“Mas Akala, tolong aku!” Nina nekat mendekap kedua kaki Akala. “Aku mohon, ... aku mohon tolong aku!” Nina nyaris tidak bisa bersuara, ia terlalu lelah, dan semuanya benar-benar sakit. Tenggorokannya pun terasa sangat kering hingga makin ia berbicara, makin sakit juga bagian di sana.
“Ini kenapa begini? Ini pasti ada yang enggak beres!” yakin Akala masih menunduk kebingungan. Bertemu Nina yang wajahnya sangat mirip Cinta benar-benar membuatnya bingung. Namun, ia juga langsung syok ketika Reno yang baru datang justru langsung menjam*bak Nina sekuat tenaga, sebelum pria itu juga berakhir menghantamkan sekuat tenaga wajah Nina ke tanah.
“Jangan kasar!” marah Akala sambil melayangkan bogem mentahnya ke wajah Reno.
Hanya karena satu bogeman Akala saja, Reno sudah langsung sempoyongan dan berakhir tersungkur. Dada Akala sudah bergemuruh, baru kali ini ia merasa sangat marah. Bukan karena wajah Nina terlalu mirip dengan wajah mantan kekasihnya. Ini kenyataan Nina yang sudah babak belur dan bahkan nyaris sekarat, tapi masih dihaj*ar dengan sangat kejam.
“Baj*ingan kamu yah!” maki Reno setelah mengusap sudut bibir sebelah kanannya yang berdarah karena bogem Akala.
Walau Reno memiliki tubuh tegap, kebiasaannya meminum alkoh*ol dan juga obat terlar*ang lainnya, ditambah lagi gaya hidup Reno juga jauh dari kata sehat, pria itu sama sekali tidak sebanding dengan Akala. Terlebih, Akala yang dulunya sangat gendut sudah menjadi sosok berotot yang juga terbiasa hidup sehat. Semacam ketahanan tubuh, dan juga ilmu bela diri juga sudah Akala pelajari dari Excel—baca novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia. Juga novel : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan).
Jadi, walau Reno ngotot berusaha menyer*ang, dengan cekatan juga Akala menghindar. Malahan walau hanya dengan gerakan pelan, Akala sudah bisa memit*ing Reno, dan berakhir memban*tingnya. Reno meraung-raung, meringis kesakitan tanpa henti hingga mengundang perhatian orang-orang di sana. Termasuk juga Azzam kakak Akala yang awalnya ada di dalam mobil.
“Apa pun alasannya, bahkan andai wanita ini yang salah, apa yang kamu lakukan beneran enggak bisa dibiarkan!” tegas Akala lirih karena terlalu marah. Apalagi di sebelahnya, Nina sudah tak lagi merintih maupun bergerak. Akala yakin ulah Reno membuat wanita itu sekarat. Hingga ia tanpa pikir panjang langsung menghubungi nomor polisi terdekat untuk memperkarakan Reno.
“Ada apa, Dek? Itu orang bikin gara-gara ke kamu?” marah Azzam sambil terus mendekat di tengah kesibukannya bersendawa.
Azzam yang kerap membekap mulutnya karena ia memang tengah mab*uk kendaraan, memilih berhenti di sebelah Akala, menjadi sekat antara sang adik dengan Reno yang masih menggeliat kesakitan di tanah. “Uuuuuuuuuweeeeee!” Azzam sadar, kenyataannya yang malah muntah di atas wajah Reno dan sebagiannya sampai tertelan oleh pria itu merupakan hal paling kejam sekaligus memalukan yang pernah ia perlakukan. Namun, Azzam sendiri tidak bisa mengontrol diri karena jika sudah mab*uk kendaraan layaknya sekarang, semacam mual, pusing, dan juga muntah berulang-ulang memang bukan hal yang aneh.
“Uuuuuwwwwweeeeee!” Azzam kembali muntah.
“Anj*ing ini orang! Baji*ngan! Ngapain muntah terus di wajah gue!” batin Reno benar-benar tersiksa. Ia bahkan batuk-batuk karena muntahan Azzam yang tertelan dan rasanya sangat miris untuk ia jelaskan.
“Allhamdullillah ... legaaaaa. Eh, maap, ya. Ini beneran enggak sengaja. Dimaapin, kan?” tanya Azzam nyaris muntah lagi dan pria itu masih akan melakukannya di atas wajah Reno.
Reno yang tak mungkin membuka mulut walau sekadar bersuara memberi Azzam peringatan, hanya geleng-geleng sambil dadah-dadah di depan wajah. Maksudnya tentu melarang Azzam kembali muntah di wajahnya dan sia*lnya sampai tertelan terbilang banyak.
Sekelas Akala yang pendiam dan tadi sedang sangat emosi sampai mesem dan perlahan menahan tawanya. “Enggak usah ditolongin. Biarin saja!” tegasnya ketika Azzam hendak menolong Reno.
Azzam menatap heran sang adik. Karena tumben, adiknya yang sangat baik melarangnya menolong orang?
“Aku sudah telepon polisi buat urus dia. Lihat wanita itu, dihaj*ar sampai sekarat sama dia, Mas!” balas Akala yang juga bersiap membopong Nina.
“Emang dasar ya kamu. Laki-laki kok enggak punya harga diri. Pantes sekelas muntahan saja pengin nyiram kamu. Curiga, jangan-jangan kamu gengnya ibu Siti!” omel Azzam buru-buru mengambil dua ember yang sempat Akala jatuhkan.
Walau merasa sangat gemas kepada Reno yang sudah semena-mena kepada Nina, Azzam yang tidak mau berurusan dengan pihak berwajib, hanya mampu meluapkan emosinya dengan menghanta*m-hant*amkan embernya tepat du atas wajah maupun telinga Reno. Terus begitu hingga polisi datang dan Reno sudah mirip cacing kepanasan.
“Kawal saya, agar wanita ini bisa secepatnya mendapat penanganan sekaligus keadilan!” tegas Akala yang masih membopong Nina.
Salah satu dari polisi yang datang sudah langsung mengangguk. “Baik Mas Akala. Tadi mas Aidan juga sudah telepon, katanya suruh langsung proses saja dan beliau akan pantau secara online karena katanya, beliau ada di Jakarta.”
“Padahal mas Aidan lebih muda, tapi saking hebatnya, dipanggilnya jadi beliau-beliau,” batin Azzam yang sampai detik ini belum melihat wajah Nina. Karena selain wajah Nina penuh luka sekaligus darah, posisi wajah Nina meringkuk nyaris terbenam ke perut Akala. Selain itu, wajah yang kini sangat mirip wajah Cinta juga tertutup sebagian rambut Nina yang basah.
“Ya sudah yah, Mas. Mas bisa urus beli ikannya, kan?” tanya Akala memastikan.
“Ya sudah, ya sudah. Beneran langsung lega setelah muntah!” balas Azzam menyanggupi.
“Mas juga jangan lupa, ibu masih di mobil!” balas Akala mengingatkan.
Azzam yang terlihat jauh lebih sehat, langsung menggunakan tangan kanannya untuk menepuk jidat. “Innalillahi, hampir saja lupa!” Tak mau membuang-buang waktu, ia memutuskan pergi dari sana. Agar Akala juga segera menolong Nina, dan polisi juga segera mengurus Reno.
“Jangan sampai dilepaskan tanpa persetujuan saya maupun mas Aidan, Pak. Kami baru akan memberikan putusan setelah kami ke sana langsung. Kita bahkan enggak tahu mengenai apa yang telah terjadi, hingga dia dengan begitu tega membuat wanita ini babak belur semuanya penuh darah begini!” tegas Akala sengaja.
Dikawal seorang polisi, Akala memasuki ambulance yang juga sengaja ia undang untuk mengangkutnya yang akan mendampingi Nina. Iya, walau ia bukan pengacara layaknya mas Aidan sang kakak, kenyataan wajah Nina yang sangat mirip wajah Cinta benar-benar membuatnya ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi?
Reno dengan wajahnya yang masih dihiasi muntahan Azzam juga digiring. Kedua tangannya diborgol di depan tubuh. “Orang kamp*ung saja gayanya so-oye. Kita lihat saja apa yang nanti terjadi! Aku, apa aku yang bakalan nangis darah!” batin Reno mengecam keputusan sekaligus cara Akala ikut campur urusannya dan Nina. Termasuk kepada Azzam yang sudah muntah di wajahnya dan sampai tertelan, Reno juga sangat dendam. Reno bersumpah akan membalas Azzam.
Bubarnya sumber keramaian di sana membuat warga yang sempat menolong dan sampai mengabadikan momen Azzam muntah di atas wajah Reno, juga ikut bubar. Tampak sebagian dari mereka yang akan tertawa sekaligus jijik di setiap mereka memutar video Azzam muntah di atas wajah Reno. Video yang juga sengaja mereka unggah ke media sosialnya. Niatnya buat lucu-lucu, iseng. Tapi pelan tapi pasti, walau masih di hari yang sama, penonton video tersebut makin lama makin banyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kamiem sag
Azzam ya sepupunya pak haji Ojan mabuk aja bisa buat mak ketawa
2025-01-11
0
Nendah Wenda
viral nih Azzam jadi selebritis
2024-11-16
0
himawatidewi satyawira
loe mah sok oye..yng lain sok iyee no
2024-10-20
0