“Apa yang sudah mereka janjikan ke Mas? Lantas, apa saja yang Mas tahu tentang aku?” tanya Nina benar-benar tegas. Karena setelah apa yang terjadi, tak ada yang membuatnya khawatir apalagi takut. Kini saja, satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah mati. Namun sebelum ia benar-benar mati, ia harus menghabis*i ibu Sulastri dan pak Surat lebih dulu.
Reno tidak bisa menjawab. Ia terlalu bingung, tapi ia memang telanjur tertarik kepada Nina. Terlebih walau tampak kurang sehat, Nina memiliki wajah yang sangat cantik. Berbeda dari gadis kampu*ng pada kebanyakan dan biasanya hanya memiliki kulit indah berwarna kuning langsat, Nina memiliki kulit putih kemerah-merahan. Mata yang sendu berbola mata hitam sangat jernih, bibir berisi dan tampak kenyal benar-benar menggoda, selain Nina yang juga memiliki buah da*da terbilang besar sekaligus kencang, tak kalah kencang dari bok*ong wanita itu dan bagi Reno sangat idaman.
“Mas bahkan mendapatkanku karena menang ju*di! Menurut Mas, orang tua macam apa yang tega menjadikan anak perempuan sebagai penutup bahkan pembayaran?” Nina benar-benar emosional. “Dia bahkan bukan orang tuaku. Dia hanya suami baru dari ibu tiriku!” Kali ini air matanya berlinang. “Dan selama dua bulan lebih, selama dua bulan terakhir, mereka menyekapku. Baji*ngan berkedok orang tua itu berulang kali meniduriku! Dan aku yakin, ulahnya sudah membuatku hamil!”
Lantaran Reno tampak tercengang, pria itu mundur secara perlahan, seolah Reno memang baru mengetahui fakta yang baru saja Nina katakan, Nina sengaja berkata, “Mas tahu semua itu?”
Bagi Reno, Nina memang cantik, sangat cantik malahan. Fisik pun sangat membuatnya tertarik hingga ia tidak menolak ketika pak Surat mengodorkan foto Nina sebagai sosok yang akan ia terima setelah ia memenangkan perjudi*an di antara mereka. Namun jika pada kenyataannya Nina sudah terbiasa ‘dipakai’ pak Surat bahkan kini wanita di hadapannya sedang hamil, tentu tidak ada kata lain selain menjij*ikkan untuk seorang Nina.
“Mas beneran enggak tahu?” tatapan kosong Nina masih fokus menatap kedua mata Reno. Sampai detik ini, butiran bening juga masih kerap berlinang dari kedua sudut matanya.
Nina masih ingat, banyak bekas bibir pak Surat yang baji*ngan itu tinggalkan di tubuhnya. Mengingat tubuhnya yang memiliki kulit putih bersih, bisa dipastikan bekas-bekas itu akan sulit hilang dalam waktu dekat. Karenanya, Nina nekat menyibak leher, dagu, tengkuk. Ia sengaja menarik asal rambut panjangnya yang tergerai. “Harusnya di sini ada bekas bibir baji*ngan itu!”
Sempat kembali mundur karena terlalu terpukul lantaran wanita cantik yang ia dapat justru sudah terbiasa dipakai oleh pak Surat, padahal pak Surat berdalih Nina masih perawan, dan usianya juga baru 19 tahun, Reno yang dongkol sengaja mendekat. Ia melepas paksa kancing kemeja warna oren kedodoran yang menutupi tubuh Nina.
Ulah Reno membuat sebagian kancing kemeja Nina menggelinding di lantai. Demi memastikan kebenaran dari ucapan Nina, di tengah kenyataan dadanya yang bergemuruh menahan amarah, pada kenyataannya apa yang Nina katakan memang benar. Bekas-bekas yang Nina maksud benar-benar banyak. Refleks ia yang merasa ditipu mentah-mentah, mendorong Nina, memuku*linya tanpa jeda dan terakhir menendan*gnya lantaran tubuh Nina sudah terkapar meringkuk di sebelah kloset.
“Kamu sudah terbiasa ‘dipakai’? Kamu sudah terbiasa melaya*ni banyak laki-laki? Lalu, apa bedanya kamu dengan pelacu*r di luar sana?” marah Reno.
“Aku enggak pernah minta Mas buat nikahin aku!” ucap Nina yang sudah tak karuan.
Nina yakin, bersama pandangannya yang sudah tidak jelas dan makin lama makin gelap, ditambah napasnya yang benar-benar sesak, sebentar lagi ia akan kembali sekarat.
Di lain sisi, Reno tidak peduli pada ucapan Nina yang berdalih tidak pernah memintanya menikahi wanita itu. Reno sudah telanjur mengambil Nina, jadi jika ia tidak bisa memiliki Nina, Nina wajib menjadi sumber penghasilannya.
***
Entah sudah berapa lama Nina tak sadarkan diri. Namun lagi-lagi, Nina terbangun dengan keadaan yang serba berat. Bukan hanya kepalanya yang masih sangat pening dan tubuhnya begitu terbatas dalam bergerak, tapi juga kenyataan tempat keberadaannya yang lagi-lagi berbeda.
Kali ini, Nina terbangun di sebuah kamar terbilang bagus, tapi suara wanita yang lagi-lagi asing sudah langsung menyapa pendengarannya.
“Dia terlihat masih sangat muda. Kulitnya juga beda dengan warna kulitku. Memangnya kamu enggak ada ‘barang’ lain? Temanku bilang, kamu punya banyak ‘barang’?” ucap si wanita berkulit tidak lebih cerah dari kulit Nina.
“Ibu Cinta, dia asli gadis desa. Dia masih perawan dan saya terbiasa cari yang muda karena pasarannya memang lebih rame yang muda,” ucap Reno meyakinkan pada wanita di hadapannya.
“Hah? Maksud mereka, Mas Reno sudah terbiasa jual beli perawan khususnya gadis desa?” pikir Nina yang tetap pura-pura tidur guna menguping apa yang sebenarnya terjadi.
“Saya enggak peduli, dia masih perawan atau enggak. Yang jelas, saya nyari wanita yang kurang lebih mirip saya. Karena nantinya, wanita itu harus operasi mirip saya, agar dia bisa menggantikan saya. Saya akan membelinya dengan mahal karena dia benar-benar harus menggantikan saya!” tegas si wanita yang berbicara dengan elegan.
“Ibli*s banget tuh orang. Wanita kok sejahat itu?!” batin Nina benar-benar tak habis pikir. “Buat apa dia hidup kalau dia saja sampai butuh orang buat gantiin dia!” Sampai detik ini, Nina masih berbicara dalam hati. Dan ia mendengar suara langkah mendekat. Dari dua langkah sekaligus dan Nina yakin, itu langkah Reno dan wanita yang dipanggil Cinta.
Reno dan Cinta mengawasi Nina dari jarak lebih dekat.
“Kamu kan pakai jilbab, oke lah. Kan nantinya dia juga harus meniru semua gayamu, termasuk cara berpakaian, kan? Memangnya calon suami kamu paham banget ke warna kulit kamu?” ucap Reno.
“Oh iya, ya. Ya sudah deh, aku oke. Tapi kamu wajib bikin dia menuruti semua yang aku mau, ya? Maksudnya, dia beneran harus mengikuti skenario yang sudah aku siapin!” balas Cinta.
“Semua itu tergantung ... harga yang kamu kasih!” ucap Reno sambil tersenyum semringah menatap wanita bernama Cinta.
“Berapa?” balas Cinta sambil bersedekap dan tersenyum geli menatap Reno yang baginya sama saja dengan laki-laki di luar sana, bajin*gan.
Sengaja jaim, Reno menyodorkan kelima jari tangan kanannya.
“Lima—” Cinta mengernyit dan menerka-nerka.
“Ratus juta!” ucap Reno semringah.
“Oke, enggak masalah. Tapi wajib ada hitam di atas materai, ya.” Cinta menyanggupi tanpa pikir panjang.
“Siaap, wajib ada uang muka sebelum dia dioperasi mirip kamu!” sanggup Reno. “Thank you, Nin! Gara-gara kamu, aku mendadak jadi jutawan!” batin Reno benar-benar girang.
“Oke. Besok malam juga kita langsung operasi! Aku beneran enggak punya banyak waktu, apalagi hasil operasi juga biasanya bertahap, enggak bisa langsung jadi,” ucap Cinta.
“Ya Alloh, dua orang ini benar-benar ibli*s!” batin Nina. Pikirannya makin kacau. Ia bingung sebingung-bingungnya. Apa yang akan ia alami memang membuatnya kehilangan jati diri, tapi dengan menjadi Cinta, ia juga bisa memulai membalaskan dendamnya. Ia bahkan bisa menghancurkan wanita bernama Cinta yang kelakuannya tak beda dengan ibl*is.
“Apa yang harus aku lakukan?” batin Nina belum berani membuka mata apalagi memberontak lantaran tak mau, sesuatu yang lebih buruk malah terjadi, sementara dirinya belum balas dendam kepada ibu Sulastri, pak Surat, Reno, dan juga Cinta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kamiem sag
Cinta?? bener sejahat ini!??
thor tolong jangan tulis Cinta berjodoh dgn Akala mak gak rela
2025-01-11
0
Nendah Wenda
ini cinta beneran jahat banget apa maksudnya
2024-11-15
0
himawatidewi satyawira
lambemu blm pernah disleding gilingan daging ya no?
2024-10-19
0