Api masih berkobar-kobar dan begitu cepat menyebar. Bersamaan dengan itu, kenangan indah Nina bersama kedua orang tua kandungnya maupun kenangan pahit dari kedua orang tua tirinya beradu, silih berganti menghiasi ingatan Nina. Alasan yang juga membuat air mata Nina sibuk berlinang, mengiringi hatinya yang juga sibuk menjerit walau bibirnya bungkam.
Tanpa Nina ketahu, dari belakangnya ada ibu Sulastri yang membawa alu dan biasanya digunakan warga setempat untuk menumbuk padi maupun menghaluskan bahan lainnya. Sementara di belakangnya, dua orang pria yang telah menghancurkan hidup Nina juga seolah siap mener*kam Nina hidup-hidup. Iya, Reno yang penampilannya tak kalah bersih dari seorang Excel Lucas benar-benar sudah ada di sana.
Satu puku*lan sangat kuat segera ibu Sulastri lakukan menggunakan alu yang ia pegang menggunakan kedua tangan. Pukul*an tersebut mengenai tengkuk Nina dan berakhir membuat Nina tersungkur.
Detik itu juga ibu Sulastri seolah kerasu*kan arwah jahat dan membuat wanita itu tak bisa berhenti mengh*antamkan alunya ke sekujur tubuh Nina termasuk itu wajah baru Nina ketika putri tirinya itu berhasil menghadapnya. Tak mau ketinggalan, pak Surat juga menggunakan cambu*knya untuk melumpuhkan kedua kaki Nina hingga bagian di sana bengkak bahkan berdarah-darah.
Nina kesakitan? Tentu saja, tapi karena hidup Nina sudah dikuasai dendam, wanita itu terus berusaha melakukan sera*ngan balik. Sebanyak apa pun puku*lan maupun camb*ukan yang ia dapatkan, sebanyak itu juga Nina mencoba bangkit. Bahkan kini, Nina menangkap camb*uk yang harusnya kembali mengenai kakinya. Nina terus menatap wajah pak Surat penuh dendam meski sang ibu tiri masih aktif mengh*ajarnya menggunakan alu. Tak hanya itu, karena ulah Nina menahan camb*uk berupa gulungan tali yang terbilang berat sekaligus kokoh sementara camb*uk tersebut terus ditarik oleh pak Surat yang mengendalikannya, telapak tangan kanan Nina juga terluka dan perlahan mengeluarkan darah.
“Kalian ini apa-apaan, sih? Kenapa kalian justru melukainya? Sudah dibilang, kita hanya boleh menangkapnya tanpa membuatnya terluka karena dia harus diantar ke Jakarta dalam keadaan selamat tanpa luka apalagi c*acat!” marah Reno yang dari tadi tidak digubris meski ia sudah berteriak mencoba menghentikan amu*kkan ibu Sulastri dan juga pak Surat.
Ditegur Reno yang sampai mem*ukul punggung mereka menggunakan sebilah kayu, ibu Sulastri dan pak Surat langsung kebingungan. Konsentrasi keduanya tak lagi tertuju kepada Nina termasuk itu amu*kkan yang sebelumnya mereka lakukan tanpa jeda. Kesempatan itu Nina gunakan untuk melakukan ser*angan balik lagi. Nina menggunakan camb*uk di telapak tangan kanannya dan memang sudah nyaris pak Surat lepaskan akibat teguran Reno.
Camb*uk tersebut Nina arahkan ke wajah pak Surat sekuat tenaga. Terus begitu bersama ingatan Nina yang juga sudah langsung dipenuhi kekejian yang pak Surat lakukan.
Tentu ibu Sulastri yang bucin habis kepada sang suami tak tinggal diam. Ibu Sulastri sempat kembali menggunakan alunya, tapi hal tersebut membuat Reno murka. Reno buru-buru merebut alunya kemudian menggunakannya untuk mengh*antam tengkuk ibu Sulastri sekuat tenaga. Ibu Sulastri langsung berakhir tersungkur meringis kesakitan, tapi di sebelah, pak Surat justru berakhir Nina dorong menjadi bagian dari kebakaran.
Pak Surat langsung histeris dan tak kunjung bisa keluar dari kobaran api. Membuat ibu Sulastri yang bucin habis kepadanya menangis histeris sambil mengulurkan tangan kanannya. Padahal, ibu Sulastri hanya merasakan satu hantaman. Apa kabar jika wanita itu menjadi Nina?
Nina yang kini menatap marah Reno dengan wajah barunya juga tak membiarkan pria itu begitu saja. Ia menggunakan cambu*knya, mengam*uk pria itu sebelum mereka dikerumuni warga. Karena walau rumah Nina terbilang agak jauh dari rumah tetangga, Nina yakin dampak kobaran api akan menarik perhatian warga sekitar dengan jauh lebih cepat.
Tak beda dengan ibu Sulastri, Reno sudah langsung kesakitan setelah satu camb*uk menamp*ar wajah putih mulusnya. Pria itu guling-guling di tanah berumput rumput teki, kemudian terhantam alu yang sempat dipegang.
Tak jauh dari Nina, pak Surat sudah berhasil keluar dari kobaran api. Pria itu masih sibuk memadamkan api yang sampai membakar pakaiannya. Bahkan lantaran pakaian tak bisa dipadamkan, pak Surat nekat melepas semua pakaiannya. Nina yang melihat itu merasa sangat dendam.
“Aku harus membuat kalian semua m*ati secara perlahan!” ucapnya buru-buru mengambil alu terbilang berat dari atas tubuh Reno. Pria itu langsung histeris ketika ia menumbuk berulang kali pangkal paha selaku keberadaan alat vit*al pria itu berada.
Kemudian, masih menggunakan palu juga, Nina yang sudah sempoyongan mengabsen tubuh ibu Sulastri tanpa jeda. Wanita itu menangis histeris tanpa bisa bergerak dan benar-benar tetap tengkurap. Benar-benar lemah! Terakhir, tentu yang menjadi tujuan Nina pak Surat. Namun, pria itu sudah lebih dulu kabur ketakutan.
Pak Surat lari ke belakang rumah tapi Nina terus mengejar sambil membawa alunya. Mungkin efek terlalu panik sekaligus ketakutan, pak Surat berakhir terjerembab. Nina buru-buru mengerahkan tenaganya untuk menumbuk punggung pria itu menggunakan alu. Tak sampai di situ karena Nina juga sengaja melempar pak Surat ke kobaran api bagian dapur.
“Kita lihat, andai kulit apalagi wajah gagah kamu ru*sak, apakah Sulastri masih cinta mati ke kamu!” kecam Nina masih tetap belum puas walau di dalam sana, pak Surat sudah histeris karena terbakar.
“Ibu .... Bu, tolong Bu!”
Itu bukan teriakan pak Surat. Itu suara anak perempuan dan baru Nina ingat, dirinya masih memiliki Malini!
Panik, Nina benar-benar panik dan langsung berusaha melakukan penyelamatan terhadap sang adik. Namun, rumahnya yang hanya semi permanen sudah telanjur terbakar dan baru saja roboh. Tangis kesakitan Malini terdengar sangat mengerikan, dan Nina tidak memiliki pilihan lain selain menerobos kobaran api. Ia melepas jaketnya, menggunakannya untuk menutupi kepala.
“Malini, Mbak datang!” jerit Nina dalam hatinya. Tak habis pikir, walau Malini terus berteriak meminta tolong memanggil-manggil ibu Sulastri, yang ibu Sulastri pedulikan hanya pak Surat.
Sebelum Nina menerobos kobaran api di hadapannya, ibu Sulastri sudah lebih dulu melakukannya sambil terseok-seok di dapur sana.
“Ya Alloh, aku mohon tunjukkan kuasamu. Biarkan pasangan biad*ab itu terpanggang tanpa harus berakhir dengan kematian!” kesal Nina dalam hatinya.
Nina sudah menemukan Malini. Bocah itu masih di kamar. Di belakang Malini, tempat tidur mulai terbakar. Sementara dinding sekitar juga nyaris ludes terbakar. Kusen di atas baru saja jatuh dan itu nyaris menimpa Malini andai Nina tidak menghalaunya menggunakan jaket yang terus ia bentangkan di atas kepala.
Ketika akhirnya tatapan Nina dan Malini bertemu, Nina hanya mampu menjerit dalam hati. “Dek, ini Mbak!” Air matanya berlinang dan ia segera menutupi kepala sang adik menggunakan jaketnya. Nina membawa Malini keluar dari kobaran api yang nyaris melahap habis bangunan rumah semi permanennya. Penuh perjuangan ia melakukannya tanpa peduli, tubuh khususnya rambut panjangnya terkena percikan api.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nendah Wenda
haduh ini Adegan bikin tegang banget
2024-11-16
0
Kamiem sag
AllohuAkbar sekuat itu Nina
2025-01-11
0
Samsia Chia Bahir
Akoh sampe tahan napas 😥😥😥😥😥
2024-05-06
1