Kabar mengenai kas*us Nina sudah langsung menyebar melalui jejaringan sosial. Unggahan yang Akala lakukan langsung dibanjiri komentar prihatin. Tak sedikit pula yang mengutu*k ulah keji orang tua tiri Nina, maupun ulah Reno yang dengan tega menjual Nina. Tak kalah menjadi sorotan, ulah keji Cinta yang telah membuat Nina kehilangan jati diri.
Publik dibuat makin penasaran, siapa sebenarnya sosok-sosok yang dimaksud?
Selain berkomentar, sebagian besar yang membaca unggahan tersebut juga tak segan membagikannya. Hingga kabar tersebut sampai mulai dilirik penyebar gosip.
Untuk saat ini, semuanya memang masih serba disamarkan. Membuat Cinta yang mengetahui hal tersebut, menganggapnya tak ubahnya angin lalu. Cinta yakin, semuanya hanya tentang waktu. Karena meski sekarang kas*usnya menjadi ramai sekaligus perbincangan panas, diyakini Cinta semuanya akan usai pada waktunya.
Cinta yang ada di RSJ dan diam-diam membawa ponsel, sengaja mengabari Chole.
Cinta : Chole, bagaimana? Sini, biar Kakak saja yang jadi istri Helios. Kamu pasti sangat tersiksa. Sudah, jangan dilanjutkan karena memang tak seharusnya kita bertukar posisi. Sekarang kamu cukup diam dan pergilah. Nanti biar kakak yang bilang ke Helios.
Belum lama setelah mengirim pesan tersebut, Cinta mendapati perubahan tanda pesannya mejadi dua centang biru. Menandakan pesannya sudah dibaca. Cinta berpikir, tanda tersebut akan menjadi akhir dari kesulitannya. Sebab bersama Helios diyakini Cinta akan membuatnya menjadi Ratu lagi. Cinta berniat kembali kepada Helios, dan otomatis sebelum itu ia harus membuat Chole pergi dari Helios.
“Helios sayang banget ke aku. Helios juga enggak suka Chole! Helios benci banget ke Chole. Helios pasti akan melakukan apa pun asal aku bahagia. Dan dia akan selalu membelaku!” yakin cinta dalam hatinya. Hanya saja, pesan yang harusnya sudah dibaca itu justru tak kunjung mendapat balasan.
Malahan, Cinta kedatangan tamu. Seorang petugas laki-laki datang memimpin kehadiran Akala. Cinta sempat terpana menatap Akala. Apalagi Akala yang sekarang beda dengan Akala saat menjadi kekasihnya. Karena dulu saat Akala masih menjadi kekasih Cinta, Akala masih sangat gendut. Namun sekarang, tubuh Akala terlihat sangat atletis. Lengan pendek yang kerap Akala pakai, membuat otot-otot di lengan Akala tampak sangat gagah—sempurna.
“Ayo ikut kami ke rutan,” ucap Akala.
Karena pada kenyataannya, Akala tak datang sendiri. Ada Nina yang menemani. Nina meminta secara langsung, ingin melihat pertemuan antara Cinta dengan ibu Sulastri maupun pak Surat. Atau, pertemuan Cinta dengan Reno, dan sampai saat ini, ketiganya masih di rutan.
Sekitar satu jam kemudian, Cinta sengaja diminta masuk ke ruang besuk. Sosok pertama yang harus Cinta temui adalah ibu Sulastri. Cinta langsung diamuk oleh wanita yang bagi Cinta bau bu*suk. Aroma bus*uk tersebut Cinta yakini keluar dari luka bakar yang dibiarkan tanpa perawatan.
“Aku bukan Nina, aku Cinta!” tegas Cinta sengaja memberontak. Namun, sebanyak apa pun ia melakukannya, ibu Sulastri tetap lebih cekatan dalam mengani*ayanya. Malahan kini, setelah menja*mbak Cinta sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya, ibu Sulastri nekat memben*turkan kepala Cinta ke meja.
“Dasar wanita kampu*ng gilllllaaa!” cibir Cinta.
Diam-diam, Nina yang menyaksikan itu dari balik pintu ruang besuk berharap, Cinta tinggal dengan ibu Sulastri cukup lama. Siapa tahu karena itu juga, karena berulang kali diamu*k, Cinta jadi berubah menjadi sosok lebih baik lagi.
“Si Nina memang kurang aj*ar! Bisa-bisanya dia punya ide gil*a seperti ini!” uring Cinta dalam hatinya.
Cinta merasa wajahnya sudah langsung bengkak. Tulang hidungnya seolah langsung patah gara-gara wajahnya dibenturkan ke meja sekuat tenaga sekaligus terus berulang oleh ibu Sulastri.
Pemandangan tak kalah mengenaskan juga terjadi ketika akhirnya Cinta bertemu pak Surat. Aroma busu*k dari setiap luka bakar dan kadang dihinggapi lalat. Yang membuat Cinta terkejut, pria itu sungguh kurang aj@r. Bisa-bisanya pak Surat dengan sengaja menghampirinya kemudian tak segan *******-***** bagian int*im di tubuh Cinta. Cinta yang muak sengaja memit*ing pak Surat dan berakhir membant*ingnya.
“Aku tegaskan, aku bukan Nina. Jadi jangan menyentuhku sembarangan!” tegas Cinta tak segan mengin*jak punggung pak Surat. Pria itu sudah langsung tumbang, tetap tengkurap tanpa sedikit pun perubahan. Padahal, Cinta hanya melakukan dua gerangan perlawanan.
“Cuuuuuiiih! Dasar laki-laki cabu*l enggak berguna!” gerutu Cinta tak segan meluda*hi kepala pak Surat. Dan sebelum ia benar-benar pergi dari sana, ia sengaja menenda*ng pak Surat beberapa kali dan ia melakukannya masih sekuat tenaga.
Keluar dari ruang besuk, Cinta kembali berpapasan dengan Nina. Selain masih menunggu, Nina yang wajahnya masih babak belur, juga masih ditemani Akala. Kedua sejoli itu masih berdiri tanpa kata sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kamu pikir, aku wanita lemah sepertimu yang dengan mudah dilece*hkan pria tak berguna sepertinya? Sekarang aku tanya ke kamu, kenapa hal semacam itu bisa terjadi sampai berulang kali?” tanya Cinta sengaja menantang.
“IKAT TANGAN DAN JUGA KEDUA KAKI KAMU. LALU SUMPAL MULUT KAMU. JANGAN LUPA, MINUM OBAT PERANG*SANG! DALAM KEADAAN SEPERTI ITU, ... DIA MELAKUKANNYA DIBANTU SULASTRI. SELAMA ITU JUGA AKU SAMA SEKALI ENGGAK DIKASIH MAKAN. HANYA AIR MINUM DAN ITU SAJA JIKA AKU HARUS MINUM OBAT PERANGSA*NG!” lirih Nina teramat geregetan kepada Cinta. Detik itu juga wanita di hadapannya dan wajahnya jadi dihiasi lebam, khususnya hidung Cinta yang sangat merah, diam.
“Di mataku yang bukan orang berpendidikan, kamu enggak hebat. Kamu enggak lebih dari orang congkak yang haus pengakuan. Apalagi kamu tipikal yang selalu merasa benar. Kamu lebih nyaring dari tong kosong!” tegas Nina yang kemudian melipir mundur, memberi Cinta jalan.
Mendengar itu, Cinta jadi merasa sangat malu. Apalagi, ia mendapatkannya tepat di hadapan Akala. Ditambah lagi, Akala tampak tidak sudi untuk sekadar meliriknya.
Pertemuan selanjutnya, Cinta harus menghadapi Reno. Belum sempat berucap, tampa*ran panas Reno sudah mendarat di pipi kiri Cinta. Cinta yang baru akan berdiri langsung syok apalagi Reno melakukannya berulang kali.
“Gara-gara kamu, ‘burungku’ jadi enggak pernah bangun lagi!” tentu yang Reno maksud ulah Nina yang tak segan mengha*jar alat vit*alnya dan itu tidak sekali dua kali, tapi berulang.
Karena di sana kebetulan tidak ada yang mengawasi, Reno nekat mence*kik Cinta menggunakan kedua tangannya. Tubuh Cinta perlahan terangkat.
“I-ini ... a-aku ... Cin-ta ....!” ucap Cinta tidak jelas. Karena jangankan berucap, bernapas saja, ia jadi kesulitan bernapas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kamiem sag
kasihan juga Cinta dihajar mereka bertiga
2025-01-11
0
himawatidewi satyawira
🤣🤣temenan ma burung kkk tua aja no..cukup hinggap dijendela sambil nyanyi
2024-10-21
0
himawatidewi satyawira
lha kan elu yng maksa nina brubah wujud..piye tho iki
2024-10-21
0