Ia menatap marah Chalvin. Tak peduli meski kejadian tersebut disaksikan banyak orang. Tak peduli meski sosok Chalvin sangatlah tampan melebihi sebuah patung yang tidak memiliki sedikit pun kekurangan.
“J-jangan menyentuhku sembarangan!” marah Nina. Kedua tangannya mencengkeram kedua ujung sisi blus biru lengan panjangnya.
Air mata seorang Chalvin langsung berjatuhan. Ia masih menatap sendu wajah Nina yang memang sangat mirip wajah Cinta. Kemudian, di tengah tubuhnya yang menunduk loyo, di hadapan semuanya, ia berlutut. Chalvin memohon maaf kepada Nina.
“Aku benar-benar minta maaf. Ini di luar kendaliku apalagi kendali orang tuaku!” ucap Chalvin sambil terus menunduk.
Suasana di sana menjadi sendu, lebih sendu dari keadaan yang sampai detik ini belum memiliki titik terang.
“Aku tidak butuh permintaan maaf dari siapa pun. Karena satu-satunya orang yang wajib minta maaf memang hanya Cinta. Itu saja, aku tidak yakin bisa sepenuhnya memaafkannya. Apalagi sampai detik ini, Cinta masih belum mau mengakui bahwa apa yang dia lakukan salah.” Jujur, Nina sudah sangat ingin berkata kasar. Namun, ia menghargai Akala sekeluarga yang telah memberinya kesempatan untuk menuntut keadilan.
Segera Nina menghampiri Chalvin. Ia menuntun pria itu untuk berdiri. Dan walau Chalvin terus menolak bangun, Nina juga terus memaksa. Karena baginya, Chalvin bukanlah yang harus minta maaf.
Setelah membantu Chalvin berdiri, Nina melangkah pergi mendekati Cinta. Ia sengaja berhenti di depan meja sana. Tampak Arimbi yang perlahan meninggalkan Cinta.
“Lihat, dia masih terlihat seperti enggak merasa bersalah padahal orang lain sibuk meminta maaf untuk kesalahannya!” ucap Nina merasa tak habis pikir. Ia menggeleng dan air matanya menjadi berjatuhan. “Beneran capek berurusan dengan orang seperti kamu, tapi orang seperti kamu wajib dihukum!”
“Hukum saja!” Tegas Cinta yang kemudian mengangkat tatapannya. Ia menatap menantang kepada Nina. “Hukum aku, WAHAI WANITA YANG MERASA PALING JADI KORBAN!”
Nina mendengkus miris.
“Kamu itu sudah salah tapi malah makin bikin malu yah, Kak! Sudah enak dulu kamu dipungut orang tuaku, tapi kamu sama kakakmu justru jadi aiiiiiiiib!” marah Chalvin.
“Aku enggak pernah minta!” yakin Cinta.
“Kayaknya Cinta minta dimasukin ke RSJ deh. Walau belum sepenuhnya, ini sudah masuk tanda-tanda. Mental sama hatinya sakit. Walau bisa jadi juga, ini hanya akal-akalan dia menghindari hukuman nyata!” yakin ibu Septi.
“Intinya, sudah. Kita juga enggak perlu gebu*kin dia soalnya memang percuma. Malahan bisa jadi, dia bakalan bikin itu buat bukti kalau dia dilukai ini itulah. Sudah, bawa ke RSJ saja!” timpal pak Kalandra.
“Kamu juga enggak usah sedih, Vin. Sudah ... sia-sia!” Ibu Arum jadi sibuk menghela napas dalam guna meredam sesak di dadanya efek emosi yang ia tahan atas ulah Cinta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nendah Wenda
bener tuh masukin aja RSJ biar tambah eror otak nya cinta
2024-11-21
0
Kamiem sag
RSJ ???
boleh juga itu
2025-01-11
0
himawatidewi satyawira
🤣🤣dikirain setan ya nin
2024-10-21
0