“Boleh, aku menikahinya?” Akala tahu, tanpa harus bertanya apalagi memohon izin kepada Cinta, ia berhak menikahi wanita mana pun termasuk itu menikahi Nina. Hubungannya dan Cinta sudah tidak lebih dari saudara.
Tangis seorang Cinta langsung pecah sepecah-pecahnya. Tubuh Cinta terguncang pelan dan berakhir terduduk di lantai yang dinginnya tak kalah dingin dari sikap Akala.
“Enggak ada yang lebih menyakitkan dari dirampas kebebasan bahkan harga diri maupun jati dirinya, Ta!” lanjut Akala masih bertutur lembut. “Mengalami satu saja sudah sangat sakit. Dampaknya akan seumur hidup, ... apalagi sampai mengalami tiga-tiganya?”
“Sedihnya, kamu yang melakukan itu. Dan kamu melakukan itu karena aku!” lanjut Akala.
Walau Akala terus berucap lirih sekaligus lembut, kenyataan tersebut sudah sangat mengaduk-aduk perasaan seorang Cinta.
“Aku beneran minta maaf karena adanya aku dalam hidup kamu bikin kamu jadi enggak lebih baik. Ini beneran bukan hanya melukai orang tua kamu dan juga keluargamu. Karena ini pasti melukai keluargaku. Dan aku beneran harus tanggung jawab!”
Mendengar itu, Cinta buru-buru menengadah. Ia sibuk menggeleng, menolak anggapan Cinta. “Aku yang salah. Kamu enggak salah Akala. Ini murni kesalahanku meski sebenarnya, aku juga enggak sepenuhnya salah. Aku ... aku sudah bayar!”
“Kamu membeli manusia, sejak kapan manusia dijualbelikan?!” tegas Akala dengan suara yang langsung naik, meski ia belum sampai meledak-ledak.
Lagi, Cinta yang masih tersedu-sedu berangsur menggeleng sembari menatap Akala.
“Sekarang aku tanya ke kamu, kamu bisa bangunin dia? Apalagi bikin dia kembali pada wajah aslinya? Kamu bisa?!” Akala menggeleng lemah sambil terus menatap Cinta. “Cara kamu dan mereka beneran enggak manusiawi!”
“Hanya ibli*s berwujud manusia yang tega begini!”
“Kamu enggak mikirin perasaan aku? Kamu enggak mikirin perasaan orang tua kamu termasuk papah Maheza dan mamah Aleya? Gitu-gitu mereka orang tua kamu loh walau mereka hanya orang tua angkat. Jangan lupa, kamu mendapatkan fasilitas yang sama seperti anak-anak kandung mereka! Gini balasan kamu? Kamu itu berpendidikan!”
“Kasus mas Chiko saja sampai bikin papah Maheza kritis nyaris stroke. Harusnya sekelas papah Maheza dan mamah Aleya itu dapat rezeki melimpah karena mereka dengan baik hati merawat dua anak yatim sekaligus. Namun ini, kedua anak yang mereka angkat justru jadi sumber mala petaka!”
“Bahkan sampai anak perempuan mereka sampai harus menanggung ulah mas Cikho! Chole, kurang baik apa dia?!”
Saking pusingnya, Akala refleks jongkok dan perlahan membekap wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Di balik pintu ruang sana yang sedikit terbuka, mas Aidan yang datang bersama Arimbi, tampak serba salah tapi cenderung sedih.
Mas Aidan merapikan masker putih sang istri yang sebenarnya baik-baik saja.
“Bayi kita kuat karena orang tuanya juga kuat. Kasihan Nina kalau kita enggak memperjuangkan haknya. Kasihan mas Akala juga. Terlalu banyak pihak yang terluka karena ini. Kita sama-sama semangat, ya!” lembut Arimbi. Tangan kanannya menuntun tangan kiri mas Aidan untuk membingkai perutnya yang masih rata. Kemudian, tangan kanan mas Aidan sengaja menyusul tangan kiri Arimbi yang juga sudah ada di sana.
“Bismillah,” lirih mas Aidan yang langsung mendapat wanti-wanti dari sang istri.
“Ke Cinta jangan keras-keras, Mas. Soalnya kalau aku pahami, dia bukan yang bisa dikerasin, tapi bukan berarti kita enggak boleh tegas. Kalau dipikir-pikir, dia mirip mas Cikho. Kasihan Bude Resty, pengorbanannya sia-sia. Sudah diselingkuhi terus dibun*uh oleh suaminya sendiri, sekarang anak-anaknya malah gini. Al-fatihah buat Bude di Surga. Semoga Bude istirahat yang tenang,” lirih Arimbi.
Mas Aidan tetap menuntun sang istri meski mereka sudah memasuki ruang ICU. Walau di sana dilarang ada aktivitas berlebihan, keduanya benar-benar tak memiliki lain. Namun, baik mas Aidan maupun Arimbi akan berada di sana sebentar mungkin.
Suara langkah mendekat sudah langsung mengusik Cinta. Detik itu juga rasa takut Cinta makin tak terkendali. Jantung Cinta sudah langsung berdentum hebat, benar-benar keras hingga terdengar berisik di telinganya sendiri.
Melihat kedatangan mas Aidan dan Arimbi, Akala buru-buru berdiri kemudian menyalami keduanya dengan takzim. Mas Aidan dan Arimbi memang sengaja buru-buru pulang untuk membantu Akala mengurus kas*us Nina.
“Innalilahi, beneran mirip banget wajahnya meski dalam keadaan terluka parah gini,” lirih Arimbi sambil menatap sedih sang suami.
Mas Aidan hanya geleng-geleng karena langsung emosi. Ia segera meninggalkan sang istri kemudian menghampiri Cinta. Ia sengaja jongkok tepat di hadapan wanita itu. “Mengakui kesalahanmu dan mempertanggungjawabkannya dengan hukuman nyata, akan jauh lebih baik daripada berbelit-belit. Hukuman yang kamu dapatkan juga akan jauh lebih ringan meski apa yang kamu lakukan enggak akan pernah dibenarkan!” lirih mas Aidan kembali geleng-geleng. “Aki enggak tahu apa isi otak kamu. Atau mungkin pas pembagian otak, kamu menolak hingga kamu enggak punya otak? BIKIN MALU!”
Mas Aidan sampai enggan berurusan apalagi berlama-lama dengan Cinta. Karena baginya, apa yang Cinta lakukan sangat tidak manusiawi. Ditambah lagi, Cinta bukan lah orang yang kekurangan ilmu apalagi perhatian.
“Bayangkan kalau yang hadi Nina kamu, Ta. Bayangkan kalau yang jadi Nina anak perempuan kamu!” tegas mas Aidan sembari mundur sengaja menjaga jarak dari Cinta.
“Apa yang kamu petik dari kesalahan kamu kali ini?” lanjut mas Aidan yang sudah kembali didampingi Arimbi. Arimbi yang memakai jaket hangat warna hitam kedodoran karena itu milik mas Aidan, sudah sampai mendekap tangan kanan mas Aidan menggunakan kedua tangannya.
“Kenapa kamu mengaku ini karena Akala, karena kamu mencintai Akala, padahal sebelumnya, kamu dengan sadar menduakannya?” lanjut mas Aidan.
“Aku yakin polisi sudah sedang mencari kamu, Ta. Jadi, seperti saran mas Aidan, lebih baik kamu menyerahkan diri ke kantor polisi. Lebih baik kamu mengakui kesalahan kamu karena seberat-beratnya hukuman yang akan kamu dapat, dampak apa yang kamu lakukan kepada Nina jauh berkali-lipat lebih berat!” ucap Akala jauh lebih lembut dari mas Aidan.
Sadar Akala terlihat sangat hancur dan Arimbi khawatirkan sang adik ipar justru menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi, Arimbi sengaja menghampiri kemudian merangkul punggung Akala. Ia mengelus-elus punggung Akala, berharap caranya bisa memberikan dampak positif.
“Jadi, apa keputusanmu?” tanya mas Aidan yang kemudian berkata, “Aku akan mengawal kasus ini hingga akhir. Aku juga tidak akan melepaskanmu begitu saja.”
“Biarkan aku menyelesaikan ini secara kekeluargaan saja. Biarkan aku mengambil jalan damai.” Cinta benar-benar memohon. Menggunakan kedua matanya yang basah, ia menatap kedua mata mas Aidan yang menatapnya penuh kekecewaan.
“Tolong pikirkan perasaan orang tuaku!” mohon Cinta lagi dan sampai sekarang masih berlutut.
“Yang harusnya memikirkan orang tua kamu itu kamu. Harusnya dari awal sebelum bertindak, kamu memikirkan itu. Dampak dan segalanya, harusnya kamu mikir ke sana. Dampak ke Akala juga, yang otomatis harus sampai orang tua bahkan keluarga besar kami! Dikiranya manusia boneka, bisa kamu rombak bahkan obrak-abrik sesukamu hanya karena kamu sudah membelinya dan sekarang kamu justru—” Mas Aidan meledak-ledak. Dan ia baru berhenti bicara lantaran dari belakang, terdengar suara lirih ketakutan.
“J-jangan ... aku mohon sudah, jangan lakukan!” Nina mengigau dan dari kedua sudut matanya, cairan bening terus mengalir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nendah Wenda
enak tenan kamu cinta pake acara kekeluargaan kelakuanmu itu merenggut hak asasi manusia
2024-11-19
0
Kamiem sag
kamana sih Azzan yg suka buat mak senyum dan tertawa
2025-01-11
0
Kamiem sag
mak nangis Thor
2025-01-11
0